
Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Alvin, media tempat kerja Kabutopun memberitakan tentang daftar penyuapan mega proyek di Miyagi. Suasana pagi ini sangat gaduh. Bahkan kantor Emperor Group kini sudah dibanjiri banyak wartawan.
Para wartawan itu ingin mendapatkan informasi lebih rinci atas kasus penyuapan mega proyek Miyagi. Polisi sudah mendalami bribe paper yang diulas di media masa dan menjadikannya sebagai barang bukti sementara. Oleh sebab itu, untuk mengurangi resiko kabur, Tuan Park dan Tuan Kang pun ditangkap sembari menguatkan barang bukti.
.
.
.
Kurenai berjalan cepat menuju ruangan Alvin. Ia tidak peduli kakinya sakit karena high heels yang dipakainya. Ia ingin segera menemui anaknya itu.
"Alvin! Kita dalam masalah besar. Tuan Park dan Tuan Kang ditangkap!" Kata Kurenai.
Alvin memutar kursinya dan menatap sang ibu dengan senyumannya. Belum menjawab pernyataan sang ibu, Alvin menyempatkan diri untuk meminum kopi paginya.
"Kau dengar ibu, kan? Katakan sesuatu, Vin!" Kirenai nampak panik.
Alvin meletakkan kopinya. Ia lalu mengusap sisa kopi di bibir tipisnya, dan lagi, ia kembali tersenyum.
"Kenapa ibu nampak panik akan berita itu?" Tanya Alvin.
Kurenai menuadari sesuatu. "Katakan itu bukan ulahmu, Vin!"
"Itu memang bukan ulahku, Bu. Hanya kebetulan mereka membocorkannya ke media." Kata Alvin santai.
"ALVIN! Meski mereka membocorkannya ke media, jika tanpa salinan bukti darimu mereka tak akan bisa. Kenapa kau melakukannya, Vin? Mereka itu sekutu kita!" Kurenai marah.
"Sekutu?"
"Mereka yang setia membantu kita hingga kita bisa sampai ke posisi ini."
"Ibu dengar, mereka tak sungguh-sungguh di pihak ibu! Mereka hanya memanfaatkan status ibu dan aku di keluarga Kazehaya untuk memuluskan rencana mereka. Balas dendam karena perusahaan mereka yang dikuasai Emperor Group hanyalah kedok. Nyatanya mereka ingin menggerogoti uang Emperor Group. Ibu tahu berapa uang yang sudah mereka korupsi selama bekerja di Emperor Group? Hampir 1 Triliyun! Dan itu semakin besar nominalnya ketika mega proyek Miyagi dimulai awal tahun yang lalu!" Jelas Alvin.
"..."
"Aku hanya tak ingin tikus-tikus itu merugikan Emperor Group." Lanjut Alvin.
__ADS_1
"Tapi kau membuat harga saham Emperor Group terendah dalam dua puluh tahun terakhir!" Kata Kurenai.
Alvin menakupkan kedua tangannya di atas meja. "Bukankah ini yang ibu sarankan? Jika harga saham Emperor Group turun, maka kita bisa membelinya dalam jumlah yang besar, kan?"
Kurenai tertegun. Ia menyadari jika anaknya ini sulit ia pahami. Alvin bisa mengerikan jauh dari yang ia sangka. Bukankah awalnya Alvin menolak untuk membuat harga saham Emperor Group turun? Kenapa sekarang berubah?
"..." Kurenai mati kutu.
"Aku sedang siap-siap membeli semua saham yang para pemegang saham jual. Dengan ini aku yakin jika saham yang aku miliki akan melebihi milik kakek." Alvin tersenyum lagi dan lagi.
"..." Kurenai hanya bisa menatap anaknya itu. Alvin memang tersenyum karena merasa berhasil sesuai rencana. Namun ada satu hal yang mengganjal hati.
Meski Alvin sedang tertawa, tapi mengapa kedua mata Alvin terlihat dingin?
.
.
.
Next In Co..
"Para hackerku mendapatkan bukti korupsi dan penyuapan yang mereka lakukan, tapi Alvin selangkah lebih maju. Haha, aku selalu tertinggal selangkah darinya. Dia lebih dulu lahir ke dunia ini dari diriku. Dia lebih dulu kenal Melody. Dia bahkan lebih dulu menyingkirkan Tuan Park dan Tuan Kang yang selama ini aku incar demi janjiku pada Takaoka-san... Kupikir aku harus berusaha sendiri, nyatanya aku memang butuh bantuan dari orang lain. Jika aku tak egois dan memilih menyuruh para hackerku, harusnya aku bisa menyingkirkan mereka lebih cepat... Tidak, ini sesuai rencana. Dengan jeda waktu cukup lama setelah pelengseran kakek, aku kini tahu siapa saja mereka yang bergerak di balik layar... Ya, aku mulai tahu sedikit demi sedikit. Uchiyama Azumane, aku seperti dipaksa merobohkan sebuah gunung. Bos yakuza Macan Selatan, dalang upaya pembunuhan kakek dan penculikkan paman Aron ini tidaklah mudah untuk disingkirkan."
Yudha meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja kerjanya. Ia berjalan ke arah jendela gedung sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.
"Jadi ini rencanamu ya, Vin? Kau membeli saham-saham Emperor Group sebanyak yang kau bisa." Gumam Yudha.
Rupanya Yudha mengamati pasar saham Emperor Group sejak berita heboh kasus penyuapan itu membanjiri media. Apalagi isu penggusuran tidak manusiawi di Miyagi ikut dibahas, harga saham Emperor Group semakin turun.
"Ide yang sangat bagus meski kau menempatkan Emperor Group di jurang yang berbahaya. Kau bahkan tak menghargai jerih payah kakek yang berjuang membesarkan nama Emperor Group selama ini. Ah, mungkin ini memang balasan yang setimpal untuk kakek atas perbuatannya terhadapmu dan ibu Kurenai... Kakek, jika kau mendengar suaraku, kumohon, segera sadarlah!"
.
.
.
__ADS_1
Tulip House...
"Shuhei-san, Ayane-nee, terima kasih sudah mengantarku kembali ke tempat ini." Kata Melody.
"Jika Yudha-sama mengetahuinya, maka sudah pasti dia akan membunuh kami." Kata Shuhei.
"Aku meninggalkan ponselku di kamar, jika dia melacakku, setidaknya dia tidak akan curiga. Dia pasti akan menghubingimu atau Ayane-nee untuk mencariku. Jika kalian tak membocorkannya, maka semua akan baik-baik saja." Terang Melody.
"Kami tidak akan membocorkannya, Melody-sama." Kata Ayane.
"Arigato gozaimasu, minna-tachi."
Minna-tachi: kalian semua.
Melody berjalan ke samping villa Tulip House. Shuhei dan Ayane mengikutinya dari belakang.
Di sana, di samping villa ada sebuah pohon akasia. Sebuah pohon yang Aron maksud. Sebuah pohon yang Aron gunakan untuk mengelabuhi para penculik saat menelpon Yudha dan dirinya.
"Tidak bisa menemuimu di bawah pohon akasia."
Itu yang Aron katakan pada Yudha. Itupula yang Aron katakan padanya saat Aron bertemu dengannya usai mengalami perkembangan setelah menerima banyak perawatan medis.
"Pohon ini..." Gumam Shuhei.
"Ya, ini pohon yang Aron-san maksud. Pohon yang dia gunakan untuk menyimpan harta karun miliknya. Karena dia bilang ini sangat penting sampai harus mengorbankan nyawa, maka, ini pastilah harta karun yang tak ternilai harganya. Aku penasaran apa harta karun itu sampai lebih berharga dari nyawa." Kata Melody.
Melody menyuruh Shuhei untuk menggali tanah di bawah pohon akasia itu. Dan tak lama mereka menemukan sebuah peti sesuai yang Aron maksud.
Shuhei mengambil peti itu dan membukanya. Di dalam peti itu ada peti kecil lagi, lebih mirip ke berangkas dan memiliki kode. Melody tak langsung membukanya, ia sendiri tidak tahu kode bukanya, yang tahu hanyalah Aron, ia hanya bertugas untuk mengambilnya saja.
"Kita harus segera kembali ke Tokyo dan membicarakan hal ini pada Aron-san." Kata Melody.
"Tapi Anda perlu istirahat, Melody-sama. Kandungan Anda..." Ayane menghawatirkan kondisi Melody yang belum lama ini keluar dari rumah sakit dan sedang hamil.
"Kita harus kembali ke Tokyo dengan segera, Ayane-nee sebelum mata-mata Yudha ataupun orang-orang jahat itu menyadari gerak-gerikku. Aku baik-baik saja, kandunganku juga. Jika nanti aku sakit, aku pasti akan bilang." Kata Melody.
Ayane melihat sorot tatapan Melody yang begitu serius, iapun akhirnya menyetujuinya untuk langsung kembali ke Tokyo.
__ADS_1
Dalam perjalanan kembali ke Tokyo, kejutan tak terduga mewarnai perjalanan mereka bertiga.
"Kakekmu siuman." Kata Ibu Mikan lewat sambungan telepon.