
Melody mengayuh sepedanya sendirian, sementara Yudha membonceng pada Shuhei karena alasan Shuhei harus menjaga Tuan Mudanya yang agung itu?
Cuih!
Sebenarnya itu karena Yudha tidak bisa mengendarai sepeda dengan baik dan benar.
Tidak bisa naik sepeda?
Siapa tadi namanya?
Yudha.
Siapa?
Yudha!
Kazehaya Yudha!!
Seriusan?
100% seriusan lebih malahan.
Yudha bahkan merusak pot bunga milik Ibunya Melody dan membuat tetangga rumah berdatangan karena suara tabrakkan sepeda vs pot bunga yang cukup keras, apa lagi ada ayam betina dengan delapan anak-anaknya yang kebetulan saja melintas di tempat kejadian.
Bukankah itu sangat konyol?
Kenapa? Apa penyebabnya?
Maklum saja, Yudha tidak pernah naik sepeda sebelumnya.
Lagi. Seriusan?
Iya.
Beneran? Haruskah berbohong? Itu hanyalah sebuah kenyataan—mungkin bagi Yudha itu adalah aib!
Jangan tertawa setan seperti yang dilakukan Melody tadi! Setiap orang tidak akan sesempurna itu, termasuk Yudha yang kaya, tampan, tinggi, dan jenius sekalipun.
.
.
.
Dan sini mereka berada. Di sebuah pasar tradisional yang tak begitu jauh dari tempat tinggal ibunya Melody. Pasar tradisional?
Sebenarnya Yudha agak kurang setuju, tapi Melody bersi keras dan beranggapan jika pasar tradisional jauh lebih banyak menyediakan bahan sayuran dan buah-buhan yang sehat dibandingkan yang dijual di supermarket. Selain itu, harga murah juga menjadi alasan Melody. Ia sadar suaminya kaya raya, tapi sebagai istri yang baik bukankah sebaiknya bisa menggunakan uang dengan bijak?
"Bibi, cabai merah 1 kg, kubis itu satu, selada, buncis, brokoli, seledri, dan bawang, bawang merah, bawang putih, lobak, wortel. Semua ada dicatatan ini." Kata Melody sambil menyodorkan daftar belanjaannya pada bibi penjual Sayur.
"Baik, Nona."
"Oh ya, jangan lupa tomatnya." Melody melirik ke arah Yudha yang seolah mengisyaratkan jika dirinya tidak akan pernah melupakan makanan favorit suaminya itu.
"Baik, Nona yang cantik."
Yudha dan Shuhei layaknya bodyguard berdiri di belakang Melody dengan membawa 2 kantung kresek besar di kedua tangan mereka yang isinya daging, ikan segar, dan jenis lauk pauk yang lainnya.
Percayalah, ini baru pertama kalinya dilakukan seorang Kazehaya Yudha! Menenteng kantong kresek berisi daging di kedua tangannya?
__ADS_1
Hah. Tapi tetap saja ia lakukan karena dipaksa siapa lagi jika bukan Melody.
Masihkan Yudha terlihat cool? Dalam hati Yudha hanya bisa mengelus dada sabar. Semenjak menikahi Melody banyak hal tak biasa ia lakukan.
Tapi sungguh, meski berdiri menenteng krek hitam isi blanjaan, Yudha tidak kalah dengan auranya mas Lee Min Hoo kok. 😅 Jika ditambah kaca mata hitam, Yudha pasti semakin tamvan.
Sebenarnya Shuhei meminta untuk menghadle semuanya sendirian, tapi karena Melody memprovokasi Yudha dengan mengatai Yudha pengecut tak memiliki tenaga untuk sekedar mengangkat 2 kantong kresek, maka Yudha dengan kesal termakan omongan Melody dan bersedia membantu Shuhei membawa 2 kantong kresek berisi daging itu.
Maklum, harga diri Yudha itu segalanya!
"Ini Nona, belanjaan Anda." Kata Bibi penjual sayur.
"Arigato gozaimasu, bibi. Bibi, berapa total harga semuanya?"
"5000 Yen, Nona…" (Anggap saja Rp 500.000,00 XD)
Melody berniat membayarnya dengan uang yang sudah ibunya berikan, tapi Yudha kembali menahannya seperti yang ia lakukan saat membeli bahan lauk pauk.
Yudha meletakkan 2 kantong kresek yang ia bawa. Ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa uang untuk membayar belanjaan Melody.
"Ini uangnya." Kata Yudha.
Bibi penjual sayur menerima uang dari Yudha. "Terima kasih, anak muda. Ya ampun, kau tampan sekali."
"..." Yudha hanya mengangguk sopan.
"Apa laki-laki ini suamimu, nak? Kalian terlihat cocok sekali."
"..." Melody hanya tersenyum dan mengangguk seperti yang dilakukan Yudha.
"Anak muda, istrimu juga terlihat sangat cantik dan baik, semoga kalian langgeng sampai tua."
"A-arigato…" Kata Yudha yang tak tahu harus bagaimana.
Anak?
Mereka pada kaget. Ayolah, topic seperti itu benar-benar membuat canggung. Ingat saat membahas permintaan sang ibu? Mikan? Ya kurang lebih seperti itu rasanya.
"A-haha, bibi, kami memang menikah muda, tapi kami belum memikirkan memiliki momongan." Kata Melody.
"Lalu tujuan menikah itu untuk apa jika bukan untuk memiliki momongan?"
Melody kembali nyengir. Berbicara dengan orang tua memang sulit. Memiliki momongan yaitu berkembang biak melahirkan calon generasi penerus Kazehaya yang unggul dan strong?
Seperti itu, kan?
"Kami sedang memikirkannya, Bi." Kata Yudha akhirnya.
"Kalian pasangan yang manis. Ini, jamur ini diambil langsung dari gunung fuji, ini sangat enak dan baik untuk tubuh. Hadiah untuk pasangan serasi seperti kalian biar cepat memiliki momongan." Kata Bibi penjual sayur memberikan sekatung kecil keresek berisi jamur.
Melody, Yudha, dan Shuhei mengucapkan banyak terima kasih pada Bibi penjual sayur itu dan berpamitan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan keluar dari pasar, Melody dan Yudha berdebat tentang maksud kata-kata Yudha untuk memikirkan tentang memiliki momongan yang sudah jelas-jelas jika mereka tidak akan melakukan hal itu.
Bagi Melody, tadi hal itu membuatnya sangat malu, bagaimana bisa Yudha mengatakan hal seperti itu di tempat umum, di depan orang asing? Ya ampun, meski hal kecil seperti itu saja, kenapa bisa membuatnya panas?
Malu? Atau salting? Melody mungkin merasakan semuanya.
Jadi apa yang diharapkan Melody?
__ADS_1
Memiliki anak, tidak mau. Tapi giliran Yudha berbicara mengarah ke hal seperti itu, tiba-tiba saja pipinya terasa panas. Ya ampun, sepertinya ada hal lain yang menginginkannya. Melody belum menyadarinya. Ia bisa gila hanya dengan membayangkannya.
.
.
.
"Jika seperti ini, akan sulit membawanya." Keluh Melody yang kesulitan menata belanjaan di sepedanya. Maklum saja, Yudha dan Shuhei saling berboncengan, maka sudah pasti Melody kebagihan membawa belanjaan lebih banyak di boncengan dan keranjang sepedanya.
Shuhei memiliki ide, ia menawarkan dirinya untuk membawa sepeda milik Melody yang penuh dengan kantong keresek belanjaan yang diikat, diletakan sedemikian rupa seperti penjual sayur keliling pakai sepeda? XD. 😅😅
Melody dan Yudha menyetujui ide Shuhei karena menganggap tenaga Shuhei sebagai lelaki jauh lebih kuat dibandingkan dengan Melody. Yudha juga laki-laki, tapi sudah dibilang Yudha itu tidak bisa mengendarai sepeda!
"Ayo! Gooo!" Teriak Melody dengan semangatnya. Ia mengayuh sepedanya dengan memboncengkan Yudha di belakang.
"Huua, Melody kendarai dengan benar!" Protes Yudha saat Melody menggenjot pedal sepedanya.
"Berisik, sabar! Aku sedang menyeimbangkan dengan beban tubuhmu yang berat, Yudha! Huh."
"Cih, cara berkendaramu menakutkan, Melody!"
"Berisik deh."
"Kau kendarai yang benar! Ini sungguh menakutkan!"
"Jadi, seorang seperti dirimu bisa takut hanya karena membonceng sepeda? Apa aku harus tertawa?"
"Tertawa saja sana!" Yudha mulai sewot.
Hahahahahhaha.
Melody benar-benar tertawa. Tapi karena terlalu lebar membuka mulut saat tertawa justru membuat serangga, nyamuk masuk ke dalam mulut Melody dan membuatnya batuk-batuk tidak elit sama sekali.
"Uhuhk..uhukk.. sialan, ada sesuatu masuk mulutku."
Kini giliran Yudha yang tertawa karena menganggap Melody kena karma karena meledeknya.
"Haha, syukurin!"
Prempatan siku muncul di kening Melody. "Orang yang tidak bisa naik sepeda dengan baik dan benar tidak boleh menertawakanku!"
Yudha berhenti tertawa. Ya, ia akui ia memang tak bisa mengendarai sepeda dengan baik. "Cih. Dasar mudah sewot!"
Melody tersenyum iblis. Bisa juga mempermainkan Yudha dengan kelemahan yang dimiliki Yudha. Sepertinya lain kali ia akan menggunakannya untuk memonopoli Yudha.
Dari belakang mereka berdua, Shuhei sedang berhenti dan memotret Melody dan Yudha yang sedang berboncengan naik sepeda bersama. Baginya, pasangan tuan dan sekaligus sahabatnya itu terlihat unik. Meski terlalu memaksa untuk dikategorikan romantic, tapi bukan salah kan jika ia mengabadikannya untuk kenang-kenangan?
Sekitar 8 foto yang Shuhei ambil. Ia menulis beberapa kata pada pesan multimedia dan memasukkan semua foto itu lalu menekan tombol kirim. Memilah, mencari, dan mengetik nama, 'Wijaya-sama', lalu OK.
Ya, ia juga mengirim foto itu sebagai laporan kepada Kakek Wijaya. Selanjutnya ia menyimpan Hp-nya dan mengayuh sepedanya mengekor di belakang Yudha dan Melody.
.
.
.
Di rumahnya, Kakek Wijaya terlihat terseenyum senang ketika melihat foto-foto kiriman dari Shuhei.
__ADS_1
"Jika hal seperti ini terus berkelanjutan, maka semua janjiku semakin mendekati lunas." Gumamnya.
Janji apakah itu sehingga membuat kakek Wijaya merasa harus segera melunasinya?