MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chiba 2


__ADS_3

Aku skait kepala, minum obat, eh super ngantuk. BTW ini mulai ngetik jam 22.00 di penghujung bilan oktober. Jadi, ini chapter akan pendek mengingat aku super ngantuk, di bawah pengaruh obat, nulis juga salah-salah terus. Biasanya selesai di post, aku balik lagi buat revisi sih. Thanks sudah setia ikuti Melody Cinta: Tiba-tiba Nikah dan sekali lagi, maaf untuk chapter ini.


.


.


.


Masih di rumah dimana Alvin menyembunyikan Meody.


Yudha sudah di sambut oleh sang pemilik rumah dengan para bodyguard sewaannya. Sang pemilik itu duduk di sofa sambil merokok, sementara sekitar sepuluh orang bodyguard-nya berdiri di belakangnya dengan senjata api lengkap.


"Nyalimu besar juga berani datang ke rumah ini sendirian." Kata Sang Pemilik Rumah.


"Aku baru tahu jika maniak kesehatan seperti dirimu itu bisa merokok, ne Alvin-nii-sama!" Kata Yudha.


Yudha menyembut Alvin dengan sebutan kakak. Ada pemilihan tutur kata yang ia gunakan. Meski terdengar sopan, tapi nyatanya itu adalah saling lempar sindiran.


Sudah lama mereka seperti ini saat bertemu. Saling lempar sindirian antara satu dengan yang lainnya. Adu bacot siapa saja yang lebih banyak bicara pedas di antara ke duanya.


"Aku memang bisa merokok, ore no ototou yo!" Kata Alvin


Ore no ototou yo: Adik laki-laki-ku.


"Hmm, begitukah? Rokok apa yang kau pakai? Sepertinya kau tak cukup terganggu dengan asapnya?" Kata Yudha.


"Jika aku memberitahumu soal merk rorok yang aku pakai saat ini, kau bisa penasaran dengan rasa rokok yang aku hirup saat ini, kau bisa saja malah ikutan membelinya... Dan tentu saja aku tak terganggu dengan asap rokoknya. Aku sudah terbiasa dengan asapnya, ini nikmat sekali." Alvin menyesap rokoknya, lalu menghembusakan asapnya.


Tidak suka, Yudha tidak menyukai bagaimana Alvin memilih kata saat berbicara kepadanya akhir-akhir ini. Sangat beda dari sosok Alvin yang ia kenal dulu. Hanya karena seorang wanita, hubungan yang dulu terjalin sangat baik bisa menjadi renggang seperti ini. Mirisnya lagi, memiliki ikatan darah yang tak sesederhana itu.


"Aku tak akan membeli rokok kesukaanmu. Maaf saja aku tak tertarik dengan apa yang kau sukai." Kata Yudha.


"Benar kah? Haruskah aku tertawa? Sepertinya kau sudah lupa jika kau tertarik bahkan menyukai apa yang aku sukai. Kau menyukai Melody, ah, kau mencintai Melody yang jelas-jelas sosok yang aku sukai." Sindir Alvin.


Yudha tertawa. "Miris sekali. Aku kasihan padamu, kakakku!"

__ADS_1


"Tidak ada yang lucu, adikku! Dan aku tak perlu kau kasihani!" Kata Alvin.


"Aku memang menyukai orang yang sama denganmu. Namun kita berada di tingkatan yang berbeda dimana aku mendapatkan balasan cinta, sementara kau tidak. Melody sama sekali tidak pernah mencintaimu. Dia hanya kasihan padamu karena kau terlalu baik padanya. Kau selalu ada untuknya... Aku yakin wahai kakakku, aku sangat yakin jika dalam benak jeniusmu kau pun mengetahuinya. Kau tahu jika Melody sama sekali tidak mencintaimu." Kata Yudha.


Alvin mengepalkan tangannya. Kata-kata Yudha itu sangat mengena di dalam hatinya. Apa yang Yudha katakan itu benar adanya. Ia tahu jika Melody sama sekali tidak mencintainya. Ia sudah tahu sejak lama meski ia sempat berpacaran dengan Melody sekalipun. Senyuman Melody tidak berbohong kepadanya. Apa yang Melody tunjukkan kepadanya juga bukanlah kepalsuan, hanya saja, Melody tak membiarkannya masuk lebih dalam lagi ke dalam hatinya. Apa lagi saat ini dimana hati Melody hanya penuh dengan nama Yudha.


"Apa yang kau inginkan, Yudha?" Tanya Alvin akhirnya.


Yudha menyeringai. "Kau lebih suka mengakhiri dengan cepat jika kita membahas soal Melody. Sebegitu menyakitkannya kah fakta itu? Aku memahamimu, kakakku!"


"Katakan apa tujuanmu berdiri di hadapanku saat ini!" Kata Alvin yang tak terpengaruh dari kata-kata kompor dari Yudha.


Yudha mulai ahli dalam memanas-manasi orang. Ia sekarang juga menyukai permaian kata-kata. Ia tertarik dengan ekspresi yang lawannya tunjukkan ketika mereka bisa termakan oleh kata-kata yang ia lontarkan. Baginya, itu sangat menarik.


"Kembalikan istriku!" Kata Yudha lantang dan serius. Ia tak tersenyum main-main seperti tadi. Ia langsung berunah 180 derajat menjadi sosok Yudha yang dingin dan sangat serius.


Alvin yang sudah serius itu menatap Yudha tajam. Yudha berani membalas menatap tajam dirinya. Kehangatan yang dulu sering Yudha pancarkan, kini sudah lenyap.


"Memang kau pikir aku yang menyembunyikan istrimu?" Kata Alvin.


"Berhentilang mengelak dan memutar balikkan kata-kata! Kau sudah sangat tahu mengenai kebenarannya. Kenapa kau masih saja tidak mau mengakuinya? Kaulah yang menculik Melody! Kaulah yang menyembunyikan Melody dari diriku!"


Alvin sama sekali tidak mau mengakui jika dirinya adalah orang yang menculik dan menyembunyikan Melody. Hal ini membuat Yudha sangat kesal, kesalnya setengah mati. Olah penyelidikan yang ia lakukan bersama para hacker tak mungkin salah! Semua bukti mengarah kepada Alvin.


Lalu Alvin dengan santainya bilang seperti itu? Itu seperti ingin bilang jika Melody sama sekali tidak ada di tangannya.


Rasanya ingin segera memberi pelajaran pada Alvin.


Yudha mengambil senjata api yang ia sembunyikan di saku celananya. Ia memompa cepat dan menodongkannya ke arah Alvin.


Semua bodyguard Alvin juga secara cepat langsung mengarahkan senjata api mereka ke arah Yudha. Sepuluh orang kini yang harus Yudha hadapi seorang diri.


10 vs 01.


Apa Yudha tak menyadari kebodohannya? Apa ia pikir peluru darinya akan lebih cepat dari sepuluh bodyguard miliknya?

__ADS_1


"Lagi-lagi aku baru tahu sikap aslimu, Yudh. Ternyata kau berani juga menodongkan pistolmu terhadapku. Rupanya ikatan kakak-adik di antara kita sama sekali tidak berharga di hadapanmu." Alvin tak gentar meski Yudha sudah bersiap untuk menembak dirinya. "Darahku ini ternyata halal bagimu. Ikatan bodoh yang sangat rapuh bahkan sangat mudah putus ini sama sekali tak berarti untukmu." Lanjutnya.


"Dimana Melody?" Tanya Yudha keras.


"Sudah aku bilang, aku tak mengetahuinya!"


Yudha sudah siap menarik pelatuk senjata apinya. "DIMANA MELODY! MELODY WA DOKO KA!" Yudha menjadi sangat tidak sabar.


"Turunkan pistol kalian!" Pinya Alvin. Ia mengangkat tangan kirinya untuk mengisyaratkan agar para bodyguardnya itu tidak menodongkan senjata api mereka pada Yudha.


"Alvin, aku sedang tak main-main. Dan kau, cobalah untuk serius dan jangan main-main seperti ini!" Kata Yudha. "Aku hanya ingin mengambil apa yang mejadi milikku! Kau berhentilah mengambil apapun yang bukan menjadi milikmu!" Lanjutnya.


Berhentilah mengambil apapun yang bukan menjadi miliknya ya?


Kata-kata yang menusuk. Alvin tidak menyukainya.


"Yudha, apa kau mau minum kopi denganku?" Tawar Alvin.


Alvin ini sedang main-main atau apa sih? Bagaimana bisa suasana yang tidak mendukung seperti ini Alvin malah mengajaknya untuk minum kopi?


Bercanda juga tapi harus tahu batasannya!


Apakah Alvin sedang mengajaknya untuk bersantai ria?


Ah, ini seperti Alvin senang melihatnya terlihat konyol.


"Apa kau pikir aku ini sedang dalam mood yang baik untuk duduk bersama denganmu dan menghabiskan secangkir kopi hangat? Jangan bercanda! Kau membuatku ingin muntah!" Kata Yudha.


"Aku tulus menawarimu minum kopi, kau malah menanggapinya dengan nada seperti itu. Kau selalu saja berpikiran buruk terhadapku. Kau sama sekali tidak asik jadi orang." Remeh Alvin.


"Jangan bertele-tele! Kau paling tahu alasannya aku datang menyambangimu ke rumah ini! Katakan padaku, dimana Melody! Kau sembunyikan dimana istriku itu, hah? Kau pikir kau itu pantas melakukan hal ini pada adik iparmu? Kau bisa dituntut hukum karena melakukan hal ini!"


Alvin tertawa. "Dituntut oleh hukum ya? Oh, jadi kau berusaha mengancamku dengan ingin menjembloskanku ke penjara? Padahal aku tahu sendiri siapa yang berada di posisi yang lemah saat ini. Melody ada di tanganku dan aku bisa melakukan apapun yang aku kau terhadapnya."


"Melody bukan milikmu! Dia adalah milikku! Berhentilah merebut apapun yang bukan menjadi milikmu! Itu membuatku kasihan padamu. Kau ini tidak memiliki kerjaan lain ya selain merebut apa pun yang menjadi milikku? Dari dulu yang bisa kau lakukan hanya seperti ini. Tidak malukah dirimu yang selalu tak memiliki perkembangan dalam hidupmu? Karena kau yang seperti ini, wajar saja jika kau tak akan pernah bisa memiliki Melody. Kau tak tahu bagaimana membahagiaan orang-orang yang menyayangimu." Kata Yudha panjang lebar.

__ADS_1


Alvin menggertakan gigi-giginya. Ini lagi. Lagi-lagi ini. Yudha membahas kepemilikan yang membuatnya muak. Sungguh, dalam hati terdalamnya ia tak menyukai hal ini.


Dari awal, dirinyalah yang lebih dahulu mengenal dan mencintai Melody. Namun Yudha datang dan mengambilnya. Baginya, Yudha itu yang selalu mengambil miliknya.


__ADS_2