MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Tidak Bisa!


__ADS_3

Kondisi Alvin tetap stabil meski rasa sakit akibat leukimia yang ia dera semakin terasa. Rasa sakit yang tak bisa dijelaskan bagaimana rasanya. Tidak bisa membandingkan dengan apapun rasa sakitnya. Kadang, meski tidak baik, Alvin sendiri ingin segera mati saja daripada merasakan bagaimana sakitnya.


Ibunya Alvin, Kurenai, menjenguk Alvin dan menangis sejadinya. Ia mencoba tes kecocokannya sumsum tulang belakang, hasilnya sama sekali tidak cocok dengan milik Alvin. Ia bahkan bersujud untuk meminta kesedian anggota keluarga Kazehaya lain, tapi juga tidak ada yang cocok. Kakek Wijaya dan Nenek Chiyo masih punya hati, sebelum penyakit Alvin memburuk pun, mereka juga susah mencoba tes, tapi tidak cocok.


Dari semua yang memiliki ikatan darah dengan Alvin, tinggal Yudha. Hanya saja, Yudha memih untuk diam. Laki-laki tampan ini tetap berdiri di tempatnya meski Kurenai bersimpuh dan memohon di depannya. Kurenai sudah menangis sejadinya, menyesali perbuatannya, menjanjikan apapun untuk Yudha, Yudha tetap bergeming.


"Yudha, tolong selamatkan Alvin. Ibu mohon, tolong selamatkan nyawa Alvin... Dia anak yang baik, yang jahat hanya diriku. Tolong, dia masih muda, masa depannya masih panjang... tolong Yudh... tolong..." Ucap Kurenai berkali-kali.


Mikan dan Nenek Chiyo bahkan sampai menangis. Sebenci mereka dengan Kurenai, tapi ini demi Alvin. Alvin yang sudah banyak berkorban untuk keluarga ini. Termasuk Melody yang kini tergugah untuk ikutan memohon kepada suaminya itu.


"Yudh, aku tahu ini egois, kau pun juga punya hak atas kemauan dirimu. Namun, itu Alvin, Yudh... Alvin saudaramu satu-satunya... Tolong dia... Yudha, tolong dia..." Kata Melody.


"Yudha... sudahlah, Nak... lepaskan dulu masa lalu... Nyawa Alvin di ambang batas."


Ruang inap Alvin cukup ramai, isinya orang termehek-mehek dan kesedihan. Yudha tak menyukai situasi seperti ini, apa lagi sampai melihat tangisan Melody. Hatinya jadi tak karuan. Menoleh ke samping, Alvin kesakitan. Padahal baru diberi obat pengurang rasa sakit.


Kanker darah apa sesakit itu?


Jika itu dirinya yang kena, apa Alvin akan segera mendonorkan sumsum tulang belakang untuknya?


Mengingat bagaimana Alvin itu... ah, harapan itu selalu ada karena ia kenal betul saudara seayahnya.


Dua wanita susah bersimpuh di depan Yudha, penuh tangis, penuh harapan, lagi, Yudha enggan mengucap sepatah kata pun. Hingga akhirnya, sesosok wanita yang sudah ia kenal masuk ke dalam ruang inap milik Alvin itu. Dengan mata sembab dan berlinang air mata, ikutan bersimpuh di depan Yudha. Bahkan sampai memegang kaki Yudha untuk memohon.


"Aku tak kenal baik dirimu, aku bisa berteman denganmu juga hanya karena Melody. Namun, aku mohon, tolong selamatkan Alvin-senpai..."


Mia?


Itulah yang ada di benak semua orang yang ada di ruangan itu. Bahkan Yudha sendiri juga heran, kenapa Mia bisa ada di sini dan ikutan memohon? Pakai acara menangis lagi? Apa persahabatan Mia dan Alvin sangat dalam, sampai-sampai Mia rela memohon seperti ini?


"Yudha-sama, selamatkan lah Alvin..." Bahkan Mia mendewakan Yudha agar laki-laki yang baru saja jadi ayah muda ini luluh. "... Aku... aku sangat mencintai Alvin-senpai dan aku... saat ini sedang mengandung anaknya."

__ADS_1


Apa lagi ini?


Hamil?


Mia hamil? Semua tak menyangka. Kejutan apa lagi ini? Mia hamil anaknya Alvin?


Melody memegang lengan Mia yang ada di dekatnya itu. Ia minta penjelasan. "Mia?"


Mia menoleh. "Aku akan jelaskan nanti..." Ia berpaling dan kembali menatap Yudha dari bawah. Ia menakupkan kedua tangannya. Ia kembali memohon. "... Dia bahkan belum tahu jika aku hamil. Anakku masih butuh ayahnya... Aku mohon, Yudha-sama... tolong selamatkan Alvin-senpai..."


"..." Karena Yudha tetap diam saja, akhirnya tangisan Mia pecah, dari yang tadi hanya berlinang air mata, kini mengeluarkan suara. Pilu dan terdengar menyedihkan.


Kali ini, Mikan dan nenek Chiyo pun ikutan bersimpuh. Susah lima wanita yang memohon kesediaan Yudha untuk mendonorkan sumsum tulang belakang.


Sialan!


"Cih... sudah, sudah! Ini bukan Opera termehek-mehek! Bangun kalian semua!" Seru Yudha kesal.


"..." Tentulah mereka tidak ada yang bangun, mereka hanya menatap ke arah Yudha.


"Aku tak bisa..." Kata Yudha.


"?"


"Aku tak bisa membiarkannya mati dengan cepat. Aku masih belum menendang bokongnya karena mencintai istriku." Lanjutnya.


Seketika itu senyuman terpampang di wajah semua orang. Yudha meninggal ruangan inap milik Alvin dan menuju lab rumah sakit untuk memeriksakan kecocokan sumsum miliknya dengan milik Alvin. Dan ya, sesuai dugaan, milik Yudha memang yang paling cocok dengan milik Alvin.


Andai kata Yudha tidak cocok, maka perlu cari donor lain, dan itu pasti akan sangat sulit sekali untuk ditemukan. Memakan banyak waktu yang justru akan semakin menbahayakan nyawa Alvin.


.

__ADS_1


.


.


Yudha melakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik secara keseluruhan, kondisi emosional dan psikologis juga. Lalu diikuti pemeriksaan jantung, paru-paru, seperti Rontgen dada dan spirometr. Selain itu, Yudha juga melakukan tes darah, pemindaian dengan CT scan atau M, dan biopsi sumsum tulang.


Semua berjalan dengan baik. Yudha tidak memiliki keluhan berarti. Intinya, Yudha layak dan siap untuk menjadi pendonor sumsum tulang untuk Alvin.


Ada harapan besar dari Kurenai, Mia, dan keluarga Kazehaya, termasuk pada tim dokter yang menangani Alvin.


Tes HLA (human leukocyte antigen) tissue typing, yaitu pemeriksaan untuk mengetahui apakah sumsum tulang pendonor akan cocok pada calon penerima donor, juga semakin menambah harapan.


Hingga akhirnya, setelah melewati serangkaian pemeriksaan yang panjang selama beberapa hari, termasuk pemasangan kateter dan pengambilan sel punca darah, hari dimana operasi donor sumsum tulang belakang pun tiba.


.


.


.


Melody terus saja mengusap-usap dahi suaminya. Mencium sekilas dan mengucapkan jika semua akan baik-baik saja.


"Aku dan si kembar menunggumu! Janji padaku jika kau akan baik-baik saja!" Ucap Melody.


"Ya. Aku akan baik-baik saja. Ingat, aku akan menagih jatahku setelah membaik nanti. Tepati juga janjimu!"


Ucapan Yudha sebenarnya membuat Melody geram. Di saat seperti ini, masih juga memikirkan hal mesum seperti itu? Yakin, itu hanya Yudha! Janji yang Melody ucap semalam sebelum tidur. Namun ya, Melody sendiri berniat menyanggupinya karena ini seperti hadiah untuk suaminya yang sebentar lagi akan bekerja keras mempertaruhkan nyawanya.


Melody tersenyum. "Ya, aku akan menepati janjiku..."


Yudha pun tersenyum dan segeralah ranjang dorong Yudha masuk ke dalam ruang operasi menyusul Alvin yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Pintu ruang operasi tertutup rapat, dan lampu ON pun menyala.


Di luar ruangan semua menunggu dengan gelisah bercampur doa dan harapan. Kurenai juga diizinkan menemani meski kedua tangannya diborgol dan didampingi dua polisi.


__ADS_2