MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Menjenguk


__ADS_3

Prime Hospital...


“Padahal aku sudah membaik, tapi kenapa mendapatkan obat sebanyak ini? Dasar bisnis!” Gerutu Melody usai menebus obatnya di apotek rumah sakit.


“Obat akan membuatmu jauh lebih baik! Jangan cerewet, itu demi kesembuhanmu, baka!”


Sahut Yudha.


“Ahhh, sudahlah, aku lelah berdebat denganmu.”


“Aku juga.”


“Kita sudah melihat bagaimana keadaan Amamiya-san, dia mengalami patah tangan dan cidera kaki. Ada luka juga di kepalanya. Jika kau sangat khawatir padanya, aku sudah menelpon Ayane-nee untuk menjemputku. Kau temani dia saja!”


“Melody..”


Melody menunjukkan layar ponselnya. “Ayane-nee akan datang 10 menit lagi. Jangan khawatirkan aku! Pergilah! Tidak apa-apa..”


"..."


Melody tersenyum. “Jaa..”


Yudha hanya mengamati bagaimana Melody berlalu meninggalkannya. Ia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Ia merasa ingin bersama Melody, tapi ia juga sangat menghawatirkan Yura.


Dan nyatanya sekarang ia di sini, di depan kamar Yura. Rasa khawatirnya pada Yura memang jauh lebih besar.


“Loh, Yudha?”


“Ibu Kurenai? Datang menjenguk?”


Kurenai baru saja keluar dari pintu kamar inap Yura.


“Ya begitulah, bagaimanapun dia itu model dari brand kosmetik ibu. Yudha sendiri juga ingin menjenguk?”


Yudha mengangguk. “Ibu sudah selesai?”


“Hmm, lukanya cukup parah. Bahkan dia harus beristirahat dulu dari dunia entertain untuk sementara.”


“Sodesu ne.” Yudha menunduk.


Sodesu ne: Begitu ya.


Kurenai lalu memegang bahu kiri Yudha. “Ibu sudah mendengar kabarmu di media, yang kuat Yudha. Ibu berdoa untuk kebaikanmu.” Kurenai lalu menepuk-nepuk pelan bahu anak ‘tiri’nya itu.


“Arigatou gozaimasu, Kaa-san.”


Setelah berpamitan dengan ibu Kurenai, Yudha memasuki ruang inap milik Yura. Ia melihat Yura dengan segala perban yang melekat di kepala, tangan, dan kakinya. Luka yang amat parah. Jika tidak menabrak pohon, apa mungkin Yura akan jauh lebih parah dari ini?


“Sudah kuduga kau akan kembali, Yudha-kun.” Kata Yura.

__ADS_1


Ia menampilkan senyuman terbaiknya. Ia lalu meraih tangan Yudha.


“Aku sungguh minta maaf. Andai saja pagi itu kau tidak memakai mobilku, mungkin saja.. kau.. kau tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini.” Suara Yudha bahkan terdengar begitu bergetar. Ia benar-benar merasa bersalah.


“Aku baik-baik saja, Yudha-kun. Aku akan segera membaik. Soal berita di media, aku benar-benar meminta maaf. Agensiku mengambil langkah hukum tanpa sepengetahuanku, aku tahu kau tidak mungkin melakukan hal seperti itu padaku. Benar, kan? Yudha-kun?”


“Itu sudah jelas, kan? Aku bisa mengerti tindakan agensimu, kau bersamaku kemarin, kau kecelakaan juga memakai mobilku. Siapapun itu pasti juga akan mencurigaiku. Tidak masalah, selama aku benar, maka tak perlu ada yang aku khawatirkan.”


“Syukurlah, kalau aku sudah mendapatkan izin dokter, aku akan memberikan keterangan pada polisi. Tenang saja, aku di pihakmu.”


“Arigato.”


“Iya sama-sama. Ahhh, aku jadi lapar.”


“Kau mau apel?”


“Hm, sepertinya enak.”


“Aku akan mengupaskannya untukmu, matte ne.”


Matte ne: Tunggu ya.


.


.


.


Wajar saja, bagaimana harus menjelaskannya? Ini mungkin terlalu berlebihan, tapi mereka berdua sangat dekat. Mereka juga selalu bersama sejak dulu. Perhatian bukanlah hal yang salah, kan? Lagipula Yura sedang sakit, bukan kejahatan, kan? Yudha hanya mencoba bertindak atas perannya. Bagaimanapun ia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Yura.


“Wajahmu jelek sekali.” Sapa Mia.


“Berisik deh, Bebek cerwet.” Jawab Melody ketus.


“Baru kali ini aku melihatmu kesal karena Hp. Memandang Hp begitu lamanya. Menscroll terus-terusan, lalu di letakkan. Ambil lagi dan letakkan lagi. Berkali-kali. Siapa yang berani mengabaikanmu? Yudha?”


"..." Melody memalingkan wajahnya.


Apa sih yang tidak Mia ketahui? “Hoo, kalau kangen bilang saja!”


“Siapa juga yang kangen padanya, tiap hari juga ketemu.”


“Huwaaah, suaramu ketus sekali. Aku tahu, kau pasti cemburu, kan? Aku melihatnya loh, Yudha tiap harri menjenguk si model sampul majalah itu.”


“...”


“Kalau diam berati iya.”


“Wajar, kan? Yudha dan Amamiya-san itu sangat dekat. Lagipula, aku yakin, Yudhapun juga merasa bertanggung jawab atas insiden itu. Selain itu, aku melihat begitu khawatirnya Yudha pada Amamiya-san. Orang disayangi terluka, maka iapun akan terluka juga. Aku tidak tahan melihatnya yang seperti itu.”

__ADS_1


“Kau selalu berputar-putar dengan opinimu. Nyonya Kazehaya, kau adalah istri Yudha! Jika kau diam saja, kau tidak akan ada kemajuan. Huh, padahal kau sudah menjadi milik Yudha. Aku akan melabraknya jika dia memperlakukanmu seperti ini, setelah dia mencicipi tubuhmu, enak saja dia mengabaikanmu.”


“Mia, perbaiki kata-katamu itu! Memang, aku akui Yudha sedikit berbicara padaku. Tapi bukan berati kami bertengkar atau terjebak dalam kecanggungan. Kami hanya tidak memiliki waktu bertemu banyak."


"..." Mia mendengarkan ocehan Melody.


"Aku kuliah, dia ke kantor. Aku mulai sibuk dengan proposal ajuan tempat PKL, dia sibuk dengan proyek, meeting, dll. Makan siang, mana bisa kan? Jarak kantor sama kampus itu cukup jauh, waktu hanya habis di jalan. Kami pulang sore, Yudha cenderung malam, dia pasti akan menjenguk Amamiya-san jika pulang kerja lebih awal."


"..."


"Saat malam tiba, aku pasti sudah tepar karena kelelahan saat dia pulang. Ketemu pagi saat gantian kamar mandi. Saat aku sudah selesai mandi, dia sudah pergi ke kantor. Paling Ibu yang menyampaikan salam darinya.”


“Itu tidak wajar, Melody! Kalian itu sepasang suami-istri!”


“Itu keadaan, Mia bebek.”


“Setidaknya pahamilah hatimu, Melody! Tidakkah kau merasa kesepian?”


Kesepeian?


“Eh?”


“Tidak paham?


“...”


“Berapa kali kau kena tegur dosen di kelas beberapa hari ini?” Tanya Mia.


"..." Melody mencoba mengingat. Iya kah? Mungkin, banyak?


“Kau disapa teman sekampus kita, kau diam saja. Kau salah masuk kelas, kau salah bawa jadwal kuliah. Lupa bawa tugas kampus. Saat makan, kau menjatuhkan sendokmu berkali-kali. Kau memasukkan garam begitu banyaknya ke dalam ramenmu. Kau menambah saus tomat ke dalam jus jambumu!"


"..." Benarkah seperti itu?


"Kau memikirkannya, kan Melody? Pahamilah hatimu, pikirkan tentang perasaanmu! Kau kesepihan tanpanya, Melody!” Mia memang selalu cerewet seperti biasanya.


“Aku, aku yang menyuruh Yudha menjenguk Amamiya-san, Mia..”


“Kau bodoh ya? Kau hanya membuat rubah itu di atas angin. Aku memang tidak tahu, tapi dia itu tercium licik di hidungku.”


“Dia sedang sakit, Mia. Dia adalah teman- ahhh orang yang Yudha cintai. Yudha pasti sangat khawatir, sangat sedih, sangat menderita karenanya."


"..."


"Melihat Yudha yang menderita, entah kenapa membuat hatiku sakit juga. Aku tak bisa melihatnya seperti itu. Aku adalah istrinya, dia mengakuiku dan dia juga berteman dengannya, aku ingin melihatnya bahagia, Mia.”


Mia memeluk Melody. “Kau jatuh cinta dengannya rupanya. Yokatta.”


Yokatta: Syukurlah.

__ADS_1


Mia menyunggingkan senyumannya. “Kalau kau diam saja, dia mana tahu. Setidaknya sapalah dia, sms juga tidak masalah. Bukankah kau mendapatkan undangan pertungan teman sekelas kita? Bicarakan itu padanya! Kau harus datang bersamanya!”


__ADS_2