MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Yudha dan Shuhei


__ADS_3

YUDHA'S POV


Orang bilang, mereka yang dijadikan tokoh utama laki-laki dalam sebuah komik Manhua adalah sosok yang taman, tinggi, cerdas, tajir, CEO, dan bisa melakukan banyak hal. Jika tokoh utama perempuannya diculik, maka dengan kemampuan dan kekuasaannya, dia bisa menemukan si tokoh utama perempuan dengan sangat cepat, selamat, dan keren! Layaknya sang hero yang menyelamatkan heroine-nya.


Namun nyatanya tidak semudah itu! Tidak perlu ditambahi dengan Fergusso, kan?


Orang sok-sok-an menambahi Ferguso, tapi tidak tahu asal-mulanya bagaimana.


Baiklah, mumpung aku sedang baik hati, maka aku akan memberitahu asal-mula kata Ferguso itu.


Ferguso adalah anjing peliharaan Marimar yang selalu setia menemani majiannya itu. Dalam telenovela Marimar, anjing tersebut bernama Pulgoso. Namun untuk orang lain, pengucapan nama tersebut dianggap sulit. Jadi diganti dengan Ferguso.


Nah, secara tidak langsung nama Ferguso digunakan untuk memanggil kasar teman atau orang lain sebagai pengganti dari 'anjing.' Sekarang sudah paham, kan? Jangan pakai Ferguso lagi untuk hanya sekedar trend!


Kenyataannya, banyak orang yang lebih suka mengikuti trend yang ada. Yang ditahu hanya mengikuti apa yang viral saat itu saja. Seperti itulah kisah romance CEO di komik Manhua, serba sempurna dan hampir semua seperti itu. Aku sampai heran dengan Melody yang menggemari kisah-kisah romance ala CEO dalam komik Manhua.


Belum lagi yang kisah romance One Night Stand dengan CEO, giliran aku tanya mau tidak ngesex dengan laki-laki tidak dikenal? Dia jawab, tidak mau dengan alasan bisa saja yang bercinta dengannya aki-aki hidung belang. Hah, dasar wanita. Aku sulit memahaminya.


Maka dari itu, aku pun tidak bisa memenuhi impian kebanyakan orang bahkan istriku sendiri sebagai tokoh utama laki-laki impian.


Banyak hal yang tidak bisa aku kerjakan sendirian. Aku butuh banyak orang untuk membantuku. Aku hanya memiliki dua tangan, dua kaki, satu badan, dan satu otak. Aku tak bisa melakukan banyak hal secara bersamaan.


Dalam waktu seminggu pun, aku sama sekali belum bisa menemukan Melody meski aku sudah mengerahkan segala yang aku bisa. Detektif, hacker, bahkan polisi.


Ditanya khawatir, tentulah aku sangat khawatir. Bayangkan saja istri yang sedang mengandung diculik dan belum ditemukan! Kisah ini tak semulus komik Manhua. Namun aku bisanya hanya terus berusaha agar Melody bisa ditemukan. Secepat yang aku bisa.


Satu pertanyaan yang muncul di otakku soal penculikkan Melody.


Jika mereka menginginkan sesuatu dariku, harusnya mereka menghubungiku, mengancamku, meminta tebusan uang, atau sejenisnya. Namun ini tidak sama sekali. Tidak ada pergerakkan dari mereka yang menculik Melody.


Berdasarkan hal itu, dapat aku simpulkan jika mereka, para penculik itu adalah orang-orang yang mungkin saja berada di sekitarku. Mencintai atau tidak mencintaiku, menyayangi atau tidak menyayangiku.


Jika iya, maka kemungkinan Melody baik-baik saja itu semakin besar.


.


.


.


Apa yang sebaiknya aku kerjakan lebih dahulu? Aku sudah memiliki daftar transaksi besar dari akun-akun dari orang-orang yang aku selidiki, aku sudah tahu identitas Oyabun kota Kyoto, aku juga sudah tahu tempat mana kemungkinan Melody berada.


Apakah aku harus mengungkap kisah masa lalu?


Apakah aku harus mencari Melody terlebih dahulu?


Haha, dasar bodoh! Tentu saja Melody adalah yang utama! Kenapa aku harus bingung? Masa lalu memang penting, tapi aku hidup di masa ini dan masa depan. Tujuanku saat ini adalah Melody dan calon anak-anakku.


Masa lalu, masa bodoh!


END OF YUDHA'S POV


.

__ADS_1


.


.


Rumah sakit Internasional Kazehaya pukul setengah tuju malam. Lantai 16, kamar Yudha dan Melody.


"Ibu jangan menghawatirkanku, aku baik-baik saja. Ibu yang harus menjaga kesehatan ibu! Aku pasti akan menemukan Melody." Kata Yudha.


"Ibu tahu ini sangat berat untukmu, Yudh. Namun, ibu minta kau jangan putus asa! Kau adalah kepala keluarga kita saat ini, kau harus kuat, kau tak boleh lemah apapun yang terjadi! Kau harus menyelamatkan Melody dan anak-anakmu!" Mikan menangis dan Yudha langsung memeluknya.


"Ibu, aku mohon jangan menangis! Jika ibu seperti ini, ibu malah membuatku lemah! Jangan menangis! Tolong hapus air matamu, Ibu!" Pinta Yudha.


Kurenai menghapus air matanya di pelukkan Yudha. Ia tahu, sedari dulu Yudha yang selalu menemaninya ketika banyak dekapan luka yang mendekapnya. Yudha menjadi sangat sensitif jika itu menyangkut tentang dirinya. Mungkin ini juga yang membuat Yudha memperlakukan wanita dengan baik dan tak ingin membuat wanita menangis karena ulahnya. Meski kadang tak sejalan dengan apa yang Yudha inginkan, tapi sebagai ibu, ia tahu jika Yudha itu adalah anak yang baik.


"Ibu minta maaf, Yudh! Ibu tidak akan menangis lagi di hadapanmu! Ibu akan berusaha kuat seperti ibunya Melody, Tsuchiya-san. Maafkan ibu yang sangat egois ini!" Kata Mikan.


Mereka saling melepaskan pelukkan. Yudha menatap ibunya yang terlihat sangat buruk. Masih menangis meski tangan yang sudah mulai keriput itu berusaha menghapus air mata yang menggenang di pipi. Yudha pun membantu menghapus air mata sang ibu. Air mata yang membuatnya terluka ketika itu adalah air mata karena ulahnya.


"Ibu, aku adalah anakmu, dan hak ibu untuk egois terhadapku. Aku mengerti perasaan ibu. Aku pasti akan menjaga keluarga kita! Ibu yang kuat karena kekuatan ibu adalah kekuatanku juga." Kata Yudha. Ia kemudian tersenyum kepada ibunya dan ibunya membalas dengan senyuman manis dan sangat meneduhkan. Membuat hatinya nyaman dan terasa adem di dalam sana.


"Aku harus mendapatkan kembali Melody malam ini! Apapun yang terjadi, aku pasti bisa mendapatkannya!" Batin Yudha.


Setelah mengantar ibunya kembali ke kamar, Yudha pun memanggil Shuhei ke kamatnya. Ada hal yang harus ia bicarakan dengan Shuhei malam ini.


Yudha berbicara empat mata dengan Shuhei. Ada hal yang harus ia katakan kepada pengawal pribadi rasa saudara sekaligus sahabatnya ini.


Yudha menyodorkan sebuzh kotak kepada Shuhei.


Yudha mengangguk. "Ya..."


Kotak itu adalah kotak yang ia ambil di Tulip Villa dengan Melody dan Ayane beberapa waktu yang. Kotak itu adalah kotak penting menurut Aron. Itu versi yang dipikirkan Shuhei.


"Kena kotak ini bisa ada pada Anda? Kenapa kini malah berpindah ke tangan saya?" Tanya Shuhei.


"Kotak itu adalah seperti senjata dewa untuk mepertahankan Emperor Group di jalan yang benar. Orang yang menculik paman Aron sudah tahu tentang rahasia ini. Siapa pun yang memegang ini akan diincar. Hari ini aku lolos dari kematian, lusa aku tidak tahu. Jika mereka juga tahu kotak ini ada padaku, maka sampai ke ujung manapun, aku akan diincar dan diburu sampai aku benar-benar mati... Oleh sebab itu, tolong lindungi kotak ini! Jika terjadi sesuatu pada Emperor Group, pergilah ke bank Swiss dan gunakan sesuatu yang ada di kotak ini untuk membukan akunnya! Hanya kau yang bisa melakukannya, aku tak bisa ke.luar negeri." Kata Yudha panjang lebar.


"Apa yang hendak ingin Anda lakukan, Yudha-sama?" Tanya Shuhei.


"Menjemput Melody." Jawab Yudha mantap.


Shuhei sudah tahu jika Yudha itu akan selalu menomor satukan Melody di dalam segala list yang Yudha buat. Namun untuk saat ini, itu sangat berbahaya. Yudha selalu diikuti kematian dan akhir-akhir ini terlalu ekstrim dan sering terjadi.


"Tuan Muda Kazehaya Yudha yang terhormat! Tolong perintahkan orang saja untuk bergerak ke Chiba! Jangan Anda sendiri yang bergerak ke sana! Itu sangat berbahaya! Anda bisa mati seketika! Jika terjadi apa-apa pada Anda, bagaimana saya harus menatap Nona Melody? Saya ini sudah berjanji pada istri Anda untuk menjaga Anda!" Tolak Shuhei.


"Shuhei..."


"..." Mereka saling tatap serius.


"Tolonglah..."


Yudha bahkan sampai minta tolong. Ini adalah keputusan yang sangat sulit untuk dibuat.


"Shuhei, meski ini tugas yang sangat berat dan akan membahayakan dirimu, namun, demi persahabatan kita, buktikan kepercayaan yang sudah aku berikan terhadapmu! Meski ini sangat egois, namun aku berharap banyak padamu. Aku hanya bisa mengandalkanmu." Kata Yudha.

__ADS_1


Shuhei menghela nafas. Rasanya lelah berbicara sopan pada Yudha saat ini. Ini bukan soal atasan dengan bawahan. Ini bukan soal Tuan Muda dengan asisten pribadinya. Ini bukan Majikan dengan bodyguardnya. Ini adalah tentang sahabat rasa saudara.


"Kau tahu? Kau hari ini berbicara sangat panjang! Kau bahkan sampai meminta tolong dengan merendah seperti itu. Itu bukan gayamu, Yudh! Kembalilah jadi dirimu yang percaya diri, aku akan ke bank Swiss untuk mengambil apapun yang ada di akun bank itu. Lalu kau, pergilah selamatkan Nona Melody dan kembalilah dengab selamat! Jangan terluka! Jangan sampai mati! Kalau kau sampai mati, aku tidak akan pernah memaafkanmu! Karena aku tahu, jika kau mati, aku pasti akan bernasib yang sama bahkan mungkin Nona Melody juga." Kata Shuhei.


"Kau sama saja rupanya. Hari ini kau sangat cerewet seperti bukan dirimu. Ngomong-ngomong aku tidak berjanji karena berjanji adalah hutang. Aku tak bisa menjamin keselamatanku, namun aku akan berusaha. Aku juga tak mau berakhir sama dengan ayahku. Lebih baik aku kembalikan saja kata-kataku ini. Kau yang harusnya berjanji kepadaku jika kau akan tetap hidup apapun yang terjadi." Kata Yudha.


"Semoga Tuhan menjaga Anda, Yudha-sama!" Kata Shuhei yang balik berkata sopan. "Keegoisannya untuk tetap menjaga orang-orang yang dia sayangi agar selalu selamat membuatku repot. Meski baik, tapi ini menyebalkan karena pada akhirnya dia sudah tahu jika selamat dalam misi kali ini adalah kemungkinan yang sangat kecil. Sangat sulit untuk diraih tanpa keajaiban dari Tuhan. Haah, malam ini aku harus lembur! ... Yudha, sebaiknya kau menaikkan gajiku lima kali lipat setelah ini!" Batin Shuhei.


"Kau juga, Shuhei. Arigatou!"


"Ya, Yudha-sama. Hati-hati!"


Dan dua orang ini mengambil jalan berbeda untuk menjalankan apa yang sudah diputuskan. Yudha ke Chiba untuk menjemput Melody, sedangkan Shuhei ke Swiss untuk mengambil apa yang ada di dalam akun bank keluarga Kazehaya.


Dalam hembusan angin yang lembut musim semi, di situlah bunga sakura berjatuhan. Indah, namun itu adalah akhirnya.


.


.


.


Sebelum menjalankan tugas dari Yudha, Shuhei menyempatkan diri untuk menjenguk Ayane. Ayane adalah kakak angkatnya, sebagai adik angkat, ia merasa jika ia perlu berpamitan dengan Ayane.


"Shuhei-san, kau sungguh akan pergi?" Tanya Ayane ketika Shuhei datang menjenguknya.


"Ya. Ini adalah perintah dan keinginanku sendiri." Jawab Shuhei.


"Tapi ini sangat berbahaya."


"Yudha-sama juga mengalami hal yang berbahaya. Aku sebagai penjaganya tak bisa membiarkan dirinya dalam bahaya sendirian. Aku harus melakukan sesuatu demi dirinya, dan tugas kali ini adalah sangat penting."


"Kau seperti sedang berpamitan karena siap untuk kemungkinan terburuk?" Kata Ayane. Ia sudah kenal lama dengan Shuhei. Mudah baginya untuk memahami bagaimana Shuhei itu. Ia menganggap Shuhei seperti adiknya sendiri.


"Yudha-sama adalah orang yang sangat jenius. Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia bukanlah orang yang akan bergerak tanpa rencana. Meski dia tak menceritakan semuanya kepadaku, tapi aku yakin, ia akan memberi kejutan di akhir. Jadi Ayane-san, tolong lekas membaik dan lindungilah Nona Melody saat nanti Nona kembali. Aku tak tahu apakah aku akan tetap selamat atau tidak, tapi aku pasti akan berjuang untuk tetap hidup. Selama aku tak ada, Yudha-sama dan Melodya-sama ada pada tanggung jawabmu. Tolong jaga mereka berdua!" Shuhei sangat serius dalam mengatakan hal ini.


"Ini bukan masalah siapa mereka. Majikan dan kita adalah bawahan. Mereka tidak pernah menganggap sekat seperti itu di dalam hubungan kita. Mereka memanusiawikan kita layaknya keluarga. Aku bisa merasakan kehangatan dalam keluarga ini. Untuk itu, meski aku harus mempertaruhkan nyawaku, maka aku siap untuk melindungi keluarga ini, terutama Yudha-sama dan Nona Melody."


"Arigato, Ayane-san. Jika sudah seperti itu aku pun bisa pergi menjalankan misi dengan tenang."


"Hati-hati, Shuhei-san! Ingat, kembalilah dalam keadaan hidup! Yudha-sama bisa bersedih jika kau tak ada!"


"Hn. Aku akan berusaha."


Shuhei melangkahkan kakinya meninggalkan kamar inap Ayane. Ia memang susah memantapkan diri untuk mendukung segala sesuatu yang Yudha putuskan. Ia akan melakukan yang terbaik untuk melindungi Yudha, Melody, dan keluarga yang memberinya kehangatan ini.


Baru ia sadari jika dirinya ternyata lebih mencintai keluarga ini dari yang ia kira. Hidup, makan, dan bernafas dengan keluarga ini membangun tali persaudaraan yang tak sederhana hingga membuatnya rela melakukan apapun demi keluarga ini terutama Yudha.


"Yudha-sama, saya selalu berharap jika Anda akan hidup dalam kebahagiaan. Tolong jangan mati! Tolong tetaplah hidup apapun yang terjadi. Saya tak ingin mati malam ini, untuk itu saya akan berjuang. Jadi, Andapun harus melakukan hal yang sama. Itu adalah wujud terbaik dari Anda yang menghargai kesetiaan saya."


Dengan keputusan yang sudah bulat, didukung tekad yang besar dan keberanian untuk mengambil semua resiko yang ada bahkan sampai ke resiko yang terburuk sekalipun, Shuhei siap ke medan 'perang'.


Ia menyalahkan mesin mobilnya. Ia menatap lurus ke depan. Hari ini adalah hari yang sama sekali tidak bisa ia prediksi akhirnya. Ia memejamkan kedua matanya. Jika tidak hari ini, kapan lagi, kan?

__ADS_1


__ADS_2