
Yang sudah baca chapter sebelumnya dalam pendek, tadi pagi subuh sudah aku edit ke versi panjang. If u mind to reread, i will be glad.
Thanks for your support and read my novel. Love you guys..
.
.
.
FLASHBACK ON
Pembicaraan masih berlanjut ke tahap yang lebih serius. Yoga dengan senang hati akan terbuka soal masa lalu Kurenai kepada Mikan. Harusnya ia menceritakan hal ini sejak dulu. Namun baru bisa mengatakannya sekarang. Ia tak mau menyanggahnya, ia mengakui kesalahannya.
Bukankah sebaiknya terbuka saja meski itu sudah sangat telat sekalipun?
Yoga tahu betul jika mendapatkan kepercayaan dari Mikan saat ini adalah hal yang paling ingin ia capai. Untuk itu, semampu yang ia bisa, ia akan berkata jujur pada Mikan.
"Setelah lepas dari budak sex, Kurenai mencoba bertahan hidup. Banyak hal yang tak sesuai harapannya. Ia butuh uang untuk hidup, ia pun akhirnya jual diri. Lalu saat bertemu denganku, dia tak lagi melakukannya." Kata Yoga.
"Kisah yang menyedihkan. Lalu apa hubungannya dengan keputusanmu untuk meninggalkanku?" Tanya Mikan.
"Orang yang menjadikannya budak sex itu kembali. Orang itu sangat kejam dimana nyawa sama sekali tak berharga baginya. Dia mengancam akan membunuh Alvin jika dia berani melawannya." Jawab Yoga.
Miakan mencolos. "Alvin itu masih sangat kecil!"
"Kau benar. Tapi dia tidak pandang bulu. Dia bisa menyingkirkan semua apapun hal yang mengganggunya. Kini pun, dia memiliki agenda untuk menghabisi nyawamu, nyawa Yudha juga."
Seketika itu, badan Mikan menjadi sangat lemas.
Otot-otot dalam tubuhnya terasa melemah dan menghilang.
"Jika yang diincar itu adalah aku, masih wajar. Namun sampai Yudha juga. Apa dia sudah gila? Yudha itu hanyalah seorang anak kecil yang baru berusia 7 tahun!" Kata Mikan.
"Apa menurutmu penjahat yang sudah melakukan hal keji pada Kurenai itu akan memiliki hati pada seorang anak kecil? Tentu saja tidak, kan? Dia tidak akan pernah peduli siapa pun targetnya. Laki-laki atau perempuan, yang tua atau yang muda, bahkan anak-anak kecil sekalipun, mereka akan tebas sama rata." Kata Yoga.
"Lalu aku ingin tahu apa alasan dia menargetkan aku dan juga Yudha? Aku sama sekali tidak memiliki dosa apapun dengannya. Aku yakin, aku juga pasti tidak akan kenal dengannya sebelumnya." Mikan penasaran akan hal ini. Pasalnya, ia sangat pemilih dalam bergaul. Bukan soal ekonomi, tapi lebih ke personality.
"Kurenai menangis kepadaku dan meminta maaf karena ulahnya jadi melibatkanmu dan Yudha." Kata Yoga.
"Apa maksudmu itu, Kak Yoga? Memang apa yang sudah diperbuat Kurenai sehingga harus menyeretku dan Yoga ke dalam lingkar karma masa lalunya?" Tanya Mikan.
"Dia bilang tidak mau kembali kepadanya. Dia bilanh tidak mau kembali menjadi budak sex lagi. Orang itu marah dan mengancam akan membunuh siapa saja yang berada di dekatnya. Alvin, kau, Yudha, dan bahkan juga aku." Jawab Yoga.
Sebenarnya Mikan merasa ada yang janggal. Ada yang tak nyaman di dalam hati dan benaknya.
__ADS_1
"Sulit diterima. Sulit diterima, Kak! Sulit! Memang Kurenai itu siapa sih? Hanya mantan budak sex! Dia sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang itu. Coba pikir deh, Kak! Kak Yoga kan bilang, orang itu tidak pandang bulu dalam membunuh, itu artinya orang itu pastilah sosok yang mengerikan yang tentunya tak akan mudah tergoda hanya karena seorang wanita. Apa lagi wanita itu sudah bekas banyak orang. Kayaknya hanya kak Yoga saja deh yang bodoh karena mau tidur dengannya." Kata Mikan.
"Apa tang terakhir itu perlu dibicarakan?" Tanya Yoga.
"Itu kan fakta!"
"Iya tahu, itu adalah fakta. Tapi aku kan tidak melakukannya dengan sadar. Aku saja juga tidak ingat apapun soal malam itu... Tunggu.." Sepertinya Yoga menyadari sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
"Ada apa?" Tanya Mikan yang heran karena ucapan dari Yoga.
"Mikan..."
"Hmm?"
"Menurutmu jika laki-laki tak sadarkan diri, bisa tidak menghamili wanita?" Tanya Yoga.
"Bisalah kalo fisiknya masih sadar. Misal kalau sedang mabuk." Jawab Mikan.
"Bukan mabuk yang kehilangan akal, Mikan. Tapi mabuk waktu itu sungguh seperti melumpuhkan diriku."
"Kak Yoga, apa artinya itu seperti kau sedang meragukan status Alvin apakah dia anakmu atau bukan?" Tebaik Mikan.
"..." Yoga terdiam.
"Kau keterlaluan jika sampai memiliki pemikiran seperti ini! Ini sudah 8 tahun berlalu, lalu kini kau meragukan anakmu sendiri? Kasih sayang yang kau jalin dengannya itu tulus. Aku bisa melihatnya dari sorot mata kalian. Kau yang paling mengerti konektifitas batinmu dengan Alvin. Apa kau sungguh meragukannya?"
"Maaf..."
"Kau tak perlu minta maaf padaku. Kau perlu minta maaf pada Alvin!"
"Iya kau benar, aku memang harus meminta maaf padanya. Aku sungguh keterlaluan. Jujur saja, karena masalah yang menimpaku saat ini, aku menjadi sulit untuk berpikir jernih. Ancaman pembunuhan yang menimpaku dan keluarga ini saja belum menemui titik terang. Kini malah muncul masalah baru. Alvin, kau, dan Yudha ikut terseret ke dalam karma masa lalu Kurenai. Kepalaku sangat sakit. Bagaimana bisa aku kehilangan salah satu dari kalian? Tentu saja aku tak akan bisa, kan?" Kata Yoga frustasi.
"Aku tak rela anakku dan Alvin menjadi tumbal wanita itu! Apa lagi hanya karena masa lalunya itu. Cih, dia hanya budak sex tapi bisa memberi imbas sampai seperti ini ya? Sehebat apakah sih dia itu sampai-sampai membuat orang mengerikan itu menggebu-gebu untuk mendapatkannya kembali?" Kesal Mikan. Masih sama, ia hanya kesulitan menerima alasan yang dibuat oleh Kurenai.
Bagi Mikan itu sama sekali sulit diterima oleh akalnya.
"Haha..."
"Malah ketawa? Ini sama sekali tidak lucu, Kak! Kau itu sayang aku sama anak-anak tidak sih?"
"Sayanglah. Aku bukan menertawaimu, tapi aku hanya sedang bahagia." Kata Yoga.
"Di saat seperti ini? Apa tidak salah waktu? Memang apa yang membuamu merasa bahagia, Kak Yoga?"
"Kau mengakui Alvin. Kau sungguh membuktikan perkataanmu yang tidak akan menyalahkan Alvin atas apa yang terjadi antara aku, kau, dan Kurenai."
__ADS_1
"Tentu saja aku menerimanya. Aku ini juga menyayanginya. Dia anak pertamamu. Ketika aku memutuskan untuk mempertahankan cintaku padamu, aku juga sudah mempersiapkan hati untuk menerima Alvin."
"Aku sangat bersyukur akan hal ini. Terima kasih banyak, Mikan!"
"Kau itu orang yang penuh dengan kontradisi, tapi kau mudah meminta maaf, kau juga mudah untuk berterima kasih. Jika sudah seperti ini, akan sangat sulit untukku membencimu."
"Jangan benci aku, Mikan! Tolong jangan lakukan itu!"
"Egois."
"Aku tahu itu."
"Beri aku alasan yang tepat untuk tidak membencimu? Kau sebelumnya bilang jika kau akan meninggalkan diriku demi wanita itu dan Alvin. Orang normal pasti akan benci setengah mati, namun orang stress seperti diriku masih saja mencintaimu. Aku masih tetap di sini untuk mencintaimu."
"Mikan, kita berpisah bukan berarti kita bercerai. Ini hanya keputusan terbaik dari semuanya pilihan keputusan yang ada. Sungguh, aku sudah berusaha mempertimbangkannya dengan sebaik yang aku bisa. Dengan semampu yang aku kuasai... Aku sangat senang karena kau masih memiliki cinta itu untukku. Aku adalah laki-laki yang sangat beruntung di dunia ini kareja bisa disayangi dan dicintai oleh dirimu, Mikan. Aku bersyukur pada Tuhan di setiap hembusan nafasku. Terima kasih karena sudah menghadirkan dirimu untuk diriku yang tak sempurna ini."
"Kak Yoga, hari ini aku sangat puitis. Aku harap Yudha juga bisa semanis dirimu saat besar nanti. Aku harap dia akan menemukan wanita yang sungguh akan mencintainya. Yang sungguh-sungguh menerima segala kekurangannya. Yang mencintainya tanpan syarat dan tanpa pamrih."
"Aku sangat berharap Yudha menemukan dan menulis kisah cintanya sendiri. Tanpa harus mengalami hal-hal seperti yang terjadi pada kita. Semoga dia nanti tidak menjadi alat demi kelancaran bisnis keluarga. Kau ingin dia bisa mengepakkan tangannya dengan bebas. Aku ingin dia menjadi apa yang dia mau. Aku ingi dia bahagia dengan kehidupannya dan aku juga ingin agar dia bisa berteriak pada Tuhan dan dunia bahwa Kazehaya Yudha sangat bersyukur karena bisa merasakan hidup di bumi ini."
"Aku berdoa untuk kebaikan Yudha di masa depan meski akan sangat sulit untuk dihindari soal pendamping diri. Tradisi jodoh dijodohan sudah sangat melekat di keluarga kita. Kita akan sangat kesulitan untuk mengubah tradisi ini."
"Meski sulit atau bahkan tak akan bisa, setidaknya masih ada harapan jika Yudha dan istri hasil perjodohannya nanti bisa saling mencintai dan tak megalami hal mengerikan."
"Setidaknya aku harap Yudha tidak terjebak di antara beberapa wanita dan bertindak bodoh. Akan sangat sulit jika hal itu sampai terjadi."
"Kau benar.. itu memang akan sangat sulit. Tekanan batin."
"Kita sama-sama menderita."
END OF FLASHBACK
.
.
.
Normal time..
Tiga wanita ini hanyut dalam kisah masa lalu. Mikan bernostalgia, sedangkan Melody dan ibunya, Tsuchiya, mereka lebih ke mendapatkan pengalaman baru dari kisah masa lalu yang tak mereka ketahui desebelumnya. Ini seperti menambah ilmu pengetahuan? Ah, lupakan pemilihan kata yang kurang tepat ini. Tidak penting sama dekali!
"Aku sama sekali belum pernah bersapaan dengan ibunya nak Alvin, Kurenai. Tapi ketika mendengar akan kisah masa lalunya sampai dijadikan budak sex itu bukankah sangat mengerikan? Aku jika jadi dia, aku yakin, aku tak akan sanggup. Mungkin akan lebih baik jika aku mati saja saat itu." Kata Tsuchiya.
"Ibu, bunuh diri itu hanya tindakan pengecut dari mereka yang meragukan kuasa Tuhan. Jangan berbicara tidak baik seperti itu, Bu! Aku ini sedang hamil, lebih baik pilih kata-kata yang baik saja." Kata Melody.
__ADS_1
"Maafkan ibu, sayang! Ibu kan hanya takut berlebihan. Itu mengerikan, Mel! Hebat si ibunya Alvin itu bisa bertahan sampai hari ini. Luar biasa." Kata Tsuchiya.
"Iya ibu, aku maafkan kok. Dan kalau masalah ibunya Alvin, ya.. hmm.. aku tak bisa berkomentar banyak. Sekali lagi, semua orang sudah memiliki garis hidpunya. Itu adalah rencana Tuhan. Mungkin saja malah Tuhan saat ini sedang mempersiapkan kisah yang indah di suatu hari nanti, kan?" Kata Mikan.