MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Yudha Bertemu Yura


__ADS_3

Di lain tempat…


"Yudha…" Sapa Yura yang langsung merangkul lengan Yudha.


Yudha yang cukup kaget langsung berusaha melepaskan rangkulan tangan Yura. "..."


"Kau kenapa? Apa aku melakukan kesalahan padamu?" Tanya Yura mengintimidasi karena Yudha menolaknya.


Tidak biasanya, kan?


"Bukan begitu, aku hanya merasa kurang nyaman karena banyak orang yang menatap kita." Jawab Yudha sekenanya.


"Memangnya kenapa? Sudah biasanya mereka menatap kita seperti itu. Sepertinya ada yang aneh dengan dirimu? Ada masalah, hm?"


Yudha terdiam sejenak. "Tidak, ayo ke kelas!" Ajak Yudha akhirnya.


Shuhei berjalan mengekor di belakang Yudha dan Yura yang berjalan beriringan. Ia hanya mengamati Tuan Mudanya yang dingin seperti biasanya saat menanggapi ocehan Yura.


"Ada apa dengan wanita ini? Menjadi cerewet seperti bukan gayanya saja.." Batin Shuhei.


.


.


.


Jam kuliah sudah usai, Melody meregangkan otot-ototnya yang super kaku karena hampir dua jam penuh ia gunakan untuk menulis, mencatat semua materi penting yang dosennya berikan.


Ternyata kuliah itu melelahkan jika dilakukan karena serius, batinnya.


Memang selama ini ia jarang fokus kuliah. Faktor malas dan lelah karena perkerjaan paruh watunya yang membebaninya. Ia memang tidak pintar, tapi ia juga tidak begitu bodoh. Jadi ia harus berusaha keras dalam belajar jika tidak ingin nilai buruk menimpanya.


Apalagi beban menjadi istri Yudha selalu menghantuinya. Ia tidak mau dicap sebagai istri yang bodoh, tidak pantas disandingkan dengan Yudha. Ia bertekad tidak akan mempermalukan keluarga Kazehaya.


Beep.. beep..


"Moshi moshi?.. Kakek?… Sudah, baru saja selesai… Hm, begitu?… Baiklah, nanti aku sampaikan ke Yudha… Iya, sampai nanti, Kek." Kata Melody di telpon. Ia langsung memasukan ponsel miliknya.


"Ada apa?" Tanya Mia.

__ADS_1


"Bek, maaf aku duluan ya. Aku harus menemui Yudha. Ada sesuatu yang penting yang harus aku sampaikan kepadanya." Jawab Melody.


"Ah? Baiklah, hati-hati!" Mia bisa memaklumi sahabat terbaiknya itu. "Dasar Nyonya Kazehaya." Batinnya senang.


Melody lekas pergi meninggalkan kelas.


Moshi-moshi: Halo.


.


.


.


Melody berjalan cepat menuju gedung kelas Yudha. Letaknya memang tidak begitu jauh, tapi cukup menguras tenaga jika harus di tempuh dengan berjalan kaki. Apalagi Melody harus menuruni ratusan anak tangga mengingat kelasnya yang berada di ujung paling pojok, lantai tiga. Hanya menuruni tangga saja sudah membuatnya kelelahan. Sepertinya tidak berlebihan jika siang ini ia akan mengalami dehidrasi ringan.


"Ne, ayo makan bersama! Sudah lama kita tidak makan siang bersama. Di seberang perempatan kampus, aku menemukan restoran ayam bakar baru buka. Sepertinya kita perlu mencobanya." Ajak Yura sambil membereskan buku-bukunya.


"Bukankah kau paling anti makan makanan berlemak? Apa kau lupa dengan dietmu?" Kata Yudha yang sudah selesai merapikan semua peralatan kuliahnya.


"Nanti aku bisa ke gym untuk menurunkan berat badanku. Lagipula kita sudah sebulan tak bertemu."


"Wah, jika diingat-ingat, ini pertama kalinya aku memasuki gedung khusus ini. Cih, benar-benar tidak adil. Sama-sama mahasiswa sekampus saja didiskriminasi." Gumam Melody.


Shuhei melihat Melody yang sedang mengatur nafas lelahnya. Kebetulan saat ini ia sedang berdiri di depan pintu kelas.


"Nona Melody.." Panggil Shuhei.


"Ah, hai Shuhei-san.." Kata Melody menyapa.


"Ada sesuatu yang Anda inginkan?" Tanya Shuhei.


"Kuliahmu sudah selesai?" Tanya Melody.


"Ya, baru saja. Bagaimana dengan Anda sendiri?" Tanya Shuhei.


Melody tidak pernah bercakap-cakap selama ini dengan Shuhei, ia harus memanfaatkan waktu yang ada. Ia harus menjalin hubungan yang baik pada orang-orang di sekitar Yudha.


"Aku juga sudah selesai, makanya aku bisa sampai ke sini, kan?" Jawab Melody.

__ADS_1


Shuhei tersenyum. "Ah, benar juga. Tidak mungkin Anda sampai ke sini jika Anda masih ada kelas. Kecuali Anda sedang membolos." Kata Shuhei.


"Jiah, Tuan Muda dan bodyguard pribadinya itu memang sangat serasi ya? Dengar, meski aku tak sejenius penghuni gedung ini, aku ini tidak pernah bolos kuliah!" Kata Melody.


Shuhei tidak sekaku yang Melody kira. Shuhei juga memiliki selera humor yang baik. Sepertinya akan mudah akrab dengan Shuhei ke depannya.


"Anda keren, Nona Melody!"


"Yaelah kau ini, bermulut manis juga rupanya. Oh iya, kalau kau sudah selesai kuliah, maka Yudha juga sudah selesai kuliah, kan?" Tanya Melody ceria.


"Ah Nona, Tuan Muda ada di dalam. Sebentar saya akan memanggilnya untuk Anda." Pinta Shuhei.


Meski Shuhei itu cukup mudah diakrabi, tapi gaya bahasa yang Shuhei gunakan itu terlalu sopan di telinga Melody. Itu artinya, masih ada sekat kasta yang membatasi keakraban yang Melody inginkan.


Apa karena ia adalah istri Yudha yang notabene 'majikan' Shuhei?


Itu kemungkinan yang paling masuk akal.


"Haish seperti biasa kau berbicara formal kepadaku. Kita ini sebaya, aku tahu kesopanan itu baik, tapi aku tidak menyukai kau berbicara dengan bahasa yang begitu formal kepadaku. Kalau itu karena Yudha yang menyuruhmu, aku akan melayangkan protes kepadanya." Omel Melody yang memang sedari awal tidak menyukai sistem kasta berdasarkan tahta keuangan.


Shuhei hanya tersenyum menanggapi ocehan ringan Melody. Nona Mudanya ini memang berbeda. Ia hanya harus membiasakan diri.


Shuhei lalu membuka pintu kelasnya. Terselip ide dalam dirinya. Kehadiran Melody memberikan ide baru dalam otaknya. Tugasnya adalah menjaga Tuan Mudanya dalam segala hal. Termasuk yang satu ini.


"Tuan Muda, istri Anda mencari Anda. Nona Melody menunggu Anda di depan kelas." Kata Shuhei tanpa basa-basi memotong obrolan Yudha dan Yura.


Shuhei bahkan menekankan kata 'istri Anda' pada kalimat yang keluar dari mulutnya. Melihat Yura yang begitu lama menempel pada Yudha, membuatnya merasa risih. Yudha itu sudah menikah, tak sepantasnya berlaku terlalu dekat dengan wanita lain yang bukan istrinya.


Sebagi pelayan setia keluarga Kazehaya, maka Shuhei harus melakukan sesuatu agar nama baik keluarga Kazehaya tidak tercemar.


"Maaf Yura, aku tidak bisa menemanimu. Melody sudah menungguku. Sampai jumpa." Yudha bangkit dari duduknya dan meninggalkan Yura.


Pergi begitu saja?


Yura mengamati Yudha sampai pria yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya itu lenyap di balik pintu. "Istri ya?" Batin Yura miris.


Kenapa yang seperti ini rasanya semakin sakit saja? Bahkan semakin sakit setelah ia kembali ke Jepang sekalipun. Padahal ia juga sudah bertemu dengan Yudha, orang yang ingin ia temui saat ia masih di Paris.


"Pertemuanku yang tak seperti yang aku bayanhkan. Semua anganku sirna. Tidak seperti dulu saat aku dan Yudha bertemu setelah pisah karena pekerjaanku. Biasanya Yudha bersedia melakukan segala keinginanku, tapi kini berbeda. Ia menolakku begitu saja. Ia bahkan bisa pergi dariku dengan mudahnya." Batin Yura.

__ADS_1


Hatinya mulai berkecamuk.


__ADS_2