
FLASHBACK ON
Time skip.
Kamar Mikan dan Yoga...
Mikan sedang menata pakaian-pakaian yang berantakan ke dalam almari pakaian. Yoga pun masuk sambil membawa secangkir kopi.
“Kopi melulu, mana bisa tidur nyenyak malam ini.” Kata Mikan.
“Laki-laki itu identik dengan dua hal, yaitu kopi dan rokok. Karena aku tidak merokok, maka aku memilih kopi. Keren, kan?” Kata Yoga.
“Keren dari Hongkong? Aku tak melarang orang minum kopi, tapi kau itu terlalu banyak minum kopi. Seperti sudah kecanduan saja. Ingat, kau itu lebih dari enam gelas sehari. Belum lagi gulanya. Jika aku tak menggantinya dengan gula diet, aku yakin kau bisa kena diabetes!”
Yoga hanya tersenyum. Usai melahirkan, istrinya itu semakin manis. Semakin cantik sehingga membuatnya betah memandanginya.
“Malah hanya tersenyum saja? Hei ayahnya Yudha, kau dengar tidak sih? Aku ini sedang menasihatimu!” Seru Mikan.
“Mikan...” Panggil Yoga tak menghiraukan apa yang sedang Mikan eluhkan.
Mikan mendesah kesal. “Apa?” Katanya.
“Mau nambah anak tidak?” Tanya Yoga.
“Hah?”
“Ayo kita membuat adik untuk Yudha!”
“Hah?”
“Jangan hah saja! Mu tidak? Mau ya?”
“Hoe, hoe. Jangan bercanda!”
“Aku sedang tidak bercanda. Aku sangat serius kok.”
“Yang benar saja, Kak Yoga!”
“Ya ini sudah benar. Tidak ada yang disalahkan.”
“...” Mikan terdiam.
“...” Yoga terdiam.
“...” Mikan masih terdiam.
“Mi..”
“Tak mau! Aku tidak mau!” Potong Mikan dengan cepatnya.
“Kok tidak mau sih?"
"Dengar ya, kau itu sudah punya dua anak. Harusnya itu kau memikirkan masa depan keduanya terlebih dahulu. Kau tahu, kesempatan mereka berdua bermusuhan di masa depan itu sangat besar! Jika kau menambah anak lagi, pertengkaran merek akan semakin mengerikan!"
"Kenapa harus berpikir yang buruk jika harapan yang baik itu juga memiliki kesempatan yang sama? Masih fifty-fifty kemungkinan buruk dan baiknya. Kita doa yang baik-baik saja dong agar afirmasi energi positifnya lebih besar sehingga mengalahkan pemikiran yang buruk."
"Kak... kan aku sudah bilang. Untuk sampai ke saat ini itu sangat sulit. Sampai memiliki Yudha, itu sangat sulit. Bukan masalah sakitnya melahirkan Yudha, tapi masalah untuk masa depan Yudha maupun anakmu yang satunya, Alvin. Tentulah aku berharap jika Yudha dan Alvin akan bisa berteman. Namun bagaimana dengan ibunya dia? Apa kak Yoga pikir Kurenai itu akan menyetujuinya?"
"Dia wanita yang baik, Mikan. Tentulah dia tidak akan keberatan jika Alvin dekat dan berteman dengan Yudha. Maka, izinkanlah Yudha bertemu dengan Alvin, jika kau insecure akan Yudha, maka kau hanya membuat Yudha tidak tahu apa-apa jika dirinya itu memiliki saudara."
"Bela saja terus dirinya. Apapun keputusanku pasti akan salah di matamu."
"Mikan.."
"Apa? Kak, berapa kali harus aku bilang padamu sih? Ini semua itu sulit untukku! Aku tekanan batin tiap hari karena memikirkan bagaimana masa depan akan berjalan. Aku mati-matian mendidik Yudha agar menjadi anak yang baik, agar menjadi anak yang bisa menerima anak dari ayahnya dengan wanita yang bukan ibunya. Namun apa yang aku lakukan saat ini, apa Kurenai melakukannya? Apa dia melakukan hal yang sama denganku? Jika aku bilang Kurenai berbicara kasar padaku, kau tidak akan mempercayainya, kan? Tentulah kau tidak akan mempercayaiku, kau kan selalu di pihaknya. Wanita itu kan wanita lemah yang sangat mencintaimu. Tidak seperti diriku yang memanfaatkanmu lebih besar dari mencintaimu."
"Mikan, kenapa kau selalu saja berbicara seperti ini sih? Oke aku minta maaf karena saat kau melahirkan Yudha, aku tak di sampingmu karena mengantar Alvin yang sedang sakit. Tapi kondisi Alvin saat itu sangat buruk! Dia hampir mati jika tidak segera di bawa ke rumah sakit. Ini sudah 7 tahun berlalu, Mikan. Mau sampai kapan akan seperti ini terus?"
"Mau sampai kapan akan seperti ini terus? Jika kau tak tahan denganku, pergilah! Walau kau meninggalkanku dengan Yudha sekalipun, kau tak akan pernah sendirian. Masih ada wanita dan anakmu yang lain yang akan menyambutmu dengan senyuman."
__ADS_1
"MIKAN!"
"Oh membentakku? Keluar juga amarahmu ya.. Syukurlah, aku kira kau hanya akan menjadi laki-laki pengecut yang tak akan bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Aku berharap, Yudha tak akan menjadi seperti dirimu!"
"Aku ini adalah ayahnya Yudha, tentulah Yudha harus menjadi seperti diriku!"
"Maksudmu menjadi laki-laki yang membuta kan kebenaran? Hei kak Yoga, aku tidak mau anakku itu tidak tegas seperti dirimu! Aku tidak mau anakku menjadi bodoh seperti dirimu soal memang cinta dan perasaan!"
"YUDHA ITU ANAKKU JUGA! BERANINYA KAU MENGATAKAN JIKA DIA ITU HANYA ANAKMU!" Kata-kata Yoga sangat keras dan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
Membuat yang mengar tak kuasa menahan diri dan ikut naik pitam.
"YUDHA TIDAK BUTUH AYAH YANG TIDAK PERCAYA PADA IBUNYA!" Mikan ikut membentak. "Aku sering bilang kepadamu jika Kurenai itu bukan wanita yang sederhana. Tapi kau tak pernah mempercayaiku." Mikan menurunkan nada bicara.
"Mikan, maaf aku sudah berkata kasar padamu. Maaf aku sudah membentakmu. Namun soal Kurenai, tolong jangan menuduhnya seperti itu hanya karena dia mantan pelacurr dan pernah hidup di dunia yang gelap. Aku tahu, kau sama sekali tidak menyukainya, kau membencinya. Namun... Bagaimana pun, dia adalah ibunya Alvin, anakku juga." Yoga mencoba mengendalikan diri.
Mikan tertawa. "Penilaianmu terhadapku itu picik sekali, Yoga-san. I'm so done with you! Ya sudah, berhubung kau berkata seperti itu, maka kebencianku terhadapnya semakin bertambah. Terima kasih sudah mengingatkanku jika aku sebaiknya memang tak harus memberi hati kepadanya."
Mikan keluar kamar dengan menutup pintu kamar dengan sangat keras. Ia meninggalkan Yoga tanpa sedikit pun menoleh balik. Ia merasa sudah sangat lelah dengan semua ini.
Akhirnya ia berjalan ke kamar Yudha. Kamar milik Yudha yang berada di sisi lain dari kamarnya. Cukup agak jauh.
Sesampainya di kamar Yudha, ia lalu masuk dan menguncinya dari dalam.
Ia melihat Yudha yang sedang tertidur. Ia lalu mencium kening Yudha dan menatap sendu anaknya. Ia mengusap air matanya yang terjatug di pipi Yudha.
"Dasar laki-laki bodoh! Harus bagaimana lagi sih aku menasehatinya? Jika dia tidak percaya padaku soal Kurenai, harusnya dia mencari tahu! Bukan malah menolak mentah-mentah asumsiku! ... Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ini tak hanya sekali, tapi dua kali. Beberapa hari yang lalu, aku melihat Kurenai bertemu dengan laki-laki berjubah yang memegang tongkat. Laki-laki itu sangat misterius hingga aku tak terlalu bisa mengenali wajahnya dengan sempurna. Sangat samar karena posisiku yang memang juga cukup jauh dari Kurenai dan laki-laki itu. Aku tak tahu apapun yang mereka bicarakan. Sepertinya serius karena ekspresi Kurenai yang seperti itu. Karena aku penasaran, aku pun menyewa mata-mata untuk menyelidiki Kurenai. Mata-mataku bilang jika Kurenai beberapa kali bertemu dengan laki-laki itu. Mereka bilang, Kurenai dan laki-laki itu sedang membicarakan sebuah proyek besar. Mereka tidak tahu proyek besar apa yang dimaksud, mereka tak bisa aku hubungi lagi, dan gilanya, aku mendengar kabar jika semua mata-mata yang aku sewa itu meninggal. Aku gemetar hebat saat itu. Itu secara tidak langsung aku sudah membunuh mereka karena akulah yang menyuruh mereka untuk melakukan penyelidikan ini. Merasa bersalah dan penasaran dengan apa yang menimpa para mata-mataku, aku pun memutuskan untuk menyelidiki Kurenai sendirian. Aku mendapati laki-laki yang misterius waktu itu memeluk dan mencium bibir Kurenai. Aku syok karena setahuku, Kurenai itu sangat mencintai kak Yoga, tapi apa ini?Kenapa dia bermesraan dengan laki-laki lain? Aku harus bilang ke kak Yoga! ... Setelah aku bilang ke kak Yoga, dia tidak percaya kepadaku. Yang ada dia marah-marah dan berakhir dengan bertengkar. Aku dan dia tidak menyapa selama sepekan. Lebih tepatnya, aku yang mengabaikannya. Aku tahu tak seharusnya aku seperti ini. Aku bukanlah contoh istri yang baik. Namun aku bisa apa? Aku hanya ingin dia lebih berhati-hati, tapi dia menanggapinya berlebihan... Mungkin, kepercayaan di hatinya untukku sudah berkurang. Aku tak lagi menjadi wanita satu-satunya di dalam hatinya. Wakateruyo, aku tahu kok. Aku tahu jika perasaan kak Yoga sudah bercabang. Membentakku baginya sudah biasa. Jika terjadi apa-apa pada Kurenai, ia berani menyalahkanku sekarang. Ya sudahlah, aku sudah memiliki Yudha. Itu sudah cukup untukku. Aku tak mau memperjuangkan orang yang tak lagi sehati denganku. Kak Yoga sudah banyak berubah. Sekarang aku tak lagi berdiri di sampingnya. Namun berdiri dimana aku hanya bisa menatap ke depan dan melihat punggungnya dari arah belakang... Malam ini terasa hampa, namun angin di luar nampak ribut. Aku memiliki firasat jika badai akan segera menyapa."
Mikan menahan suara tangisannya agar tak mengganggu tidurnya Yudha.
Yudha adalah pekuatnya saat ini. Mikan menyadari kekurangannya sebagai istri. Ia mengakui kesalahannya. Lagi-lagi kembali lagi, dirinya itu hanyalah manusia biasa yang memiliki emosi. Tak tahan juga selalu seperti ini. Yoga sudah tak mempercayainya. Jadi ia memutuskan untuk pisah ranjang dengan Yoga dan pisah ranjang kali ini diselingi sikap tak salinf tegur sapa. Saling menghindari satu sama lain.
Orang tua Yoga terutama, mereka khawatir dengan apa yang terjadi dengan hungan Mikan dengan Yoga. Mereka tak tinggal diam. Mereka saling bekerjasama untuk memperbaiki hubungan mereka. Dua-duanya sama sekali tisak ada yang mau mengalah. Ini sudah seminggu lebih, dan masih sama. Tidak ada perubahan.
Mikan adalah seorang putri tunggal di keluarganya dan sudah dimanja sejak lahir. Untuk urusan egois, ia adalah ratunya. Jujur saja, sifat dasar seorang bungsu masih melekat di dalam jiwanya.
Ini seperti, 'Jika kak Yoga diam saja, maka aku juga bisa jauh lebih diam darinya. Jika kak Yoga bisa acuh, maka aku lebih bisa acuh darinya.'
Dan puncaknya, Mikan mengemas pakaiannya dan milik Yudha. Ia ingin meninggalkan kediaman Kazehaya.
Pagi-pagi dimana Kazehaya Wijaya dan istrinya sedang melakukan kunjungan bisnis ke India dan Yoga sudah pergi ke kantor, Mikan menggandeng Yudha dan membawa sekoper berisi pakaian miliknya dengan Yudha. Mereka berdua keluar dari kediaman Kazehaya. Beberapa maid yang bekerja berusaha menghentikan mereka berdua, hingga akhirnya, sedang beruntung atau apes, Yoga balik ke rumag karena ada berkas yang tertinggal.
Yoga melotot tajam ketika melihat istri dan anaknya hendak meninggalkan rumah.
"Mau kemana kau dan Yudha, hah?" Tanya Yoga. Ini adalah kata pertama setelah pertengkaran hebat malam itu.
"..." Mikan hanya diam saja.
"JAWAB, MAU KEMANA KAU DAN YUDHA!" Bentak Yoga.
Mikan menoleh ke arah Yudha. Yudha nampak kaget karena baru pertama melihat sang ayah berbicara keras seperti ini.
"Sayang, kau pakai headphonenya dan nyalakan nusik kesukaanmu yang keras ya... Tunggu ibu di mobil dan tutup matamu! Kau sayang ibu, kan?" Yudha mengangguk. Mikan tersenyum. "Jika sayang ibu, maka patuhi perintah ibu! Ok?"
Yudha kembali mengangguk dan menuruti permintaan sang ibu. Ia memakai headphone yang melingkar di lehernya dan memainkan sebuah musik kesukaannya. Ia lalu berjalan dan masuk ke dalam mobil yang sudah parkir di depan rumah.
"Mendidik anak dengan mengancamnya itu tidak baik untuk perkembangan anak! 'Jika kau sayang ibu, maka...' itu adalah salah satu wujud ancaman!" Kata Yoga.
"Setidaknya aku mengancamnya demi kebaikannya. Bukan seperti mulutmu yang berbicara keras tanpa memikirkan anak kecil di depannya." Kata Mikan.
Apa yang dikatakan oleh Mikan itu benar adanya. "Maaf, aku hanya terbawa emosi dan suasana."
"..." Mikan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ini sikap spontanitas ketika melihatmu dan Yoga ingin pergi dari rumah ini."
"..."
"..."
__ADS_1
Suasana terjeda untuk berapa saat.
"Sudah ngomongnya?" Tanya Mikan datar.
"..." Yoga menatap Mikan.
"..." Mikan membalas menatap Yoga dengan tatapan dinginnynya.
Merasa tak mendapatkan jawaban dari Yoga, Mikan pun menyeret kopernya dan pergi meninggalkan Yoga. Ketika hendak melewati Yoga, tangannya diraih oleh Yoga. Ia berhenti melangkah.
"Gomen..." Gumam Yoga.
"..." Apa tadi yang Yoga katakan?
"Gomenasai..." Kata Yoga lagi.
Yoga berbalik dan memeluk Mikan dari arah belakang. Ia mengucap kata maaf berkali-kali pada Mikan.
Mikan melepaskan tautan tangan Yoga yang memeluknya.
"Aku memaafkanmu, tapi aku ingin menenangkan diriku!" Kata Mikan dan berlalu meninggalkan Yoga.
Yoga kembali tak bisa berbuat apa-apa.
END OF FLASBACK
.
.
.
Normal time..
"Ibu, orang yang ibu maksud itu apa ibu sungguh tak memiliki klu apapun darinya?" Tanya Melody.
Orang yang dimaksud Melody ada laki-laki bertongkat yang memeluk dan mencium Kurenai.
Mikan menggeleng. "Yang ibu tahu, sepertinya orang itu terlibat dalam pembunuhan para mata-mata ibu, Mel." Jawab Mikan.
"Ibu benar. Aku juga menduga hal yang sama seperti ibu. Laki-laki misterius itu pastilah bukan orang biasa. Sesuatu yang besar pasti melatar belakanginya. Aku yakin, mata-mata yang ibu sewa pastilah lebih dari dua orang."
"Mereka ada 7 orang, Mel. Dan mereka semua mati mengenaskan akibat ulah ibu. Ibu ini pembunuh, Mel. Ibu sudah andil besar dalam kematian mereka." Mikan mulai menangis.
Merasa kasihan melihat sang ibu mertua yang buruk, Melody memeluk ibu mertuanya itu dengan erat.
"Ini bukan salah ibu. Orang jahatlah yang membunuhnya." Kata Melody.
Melody membiarkan sang ibu mertua menangis sepuasnya di dalam pelukkannya. Mikan itu tak hanya sekedar ibu mertua, tapi sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
Mereka saling lepas pelukkan setelah Mikan tenang.
"Ibu, apa ayah mencari ibu setelah ibu dan Yudha pergi dari rumah?" Tanya Melody.
Mikan menggeleng.
Sebenarnya Yoga mengawasi Mikan terus-terusan. Ia menyewa bidyguard untuk melindungi Mikan dalam diam. Yoga khawatir dengan Mikan dan Yudha karena mereka berdua memilih stay di hotel dari pada ke rumah orang tua Mikan. Mengingat banyak bahaya mengintai keluarga Kazehaya, maka ia harus pandai dalam melindungi diri dan keluarganya. Namun Mikan tak tahu hal ini dan menyebabkan kesalah pahaman yang menjadi-jadi hingga saat ini.
"Yoga sering ke rumah Kurenai setelah aku dan Yudha pergi." Kata Mikan.
Faktanya itu benar, alasannya karena Alvin bilang ada orang berjas hitam mengawasi rumahnya.
"Ayah mertua itu sepertinya laki-laki yang sulit dipahami. Seperti nampak sayang, tapi tidak juga. Tidak sayang, tapi sayang juga. Memusingkan kepala."
Mikan tahu itu. Pemikirannya sama dengan Melody, menantunya. Yoga itu antara sayang dan tidak sayang, sulit dibedakan.
"Memang itulah ayahnya Yudha, sangat sulit dimengerti. Jika pemikiranku masih sama seperti dulu, maka yang tersisa di dalam hidupku hanya untuk membencinya, Mel." Kata Mikan.
"Memang apa yang membuat ibu berubah cara berpikirnya akan ayah mertua?" Tanya Melody penasaran.
__ADS_1
"Dia bertindak keren layaknya seorang laki-laki."
Melody tertarik untuk segera mendengar kisah yang selanjutnya.