MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Tak Bisa Membiarkan


__ADS_3

Penyelidikan terus berjalan dan hingga akhirnya menemui titik terang. Kazehaya Yudha tidak terbukti bersalah atas kecelakaan yang menimpa Amamiya Yura. Rem blong pada mobil Yudha itu benar adanya. Hal itu karena sabotase. Polisi dan detective bayaran keluarga Kazehaya justru berasumsi jika ada pihak-pihak lain yang ingin membunuh Yudha. Hanya saja salah sasaran. Di sini, Yudha adalah korban, bukan tersangka. Yudha adalah target upaya pembunuhan.


Polisi dan para detektive masih berusaha mengungkap dalang dari upaya pembunuhan ini. Mengandalkan rekamn cctv yang berhasil dianalisa tim penyidik, mereka berusaha mengejar para pelaku.


Setidaknya, untuk saat ini, Kazehaya Yudha bersih dari tuduhan.


"Selamat ya Yudha, ibu ikut senang kau akhirnya bersih dari tuduhan." Kata Kurenai.


"Iya ibu Kurenai, terima kasih banyak." Kata Yudha.


"Bagaimana kabar istrimu? Ibu belum pernah bertegur sapa dengan dia. Bagaimana dengan kandungannya? Ibu dengar dari Alvin jika istrimu mengandung janin kembar." Tanya Kurenai. Ia menaduk teh matcha miliknya.


"Dia baik-baik saja, Bu. Iya, kembar. Melody dan kandungannya sehat." Jawab Yudha.


Kurenai memberikan teh matcha yang baru ia aduk itu kepada Yudha. Yudha menerimanya dan mengucapkan terima kasih.


"Ne Yudha.."


"Ya?"


"Apa kau dan Alvin sedang bertengkar? Ibu merasa jika Alvin saat ini terlihat berbeda. Alvin lebih banyak menghabiskan hari-harinya di rumah sakit. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya. Ibu khawatir jika Alvin tidak makan dengan baik." Kata Kurenai.


"Kami tidak bertengkar, Bu. Nanti aku akan menemui Alvin. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya juga."


Kurenai memegang bahu Yudha. "Kalian adalah kenangan terindah dari ayah kalian. Hanya ada kalian berdua. Ibu harap, kalian akan tetap saling bersama. Jika ada masalah, tolong diselesaikan baik-baik. Kau tahu Yudh, Alvin itu tipe pemikir berat. Ia bisa sangat kesulitan terutama tentang dirimu."


"Aku mengerti, Bu.."


Kurenai tersenyum lalu menepuk pelan bahu Yudha. Ia menyuruh Yudha untuk menikmati teh matcha buatannya.


.

__ADS_1


.


.


Sepeninggal Yudha..


Kurenai meminum teh matcha sambil melihat salju yang mulai menipis. Sudah tak setebal sebelumnya. Hawa dingin juga masih terasa.


Di depannya sana, di balik kaca jendela, ada sebuah pohon bunga sakura tanpa daun. Salju tertahan di beberapa rantingnya.


Tiba-tiba ada seekor burung kecil yang hinggap di sana. Menyenandungkan sebuah lagu yang membelah sepi yang mendingin.


"Putri Amamiya memang sudah tak bisa dimanfaatkan lagi. Yudha juga sudah bersih dari tuduhan. Tidak masalah, sesuai rencana. Nama baik Yudha sudah tercermar meski pada dasarnya dia tidak bersalah apa-apa. Hubungan Alvin dan Yudha juga terlihat memburuk. Ini kesempatan besar untuk Alvin memilih antara Yudha atau kebahagiaan dirinya."


Tumpukkan salju yang tertahan di ranting bunga sakura itu akhirnya terjatuh juga ketika burung kecil itu lelah bertahta.


"Alvin, kau harus lebih egois untuk memperjuangkan kebahagian dirimu. Berhentilah mengalah dan kejar semua impianmu! Kejar semua keinginanmu! Kau sudah terlalu banyak menderita. Kau sudah familiar dengan luka. Rasanya sakit, bukan? Kau harus bahagia demi dirimu sendiri! Meski kau harus menorehkan luka kepada orang lain sekalipun. Tetaplah berusaha bahagia. Tinggalkan pijakkanmu saat ini dan terbanglah bebas seperti burung kecil itu! Kepakkan sayapmu dan terbanglah yang tinggi! Dan saat kau terbang di atas sana, kau akan mengerti jika dunia ini begitu luas. Kau akan mengerti jika masih ada banyak hal indah yang perlu kau nikmati."


Burung kecil itu terbang tinggi, mengepakkan kedua sayapnya. Terlihat bebas dan lepas.


.


.


.


Setelah mengunjungi Kurenai, Yudha berangkat ke Miyagi untuk menemui Melody. Ia harus minta maaf pada Melody karena baru sekarang bisa ke Miyagi. Investigasi tahap akhirnya membutuhkan waktu lebih lama dari prediksinya.


Yudha yakin, Melody saat ini sedang kesal karena hal itu. Buktinya, ia sudah menelpon puluhan kali, Melody tidak mengangkatnya. Ia juga sudah mengirim banyak pesan, tapi tak ada satupun yang dibalas oleh Melody.


Marahan dengan Melody itu tidak enak. Yudha sadar akan hal itu. Tapi untuk saat ini, ia malah menikmati setiap amarah Melody terhadapnya. Melihat Melody yang merajuk itu sangat menggemaskan. Apalagi merajuk karena rindu yang tertahan. Membuatnya tidak sabar ingin segera menemui Melody dan menerima segala luapan amarah Melody terhadapnya.

__ADS_1


Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat senyum-senyum sendiri. Apa Melody akan memukulnya? Apa Melody akan mengabaikannya? Lebih jauh lagi apa mungkin Melody akan mengunci diri di kamar tanpa boleh ia memasukkinya?


"Aku sangat merindukanmu, Mel. Aku ingin menghabiskan hariku denganmu. Setiap detik menjadi sangat berarti ketika itu bersama denganmu. Senyummu, tawamu, kesalmu, semua ekspresi dari wajahmu membuatku tak bisa melupakannya. Membuatku betah dan ingin berlama-lama denganmu. Melody, kau tahu, aku tidak pernah segila ini dalam jatuh cinta. Kurasa aku bisa gila jika aku kehilanganmu. Hari berat lebih dari sekedar rasa rindu kita akan segera menyapa, Mel. Saat itu tiba, mampukah kita bertahan? Hanya tidak bisa bertemu dua minggu saja sudah seperti ini. Apalagi nanti? Kau harus belajar menahannya, Mel! Meski kau merasa sudah tidak kuat sekalipun, aku mohon bertahanlah! Bahkan persiapkan untuk kemungkinan terburuknya.." Batin Yudha.


Yudha menatap kosong jalan lurus yang ada di depannya. Sambil menyangga kepala dengan tangan kanannya, ia berharap jika semua akan baik-baik saja dalam kendalinya.


Masalah ke depan akan lebih rumit dari sekedar rasa rindu. Masalah akan lebih berat, lebih susah, bahkan lebih banyak pengorbanan yang harus dipertaruhkan. Pertaruhan nyawa adalah paling buruk.


"Tuan Muda, Anda baik-baik saja?" Tanya Shuhei yang khawatir dengan Tuan Muda sekaligus sahabatnya itu.


"Jika aku bilang baik-baik saja, maka akan ketahuan bohongnya, kan?" Yudha malah tanya balik.


"Apakah Anda meragukan Tuan Muda Alvin?" Tanya Shuhei. Ia berusaha untuk tetap fokus menyetir.


Yudha terdiam. Nama kakaknya itu memang cukup menganggunya. Apalagi jika menyangkut mengenai Melody. Semakin hari semakin rumit.


Belum lagi dengan ibunya Alvin.


"Aku tidak ingin memiliki rasa itu, saat ini maupun nanti." Jawab Yudha.


"Saya harap Tuan Muda Alvin tidak akan berubah. Saya ingin mempercayainya sampai akhir meski rasanya akan sangat sulit." Kata Shuhei.


"Hn."


Yudha bukanlah sosok yang bodoh. Ia tahu banyak hal. Ia hanya belum bisa memutuskan apa yang terbaik dengan resiko pengorbanan paling sedikit. Banyak orang yang ia sayangi. Banyak pula orang yang ingin ia jaga.


"Aku tak boleh membiarkan mereka mengincar Melody. Aku harus melindunginya segenap jiwa dan ragaku."


.


.

__ADS_1


.


"Tuan Muda, berhati-hatilah! Mereka akan semakin mengincar Anda dan Nona Melody. Meski saya sudah mengirim bodyguard untuk mengawasi Nona Melody, tapi bukan berarti itu bisa menjamin keselamatannya. Semua masih menjadi misteri, banyak dalang bermain di balik layar, salah satunya Nyonya Kurenai."


__ADS_2