MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pergerakan Nao dan Neil


__ADS_3

Neil berlari dengan susah payah sambil memapah Nao. Ia menoleh ke belakang, seseorang mendekati mereka dengan pistol di tangan. Menembakkan beberapa kali dan gagal. Jaraknya masih cukup jauh.


Mereka berdua keluar dari jalur jalan aspal dan masuk ke dalam hutan agar sulit ditemukan oleh orang yang mengejar mereka. Sebisa mungkin untuk tetap lari dari kejaran.


Ya, meski sudah ambil jalur jalan tikus pun, orang yang mengejar mereka berdua tetaplah akan menemukan mereka.


"Kita terjebak! Kita tak bisa lanjut, Neil! Di depan kita ada jurang!" Kata Nao. Ia meludah karena darah terus saja keluar dari mulutnya.


"Aku memiliki pisau untuk melawan mereka, jangan khawatir! Aku akan melindungimu!" Dengan kekuatan yang ia punya, Neil mengeluarkan pisau untuk mencoba melawan dan melindungi diri.


"Kau gila ya? Pistol lawan pisau?"


"Tapi satu dari kita harus ada yang bisa kembali dengan selamat!"


Pisau yang dibawa Neil adalah satu-satunya senjata yang masih tersisa. Senjata api yang mereka coba gunakan sebelumnya kehabisan amunisi. Ia dan Nao tak menyangka jika mereka berdua akan terkena jebakkan ketika mencoba menyelamatkan Yudha. Suasana sepi yang mereka ketahui ternyata hanyalahlah pancingan agar mereka berdua tertangkap.


Neil mendorong Nao untuk membuat Nao yang terluka segera pergi meninggalkannya.


"Pergilah dulu Nao, aku akan memberi mereka pelajaran! Seseorang harus tinggal untuk menghadang mereka!" Kata Neil sambil memasang kuda-kuda menyerang. "Larilah ke arah kanan masuk ke hutan itu, aku yakin nanti kau akan bisa ke keluar dari tempat ini dan setelah itu, carilah bantuan!"


Tebing dengan jurang yang curam itu adalah daerah tak jauh dari kediaman Tuan Han. Mereka mencoba kabur dengan mobil, tapi berhasil dikejar. Mobil mereka terhempas beberapa kali sewaktu pengejaran. Mobil rusak parah dan meledak setelahnya. Beruntung Neil dan Nao berhasil keluar. Namun keduanya sama-sama terluka dan Naolah yang paling parah.


For Your Info ya, kediaman Tuan Han itu tidak berada di dalam keramaian kota. Melainkan di tanah asri pegunungan yang jauh dari pemukiman masal banyak orang. Jika kalian nonton film Jepang pasti tak asing dengan lingkungan seperti ini. Faktanya memang daerah pegunungan memang sangat sepi. Apa lagi Tuan Han ini adalah seorang yakuza, tentulah tempat-tempat seperti ini adalah markas yang cocok. Bukan berati tak memiliki tetangga, tetap ada, tapi ya begitulah, tetap sepi. Jarak dengan tetangga tak begitu jauh, tapi karena saking besarnya kediaman Tuan Han, maka membuatnya semakin sepi.


Ah sepi lagi, sulit sekali membuat kata selain sepi. Hmm.. Terima saja deh! #plaaak.


"Tapi mereka bersenjata Neil, terlalu bahaya!" Nao khawatir dengan Neil. Kenapa juga ia harus pergi sendirian sementara Neil harus tinggal?


Neil menoleh ke arah Neil dengan geram. "CEPAT PERGI SEBELUM TEBING DAN JURANG INI MENJADI KUBURAN KITA, BODOH! Aku akan coba menahan orang ini sebelum teman-temannya datang! LARI!" Kata Neil.


"Tapi Neil..." Nao masih ragu.


"Kau terluka parah, Nao! Kau tak akan sanggup lari dengan cepat. Jika aku kabur denganmu, langkah kita akan terhambat, kita akan tertangkap semua. Lebih baik kau saja yang kabur, aku akan menahan mereka sebisaku." Jelas Neil.


"Lebih baik aku saja yang tinggal, kau yang kabur! Aku ini sudah terluka, jadi sekalian saja!"


"Tidak! Tidak boleh! Tidak boleh seperti itu!"


"Kenapa? Kenapa tidak boleh, Neil?"


"Karena Ayumi akan menangis saat kau tak kembali."


Angin berhembus menyapa dua laki-laki ini.


"Ne-Neil?" Kaget Nao yang tak menyangka jika Neil sebenarnya sudah menerima hubungannya dengan Ayumi. Namun ia menyadari sesuatu. "AYUMI JUGA AKAN MENANGIS SAAT KAU TAK KEMBALI BERSAMAKU!" Lanjutnya.


"Aku mohon, kau kembalilah lebih dahulu dan cari bantuan! Aku akan bertahan semampuku!"


"Neil..."


"NAO! ... Aku mohon..."


Nao menyerah. "AWAS SAJA KALAU SAMPAI KAU MATI!"


"Iya, aku tak akan mati!"

__ADS_1


Merasa tidak punya pilihan, Nao dengan sisa-sisa kekuatannya, ia berlari meninggalkan Neil. Berlari ke arah kanan menembus hutan lebat tanpa jalur jalan meski hanya setapak.


"Neil, kau harus selamat! Harus!" Batin Nao yang terus berjalan maju tanpa peduli ranting-ranting dan rerumputan yang menggores seluruh tubuhnya.


Kira-kira setelah beberapa menit menembus hutan yang menjadi jalan pintas menuju jalan raya, terdengar sebuah suara tembakan dari arah tebing. Nao tercekat, tapi ia tidak bisa kembali. Ia harus segera mencari bantuan.


"Sial.. semoga saja Neil tidak tertembak!" Gumam Nao yang masih saja terus melaju mencari jalan raya.


Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, setengah jam, sejam, akhirnya ia pun berhasil menemukan jalan raya, yang sepi tentunya. Ia bernafas dengan susah payah. Ia haus dan lapar juga.


Namun gila, nafasnya harus terpacu lagi ketika ia melihat sebuah mobil hitam melaju ke arahnya.


"Haiishhh! Sial, aku terkejar!" Kesal Nao yang berusaha balik lagi ke hutan untuk bersembunyi.


Namun, mobil itu terlalu cepat sampai ke arahnya dan seisi mobil hitam itu pun keluar.


"Nao! Ini paman!" Kata seseorang.


Nao langsung menoleh karena kenal dengan pemilik suara yang memanggilnya ini.


"Paman Orion?" Nao melebarkan kedua matanya dan segera menghampiri Orion.


Nao lega karena orang yang menemukannya adalah Orion, pamannya Yudha. Ia belum bertanya kenapa bisa pamannya Yudha ini ada di Kyoto dan menyelamatkannya, yang ia inginkan saat ini adalah menyelamatkan Neil. Ia pun meminta Orion untuk melihat Neil di tebing tempat ia berpisah dengan Neil tadi.


Ketika mereka sampai di sana, tebing itu kosong. Hanya ada sesosok tubuh yang teronggok di rerumputan, yang Nao dan Orion duga jika pria asing itu adalah pria yang dijatuhkan Neil. Katakanlah Neillah yang telah membunuhnya untuk memepertahankan diri.


Neil membunuh?


Entahlah.. masih ambigu. Tapi jika untuk melindungi diri, rasanya tak mengapa karena jika tidak, diri sendiri yang akan mati, kan?


"Benar juga. Para pengejar kami pastilah berkumpul untuk menangkap Neil setelah aku pergi."


"Apa Neil dibunuh?" Gumam Orion.


"Hah?" Kaget Nao.


"Ini adalah dunia yakuza, Nao. Nyawa tak memiliki harga demi kepentingan mereka."


"Tidak mungkin paman! Neil pasti masih hidup! Mereka hanya menangkapnya, tak mungkin membunuhnya!"


"Setidaknya kau harus siap dengan kemungkinan seperti ini."


"..." Seketika itu tunuh Nao melemas dan dia pingsan. Kelelahan, kehausan, kelaparan, terlalu banyak keluar darah, dan juga syok akan nasib Neil.


Para pengejarnya sudah menghilang, hilang beserta dengan keberadaan Neil. Itulah terakhir kali Nao bertemu dengan Neil, ia menghilang tanpa pernah meninggalkan jejak.


Tebing curam itu ditelusuri atas perintah Orion, tapi tetap tidak ditemukan petunjuk apapun kecuali pisau milik Neil. Nyawa Neil selamat atau tidak, yang pasti lereng tebing ini memang ditinggali binatang buas. Medan yang cukup terjal juga merupakan hambatan apabila terjatuh, dan tentunya akan sangat sulit memanjat dalam kondisi terluka. Segala kemungkinan dapat terjadi, namun nyatanya pencarian selama satu bulan itu menghasilkan kata NIHIL.


Neil dinyatakan entah dimana.


.


.


.

__ADS_1


Malam harinya, setelah mendapatkan perawatan, Nao pun sadar. Mereka berada di salah satu penginapan yang disewa oleh Orion. Penginapan ini milik sahabatnya. Jadi ia bebas menggunakannya sesuka yang ia mau. Sahabatnya ini tahu jika pekerjaannya itu adalah seorang yakuza. Katakanlah mereka teman sekelas sewaktu sekolah menengah.


"Maafkan aku, Paman! Maaf karena aku dan Neil begitu ceroboh dalam upaya menyelamatkan Yudha. Aku dan Neil berpikir jika ini hanyalah seperti misi dalam game virtual yang kami mainkan. Kami tak menyangka jika akan sangat sulit dan justru membahayakan nyawa kami. Lalu kini, bahkan Neil.. dia.." Kata Nao.


"Dunia bawah tanah Jepang dan yakuza itu bukanlah hal yang bisa kau anggap enteng. Sesuai kataku, nyawa itu seolah tak memiliki harga. Ketika kau memasuki ranah mereka, maka kau sama halnya sedang menempatkan nyawamu dalam bahaya. Kau tak bisa menyelamatkan Yudha, dan Neil pun menghilang." Kata Orion.


"Sumimasen..." Kata Nao menyesal.


"Sudahlah, semua sudah terlanjur terjadi. Aku sudah menyusun rencan epik untuk menyelamatkan Yudha."


"Paman, mereka banyak sekali dan sangat mengerikan!" Nao melihat dengan mata kepalanha sendiri ketika ia memasuki kediaman Tuan Han. Di aula utama, ia mengintip adanya seperti pertemuan dimana di aula yang sangat besar itu dipenuhi oleh para yakuza anggota Kyoto Guardian yang jumlahnya sangat banyak.


"Orion tak akan bekerja sendirian, ada kami!" Kata Azumane yang masuk ke dalam penginapan itu.


Di samping Azumane ada sosok yang Orion dan Nao kenal. Itu adalah Tachibana Shota, ayahnya si kembar Neil dan Ayumi.


"Konbanwa." Sapa Tuan Shota.


Untuk ke depan, biar enak dan sopan, aku akan memakai Tuan Shota dan Tuan Nakamura untuk penyebutannya dalam dialog.


"Kak Shota tidak berniat menangkapku, kan?" Tanya Orion.


Kak Shota?


Ya, Orion memang sejak dulu sudah memanggil Tachibana Shota dengan sebutan kakak karena Shota itu sahabat kakaknya, Kazehaya Yoga. Mereka dekat sekali.


"Kau ingin sekali menangkapmu, tapi kau tak terbukti dalam perdangangan senjata ilegal." Kata Tuan Shota, tak lupa dengan senyuman ramahnya.


"Paman Shota, maaf, Neil.. dia.." Kata Nao yang belum siap bertemu dengan ayahnya Neil.


"Aku sudah mendengar berita soal Neil. Jangan menyalahkan dirimu, Nao-kun! Paman tak menyalahkanmu! Neil pasti akan selamat! Dia anak yang kuat." Kata Tuan Shota.


"Aku yakin, Neil pasti disandra oleh mereka. Neil sangat berguna untuk menjatuhkan Kak Shota." Kata Azumane.


Maklum saja, Shota ini adalah polisi yang selalu mengincar kejahatan yang dilakukan Kyoto Guardian. Dengan memanfaatkan Neil, tentu saja mereka yakin jika mereka bisa mengendalikan Shota agar tidak mengganggu bisnis dan pergerakan mereka.


.


.


.


Mereka semua lalu duduk bersama untuk membahas hal apa yang sebaiknya harus mereka lakukan.


"Jumlah anggota Kyoto Guardian itu sangat banyak. Apa lagi mereka yang tinggal di kediaman utama. Gampangnya, tidak mungkin Tuan Han tidak menanam banyak penjaga di rumah sebesar itu. Mereka pasti juga anggota pilihan dengan kemampuan diri yang mumpuni. Katakan saja jika sebenarnya itu sulit untuk kita menembus rumah yang mencangkup selapangan sepak bola itu." Kata Azumane.


"Azumane benar, untuk menyelamatkan Yudha, kita harus memaksa sebagian besar dari mereka keluar kandang." Kata Tuan Shota.


"Harus ada hal yang besar agar rayap-rayap itu kelimpungan." Gumam Orion. Ia sedang memikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau membakar Kyoto Contruction?" Seringainya.


Seketika itu mereka tahu jika Orion itu jauh lebih gila dari sang ayah, Kazehaya Wijaya.


_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x


_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x

__ADS_1


Buru-buru mau tamatin!!! Target tamat bulan ini! 💪💪💪💪


__ADS_2