
Yudha berjalan tergesa-gesa menuju ruang kantor milik Alvin sambil membawa surat di dalam genggaman tangannya. Ia tak peduli orang-orang atau karyawan lain yang melihatnya dengan tatapan heran.
Bagi mereka, Yudha itu sangat jarang menunjukkan sikapnya yang seperti ini. Yudha itu terkenal dengan ketenangannya.
Yudha masuk ke dalam kantor Alvin tanpa mengetuk pintu. Ia kemudian melihat Alvin yang tengah asyik bermain shogi sendirian.
Shogi (将棋 shōgi) atau catur Jepang adalah permainan papan dari Jepang yang dimainkan oleh dua orang di atas papan 9 lajur dan 9 baris yang berwarna sama. Kalau pernah lihat Azuma sama Shikamaru di serial Naruto, maka ini adalah permainan yang sama.
"Kau memiliki waktu luang untuk bersenang-senang akan jabatanmu." Sindir Yudha.
"..." Alvin berhenti bermain shogi, ia menatap Yudha.
"Maksudnya apa ini, Vin?" Tanya Yudha. Ia bahkan sampai menggebrak meja kerja milik Alvin.
Surat yang ia bawa itu ia lemparkan ke arah dada bidang Alvin.
Alvin mengambil surat yang Yudha lemparkan kepadanya. "Kau sudah lulus ujian membaca, kau pasti bisa memahami isinya!" Jawab Alvin.
"Aku dipindah tugaskan ke Canada? Yang benar saja! Melody hamil! Kakek masih koma! Bahkan paman Aronpun belum sadar! Kau jangan aneh-aneh!" Kata Yudha kesal.
"Aku mengizinkanmu membawa Melody." Kata Alvin.
"Melody kandungannya tak sekuat itu! Dia tidak dapat izin terbang! Aku sudah pernah memeriksakannya ke dokter! Kau kenapa seperti ini padaku, hah? Bagaimanapun aku ini masihlah pemegang saham tertinggi setelah kakek! Aku berhak membuat keputusan juga."
"Begitukah?" Alvin menyodorkan sebuah map pada Yudha yang isinya tentang daftar para pemegang saham Emperor Group.
Yudha membacanya dengan teliti. Ia sangat terkejut karena dalam waktu yang relatif singkat, saham milik Alvin meningkat tajam. Satu persen di atas miliknya.
"Saham milikku sebelas persen. Aku berada di atasmu, saat ini aku adalah pemegang saham terbanyak kedua setelah kakek dan aku juga CEO Emperor Group, itu artinya aku berhak akan semua kebijakan dan keputusan Emperor Group, dan pemindahan tugasmu, kau tak bisa menolakknya!" Kata Alvin.
"Kau membawa perasaanmu ke urusan kerja. Sungguh tidak profesional. Sebegitu bencinya dirimu karena aku yang memiliki Melody?" Sindir Yudha.
Alvin tertawa. "Meski aku tak memiliki Melody, setidaknya akulah orang pertama yang pernah memilikinya."
Yudha menggertakan tangannya. "Baiklah, karena aku tak mau meninggalkan keluargaku dan istriku yang sedang hamil, maka aku memilih untuk keluar dari Emperor Group." Kata Yudha.
"Ho, kau yakin dengan keputusanmu itu? Kau akan sulit masuk lagi jika keluar dari Emperor Group. Aku bisa mem-black list dirimu. Ingat, semua kebijakan dan keputusan Emperor Group ada ditanganku." Alvin memberi peringatan.
"Tak masalah. Lagipula, aku masilah salah satu pemegang saham di Emperor Group!" Yudha berjalan keluar meninggalkan meja kerja Alvin.
"Sebaiknya surat pengunduran dirimu segera kau kirim padaku!"
"Surat itu akan ada di mejamu kurang dari lima menit!" Yudha menutup kasar pintu ruang kerja milik Alvin.
Seketika itu, Alvin langsung tertawa terbahak-bahak.
"Sudah aku duga dia lebih memilih keluar perusahaan daripada pindah tugas ke Canada dan meninggalkan Melody... Nah, karena Yudha sudah pergi dari Emperor Group, maka semuanya akan semakin mudah. Hmm, siapa selanjutnya yang harus aku singkirkan?" Alvin tersenyum penuh arti.
Alvin menatap papan shoginya.
Haruskah ia menangkap rajanya?
.
.
.
Di sinilah kini, Yudha sedang tiduran di pangkuan Melody. Tiduran di sofa kamar inap milik Aron. Hari ini jadwal Melody menunggu Aron berhubung Shuhei sedang menyelidiki kasus mega proyek di Miyagi.
Melody sedang membersihkan telinga Yudha dengan cotton bud. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati. Tidak terlalu dalam, tapi bisa membersihkan semua kotoran di telinga Yudha.
"Jangan banyak gerak, Yudh! Bahaya!" Pinta Melody.
Yudha langsung tenang. "Geli, Mel! Aku bisa melakukannya sendiri!"
"Cih, biar aku saja yang melakukannya kenapa sih? Aku ingin melakukan ini padamu."
__ADS_1
"Apa ini wujud pengabdianmu pada suamimu?"
"Artikan seperti itu jika kau mau."
"Wujud pengabdian itu kau menciumku, bodoh!" Yudha tersenyum mesum.
"Tidak bisa melakukannya. Perut besarku membuat sekat. Sangat mengganjal." Kata Melody.
"Tapi intinya kau tak masalah kan menciumku?" Tanya Yudha.
"Hm... ya?" Melody mengangguk-angguk. Memang biasanya sering ciuman, kan? Kenapa Yudha menanyakan hal seperti ini?
Nah loh, Yudha kembali tersenyum mesum terhadapnya. Membuat Melody mengernyitkan dahi.
"Kenapa?" Tanta Melody.
Yudha bangun dari tidurannya di pangkuan Melody, ia lalu mendaratkan ciuman singkat di bibir Melody. Setelah itu ia kembali tiduran di pangkuan Melody.
"Aku mendapatkan wujud pengabdianmu pada suamimu." Cengir Yudha.
Melody menatap Yudha kesal. "Cih.. Kau ini.."
Yudha memiringkan badannya ke arah perut Melody yang membesar itu. Ia mengelus-elus perlahan perut Melody sambil sesekali menciumnya. Dalam perut sana, hiduplah benih-benih cintanya dengan Melody.
Melody hanya menatap segala perlakuan Yudha terhadapnya. Dalam hati ia berpikir jika mungkin saja Yudha sedang rindu dengan si kembar, atau mungkin saja Yudha sedang tidak sabar menunggu lahirnya si kembar.
Namun ada sesuatu yang mengganjal di dalam benaknya. Mata Yudha menatap lain. Tatapan yang tak seperti biasanya. Melody ingin tahu apa itu.
"Sesuatu pasti sedang terjadi. Seperti biasanya, suami yang egois ini pasti tidak akan menceritakannya pada istrinya yang super lelah karena mengandung hasil perbuatan suaminya!"
"Kok aku kesal mendengarnya? Hei, waktu itu kita melakukannya tanpa paksaan. Jadi itu perbuatan kita berdua!" Sanggah Yudha tak terima.
"Jangan mengalihkan deh, Yudh! Kebiasaan!" Melody kesal karena Yudha selalu saja berputar-putar terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan yang sangat ia inginkan jawabannya.
"Kalau kau cemberut seperti itu, aku ingin segera memakanmu. Itu sangat sexy." Kata Yudha.
Bagi Melody, Yudha itu sering tidak masuk akal.
Mesum juga ada batasnya!
"Tapi di mataku kau selalu menggoda. Sangat sexy." Jawab Yudha.
Percayalah itu adalah perkataan Yudha yang sangat jujur dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam!
Apakah itu aneh?
Bagi Yudha, jika ia mencintai seseorang, maka ia akan selalu melihat dari sudut pandang yang lebih baik.
"Marah ya?" Tanya Yudha. Mata Yudha seperti kucing minta diadopsi.
Memang Yudha pernah seperti ini sebelumnya?
Melody tak paham. Iapun hanya bisa menghela nafas beratnya. Sekali lagi, ia memang harus terbiasa dengan pola pikir super jenius dan di luar akal ala Yudha, sang manusia biasa bergelar suami nasional ala follower-follower Instagramnya.
"Tidak. Aku hanya sedang meningkatkan kemampuanku untuk memahamimu. Aku tiap hari belajar untuk mengerti dirimu. Apa yang diinginkan olehmu. Aku mungkin memang memaksakan diri untuk mengenalmu lebih jauh. Aku hanya senang karena semakin aku berusaha mengenalmu, aku semakin sering menemukan hal baru dari dirimu. Itu sangat mengasyikkan." Jawab Melody.
"Benarkah? Meski aku sangat mesum sekalipun, kau tetap senang? Tidak risih?" Tanya Yudha.
Melody merah padam. "Apa aku harus menjawabnya?"
"Tentu saja, harus, wajib!"
"Hah, kau ini ya sukanya hal-hal yang berbau mesum? Hei, aku ini meski istrimu, tapi aku tetaplah seorang wanita, selalu diperlakukan mesum sama dirimu, tentulah ada rasa risih, maaf bukannya aku menyinggung perasaanmu, tapi ciuman di tempat umum itu benar-benar membuatku sangat malu, baka!"
Yudha tertawa. "Haha, biar dunia tahu jika Melody adalah istriku."
"Alasan apa lagi ini, hah?"
Yudha bangun dari tidurannya pada pangkuan Melody. Ia kemudian menatap Melody. "Tunggu! Jangan-jangan kau malu mengakuiku sebagai suamimu pada dunia ya?"
__ADS_1
"Hah?"
"Padahal aku tidak malu menunjukkan pada dunia betapa aku sangat mencintaimu."
Melody memijat kepalanya. Yudha kalau sudah seperti ini, merengek tidak jelas, pasti sesuatu sedang terjadi.
Melody kemudian memegang pundak Yudha. "Jelaskan apa yang terjadi pada dirimu! Sesuatu hal pasti sedang kau alami. Hari ini kau pulang cepat. Alasan rindu padaku itu memang masuk akal, tapi aku yakin ada sesuatu yang lain. Tolong berbicaralah kepadaku, tolong ceritakan padaku! Sudahi bahasan yang kemana-mana ini, kau sudah tahu jika aku ini sangat mencintaimu!" Kata Melody.
Yudha memalingkan kepala, tak ingin menatap Melody.
Melody kesal. Kenapa suaminya ini bisa sangat menyebalkan jika dalam mode kekanak-kanakkannya sih?
Ia perbah kecil, tapi tidak semengesalkan Yudha!
Kenapa harus bersabar lebih banyak dari yang biasa ia lakukan untuk menangani mood Yudha yang mudah berubah itu?
Ia sedang tak menstruasi, tapi kesalnya melebih wanita-wanita sedang PMS.
Ingin sekali melayangkan sebuah bogem mentah pada pipi Yudha yang mulus itu. Sayangnya, ia tak setega itu.
Sudah berapa kali ia harus menghela nafas panjang lagi?
Melody memegang pipi Yudha agar kembali menatapnya. "Mau cerita atau siap-siap tidak dapar jatah sampai empat puluh hari usai lahiran, hm? Pilih salah satu, aku malas menjelaskan alasannya!"
"Hidoi!"
Hidoi: kejam.
"Cepat pilih!" Melody mendelik.
Kok seram ya? Dalam hati Yudha mengakui jika Melody memiliki sisi yang menyeramkan.
Tunggu...
Apa dirinya yang super keren ini termasuk dalam ikatan suami takut istri?
Tidak, tidak!
Ia hanya sedang mengalah.
"Iya aku akan menjawabnya, tapi jangan menatapku seperti itu!" Pinta Yudha.
Melody tersenyum manis. "Nah begitu dong, Yank."
"Biasanya Yudh, kalau ada maunya ganti Yank." 😧
Melody siap-siap memukul Yudha dengan mengepalkan tangannya. Ia bahkan menarik kerah baju Yudha.
"Hoi, hoi, tenang, Buk! Malah ngajak gelut." Pinta Yudha.
Ngajak gelut (bahasa Jawa) : Mengajak perang.
"Cepat katakan kenapa sih? Lelet sekali jadi orang." Kata Melody semakin kesal.
Yudha melepas tangan Melody yang mencengkram kerah bajunya. "Iya maaf, jangan pasang wajah mengerikan seperti itu, Mel!"
Melody melepas cengkramannya. Ia lalu merapikan kerah baju milik Yudha. "Maaf, aku hanya sedang tak sabar."
"Aku dipecat." Kata Yudha cepat.
"..."
"Aku pengangguran." Lanjut Yudha.
"Eh?"
"😊"
"😲 HEEEE?"
__ADS_1