
Malam tiba, acara resepsi pernikahan berlanjut di Hotel Amamiya. Dengan gaun pengantin yang sudah dipersiapkan dengan sangat baik, Melody terlihat sangat cantik malam itu.
Gaun putih terbuat dari kain satin memberikan kesan anggun pada Melody. Gaun itu adalah gaun yang cukup panjang dan menampilkan bahu indah Melody karena gaun itu dibuat tanpa lengan. Melody terlihat semakin cantik dengan tatanan model rambut bun dengan tiara yang mengiasi kepalanya.
"Kau sudah siap? Sudah tidak gugup lagi?" Tanya Yudha.
Melody menggelengkan kepala. "Upacara pernikahan sudah berlangsung tadi siang, ini tinggal resepsi. Jadi aku merasa jauh lebih santai." Jawab Melody.
"Baguslah, kuharap kau tidak tersandung gaunmu sendiri dan jatuh tersungkur." Harap Yudha.
Kesal. Ya kesallah, kenapa Yudha harus berbicara seperti itu?
"Maksudmu apaan sih? Kau ini.." Sungut Melody.
"Hei aku hanya berharap demi kebaikanmu! Salah?"
"Hah, iya tahu, tapi maksudku mbok iya kau itu memilih kata yang lebih baik lagi! Jatuh tersungkur itu horor, Yudh!"
"Kalau itu horor menurutmu, ya jangan sampai jatuhlah!"
😡
"Iya, aku pastikan tidak akan jatuh! Puas?"
Yudha menyeringai. "Puas."
Cih sial. Yudha selalu saja membuat tensi darahnya naik. "Seumpama aku terjatuh nanti, apa kau akan menolongku?" Tanya Melody berharap.
"Tidak.."
ðŸ˜
"Kau menyebalkan!"
"Tidak mungkin tidak menolongmu!"
Mata Melody melebar senang. "Sungguh?"
"Iya, makanya kalau ada orang ngomong itu dengarkan dulu sampai selesai. Jangan kebiasaan memotong pembicaraan!"
"Habisnya kau kalau berbicara sering menggunakan bahasa yang terlalu tinggi untukku, aku kan jadi susah mengikutinya." Gerutu Melody.
"Aku berbicara dengan bahasa harianku, memang bahasa yang tidak tinggi atau bahasa rendah itu seperti apa?" Tanya Yudha.
Oke, tampang Yudha yang tampan itu terlihat kebingungan. Melody terkekeh karena itu sangat lucu menurutnya.
"Ya yang sederhana saja!"
"Contohnya?"
Yaelah, Yudha sampai meminta sampelnya. Melody ingin tepok jidat, tapi terlalu sayang dengan make up tiga jamnya.
__ADS_1
"Contohnya, hmm, begini, misal, aku mau makan. Kau tidak perlu membuat kata dengan arti yang sama, tapi dengan bahasa tinggimu. Seperti, perut terasa kosong, butuh pengganjal." Terang Melody.
"..."
"..."
Tiba-tiba ada efek jeda yang panjang dengan suara tiga ekor gagak lewat di atas pasangan pengantin baru ini.
"Ah, sudah lupakan saja, Yudh! Tidak usah ambil pusing! Jadilah dirmu sendiri, aku yang akan berusaha menyesuaikan diri." Kata Melody.
"Kita sudah menikah, aku juga akan berusaha menyesuaikan diri padamu." Kata Yudha.
Mereka saling balas senyuman.
.
.
.
Melody berjalan dengan menggandeng lengan kiri Yudha, suaminya. Dengan high heels 15 cm di kakinya, Melody melangkah dengan sangat hati-hati. Meski ia bisa memakai high heels, tapi jika memiliki hak yang hampir setara berjinjit akan membuat kaki Melody gampang pegal.
Lebih Melody takutkan jika ia sampai kesleo, lalu terjatuh, dan membuat semua tamu undangan menertawakannya. Pasti akan sangat memalukan!
Melody juga membawa sebuah buket bunga mawar putih di tangan kirinya.
Acara resepsi berlangsung sangat meriah dan lancar. Semua tamu undangan menikmati setiap moment acara. Kesan baik terukir. Banyak yang mengagumi penampilan Melody dan Yudha sebagai pasangan yang serasi. Yudha tampan dan mempesona. Melody anggun dan sangat cantik.
Yudha sering mencuri pandang untuk mengagumi betapa cantiknya Melody. Yudha sering merasa bingung dengan matanya sendiri.
Kenapa setiap kali ia melihat Melody, Melody akan nampak semakin cantik dan semakin cantik. Apa yang sedang ia rasakan? Semakin ia mendalaminya, semakin ia tidak mengerti.
Melody merubah banyak cara berpikirnya.
"Apa kalian yakin dengan apa yang dikatakan Yudha tadi? Dia tidak mencintai Melody-chan? Karena perjodohan?" Bisik Nao.
"Dia menatap Melody cukup lama, aku sudah menghitungnya dan ini lebih dari sepuluh detik. Kalian tahu apa artinya?" Tanya Neil.
"Jika seseorang menatap orang lain lebih dari sepuluh detik tanpa berkedip, maka ada rasa ketertarikan di antara mereka." Jawab Sai.
"Sodesu ne? Tapi akurasa ada yang lain dari tatapan itu." Kata Nao.
Sodesne: Sodesu ka: Begitu ya..
"Apa?"
"Bisa juga kan Yudha memandang jidat Melody-chan? Aku kalau gugup, atau merasa takut pada orang, aku tak berani menatap matanya, jadi aku menatap jidatnya agar seolah aku berani menantangnya." Kata Nao.
"Hm, bisa juga ya."
"Benar juga."
"Entahlah, eh ternyata Melody-chan sangat cantik ya? Tadi selama prosesi pernikahan adat, aku tidak begitu jelas melihat wajah Melody-chan… Kalau aku jadi Yudha, aku tidak akan menyesali atau merasa rugi menikah dengan wanita secantik dan seanggun Melody-chan. Aku rasa, Melody-chan itu wanita paling cantik yang pernah aku temui selain ibukku." Kata Nao.
__ADS_1
BLETAK.
Jitakkan mendarat di kepala Nao. "Apa kau bilang, hah?" Rupanya Neil yang melakukannya.
"ITTAI NA!"
Ittai: Sakit.
"Jadi adikku tidak cantik di matamu, hah?" Bentak Neil yang tak terima akan pernyataan Nao yang itu artinya wanita cantik yang pernah ditemui Nao hanya ibunya Nao dan Melody saja. Lalu adiknya? Tachibana Ayumi yang selalu dikejar Nao?
Apa adiknya itu tidak cantik sama sekali?
"Ayumi juga cantik, Neil-nii-sama." Kata Nao akhirnya sambil masih setia mengelus-elus kepala duriannya.
Sufix-nii: Kakak + -sama: sangat menghormati kakak.
"Berhenti memanggilku seperti itu! AHO-NAO!"
Aho: Tol0l, G0blok lebih kasar dari baka: Bodoh.
"Nao, kau mendapat restu dari Neil." Senyum Sai.
Nayatanya Neil menyanggah soal pandangan Nao mengenai Melody vs Ayumi.
Nao tersenyum senang.
Neil? Jika di sampingnya ada samurai, ia pasti akan menebas Nao menggunakan samurai itu.
.
.
.
Di pertengahan acara, Yudha dan Melody berdansa ala kadarnya karena mereka berdua sama-sama tidak tahu bagaimana caranya berdansa. Mereka melakukannya karena kakek Wijaya dengan tanpa persetujuan mengumumkan jika Yudha dan Melody akan berdansa bersama.
Sering kali Yudha menginjak gaun Melody yang panjangnya sampai lantai, begitupun sebaliknya, Melody juga sering menginjak kaki Yudha, sehingga membuat Yudha menahan teriakkan karena kesakitan.
Karena terlalu kesal sering menginjak kaki dan gaun satu sama lain, Yudha dan Melody justru saling injak-menginjak kaki.
Sepertinya Melody terlalu bersemangat berusaha menginjak kaki Yudha yang justru membuat keseimbangannya hilang, ia tersandung gaunnya sendiri. Sebelum ia terjatuh ke lantai, Yudha dengan sigap menangkap Melody.
Yudha menopang tubuh Melody dengan kedua tangannya. Melody masih kaget. Mereka saling berpandangan mata.
Cukup lama mereka saling berpandangan hingga membuat seisi ruangan itu menyoraki mereka. Terutama kakek Wijaya dan nenek Chiyo yang terlihat heboh sendiri.
"Yudha, ternyata kau bisa romantis juga! Dia cucu kesayanganku! Hebat, kan? Hahaha." Teriak Kakek Wijaya yang diikuti tawa renyah seluruh tamu undangan.
"Yudha, kau harus menciumnya!" Teriak Mia yang juga mendapat dukungan seluruh tamu undangan.
Yudha dan Melody justru saling memalingkan pandangan. Sudah dipastikan muka mereka memerah karena malu.
"CIUM MELODY-CHAN, YUDHA! CIUM DIA!" Siapa lagi jika bukan Nao yang berteriak.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya aku rasakan? Ini menyesakkan.." Batin Yura yang melihat dari dekat stand minuman.
Sementara dari sisi lain, Alvin hanya memandang dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia meneguk habis segelas minuman yang sedari tadi ia pegang.