
Ini adalah chapter lanjutan Melody yang bertemu dengan Tuan Han, yang sebelumnya tidak jadi aku lanjutkan dan aku putuskan untuk dilanjutkan di new chapter saja.
Selamat membaca....
_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x
_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x
Jadi Melody dan Tuan Han posisinya saat ini ada di Kyoto ya. Melody ke Kyoyo naik kereta cepat Shinkansen ditemani oleh Ayane.
Sebelumnya..
"Jika Anda memiliki waktu luang untuk memata-matai keluarga Kazehaya selama ini, kenapa kelurga yang jauh lebih dekat dengan Anda malah tidak Anda ketahui? Anda terlalu melihat jauh tanpa peduli nasib apa yang ada di sekitar Anda... Tidakkah Anda ini konyol? Bagaimana bisa Anda melewakan hal penting seperti ini?" Tambah Melody.
Melody terus saja menyerang. Ia harus bisa melanjutkan permainan kata-katanya untuk bertahan menghadapi orang semengerikan Tuan Han. Yang saat ini, jujur saja, membuat tubujnya gemetar dan menciutkan nyalinya. Namun, ia tak boleh terpengaruh dengan tekanan pada psikisnya. Ia harus menyelamatkan Yudha, maka semua pengganggu untuknya menyelamatkan Yudha haruslah dimusnahkan.
Dan lihatlah itu! Tanpa Melody duga, Tuan Han malah tertawa. Melody mengernyitkan jidatnya. Ada apa ini?
"Tidak ada yang lucu sama sekali, tapi Anda justru tertawa. Apakah Anda sama sekali tidak paham akan situasi saat ini?" Tanya Melody heran.
"Tidak..." Tuan Han masih tertawa. "Saya hanya sedang sangat senang karena ternyata, saya masih memiliki sanak saudara di dunia yang sekotor ini." Kata Tuan Han.
.
__ADS_1
.
.
"Tentulah Anda akan sangat senang, bukan? Saya pikir, bau kematian mulai mendekati Anda selangkah lebih dekat." Kata Melody.
"Jika Anda benar-benar cucu dari paman Hadinata, harusnya Anda berbicara lebih sopan dengan paman Anda ini! Anda bertingkah seperti malaikat pencabut nyawa saya... Apa Anda pikir, saya ini akan mudah mati oleh keponakan yang sedang mengandung seperti diri Anda? Yang buat berdiri saja sudah kesusahan." Kata Tuan Han. Ia tak mau kalah adu bicara dengan Melody.
"Saya ini tidak seperti Anda, Paman Han! Saya manusia yang masih memiliki hati dan perasaan. Saya tidak tega membunuh manusia, apa lagi sanak keluarga sendiri. Saya ini tidak mewarisi keberanian kakek saya yang berani membantai kakaknya sendiri." Melody mulai menyebut Tuan Han dengan sebutan paman.
Meski tak mau mengakui, tapi fakta jika Tuan Han adalah anak dari kakak kakeknya tak bisa ia pungkiri. Tuan Han tetaplah keluarganya.
Selama ini, ia hanya hidup berdua dengan sang ibu. Ketika mengetahui ada sanak keluarga lain yang masih hidup, ada sisi lain yang membuatnya bahagia. Anda saja takdir lebih indah, mungkin kebahagiaannya akan terasa lrbih lengkap. Namun apa lagi, apa lagi yang bisa dilakukan? Tuan Han itu jahat. Bersyukur saja masih ada Azumane yang nampak baik dan murah senyum.
Jika ingat Azumane, Melody ingat jika ia sama sekali belum menyapa pamannya ini dengan benar. Meski Orion sudah memberitahu dirinya bahwa Orion sudah mengatakan kebenarannya lada Azumane, tapi setelah itu belum ada pembicaraan yang benar-benar menjurus ke arah keluarga.
"Jika Anda memiliki sifat yang sama dengan paman Hadinata, tentulah Anda dengannya akan menjadi sangat mirip. Ketika saya memutuskan untuk membunuh Yudha suami Anda, Anda tidak akan balas dendam, kan?" Senyum seringai Tuan Han.
Melody langsung melebarkan kedua matanya. "Anda berlebihan! Anda sudah berjanji kepada saya jika Anda akan membebaskan Yudha jika saya menyerahkan dokumen akta pindah kepemilikkan saham milik Yudha kepada Anda!" Sanggah Melody tidak ikhlas.
Tuan Han menyandarkan dirinya pada kursi yang sedang ia duduki. Ia masih saja tersenyum penuh kemenangan di bibirnya.
"Anda ini terlalu lugu atau memang sangat bodoh, wahai keponakan saya! Apakah dengan perjanjian seperti itu, saya akan menepatinya? Ha ha ha ha ha, Anda paling tahu bagaimana jahat dan liciknya saya ini. Anda seharusnya tidak pernah mempercayai saya. Karena apa? Karena apa pun yang Anda lakukan, saya tetap akan membunuh Yudha! Yudha akan tetal mati meski Anda tidak atau menyerahkan dokumen akta pindah kepemilikkan saham milik Yudha itu." Ujar Tuan Han.
__ADS_1
Melody mengepalkan tangannya. Ia kesal bukan main. "..."
Tuan Han semakin di atas angin. Ia mendapatkan harta karun yang akan membuatnya kaya raya, ia juga bisa membunuh salah satu keturuan Kazehaya yang ia dendami sejak lebih dari lima belas tahun yang lalu.
"Malam ini, saya akan menyuntik mati suami Anda. Saya akan berbaik hati dengan tidak melukai Yudha terlebih dahulu karena Yudha adalah suami Anda yang merupakan keponakan saya sendiri. Dengan disuntik mati, Yudha tidak akan merasakan sakit apa-apa lagi. Yudha akan tidur dengan sangat nyaman dan damai." Kata Tuan Han.
Menyuntik mati Yudha?
Ini memangalah rencana yang sudah ia susun ketika ia berhasil membuat saham milik Yudha menjadi miliknya. Ia akan membunuh Yudha dan juga akan mengirim jasad Yudha agar Kazehaya Wijaya yang amat sangat dibenci olehnya itu merasakan hancur sama seperti dirinya ketika kehilangan segalanya dulu.
"Jika Anda berani mrnyentuh Yudah seujung rambutnya saja, saya pastikan jika saya sendiri yang akan membuat perhitungan dengan Anda!" Ancam Melody.
Tuan Han kembali tertawa. Kali ini, ia cukup terbahak-bahak. "Ujung-ujungnya memang akan balas dendam. Sifat bawaan paman Hadinata mulai menunjukkan diri rupanya... Namun, apa Anda pikir bisa kembali ke Tokyo dengan selamat?" Tuan Han menatap Melody serius.
Mata membunuhnya ini seolah berusaha melemahkan otot dan saraf milik Melody yang sedang duduk di hadapannya ini.
Melody ingin mengambil nafas banyak-banyak. Ia mungkin saja sebentar lagi akan pingsan mengingat debat bicara seperti ini sangat melemahkan otot dan juga otak.
Tuan Han mengambil senjata api dari dalam saku jas miliknya. Ia lalu menodongkannya kepada Melody.
"Anda akan saya kuburkan sepeti mati dengan suami Anda sebagai wujud terima kasih karena sudah saya manfaatkan." Kata Tuan Han.
"Anda akan mebunuh saya di tempat seperti ini? Ini adalah restoran." Tanya Melody.
__ADS_1
"Ya... Kyoto adalah milik saya. Meski saya melakukan tindak kriminal sekalipun, saya tetap tidak akan dipenjara. Kyoto adalah sarang saya, Anda masuk ke sarang macan. Jadi jangan harap Anda akan bisa keluar dari hingar bingar kota kebudayaan yang indah dan klasik ini!"
Kini Melody malah berani tersenyum. "Apa Anda yakin wahai paman Han?" Kata Melody yang dalam sekejap, seisi restoran itu dan termasik pegawainya menodongkan pistol dengan berbagai jenis kepada Tuan Han.