
Kembali ke balkon hotel tempat dimana Melody dan Yura mengobrol..
"Loh, kalian sejak kapan ada di sini? Mia? Aku kira kau tidak akan datang karena kau bilang waktu itu memiliki acara keluarga yang bertepatan dengan ulang tahun pernikahanku." Kata Melody yang melihat Mia dan Ayumi mendekatinya di balkon hotel saat sedang bersama dengan Yura.
"Sejak dari tadi. Tidak apa-apa kan ikutan nimbrung pembicaraan? ... Hai Yura, apa kabar? Ohishasiburi desu ne.." Kata Ayumi.
"Iya, sudah lama tidak jumpa. Aku baik-baik saja. Sepertinya hal yang sama juga terjadi padamu." Kata Yura.
Ayumi tersenyum. "Benar, aku menjalani hidupku dengan bahagia! Apa lagi malam ini, aku semakin bahagia karena melihat teman-temanku yang selama ini aku rindukan!"
Yura membalas senyuman Ayumi. Malam ini memang malam yang membuat bahagia. Seperti titik awal dari lembar kisah baru yang lebih baik.
"Aku senang kalian semua datang, dan Mia, aku butuh penjelasanmu soal perkataanmu yang bilang kau tak bisa datang ke pesta ini karena acara keluarga!" Kata Melody.
"Meski acara keluarga itu benar adanya, tapi kan nomor satu tetap dirimu! Acara keluarga bisa absen. Lagian hanya biasalah, pertemuan keluarga kolega seperti itu. Makan malam, ngobrol." Terang Mia.
"Perjodohan lagi?" Tanya Melody.
"He? Perjodohan? Seriusan? Hari ini? Kau mengalami hal seperti itu di keluargamu?" Kata Ayumi yang merasa jika jaman modern seperti ini ide tentang perjodohan itu sudah tidak jaman lagi.
"Hari ini apaan coba, Ay? Lihatlah wanita cantik yang sedang mengandung anaknya Yudha itu! Dia korban perjodohan woy!" Seru Mia.
Ayumi langsung nyengir. Melody memang korban perjodohan. "Haha, iya juga. Ngomong-ngomong mbak Mel, bagaimana rasanya menjadi korban perjodohan? Cerita sedikit dong! Sebagai penggiat anti perjodohan, aku ingin mendengarnya!"
"Tuh mbak Mel, aku juga penasaran bagaimana komentar Anda tentang hal ini!" Kata Mia.
"Apaan sih kalian ini? Tidak aneh-aneh. Ya seperti ini, seperti yang kalian lihat." Kata Melody.
"Rasanya, aku juga penasaran..." Gumam Yura.
Melody, Mia, dan Ayumi langsung menoleh ke Yura. Tidak biasanya Yura akan tertarik pada hal-hal seperti ini.
"Cerita kenapa, Mel?"
"Ayolah, Mbak Mel?"
"Bagaimana rasanya menjadi korban perjodohan?"
Melihat tatapan menuntut jawaban teman-temannya, Melody hanya bisa menghela nafas. Akhirnya ia pun buka suara.
"Rasanya ini!" Melody menunjuk perut buncitnya.
Mia, Ayumi, dan Yura sweetdrop. Tunggu! Yura? Ikutan sweetdrop? Mangap? Cengo? Ini langka!
"Jangan sok menatap aneh padaku seperti itu! Ini memang yang terjadi! Rasanya ya ini! Merasakan nikmatnya tidur jadi berkurang! Mulai pegal dan pusing-pusing!" Jelas Melody.
__ADS_1
"Efek kehamilan usia enam bulan emang seperti itu, Mel. Kau akan semakin berat menjalaninya sampai lahiran nanti." Kata Mia.
"Nikmati saja prosesnya, Calon Mama Muda! Jangan lupa berbagi pada kami biar kami ikutan tahu bagaimana rasanya. Suatu saat kami kan juga akan mengalaminya." Kata Ayumi.
"Kesabaran adalah hal yang paling bijak dilakukan ketika menghadapi efek kehamilan. Aku kurang paham, tapi yang jelas, aku berdoa untuk kebaikanmu dan kandunganmu." Kata Yura.
"Terima kasih semua. Aku sedang berjuang menikmati hidup! ... Untuk masalah soal rasanya menjadi korban perjodohan, aku akan menceritakannya. Semua ada nilai tambah dan kurangnya. Ada baiknya, ada buruknya." Melody mulai bercerita.
Mia, Ayumi, dan Yura membuka telinga mereka baik-baik. Sepertinya memang Melody ingin buka suara untuk kisah hidupnya dari pengalamannya menjalani pernikahan karena dijodohkan.
"Sebenarnya untuk dijodohkan dengan Yudha ya tak murni dijodohkan juga. Kalau di posisi Yudha, ya, dia dijodohkan denganku. Namun jika dilihat dari posisiku, sebenarnya aku 'terpaksa' menerima lamaran dari kakek Wijaya untuk menikah dengan Yudha." Kata Melody.
"Terpaksa bagaimana, Mel? Aku seperti melewatkan sesuatu. Kau tak bercerita soal ini!" Kata Ayumi. Ayumi tak tahu cerita rincinya.
"Waktu itu keluargaku terlibat hutang cukup banyak sampai harus menggadaikan rumah untuk biaya kuliah. Rumah peninggalan ayahku akan di sita jika uang tak dikembalikan dalam waktu dekat. Berhubung aku menolong kakek Wijaya dan dia mebawariku uang asal mau menikah dengan Yudha, akupun menerimanya. Yang penting saat itu rumah peninggalan ayah tidak di sita... Semakin kesini, Yudha ternyata juga memiliki tujuannya sendiri. Kami menjalani kisah pernikahan hasil perjodohan ini dengan tidak mudah. Mudah berdebat untuk hal-hal kecil sekalipun. Gampang salah paham juga." Jelas Melody.
"Aku meminta maaf soal kesalahpahaman itu..." Kata Yura. Ia sungguh merasa bersalah.
"Aku sudah memaafkanmu, Yura! Kita audah membahasnya tadi."
"Terima kasih banyak, Melody-san..."
Melody menepuk bahu Yura pelan untuk mengisyaratkan jika dirinya sudah baik-baik saja. "Dalam perkembangannya, aku dan Yudha tahu jika ternyata perjodohan antara diriku dan Yudha itu sudah ada semenjak aku dan Yudha belum lahir."
"Ha?"
"Sungguh?"
"Apa kisah seperti ini sungguh ada?"
"Cerita Mel, cerita!"
"Kakek Wijaya dan mendiang kakekku adalah teman baik. Mereka berjanji akan menjodohkan cucu-cucu mereka di masa depan. Mengingat aku berpisah denga kakekku, aku dan Yudha pun tidak dipertemukan di masa kecil. Pada akhirnya, rencana Tuhan memang sulit dipahami. Malam dimana aku menolong kakek Wijaya waktu itu hanyalah sebuah benang merah yang membawa takdirku sampai saat ini." Pungkas Melody.
"Sugoiiii..."
Sugoii: Hebat.
"Benar-benar seperti kisah novel. Aku tak menyangka jika temanku ini memiliki kisah yang unik. Lalu, apa saat ini kau merasa bahagia dengan takdir Tuhan yang kau terima?"
Melody mengusap perutnya perlahan. Ia lalu tersenyum. "Bukan bahagia, lebih tepatnya bersyukur. Aku mendapatkan kisah yang berwarna dalam hidupku. Suami yang mencintaiku, anugerah anak, keluarga yang menyayangiku. Aku mendapatkan semuanya... Ya walau seperti yang kalian lihat, keluarga Kazahaya sedang diserang habis-habisan. Membuatku ketakutan setiap hari. Sulit tidur bukan hanya karena kehamilanku saja. Parno ketika ditinggal Yudha pergi ke luar kota. Tidak tennag rasanya."
"Ah benar juga. Aku membaca kisahnya di koran dan mendengar langsung juga dari Nao dan kak Neil. Yudha itu sudah berkali-kali mendapatkan percobaan pembunuhan." Kata Ayumi.
"Itu sudah sejak kecil. Aku dan Yudha hampir diculik juga waktu pulang sekolah. Beruntung penjaga sekolah menyelamatkan kami." Kata Yura.
__ADS_1
"Masak? Benarkah itu, Yura-san?" Tanya Mia.
Yura mengangguk. "Waktu itu sangat menakutkan. Hanya saja ketika aku melihat ke mata Yudha, anak itu biasa saja. Sejak saat itu aku tahu jika hal-hal seperti itu sudah sering ia alami. Yudha adalah laki-laki kuat. Melody-san pasti paham betul bagaimana sosok suaminya ini."
Melody menangangguk. "Yudha memang sangat kuat mentalnya. Seperti yang bisa dilihat oleh mata. Namun, ketika sedang berdua bersamaku, dia hanyalah anak kecil yang butuh perhatian lebih. Dia sangat lemah akan kasih sayang."
"Maka dari itu, sayangi dia terus, Jenong! Cieee.. yang memahami Yudha sampai ke dalam-dalamnya." Kata Mia.
"Sudah ditiduri berkali-kali masak tidak paham sampai dalam-dalamnya kan aneh, Mia-chaaaan!" Kata Ayumi.
Melody merah padam. Apa Ayumi biasanya sevulgar ini? Mia saja suka ceplas-ceplos, apa Ayumi juga sama? Hah, sepertinya ia harus menerima godaan lagi dadi teman-temannya di masa yang akan datang.
"Melakukan hubungan intim untuk orang yang sudah menikah itu wajar! Mau melakukannya seminggu sekali, setiap hari, atau berkali-kali asal stamina kuat ya tidak apa-apa! Masalah paham memahami sampai ke hal paling mendalam ya karena aku mencintainya makanya aku memahaminya. Kalian akan tahu jika kalian mencintai seseorang!" Melody sedikit kesal.
Namun ya malah teman-temannya kembali tertawa saat mendengad ocehan dari Melody. Membuat Melody semakin panas saja.
"Mencintai katanya..."
"Uwu banget sih, Mel! Kau mencintai Yudha.. manisnya jika mengakuinya secara langsung.. Hoho..."
"Melody-san, meski aku tak memiliki hak untuk menasihatimu, tapi tolong cintai Yudha selamanya!" Kata Yura.
Melody menatap Yura. Wajah Yura penuh harap. "Ya, aku akan mencintai Yudha selamanya."
"Cieeee..."
"Hoeeee!!"
Keseruan kembali tercipta. Entahlah. Meski hanya percakapan sederhana, tapi membuat mereka semakin dekat. Memangkas jarak yang sempat ada.
"Nona Melody... Anda di sini rupanya. Saya mencari Anda kemana-mana." Kata Ayane yang terlihat memucat karena kelamaan mencari istri Tuan Mudanya ini.
Melody nyengir karena ia baru ingat jika dirinya pergi tanpa bilang pada Ayane. "Maaf Ayane-nee. Apa Yudha mencariku?" Tanya Melody.
"Ya, Yudha-sama menunggu Anda di pesta karena harus menyambut tamu undangan. Tuan Azumane dan Nyonya Kurenai." Jawab Ayane.
Melody menangangguk. "Hm, orang tua Alvin rupanya. Baiklah, ayo kembali ke aula pesta!"
Yang lain hanya ikutan mengikuti apa yang Melody inginkan. Nyatanya memang sudah terlampau lama mereka meninggalkan pesta.
Ketika sedang berjalan menuju ke aula pesta. Yura memberi wejangan pada Melody.
"Melody-san, tolong berhati-hati pada Nyonya Uchiyama." Kata Yura. Nyonya Uchiyama di sini adalah Kurenai, ibunya Alvin.
Sedikit paham soal hal itu, Melody hanya mengangguk.
__ADS_1