
Mia membuka pintu, betapa kagetnya ketika ia mendapati Alvin sedang berdiri di hadapannya saat ini.
Laki-laki yang usianya setahun di atasnya ini sudah menghadirkan mimpi buruk yang amat sangat menyakitkan di dalam hidupnya. Mimpi buruk seperti luka baru dengan sayatan yang masih menganga lebar dan dalam. Masih bisa dirasakan, begitu membekas, begitu perih ketika diulas ulang.
Tak mau mengulas ulang, sebisa mungkin ingin menganggapnya sebagai mimpi buruk yang berakhir hanya sebagai mimpi buruk saja. Namun ini adalah kisah nyata. Ia tak berdaya meski berulang kali protes kepada Tuhan.
"Pulanglah, aku tak ingin melihatmu!" Kata Mia.
"Kau sudah makan? Aku membawakanmu makanan." Kata Lavin.
"Senpai, kau mendengarku? Aku memintamu untuk pulang! Maka aku mohon pulanglah!"
"Kau di hotel terus. Kau ingin kembali ke rumah? Aku akan mengantarmu jika aku ingin kembali. Ingin aku bantu untuk siap-siap?"
"..." Mia tak tahu harus berbuat apa lagi. Alvin mengabaikan setiap perkataannya. Alvin malah bertanya hal-hal yang sulit ia jawab.
Kenapa Alvin datang kemari?
"Aku tak tahu kenapa kau bisa menjadi begitu perhatian padaku. Merasa bersalah dengan apa yang sudah kau lakukan padaku?" Tanya Mia.
"..." Kini, giliran Alvin yang bungkam.
Alvin menatap Mia dengan pandangan sendunya. Pandangan yang sedih yang entah apa artinya. Apakah itu kedsedihan karena sudah tak sengaja memperkosa Mia, atau karena sudah memperkosa Mia jadi itu artinya Alvin sudah melukai cinta tulusnya kepada Melody?
Mia sendiri meyakini kmungkinan arti yang kedua. Mata sendu yang artinya Alvin sudah melukai cinta tulusnya kepada Melody. Namun lagi-lagi, isi hati manusia mana ada yang tahu. Masalah ini, tatapan sendu Alvin ini hanyalah Alvin sendiri yang tahu apa artinya.
Bagi Mia, tatapan sendu Alvin juga membuatnya terluka.
Kenapa harus seperti ini?
Kenapa Alvin harus memperkosanya?
Kenapa ia harus jatuh cinta pada Alvin yang jelas-jelas menyukai orang lain?
Semua hanyalah pertanyaan putus asa yang tak bisa terjawab dengan jawaban sederhana, singkat, padat, dan jelas. Tidak bisa seperti itu!
.
.
.
MIA'S POV
Berhentilah menatapku seperti itu, Senpai!
Sejujurnya aku risih dengan mata tajammu itu, seakan-akan aku adalah penjahat yang harus kau tangkap. Apalagi di kamar hotel ini yang hanya ada kita berdua. Hampir satu jam kau terus seperti patung yang duduk dihadapanku.
Apa kau pikir aku tidak bosan?
Sudah kesekian kalinya aku menghela nafas berat, kusandarkan kepalaku dan memejamkan mata. Mencoba menenangkan pikiranku sendiri dibanding harus terus melihatmu yang seperti itu.
Kucoba mengingat semua hal sejak pertama kali bertemu denganmu. Saat itu di sekolah menengah atas dimana kau begitu tampannya saat menjadi anggota OSIS dan mengampu siswa baru yang mengikuti MOS. Senyumanmu, suaramu, caramu berjalan, caramu makan? caramu berpakaian, caramu memasang dasi, atau caramu menyapa junior-juniormu, semua masih ada dalam ingatanku. Terpatri dalam dan tak bisa aku lupakan.
Aww..
Tidak, rasa sakit itu datang lagi.
Ya Tuhan... benarkah semua ini kau lakukan padaku, Alvin-kun? Sadarkah kau bahwa aku benar-benar mencintaimu? Sialnya lagi, aku sudah terlanjur mencintaimu tanpa syarat.
Semenyebalkan apa pun dirimu, aku pasti akan menerimamu lagi. Tapi kenapa kau selalu hanya melihat Melody yang jelas-jelas menjauh sarimu? Yang jelas-jelas tak bisa kau miliki lagi. Yang jelas-jelas sudah memiliki cinta yang baru.
Senpai, aku pasti tahu kan bagaimana perasaan Melody kepada Yudha?
Cinta mereka itu tulus seperti berbagi tulang rusuk yang sama. Kau tak akan bisa memisahkan mereka. Andai kata fisik mereka terpisah pun, batin mereka akan tetap terhubung.
__ADS_1
Cinta mereka sangat besar, kehadiranmu tak bernilai apa-apa di hadapan mereka. Ini memang kasar, tapi inilah yang terjadi. Ini adalah fakta yang harus kau terima!
Aku tahu ini sangat menyakitkan. Apa lagi untuk orang yang sangat mencintai. Aku pun juga sedang merasakannya sama sepertimu. Dimana aku hanya selalu melihatmu dan kau hanya selalu melihat Melody di matamu.
Aku sakit saat kau sakit, aku terluka saat kau terluka. Kadang rasanya semakin menggila. Frustasi, tak bisa apa-apa, seperti tersudut san menunggu mati.
Senpai, apa kau tak ingin bahagia dengan yang lain?
Bagaiman dengan diriku?
Apa kau sedikit pun tidak melirikku? Aku ini siap menerimamu kapan pun yang kau mau.
Apa kau akan menganggapku murahan?
Apakah... aku tidak penting bagimu? Semua yang telah kuberikan, apakah itu tidak menghasilkan apa-apa di hatimu?
Kau kejam, Alvin-sepani. Sangat kejam... aku seperti anak kecil yang dibohongi orang dewasa. Aku bahkan tidak yakin kalian itu orang jahat atau baik.
Ah, aku ini bicara apa sih? Aku berperang dengan batinku sendiri. Padahal otakku mendorongku untuk berpikir lebih logis lagi.
Alvin-senpai yang aku cintai adalah orang yang memperkosaku dengan sangat keji.
Aku juga merasa jijik pada diriku sendiri karena sudah membiarkanmu menikmati setiap inchi bagian tubuhku. Walaupun aku tidak menyesal melakukannya denganmu, tapi tetap saja. Jika kau melakukannya bukan atas dasar cinta, lalu apa bedanya aku dengan wanita jalang di luar sana?
Sungguh, aku ingin menangis lagi... tidak. Tidak boleh, Mia! Jangan lemah! Sedikit saja, aku masih percaya bahwa kau akan mencintaiku suatu hari nanti... ah bodohnya aku ini.
Itu hanya harapan semu.
END OF MIA'S POV
.
.
.
Ah, tentulah, ini karena bukan keinginannya.
Bagaimana ia bisa bercinta dengan Mia yang jelas-jelas tak pernah ada di dalam hatinya? Yang jelas-jelas tidak ia cintai. Jangankan itu, terbesit untuk sekedar melirik Mia dalam hatinya saja ia tak pernah melakukannya.
Gara-gara alkohol sialan itu semuanya menjadi sangat kacau. Ia tak bisa lagi mengontrol apa yang biasanya sanggup ia kontrol. Jika sudah seperti ini, ia bisa apa?
Tanggung jawab?
Oh ayolah, sisi setannya tak mau melakukannya. Di hatinya memang masih dipenuhi oleh Melody. Ia akan merawat Mia tanpa harus menikahi Mia.
Tunggu, di Jepang sex bebas itu bukan hal yang tabu. Banyak pasangan yang tak perlu menikah untuk melakukan hubungan sex. Maka dari itu, ia tak perlu juga kan menikahi Mia hanya karena ia sudah mengambil keperawanan Mia? Ia dan Mia sudah dewasa dan hubungan sex yang sudah ia dan Mia lakukan itu wajar
Ia akui, dirinya memang sangat brengsek.
Wajar darimana? Jelas-jelas ia sendiri yang memaksa Mia. Ya dirinya itu memaksa Mia unruk berhubungan badan dengannya. Meski ia tak ingat dengan pasti, melihat kondisi Mia yang sangat buruk pagi itu, pasti perbuatannya sangatlah kasar. Pemerkosaan memang ada yang lembut?
Alvin merutuki pemikirannya yang acak adul ini. Ia memang sedang tak bisa berpikir logis.
"Jika kau datang hanya untuk melihatku, maka pergilah! Kau sudah melihatku." Kata Mia yang sudah tak tahan karena Alvin sedari tadi hanya diam saja.
Lagi pula, ia mendapatkan pesan dari Melody jika Melody mau datang ke hotel tempatnya menginap. Akan sangat canggung jika sampai Melody bertemu dengan Alvin yang sedang di kamar hotel bersamanya. Melody akan melayangkan banyak pertanyaan dan Alvin akan kesulitan.
Mia tak ingin menempatkan Alvin pada posisi yang sulit.
Bodoh ya? Karena terlalu cinta pada Alvin sampai-sampai masih memikirkan perasaan Alvin padahal sudah dilecehkan dengan cara yang sangat keji.
Mungkin jika orang bilang ini adalah cinta buta, ya ini adalah cinta yang buta.
"Aku minta maaf soal yang kemarin malam. Aku membawakanku makanan, tolong jangan lewatkan makan lagi! Kau bisa sakit." Kata Alvin. Ia kembali memahas soal makanan yang ia bawa. Memang ini adalah niat awalnya. Ia kemarin siang bertanya pada staff hotel yang ia mintai tolong untuk melaporkan apa pun soal Mia, dan si staff hotel bilang kepadanya jika Mia tidak check out dari hotel. Maka dari itu, ia memilih untuk mengunjungi Mia.
__ADS_1
Tubuh Mia pasti sedang tak baik-baik saja usai diperkosa olehnya.
"Kau peduli denganku?" Sejujurnya Mia tak menyangka, tak pula berharap banyak jika Alvin akan memperhatikannya seperti ini.
Alvi memang tipe laki-laki perhatian, bukan karena ia korban pemerkosaan yang telah Alvin lakukan terhadapnya. Tapi memang dasarnya sifat Alvin itu seperti itu. Wajar, Alvin itu adalah seorang dokter. Alvin akan perhatian pada semua orang. Dirinya memang tak bisa berharap banyak.
"Aku bersalah padamu, aku tak seharusnya berbuat keji padamu. Aku tak seharusnya melakukan apa yang seharusnya tak aku lakukan. Makanlah! Aku akan kembali ke kantor... Besok aku akan datang lagi dan membawakanmu makanan seperti ini." Kata Alvin yang berlalu meninggalkan Mia.
Dalam hati Alvin berpikir jika Mia sangat membencinya dan tak mau melihatnya. Ia hanya bisa melakukan sampai ini saja, ia tak bisa melakukan lebih. Ada hal mendesak yang harus ia lakukan. Waktu yang ia miliki tak cukup banyak. Ia harus menyelesaikan semuanya secepat yang ia bisa. Waktu sangat berharga untuknya.
.
.
.
Sepeninggal Alvin, Mia kembali menangis tersedu-sedu. Ia tak tahu bagaimana harus menyikapi Alvin dan segala bentuk perhatian Alvin kepadanya setelah apa yang terjadi antara dirinya dengan Alvin.
Masalah pemerkosaan yang susah Alvin lakukan terhadapnya itu tak sesederhana yang orang bayangkan dimana sang pemerkosa dilaporkan ke polisi lalu dipenjara. Tidak bisa seperti itu.
Mia tak bisa, tepatnya tak mau melaporkan pemerkosaan yang sudah Alvin lakukan kepadanya. Selain karena akan membuat malu keluarga, tapi juga ia memikirkan perasaan Alvin.
Jika keluarganya tahu ia sudah diperkosa seseorang, maka keluarganya pasti tidak tinggal diam dan akan menuntut Alvin sampai ke ujung dunia sekalipun. Tapi ia tak mau. Ia tak mendapatkan stempel korban pemerkosaan di masyarakat.
Ingat, Alvin itu cukup terkenal di jagat sosial media karena prestasi dan ketampanannya. Akan sangat heboh jika skandal pemerkosaan Alvin terhadapnya diekspos. Semua pasti akan menjadi sangat kacau dan balau.
Mia tak mau itu terjadi!
Ruginya lebih banyak dari keuntungannya.
"Oh Tuhan, aku harus bagaimana? Haruskan kisah tragis ini aku pendam sendirian? Sampai kapan? Sampai kapan aku bisa melalui hari-hari yang sangat berat ini? ... Aku ingin menjalani kisah cintaku dan kehidupanku dengan cara yang normal. Tapi kenapa begitu silut? Aku hampir gila karena pikiranku terus saja berputar-putar tak karuan di dalam sana... Tuhan, aku ingin menyudahinya.. Jika sudah begini, apakah takdir indahku nanti masih ada? Apakah Engkau menyisakannya untukku, wahai Tuhanku yang tak pernah salah?" Gumam Mia.
.
.
.
Alvin meninggalkan kamar hotel tempat Mia menginap. Di parkiran ia berjumpa dengan Melody dan Ayane.
"Me-Melody?" Gumam Alvin. Ia menatap wanita yang ia puja-puja setengah mati itu. Wanita yang sedang hamil mengandung anak dari adiknya sendiri.
Ada tatapan dingin di sana. Tatapan yang berasal dari Melody tentunya.
Yang paling menyakitkan, ketika Melody melewatinya seperti orang asing, seperti benda mati yang tak bernyawa.
Alvin pun hanya bisa mematung di tempat. Membeku dalam kediaman yang menyakitkan.
Ikatan yang ia miliki memang sangat rapuh. Tidak dengan Mia, tidak dengan Yudha, apa lagi dengan Melody. Dalam hidupnya yang menyedihkan ini, ia sama sekali tak memiliki ikatan yang kuat. Seberapa banyak tali yang ia kumpulkan dan menyatukannya, tapi tali-tali itu tetap saja akan mudah putus. Seperti layangan yang yang putus talinya. Terbang tak menentu terbawa jauh oleh angin yang berhembus. Jika beruntung akan jatuh dan dipungut orang. Namun, yang ia alami justru nyangkut lalu rusak dan ditinggalkan begitu saja.
Seperti itulah gambaran hidupnya ketika mendapatkan penolakkan cinta dari Melody. Ia kembali teringat akan peristiwa itu dimana Melody mengatakan jika cinta darinya itu adalah cinta yang menjijikkan.
Melody sungguh mengabaikannya dan tak menganggapnya ada.
Ah.. ini sungguh menyesakkan dada.
"Wajar jika kau marah padaku. Aku memang sudah melakukan kesalahan besar kepadamu. Namun, aku tak bisa berbuat banyak ketika mereka menginginkanmu demi merobohkan dominasi Yudha. Aku tak mampu melihatmu terluka karena mereka, aku pun menukarmu dengan Yudha... Yudha sedang menggantikan posisimu saat ini. Gomen Melody, gomenasai. Honto ni gomenasai! Aku tak bisa cerita padamu. Aku, aku pun menikmati ini ketika Yudha jauh darimu. Saite desu ne ore wa? Aku benar-benar menjijikkan." Batin Alvin.
_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x
_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x
Maunya nulis panjang, tapi hari ini aku dua kali demam. Lemes banget ini badan. Jadi aku potong aja dulu updatenya. Gomen ne.. Lurus saja ke depan kok, walau ya, perasaan yang ingin aku sampaikan memang terlalu mendetail. Ini hanya ingin logis agar tak meninggalkan plot hole saja. Dilecehkan tak mungkin bisa cepat dilalui begitu saja, kan?
Chapter ini sebenarnya mengandung klu, termasuk yang sebelum-sebelumnya. Jauh ke belakang terhitung sejak arc Simbah Koma, biarkan ini jadi kejutan di akhir ya.. 😉😉 sampai nanti.
__ADS_1