
Yudha terus saja memegangi tangan Melody. Istrinya itu belum juga sadarkan diri pasca melakukan operasi pengangkatan peluru yang bersarang di tulang belikat. Ke bawah sedikit saja pasti akan fatal. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah itu. Yang seperti ini saja rasanya sudah hidup dan mati.
Kondisi hamil, tertembak peluru, dan menjalankan prosedur operasi medis. Dokterpun harus hati-hati dalam memberikan suntikan obat mengingat tidak semua ibu hamil bisa menerima obat medis.
"Paman sudah mengurus semua administrasinya, kau temani istrimu. Paman akan mengurus orang-orang itu." Kata Paman Orion.
"Hn." Yudha tidak menoleh ke arah pamannya.
Paman Orion menepuk bahu Yudha. "Dokter bilang, istrimu akan membaik setelah sadar nanti."
Yudha menoleh ke arah pamannya. Mata teduh pamannya menguatkannya. Pamannya ini memang sudah seperti layaknya sosok ayah untuknya. "Paman, terima kasih banyak."
"Hm. Aku pamanmu, Yudh. Kita adalah keluarga. Baik-baik ya, paman pergi dulu."
"Ya, hati-hati."
Sepeninggal paman Orion, Yudha lalu membenarkan letak selimut Melody. Sangat miris melihat bahu Melody terbungkus perban dan ada bercak merah di sana.
"Kenapa kau begitu bodoh, Mel? Harusnya aku yang melindungimu dan anak-anak kita. Sial, di sini akulah yang bodoh karena tak bisa berbuat apa-apa ketika Melihatmu tertembak."
Yudha lalu mengambil ponselnya untuk menelpon Shuhei. Ia meminta Shuhei untuk menyelidik upaya pembunuhan yang baru saja ia alami dengan Melody. Shuhei kaget bukan main karena upaya pembunuhan itu menghasilkan Melody yang tertembak dan harus dirawat di salah satu rumah sakit yang tak jauh dari kota Tokyo.
"Jadi apa yang dikatakan oleh Alvin itu benar? Akan ada penyerangan terhadapku dan Melody. Tahu darimana dia? Apakah dia mengetahui siapa dalang di balik semua ini? Aku harap kau tidak bermain terlalu jauh, Vin... Jangan kecewakan aku lagi!"
Yudha mencoba mengingat wejangan Alvin sebelum ia berangkat liburan ke Tulip House tempo hari.
.
.
.
Kazehaya Group...
"Tertembak?" Kaget Alvin.
"Ada apa, Vin?" Tanya Kurenai.
"Yudha dan Melody mengalami percobaan pembunuhan. Yudha tak apa-apa, sementara Melody tertembak." Jawab Alvin.
"Eh?"
"Melody tertembak. Dia tertembak. Dia pasti tidak apa-apa, ya, dia pasti baik-baik saja. Aku harus meluhatnya. Ya, aku harus melihatnya! Harus!" Alvin merancu.
Alvin mondar-mandir tak jelas dan ingin segera memastikan kondisi Melody. Namun sang ibu menahannya.
"Jika kau menengok wanita hamil itu, ibu memilih mati!" Kata Kurenai.
Sampai hati.
Melebihi batas kewajaran yang biasa Kurenai katakan. Apakah ibunya ini sungguh sangat tidak menyukai Melody karena wanita yang sangat dicintainya ini adalah istri dari Yudha? Menantu wanita yang sangat dibenci oleh ibunya, Mikan.
"DIMANA HATI NURANI IBU?" Tanya Alvin cukup keras.
"Hati nurani? Vin, kita sudah sampai sejauh ini, hati nurani kita sudah tak pantas bersemayam di diri kita! Kau lupa tentang apa yang sudah kita lakukan?"
"..."
"Ya, kita meninggalkan semua untuk pencapaian ini! Kau sudah tahu, kan? Mereka harusnya mati semua. Namun apa? Yudha selamat, bahkan Melody juga kemungkinan selamat! Semua gagal, Vin! Gagal!"
"..."
__ADS_1
Kurenai mendekati Alvin. Ia mengambil kunci mobil yang ada di tangan Alvin. Ia lalu menyentuh kedua pipi Alvin. "Anakku sayang, tangan ini sudah kotor, kita sudah tak bisa kembali lagi seperti dulu."
.
.
.
Melody membuka kedua matanya. Membuka perlahan untuk menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan itu.
Putih.
Pemandangan pertama yang dilihat olehnya adalah warna putih dan begitu terang.
"Apa aku sudah mati?" Batin Melody.
Melody lalu merasakan ada sesutu di tangan kanannya. Ya, tangan suaminya sedang memegangi erat tangannya.
Yudha sedang tertidur dengan menekuk tangan kanannya untuk dijadikan sandaran.
Melody tersenyum.
"Yudha baik-baik saja, syukurlah. Terima kasih Tuhan." Gumamnya.
Melody ingin membelai rambut dan kepala Yudha. Namun tangan kirinya diinfus dan sulit untuk digerakkan. Tubuhnyapun masih kaku.
"Apa ini yang dinamakan efek obat bius? Tubuhku sulit untuk digerakkan." Gumamnys lagi.
Melody mencoba bergerak, Yudhapun terbangun.
Wajah Yudha nampak sumringah. "Melody..."
"Ohayou gozaimasu, suamiku.."
Melody meringis. "Iya maaf, tapi aku selamat, kan?"
"Cih, enteng sekali kau bicara?"
"Maaf..."
"..."
"..."
Yudha memegang pergelangan tangan Melody. Ia lalu mengecupnya berkali-kali. Ia lalu menangis.
Seorang Yudha menangis?
Ini bukanlah yang pertama. Melody sungguh membuatnya menjadi orang yang sangat berbeda.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku. Terima kasih sudah berjuang untuk hidup." Kata Yudha.
Suara Yudha gemetar. Nada suara itu terdengar tak beraturan. Bahkan, tangan dan tubuh Yudha juga sama.
Yudha sangat ketakutan.
"Yudha, peluk aku!" Pinta Melody.
Yudha bangun dan langsung memeluk Melody yang tengah terbaring lemah. Ia tak memeluknya berlebihan karena luka bekas operasi di dada atas Melody.
Melody juga ikutan menangis.
__ADS_1
"Yudh, aku takut. Aku sangat takut. Kukira kau akan meninggalkanku. Kukira kau akan tertembak dan mati meninggalkanku. Kukira kau akan terluka atau diculik lalu meninggalkanku sendiri." Melody terisak-isak.
Meninggalkan diri Melody sendiri adalah kata-kata yang Melody ulang-ulang.
Mengatakannya dengan terbata-bata karena sambil menangis.
"Bicara apa kau ini, Mel? Hei, kau malah yang membahayakan dirimu! Kau malah yang mau meninggalkanku! Kumohon, lain kali jangan pernah laukan ini lagi! Jangan pernah menempatkan dirimu di tempat yang berbahaya! Aku, aku tak sanggup melihatmu seperti ini... Mel, jangan coba-coba meninggalkanku!" Kata Yudha.
Kesal.
Marah.
Sedih.
Takut.
Khawatir.
Merasa tak berguna.
Merasa tak ingin kehilangan.
Namun..
Ada rasa bahagia dan syukur di dalam lubuk hati yang paling dalam.
"Berhenti menghawatirkanku, kalau kau sendiri tak bisa melindungi dirimu sendiri!" Kata Yudha.
Melody hanya mengangguk dan masih terus menangis. Air matanya sudah membasahi kemeja Yudha.
"Kau selalu bilang takut kehilanganku, kau selalu bilang tak ingin hidup sendiri tanpa diriku. Namun kau malah membahayakan dirimu. Kau malah yang ingin meninggalkanku." Yudha kembali mengulangi kata-katanya.
Kata-kata yang intinya sama.
Tak ingin kehilangan.
Tak ingin kehilangan secara fisik memang jauh lebih menakutkan daripada putus cinta atau pindah sekolah.
Percayalah, Yudha maupun Melody sama sekali tak ingin mengalaminya.
"Aku sadar semua ini salahku, andai aku tak kekeh dan egois ingin melihat bunga sakura, ini semua pasti tidak akan terjadi." Kata Melody.
"Tidak apa, melihatmu sangat bahagia ketika kita jalan-jalan, aku tak menyesalinya. Menginginkan sesuatu memang butuh pengorbanan." Yudha mencium leher Melody.
"Yang penting kita semua selamat, Yudh." Kata Melody.
Yudha melepaskan pelukkannya pada Melody. Ia lalu menatap Melody dan mencium bibir Melody lembut. Ia juga mencium kening Melody, kemudian mengelus perut Melody dan mencium perut Melody juga.
"Iya, kali ini, aku akan lebih hati-hati." Kata Yudha.
"Aku sudah puas hanya bermain di sekitar rumah sakit. Taman hidroponik di atap gedung juga indah kok. Aku tak ingin kemana-mana. Cukup kau bersamaku, aku sudah bahagia." Melody tak ingin menyusahkan Yudha lagi.
Yudha mengacak-acak rambut Melody.
.
.
.
Alvin membalikkan badan usai 'mengintip' Yudha dan Melody lewat kaca bening yang ada di pintu kamar inap.
__ADS_1
"Syukurlah. Dia tak apa-apa. Aku harus berbuat sesuatu! Ini tak bisa dibiarkan! Bagaimana bisa Melody yang mejadi sasaran?" Gumamnya.