
Kantor Yudha. Hari berikutnya.
Yudha membuka ponselnya. Berkali-kali melihat adakah panggilan masuk atau pesan masuk dari Melody. Selama sehari semalam ini, Melody tidak memberi kabar. Ia tahu, ia memang salah, ia selalu saja menempatkan Melody pada posisi yang tidak nyaman. Namun, saat inipun ia merasa jika ia sangat sulit memposisikan dirinya dengan benar.
Hari ini pekerjaannya sangat banyak. begitu sibuk, begitu penat, dan begitu sangat lelah. Kepalanya serasa sangat pecah. Sejak Melody ixin pergi kemarin pagi, ia pulang ke rumah tidak ada yang menyambutnya.
Rumahnya berasa sangat sepi. Biasanya meski hanya Melody saja, rasanya begitu nyaman saat ada yang mengatakan ‘selamat datang’ padanya.
Sejak kapan ia merasa seperti ini? Bukankah dari dulu sudah begitu biasa jika pulang ke rumah tidak ada yang menyapanya? Kakeknya sering meeting ke luar negeri dan jarang pulang. Ibu dan neneknya juga sering menemani kakek melakukan perjalanan bisnis.
Banyak acara-acara pesta yang harus dihadiri keluarganya.
Ia ingat, bukankah semenjak Melody tinggal di mansion Kazehaya, rumah menjadi begitu hidup? Bukankah sejak ada Melody, keluarganya lebih sering di rumah? Terutama ibu dan neneknya yang banyak menolak ajakan pesta akhir-akhir ini?
Benar, semenjak kehadiran Melody, bukankah semua menjadi banyak berubah?
“Apa kau sudah makan, Melody?” Gumam Yudha.
Hanya memikirkan bagaimana Melody makan saja rasanya begitu sesak. Padahal biasanya tidak seperti ini. Apa karena Melody tengah mengandung, jadi ia memikirkan kesehatan Melody dan janinnya?
Wajar kan jika ia merasa khawatir?
Melody pergi memang izin padanya, tapi yang membuat mengganjal itu sempat ada percecokan sebelumnya.
“Aku tidak ingin bertengkar dengannya, tapi kenapa ia mudah sekali marah akhir-akhir ini? Moodnya menjadi sangat sensitif. Apakah kehamilannya begitu sangat mempengaruhinya? Mood swingnya membuatku kuwalahan. Kupikir aku bisa bekerja sama dengannya, tapi rupanya sangat sulit. Dia mulai mengabaikanku lagi.”
Yudha bodoh apa tidak peka sih?
Ataukah TIDAK TEGAS?
“Yudha-sama...” Panggil Shuhei.
__ADS_1
“Ah, kau Shuhei.”
“Sudah waktunya rapat.”
“Iya.. Shuhei, apa Melody mengirim pesan?”
“Tidak, Yudha-sama.”
“Hn, begitu ya?” Yudha terlihat kecewa dan Shuhei memahaminya.
“Haruskah saya menyuruh Ayane-san untuk menjemputnya?”
“Tidak perlu. Memaksanya pulang hanya akan membuatnya semakin kesal.”
Yudha tahu itu. Ia cukup kenal dengan tabiat istrinya yang tidak mau dipaksa-paksa.
“Yudha-sama, maaf..”
“Ya?”
“Kenapa banyak orang yang menasihatiku? Menyebalkan! Kakek, ibu, nenek dan bahkan kini Shuheipun. Memang apa yang sudah aku lakukan pada Melody kurang baik? Aku memberikan segalanya yang ia minta. Aku bisa memberinya ini itu asal masih bisa kujangkau dengan uangku. Memang perlakuan baik yang seperti apa lagi? Dia ingin menginap di tempat Miapun aku mengizinkannya, walau sebenarnya aku tak ingin. Bagaimana bisa ia hamil tapi jauh dari suaminya? Bagaimana jika terjadi apa-apa? Kenapa aku yang harus dinasihati? Harusnya Melody yang membutuhkannya! Aku tak ingin bertengkar dengannya, makanya aku lebih memilih menuruti keinginannya. Cih..” Batin Yudha kesal.
Shuhei tahu jika saat ini Yudha sedang berfikir keras. Ia memahami Yudha lebih dari siapapun. Ia tahu karakter Yudha lebih dari Yudha memahami dirinya sendiri. Yudha adalah seorang laki-laki yang sebenarnya sangat rapuh.
Laki-laki yang bertahan hidup hanya mengandalkan ambisinya. Ambisinya yang prestisius mungkin akan membuatnya terlihat kuat, tapi percayalah, Yudha adalah orang yang sangat memerlukan sandaran.
Hidup dalam didikan keras sang kakek membuatnya kesulitan memahami perasaannya maupun orang lain. Selama ini, Yudha tak memiliki keinginan untuk dirinya sendiri. Ia hanya memiliki keinginan untuk orang lain dan berjuang sangat keras untuk itu. Terutama untuk Alvin. Shuhei tahu betul bagaimana perjuangan Yudha demi Alvin, ia sampai mempertaruhkan segalanya.
Keinginan untuk dirinya sendiri tidak ada. Semua demi orang lain.
Yudha hanya akan makan saat ia benar-benar merasa sangat lapar. Begitupun dengan haus. Ia bertindak dengan penuh pemikiran matang. Akan memilih jika itu menguntungkan ambisinya. Ambisinya yang begitu besar membunuh perasaannya. Ketika ia mulai memiliki perasaan besar pada Yura, tapi pada akhirnya semua terkubur karena ambisinya. Ia rela menikahi sosok lain dalam hidupnya.
__ADS_1
“Ada dua kucing yang sering bertengkar, tiap hari bertengkar merebutkan hal apapun. Namun, saat kucing satunya pergi, kucing yang ditinggalkan akan merasa kesepian. Ia sendiri tersudut di antara kesendirian yang tak tertahankan. Bertengkar memang melelahkan, menyebalkan, bahkan membuat kesal, namun, hidup dalam kesendirian jauh lebih menyakitkan.”
Kata Shuhei.
“Hah? Sejak kapan kau suka mendongeng?”
“Sejak aku menemukan kucing liar di belakang rumah Anda.” Senyum Shuhei.
“Sudahlah, ayo menuju ruang rapat!” Ajak Yudha.
"Baiklah, Yudha-sama."
“Oh.. jadi ini rasanya sakit ya?” Yudha memegangi dadanya.
“Yudha-sama, mungkin sekarang hanya sakit yang kau rasa, tapi jika semakin lama kau membiarkannya, kau akan mulai merindukannya, memikirkannya setengah mati dan saat itupula sakit yang kau rasa akan semakin besar... Saya tidak bisa melihat Anda seperti ini. Masalah ke depan akan semakin besar, ada gunung tinggi yang perlu Anda hadapi, nona Melody harus menjadi pendukung Anda apapun yang terjadi nanti.” Batin Shuhei.
Shuhei menatap punggung Yudha yang berjalan di depannya. Punggung itu merapuh perlahan-lahan. Ia harus tetap kuat untuk menyangga punggung Yudha, dan Melody adalah bantuan tenaga yang besar. Apapun yang terjadi, ia tidak boleh membiarkan Melody lepas dari Yudha. Melody harus ada di belakang Yudha!
“Wanita akan senang jika ada laki-laki yang mengajaknya ngobrol untuk mendengarkan keluh kesahnya." Kata Shuhei.
"Hn?"
"Yudha-sama, saya permisi sebentar untuk mengambil flash disk saya.” Shuhei melenggang pergi untuk mengambil flash disknya yang ketinggalan di meja kerjanya.
“Apa Melody ingin mengobrol denganku?” Gumam Yudha.
Yudha tidak paham mengenai wanita. Ia juga tidak mengerti dunia keromantismean. Sang kakek menyuruh menikahi Melody, ia melakukannya. Jika saat ini ia menghamili Melody, jujur saja itu di luar kendalinya. Apa artinya ia tak menginginkan anak yang Melody kandung?
Tidak!
Tidak seperti itu!
__ADS_1
Ia yakin, ia sangat bahagia ketika pertama kali mendengar berita itu. Ia akan melakukan segala cara untuk membuat anaknya melihat dunia. Ia bahkan sudah mempersiapkan kehidupan seperti apa untuk anaknya nanti. Kehidupan dimana sang anak tak menjadi seperti dirinya. Kehidupan dimana sang anak bisa memilih jalan hidupnya sendiri sesuai keinginan anaknya.
"Mel, ada banyak hal yang perlu kita bahas. Aku ingin melihatmu saat ini..." Yudha memegangi dadanya. Nyeri.