
"Sebelum ke villa. Mampir sebentar ke danau Hamana-ko. Kau akan menyukainya." Kata Yudha.
"Yang terkenal dengan bunga-bunganya itu, kan?" Tanya Melody begitu semangat.
"Iya. Penuh bunga." Yudha senang, setelah mengalami banyak kepenatan masalah yang terjadi akhir-akhir ini, ia bisa membuat Melody bahagia.
Senyuman Melody memang memiliki arti yang berbeda untuknya. Ada penyemangat tersendiri.
Bertempat di bagian barat Shizuoka, Danau Hamana-ko terkenal dengan pemandangan bunga yang berbeda tiap musimnya. Spot yang paling terkenal yakni Hamamatsu Flower Park. Dari musim semi hingga musim gugur, berbagai macam bunga bermekaran di taman ini, seperti bunga sakura, bunga azalea, bunga mawar, bunga wisteria, bunga rhododendron, bunga iris, dan bunga hortensia.
"Aku sungguh menyukai pemandangan ini. Aku ssnang bisa ke sini. Meski aku tak seharusnya bahagia padahal kakek dan Aron-san sedang tidak baik-baik saja." Kata Melody.
"Kita memahami situasinya. Nenek dan ibu-ibu kita juga memahaminya. Ada kalanya kita harus mengisi energi baru agar kita kuat menjalani semua masalah yang datang. Bukankah menyayangi diri sendiri itu juga penting?" Kata Yudha.
"Iya, kau benar. Aku ingin saat kita kembali nanti, kita lebih kuat dalam menghadapi segala masalah yang datang."
"Hei, aku tidak akan lupa untuk selalu melindungimu."
"Kalau begitu, mohon lindungi diriku terus ya?"
"Siap..."
Mereka berdua menyusuri indahnya berbagai bunga yang di suguhkan di taman itu.
Begitu indah karya Tuhan meski lewat tangan hebat manusia-manusia yang merancang, menanam, dan merawatnya hingg menjadi pemandangan menakjubkan. Musim semi memanglah anugerah dimana banyak bunga mekar secara bersamaan.
Apa mereka semua sedang janjian?
.
.
.
Puas menikmakti pemandangan di taman itu. Yudha dan Melody melanjutkan perjalanan menuju Tulip House. Villa milik Yudha yang letaknya tak jauh dari kawasan Hamamatsu Flower Park.
"Aku pikir villa ini akan bergaya tradisional, ternyata modern juga." Kata Melody.
"Dibagian belakang versi asli bangunan lama masih utuh. Gaya tradisional Jepang." Yudha mengangkat ke dua kopernya menuju lantai atas. Melody mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di atas, Melody semakin kagum dengan pemandangan yang ada. Jendela besar tepat menghadap ke taman belakang. Ia membuka gorden yang menutupinya dan sebuah pohon sakura sedang mekar dengan indahnya.
Inilah pohon sakura yang Yudha maksud. Sebuah pohon sakura berusia lebih dari seratus tahun tumbuh kokoh di belakang Tulip House. Tidak diketahui siapa yang menanam dahulu, yang jelas pohon itu sudah ada semenjak keluarga Kazehaya membeli tanah pekarangannya.
"Aku tak sabar ingin ke sana!" Melody yang terlalu girang beranjak cepat ingin segera turun ke bawah.
Yudha menghentikan lengan Melody. "Pelan-pelan! Kau sedang hamil dan akan melewati tangga!"
__ADS_1
Melody nyengir. "Aku hanya kelewat senang. Maaf."
"Kau ini... Tunggu sebentar, aku akan menemanimu setelah memindahkan baju-baju ini ke dalam almari!"
"Iya." Melody ikut membantu Yudha membereskan pakaian yang mereka bawa. Buka koper dan pindahkan. Cepat selesai.
Mereka berdua lantas turun ke lantai bawah dan berjalan menuju halaman belakang villa.
Sebuah pohon sakura tua berdiri kokoh di hadapan mereka.
Melody terdiam untuk beberapa saat akan keindahannya. Ia lalu meraih tangan Yudha. Menggenggamnya erat.
Yudha menoleh ke arah Melody. Ia melihat bagaimana cara Melody menatap dari arah samping.
Sendu.
Ada kesenduan di mata istrinya itu. Ia mengernyitkan dahinya.
"Ada apa?" Tanya Yudha.
"Pohon sakura itu memanglah indah. Namun, usianya sudah sangat tua. Aku tak bisa membayangkan bagaimana cara dia bertahan sendirian. Bukankah itu artinya dia menjadi saksi bagaimana teman-temannya tumbang dan mati? Terus, terus, dan terus sampai ratusan atau bahkan ribuan musim berganti?" Jawab Melody.
"Kau benar, dia pasti melihat teman-temannya tumbuh dan meninggalkannya." Sambung Yudha.
"Tidakkah seleksi alam itu kejam, Yudh? Lihatlah dia, meski berdiri kokoh sekalipun, nyatanya dia sendirian. Tanpa teman. Aku merasa jika saat ini, dia sedang kesepian. Ya, kesepian."
"Dia menghasilkan bunga yang indah untuk menghibur diri."
"Iya. Aku akan menanamnya. Kau senang?"
"Hm, aku sangat senang. Arigato."
"Hn."
Mereka yang masih bergandengan tangan berjalan mendekati pohon sakura itu. Mereka mengitarinya bersama. Ketika angin berhembus, bunga sakura itu jatuh berguguran. Seperti hujan bunga yang berwarna soft pink. Indah. Sangat indah.
Melody dan Yudha menatap ke atas. Menatap dimana bunga-bunga itu jatuh dari rantingnya.
Melody memejamkan mata ketika beberapa bunga sakura jatuh tepat di wajah ayunya.
Melody semakin menggenggam erat jemari tangan Yudha.
"Yudh, apakah salah satu di antara kita di masa depan akan mengalami hal sama dengan pohon sakura ini? Aku atau dirimu akan tertinggal sendirian di dunia ini." Tanya Melody.
"..."
"Iyadayo! Aku tidak mau mengalaminya. Aku ingin terus bersamamu. Saat ini, besok, lusa, dan nanti. Aku masih ingin selalu bersamamu. Dalam keadan sehat maupun sakit. Dalam keadaan muda maupun tua. Dalam keadaan suka maupun duka."
Iyadayo: Emoh, tidak mau.
"..."
Melody mulai menangis. "Aku, a-aku, aku tak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan dirimu. Ragamu. Fisikmu. Aku tak bisa. Aku... aku tak mau."
__ADS_1
Yudha langsung memeluk Melody. Ia bisa merasakan bagaimana cara Melody membalas pelukkannya. Tubuhnya serasa menyusut. Pelukkan Melody adalah pelukkan ketakutan. Ia pun membelai rambut Melody yang kini sudah sedikit bertambah panjang.
Yudha menciumi pucuk kepala Melody. Membiarakan Melody menangis sesukanya. Menangis layaknya anak kecil.
“Aku tak ingin mematahkan hatimu, Mel. Namun kita bicara yang pahitnya dulu. Kemungkinan aku dan kau berpisah itu tetaplah ada. Jika tidak terjadi dalam waktu dekat, menengah, berati bisa terjadi saat kita tua nanti. Meski aku berjanji jutaan kali untuk tetap bersamamu, tapi ketahuilah, aku tak kuasa di hadapan ketetapan Tuhan.”
“Aku tahu, tapi tetap saja. Ne Yudh, kau mau kan terus bersamaku?” Tanya Melody. Ia bahkan harus menegadah agar Yudha membalas tatapannya.
Mata sembab penuh air mata. “Aku mau terus bersamamu sampai kapanpun.” Kata Yudha.
Melody tersenyum. Ia lalu kembali memeluk Yudha. Menyandarkan pipinya pada dada bidang Yudha. Menikmati irama detak jantung Yudha. Menikmati aroma badan Yudha.
Menikmati segala waktu selagi bersama.
Selagi bersama?
Intinya memang dirinya mengimani kemungkinan perpisahan itu?
Terlepas dari ketatapan Tuhan, ia memang sangat takut jika harus kehilangan Yudha dalam waktu yang dekat. Tidak siap dengan kemungkinan itu. Tidak mau dengan kemungkinan itu.
Egoisnya, belum lama menikah, belum lama menikmati kebersamaan, belum lama menjalin kisah, belum lama saling berbagi rasa, kenapa harus berpisah?
Tidak bisakah kisah ini berakhir bahagia layaknya dongeng Disney Princess?
.
.
.
Malam harinya Yudha dan Melody mengobrol bersama di ranjang mereka usai makan. Banyak hal yang mereka bahas. Komunikasi sederhana yang menambah indahnya kisah cinta mereka.
Mereka bukan siapa-siapa, tidak ada keturunan raja di antara mereka. Mereka hanyalah manusia biasa yang mendambakan kisah cinta yang diingin banyak orang. Idealnya bahagia selama-lamanya. Jika itu berlebihan, setidaknya menikmati banyak kebahagiaan daripada dukanya.
Sudah pukul sebelas malam, Yudha sudah terpejam dalam tidurnya. Meninggalkan Melody yang terjaga. Tubuhnya terasa lelah, tapi mata enggan terpejam. Sekali lagi, perasaan khawatir berlebihan itu kembali menghujam setiap tetes darahnya.
Melodypun membenarkan letak selimut Yudha. Menatanya perlahan agar tak membangunkan Yudha. Setelah itu, ia mengusap rambut Yudha.
"Jangan tinggalkan aku sendiri! Apapun yang terjadi, aku tak mau kita berpisah. Kau, diriku, dan anak-anak kita haruslah tetap bersama." Gumam Melody.
Melody mengambil tangan Yudha. Memeluknya dan menciumnya.
"Aku beruntung bertemu dan menjadi bagian dari kisahmu, Yudh. Aishiteru. Oyasumiminasai, suamiku." Kata Melody.
Aishiteru: I love you.
Oyasumiminasai: Selamat tidur.
________________________________________
Ekspektasinya ingun seperti itu, tapi gak nemu gambar realnya padahal sudah begitu lama searching. 😑
Nemu bagus, tapi gak cocok dengan deskripsi di belakang rumah.
__ADS_1