
Sesampainya di kost Melody dan Mia, Yudha mengintip jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam. Tidak mau menunggu esok hari, sehabis pulang dari kantor ia menyempatkan diri menjenguk ibu Kurenai dan tanpa pulang ke rumah, ia langsung menuju Miyagi untuk menemui Melody.
Rasa rindu yang begitu besar ingin segera bertemu. Ingin segera melampiaskan rasa rindu yang semakin hari semakin berat. Begitu menyiksa.
Setelah memarkirkan mobil di depan kost, Yudha ke luar dari mobil dan mengamati kost-kostnya kecil yang Melody dan Mia sewa. Menurut Yudha, kost-kostan yang disewa Melody dan Mia itu terlalu sederhana. Sebelumnya ia sudah menawari tempat yang jauh lebih bagus dan luas, tapi Melody menolaknya. Bukan masalah mampu atau tidak mampu bayar, tapi pemandangan dari kost-kostan sederhana ini cukup indah.
Yudha mengakuinya. Apakah ia perlu membeli koat-kostan ini?
"Padahal kau bisa menggunakan uangku seberapa besar yang kau mau, tapi kau tidak melakukannya. Maaf dulu aku mengira dirimu hanya memanfaatkan kekayaan keluarga Kazehaya, nyatanya sampai saat ini, kau masihlah sama dengan dirimu yang dulu. Kau tetap menjadi pribadi yang sederhana. Jika sudah begini, aku merasa uangku menjadi tidak berguna. Hah.. Aku harus senang punya istri sederhana dan tidak neko-neko atau harus bagaimana?"
Yudha masuk menekan bel pintu kost-kostan itu, Mia menyambutnya. Iapun menyapa dengan sopan. Setelah Mia mempersilahkan dirinya masuk, Yudhapun duduk di ruang tamu. Mia kemudian membantu Shuhei membawa barang-barang dari dalam mobil.
Yudha bertanya mengenai keberadaan Melody yang tak kunjung menemuinya terhitung semenjak ia menginjakkan kaki di kost-kostan itu. Mia bilang Melody sedang masak di dapur.
Cukup aneh, apa Melody sedang kelaparan? Kenapa jam sembilan malam Melody masak?
"Ah, dia benar-benar marah padaku. Dari dulu aku selalu kesulitan menepati janjiku. Tapi meski sudah berusaha aku jelaskan, rasanya dia tetap akan marah. Dia mengabaikanku! Ya, aku mrncoba memahami itu."
Yudha berjalan menuju ke dapur, dan benar sesuai yang Mia katakan, Melody sedang memasak.
Yudha bersandar di pintu dapur. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia tersenyum manis melihat aktivitas Melody di dapur.
Melody memakai baju hamil. Sangat cocok di tubuh Melody. Perut besarnya tak bisa berbohong.
Sekali lagi, Yudha kembali tersenyum.
Melody sedang memasak sup ayam dengan berbagai macam sayuran. Yudha mengamati Melody yang sedang mengiris kentang dengan pisau. Lalu Melody memasukkan kentang yang sudah dipotong itu ke dalam kuah sup yang mendidih. Sangat berhati-hati. Tapi apa daya, Melody mengaduh ketika cripatan kuah mendidih itu mengenai tangannya.
Yudha kaget, ia lalu berjalan cepat menghampiri Melody. Ia merebut tangan Melody yang sedang Melody dinginkan di washtasfle dapur.
Melody melebarkan matanya ketika melihat tangannya yang terkena cripatan air mendidih itu dicium oleh Yudha. Yudha bahkan menghisapnya perlahan.
Ini bukan luka terkena pisau, kenapa Yudha harus melakukan hal seperti itu? Itu pertanyaan batinnya Melody.
Lupakan sejenak tentang hal itu, sebenarnya sejak kapan Yudha ada di dapur? Sejak kapan Yudha datang ke kost-kostan ini?
"Tanganmu baik-baik saja? Masih terasa panasnya?" Tanya Yudha. Ia lalu meniup bekas cipratan air mendidih itu. Ada warna merah di sana.
"Hm, baik-baik saja. Tidak melepuh, jadi aman." Jawab Melody.
Yudha melepaskan tangannya dari tangan Melody. Mereka saling tatap dalam diam.
Melody mendongak ke atas, dan Yudha sedikit menundukkan pandangannya.
Wajah yang sangat dirindukan berdiri tepat di hadapan masing-masing. Tubuh yang pernah direngkuh dengan eratnya juga ada di depan mata. Bau tubuh yang begitu memabukkan itu juga sudah bisa tercium dari hidung.
Meski hanya sentuhan sederhana di tangan baru saja, rasanya begitu menembus jiwa.
"Setiap bekas sentuhan Yudha di tubuhku, semua terasa panas.." Batin Melody.
__ADS_1
"Setiap aku menyentuh Melody, hatiku terasa menghangat." Batin Yudha.
Sorot mata mereka saling tarik menarik. Tidak ingin kalah maupun mengalah. Menguatan dan tetap menantang. Yudha maju selangkah, Melody mundur selangkah. Yudha tak ingin kalah melawan tatapan Melody. Melody mundur selangkah bukan berarti dirinya menyerah, ia harus mengimbangi bagaimana Yudha menatap tajam mata indahnya.
Melody tertahan di meja dapur tempat wadah kompor, washtafle, dan keperluan masak lainnya.
"Yudha memang selalu tampan. Manusia biasa bak pangeran yang mewarisi julukkan ketampanan yang hanya muncul setiap seratus tahun sekali. Manusia tertampan yang pernah aku lihat dalam hidupku ini adalah suamiku. Sosok ayah dari anak-anakku." Batin Melody hanya masih setia menatap Yudha.
"Wanita dengan segala kesederhanaannya ini adalah istri dan ibu dari anak-anakku. Wanita yang kunikahi tanpa cinta, wanita yang mendapatkan ciuman pertamanya karena kecelakaan, wanita yang kutiduri karena obat perangsang. Aku merasa kasihan dengannya karena harus mengalami pengalaman pertama dengan cara seperti itu. Namun, setelah semua terjadi, meski di luar kendaliku, aku ingin membahagiakannya di sisa hidupku." Batin Yudha.
Yudha meraih dagu Melody, ia lalu mencium bibir Melody. Yudha berpikir jika Melody akan memukulnya karena tiba-tiba saja mendaratkan sebuah ciuman seperti ini. Namun anehnya, Melody membalas ciumannya. Yang membuat terkejut, Melody bahkan membuka mulutnya dan memberinya izin untuk menguasai seluruh mulut Melody.
Tangan kiri Yudha memegang dagu Melody, sementara tangan kanan ia gunakan untuk menahan kepala Melody.
Melody bersandar pada meja dapur tempat washtafle itu. Ia berusaha menahan tubuhnya agar tak tumbang ketika Yudha begitu intens bermain dengan bibir dan mulutnya. Merasa semakin tidak nyaman dengan posisinya saat ini, Melodypun mengeratkan pegangan tangannya ke mantel baju Yudha. Semakin erat dan berujung memeluk Yudha.
.
.
.
Ciuman mereka berdua berlangsung cukup lama. Sudah lebih dari lima menit berlalu. Di antara mereka berdua tidak ada yang mau mengalah. Masih ingin lanjut dan menuntut lebih. Rasa rindu yang tertahan itu tidaklah cukup dengan sebuah ciuman singkat.
Ada sensasi panas ketika Melody tak kuasa lagi menahan betapa nikmatnya ciuman dari Yudha. Semakin lama semakin menggila. Ia sampai mengeluarkan suara pelan ketika Yudha memberanikan diri mengeksplor lehernya. Suara aneh itu adalah suara desahannya.
Bagi Yudha, suara pelan penuh desahan Melody terdengar begitu sexy di telinganya. Ini bukan yang pertama kalinya ia mendengar suara desahan dari Melody. Namun dalam posisi saling merindukan seperti ini, rasanya sangat berbeda. Membangkitkan hasrat yang lama terpendam dan ingin segera diluapkan.
"Yudhaahh.."
"Hn?"
"Jangan menyentuh ba-bagian shh.. itu.." Pinta Melody. Ia melenguh beberapa kali karena Yudha yang sangat berani bermain dengan keindahan tubuhnya.
"Kenapa? Tidak suka? Tubuhmu jauh lebih jujur, Mel.." Kata Yudha pelan di telinga Melody.
"Ah, he-hentikan, Yudh! I-ini da-dapur." Pinta Melody. Pipinya merah padam karena sentuhan Yudha baru saja berhasil menunjukkan jati dirinya.
Yudha tersenyum puas. Istrinya benar-benar sangat manis. "Sudah basah juga, nanggung!"
Ketika Yudha ingin menyibakkan baju hamil Melody, tiba-tiba suara mendidih air terdengar. Sup ayam yang Melody buat mendidih dan airnya sampai meluap ke luar mengenai api kompor.
Melody refleks mendorong tubuh Yudha agar menjauh darinya. Ia lalu mengecilkan api kompornya. Mengaduk sup ayamnya dan kembali melanjutkan masak.
Yudha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Baru saja sangat manis dan menarik tapi terakhiri dengan terpaksa. Sup ayam lebih penting ya? Bahkan setelah sampai sejauh ini?
Sedikit kesal, tapi mau bagaimana lagi. Yudhapun berjalan mendekati Melody. Ia lalu memeluk Melody dari arah belakang.
Melody cukup kaget ketika Yudha mendaratkan kecupan di leher belakangnya.
__ADS_1
"Yudh, aku sedang masak!" Kata Melody.
"Iya tahu, kau lanjutkan saja dan biarkan aku seperti ini!" Kata Yudha. Ia justru mengeratkan pelukkannya.
Melody menghela nafas. "Tapi jangan pegang-pengang seperti tadi!"
"Kenapa sih? Aku kan hanya menggrayangi tubuh istriku, tidak ada yang salah dengan itu. Kau bahkan terbawa suasana dan menikmatinya. Hei Mel, tadi itu hanya permainan jari, aku bisa memberimu lebih dari itu!"
Vulgar.
Yudha semakin hari semakin vulgar. Melody langsung menyikut perut Yudha yang memeluknya dari arah belakang. Membuat Yudha mengaduh kesakitan.
"Sakit, Mel! Aku belum makan sejak tadi siang, baka!"
"Jika kau belum makan, biarkan aku menyelesaian masakkanku! Jangan malah menggrayangiku tidak jelas!" Kesal Melody.
"Aku tak tahan tidak melakukannya, Mel! Jika kau tak hamil, aku sudah menyeretmu ke kamar!"
"Ish kau ini.." Melody kesal tapi senang juga. Ia menangis untuk mengekspresikannya. Akhirnya ia bisa bertemu dengan suaminya setelah cukup lama berpisah.
Melody sesegukkan.
Yudha menyadarinya. "Jangan menangis, maaf. Aku hanya terlalu senang bisa melihatmu. Aku tahu tadi itu salah satu bentuk pelecehan."
Melody menggeleng. "Terima kasih sudah datang, Yudh.."
Yudha kemudian meletakkan kepalanya di pundak kanan Melody. Banyak beban hidup yang harus ia tanggung. Semakin hari semakin bertambah. Semakin hari semakin menggunung. Membuat tubuh manusia biasanya harus bekerja lebih keras dari yang bisa ia lakukan.
"Gomen. Gomen Mel. Gomenasai aku lama datang ke sini." Kata Yudha.
Melihat Melody bersedia menjadi tempat bersandar seperti ini, Yudha merasa lebih baik.
"Asal aku bisa melihatmu tetap hidup, itu lebih dari cukup. Jangan mati, Yudh! Apapun yang terjadi jangan mati dan meninggalkan aku sendiri dengan anak-anak!"
"Kau memang egois ya.."
"Ya, aku memang egois."
"Mel, aku lapar."
"Sabar ya, ini sudah hampir matang kok. Kau mau ekstra tomat di dalam sup ayammu?"
"Jangan, aku masih mual makan tomat."
"Haha, ya sudah tidak usah kalau begitu.."
.
.
__ADS_1
.
"Kau tahu Yudh, aku dua hari beturut-turut bermimpi tentang dirimu. Di dalam mimpiku, kau pamit pergi ke kantor, tapi kau tak kembali. Saat kau kembali, hanya tinggal nama. Itu sangat mengerikan! Aku ketakutan setengah mati hanya dengan memikirkannya. Apakah aku ini terlalu berlebihan? Ataukah ini memang firasat dari Tuhan?"