MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Fase Tahapan


__ADS_3

"Innaa Lillahi Wainna Illaihi Raji’un"


Semoga Allah mengampuni segala dosa dan menerima Amal ibadah Saudara kita:


DIDI PRASETYO a.k DIDI KEMPOT


Semoga diberikan kesabaran dan ketabahan pada keluarga yang ditinggalkan.


- 5 Mei 2020


________________________________________


Kediaman Alvin..


Kurenai menikmati tea time paginya dengan senyuman ayunya. Wanita bertubuh indah ini sungguh menyukai teh. Ia sering berkeliling dunia hanya untuk sekedar memenuhi ambisinya pada teh. Hebatnya, ia bahkan bisa mengenali asal teh itu hanya dengan mengendus baunya saja.


Di antara teh yang sudah pernah Kurenai cicipi, ia menyukai teh hijau atau Ryokucha dalam bahasa Jepang. Teh hijau adalah daun teh yang dipetik kemudian dipanaskan dan diproses agar tidak mengalami fermentasi. Meski bahan mentahnya sama dengan teh lain yang semacam teh hitam (kocha), rasanya menjadi sangat berbeda karena tingkat fermentasinya yang rendah.


Kurenai menyesap bau dari teh hangatnya. Aroma yang sangat ia sukai. Seperti aromaterapi, begitu menenangkan batinnya.


Dengan perlahan, ia meminum teh itu.


"Teh hijau adalah jenis hojicha. Daun teh dipanaskan dengan suhu tinggi, dengan kata lain dipanggang hingga meninggalkan aroma. Dengan dipanggang, kafein di dalamnya menguap sehingga rasa pahit dan asamnya hampir tidak terasa. Dengan begitu, teh ini dapat menghasilkan rasa yang jernih. Rasa yang sangat aku sukai." Gumamnya.


Kurenai beberapa kali menuangkan kembali teh yang sudah ia minum. Rasa yang membuat ia ketagihan. Rasa yang membuatnya bisa melepaskan segala kerinduan yang mendera batinnya.


Ya, ia ingat dengan sangat jelas bagaimana semua rasa rindunya bermula. Semuanya berawal dari satu sumber. Ayahnya Alvin.


Kazehaya Yoga.


Orang yang sangat ia kasihi. Orang yang sangat ia cintai. Kazehaya Yoga adalah sosok yang begitu mempengaruhi hidupnya. Ia merindukan sosok ini hingga membuatnya tak berdaya.


Ingat teh, ingat Kazehaya Yoga.


Teh memang memiliki cerita tersendiri antara dirinya dengan mendiang Kazehaya Yoga.


Dulu ada kisah dimana dua insan manusia biasa dipertemukan dengan cara yang sederhana dan jatuh cinta karena jerat ketulusan rasa. Cinta mengalir tanpa bisa dibendung. Mengendalikan hasrat yang membuta. Melawan segalanya atas nama cinta.


"Yoga-san, aroma teh hojicha ini masih sama. Tidak berubah. Seperti saat kita berdua menikmatinya bersama. Kita berbincang dan membahas banyak hal. Kita tertawa dan jatuh cinta. Ne, apa kau tahu? Aku kembali lagi meski kau melarangku. Maaf.."


Yoga dulu memintanya untuk menjauh dari keluarga Kazehaya, terutama kakek Wijaya. Masalah di masa lalu itu sangat pelik. Sangat rumit dan sulit disederhanakan.


"Alvin sudah besar. Buah hati kita, buah cinta kita. Dia sudah lama menderita, tapi dia memilih untuk mencoba bahagia dengan caranya sendiri. Aku tidak rela, aku tidak akan membiarkannya seperti itu. Aku ingin Alvin bahagia!"


Kurenai ingin Alvin menjadi Raja utama di Emperor Group!


Itu adalah ambisinya saat ini dan ia bersedia melakukan apapun caranya agar impiannya tercapai, meskipun cara yang ia tempeh penuh intrik dan kelicikkan.

__ADS_1


"Yura sudah tidak berguna lagi. Gadis itu terlalu bodoh untuk aku manfaatkan. Baiklah, biarkan opini publik menilai Tuan Muda yang agung itu. Aku masih memiliki rencana besar selanjutnya... Nah Tuan Besar Wijaya, mari kita bermain ke level yang lebih sulit lagi!"


Kurenai tersenyum penuh arti.


"Alvin, maafkan ibu, tapi ini yang terbaik untukmu."


.


.


.


"Tuan Besar, kapan Anda akan kembali?" Tanya Aron.


"Lusa. Bagaimana keadaan Melody?"


"Nona Melody masuk rumah sakit."


"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi? Apa Yudha tak merawatnya dengan baik? Bocah nakal itu sungguh menguji batas sabarku."


"Nona hamil, Tuan.."


"Benarkah?"


OK, Aron mendengar perubahan suara yang cukup 'menggelikan' dari Tuan Besarnya itu. OOC atau sangat out of character dari sosok seorang Kazehaya Wijaya yang terkenal keras, tegas, dan angkuh. Nyatanya, semua 'kakek' itu sama, bisa begitu lain jika itu menyangkut keturunan baru dalam silsilah keluarganya.


Aron juga tahu, inipun bagian dari rencana besar dari kakek Wijaya.


"Lindungi dia apapun yang terjadi. Kau pahamkan jika ke depan akan ada banyak masalah yang datang?"


"Ya saya paham, Tuan. Saya bersedia memasang nyawa saya untuk memagari keluarga ini."


"Maafkan aku, Aron. Tapi ini memang seharusnya.."


"Tidak Tuan, ini memang sudah takdir saya."


"Terima kasih, Aron. Terima kasih banyak."


"Saya akan selalu mengikuti Anda."


Kakek Wijaya menaruh harapan besar padanya. Ucapan terima kasih dari orang yang sama sekali tak butuh bantuan 'kecil' darinya memberikan energi tersendiri kepadanya. Ia mengerti rasa bahagia terselip di antaranya. Ada rasa bangga di dalam hatinya. Aron berjanji, ia tidak akan menghianati kakek Wijaya.


.


.


.

__ADS_1


Korea..


Kakek Wijaya mematikan ponselnya. Ia menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi dari balkon kamar hotelnya. Gedung-gedung berbagai model yang mencakar langit Korea. Terlihat sangat kokoh dan menantang alam. Meski paham tidak ada satu kekuatanpun yang bisa menantang Tuhan.


Kakek Wijaya menarik senyumannya. Banyak rasa yang ia terima hari ini. Kesal dan bahagia beradu berusaha menguasai jiwanya. Ia kesal karena kebodohan Yudha, ia bahagia karena cucunya itu berhasil membuat Melody mengandung generasi penerus Kazehaya.


Ia tahu, bahagia untuk saat ini belumlah sepenuhnya pantas ia tunjukkan. Akan ada hal yang besar terjadi di masa depan atau mungkin justru di waktu yang amat dekat. Seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak. Saat itu tiba, ia harus siap pasang badan untuk melindungi keluarga tercintanya.


Merasa sadar diri di usianya yang sudah tak lagi muda. Tenaganya juga sedikit demi sedikit mulai melemah. Ia tak lagi bugar seperti dulu. Kakinya yang hebat itu juga mulai meletih, mulai menunjukkan aksi nyata protes atas aktivitas melebihi kadar mampunya. Namun meski begitu, ada satu hal yang tak padam darinya. Tekad yang masih sama kokohnya seperti dulu.


"Sebentar lagi janjiku akan lunas, Hadinata.."


.


.


.


Kazehaya International Hospital.. Kamar inap Melody..


Melody perlahan membuka matanya. Bau obat begitu terasa menyengat di hidungnya. Bau yang tak asing, bau rumah sakit. Ia mengangkat tangan kirinya. Ada selang infus terpasang di punggung tangan kirinya. Benar, tetesan kecil terlihat meninggi di atas tiang gantungan infus.


Kepalanya masih terasa sangat pusing. Muter-muter, berasa ingin meledak. Belum lagi tubuh terkoyak yang terasa begitu lemas. Suhu badanpun masih terasa hangat di atas normal.


Dan di saat Melody ingin merasakan ketenangan, Yudha terlihat duduk menyilangkan kaki di sampingnya.


Melody melihat sinar matahari begitu tajam dari sela jendela kamar inapnya. Ia mulai tak sadarkan diri semenjak semalam, apa artinya Yudha menungguinya sampai selama itu?


“Kau ingin duduk? Aku akan membantumu.” Yudha mencoba membantu Melody duduk. Tapi tangannya di tepis oleh Melody.


“Tidak perlu! Aku bisa sendiri!”


Yudha tidak membalas ucapan ketus dan perlakuan dingin Melody. Ia akan lebih berhati-hati dan sabar menanggapi setiap kata yang keluar dari mulut istrinya itu.


Melody lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Yudha. “Pulanglah, kau pasti sangat lelah!”


“Aku akan menemanimu di sini.”


Melody sudah tak memiliki banyak tenaga lagi untuk berdebat dengan Yudha. Ia sudah pasrah dengan kelelahan ini. Semua hal itu akan mengalami fase ke tahap berikutnya.


“Aku sudah memikirkannya, Yudha..”


“...”


.


.

__ADS_1


.


“Ayo kita bercerai!”


__ADS_2