
YUDHA'S POV
Aku memakirkan mobilku. Hari ini aku membawa mobil sendiri karena aku menyuruh Shuhei tetap mengikuti pelajaran di kampus. Kasihan juga jika dia harus tetap ikut libur sama sepertiku.
Aku meregangkan otot-otot lenganku.
Pegal sekali. Kira-kira sudah berapa lama aku tidak menyetir? Ah, lama sekali sepertinya.
Urusan di kantor juga membuat semakin lelah saja. Kakek benar-benar kolot sekali. Dia tetap saja belum mau menuruti kemauanku padahal aku sudah menuruti kemauannya untuk menikahi Melody.
Sampai berapa ronde lagi aku harus mengalahkan kakek?
Bermain game dengan orang tua memang melelahkan. Banyak hal yang tak bisa aku lalukan dengan bebas. Perlu wejangan yang sangat panjang.
Mendokusai.
Mendokusai: Merepotkan.
Game ini, sampai kapan akan selesai? Pengorbananku, akankah terbalas setimpal? Tidak, jika setimpal, maka hasilnya akan seri, aku ini harus menang! Aku menginginkan sebuah kemenangan! Bukan hasil yang seri! Hasil yang seimbang.
Yura…
Sial!
Wanita itu harus segera dihapus. Dia sudah tak perlu mengikuti alur permainan yang aku ikutan. Beruntunglah dia menolaknya.
Dia benar, dia tidak akan terpenjara di istana megah keluarga Kazehaya yang kata orang serba sempurna itu.
.
.
.
Aku menyisingkan lengan bajuku. Hm, sudah pukul delapan malam rupanya. Cukup lama juga aku ke kantor.
Melody sedang apa ya? Apa yang dia lakukan jika tidak ada aku? Hari ini libur, jadi dia tidak les apapun. Ah, aku lupa, dia kedatangan temannya.
Apa dia sudah makan malam? Aku makan di luar, apa dia menungguku makan? Tidak, aku yakin dia sudah makan bersama Ibu dan nenek. Ya, pasti sudah makan.
Loh, kenapa aku memikirkannya?
Cih, wajar, dia itu istriku.
Istri ya?
Kata yang sama, berulang-ulang berputar-putar di otakku. Aku menikahinya seminggu yang lalu. Gadis yang masih polos seperti dirinya tidak cocok bermain dengan orang-orang seperti diriku.
Melody tidak tahu apa-apa dengan duniaku dan dunia Kazehaya.
Kenapa kakek malah menyeretnya masuk?
__ADS_1
Aku yakin, ini bukan hanya karena utang darah pada Melody. Kakek pasti menyembunyikan hal lain dariku.
Rencana?
Apa yang sedang kakek rencanakan? Kenapa aku selalu saja sulit membacanya, menebaknya? Kakek selalu saja membuatku berpikir sangat keras. Kakek selalu memaksa otakku memeras segala pengetahuanku. Namun lagi-lagi, semua nihil. Aku tak bisa membaca rencana kakek.
Apa aku akan kalah?
Aku memang pernah membicarakan permintaanku jauh sebelum ada niat perjodohanku dengan Melody dan saat itu kakek menolak mentah-mentah apa yang aku inginkan.
Setelah kejadian penusukan itu, kakek tiba-tiba menjodohkanku dengan Melody, dan harus dengan Melody! Kakek bahkan menyelidiki latar belakang kehidupan Melody.
Aku tak mengerti, kenapa kakek bisa tertarik dengan orang biasa macam Melody itu. Jika niat menjodohkanku, harusnya bukankah sebaiknya dari golongan yang sederajat? Maksudku, mengingat bagaimana latar belakang keluarga Kazehaya itu seperti apa.
Ternyata keluarga Kazehaya itu berbesar hati juga ya?
Hah, keluarga Kazehaya itu layaknya buaya, sama seperti bisnis, kehidupan yang keras dan saling memanfaatkan. Setidaknya itu yang aku rasakan selama ini.
Jika semua ini hanya mainan atau rencana kakek, maka Melody hanyalah boneka, mainan untuk buaya.
Tak seharusnya kakek melibatkan Melody sampai sejauh ini. Jika ia merasa berterima kasih karena Melody menolong nyawanya, harusnya hanya dengan memberi uang, rasanya sudah cukup.
Uang seratus juta dan cincin berlian itu bagi kakek tidak ada apa-apanya, beda bagi keluarga Melody yang menganggap itu sangat besar.
Aku mengerti, Melody memang membutuhkan uang, tapi aku tahu jika ia juga terpaksa melakukan semua ini.
Dia gadis yang baik. Kenapa harus dia yang kakek pilih?
Tapi, bukankah aku juga sama saja dengan kakek, akupun menyeret Melody masuk dalam kehidupan buaya ini. Semua sudah terlanjur, Melody bahkan mengambil peran penting dalam game ini.
Aku tidak tahu bagaimana menempatkan Melody, dia hanyalah pion kemenanganku atau memang dia juga kartu As kakek.
Melody memiliki dua peran. Dia menguntungkanku, tapi dia juga berasal dari kakek.
Jangan-jangan?
Melody itu hanyalah umpan bagi kakek?
Tidak, tidak!
Kakek terlihat bahagia karena aku menikahi Melody.
Tapi tetap saja kan, rasanya ada yang mengganjal jika Kakek hanya benar-benar menginginkanku menikah dengan Melody.
Orang penuh ambisi seperti kakek, pasti tidak mau melakukan apapun tanpa tujuan yang pasti.
.
.
.
__ADS_1
Aku berjalan menuju kamarku, ah, kamarku dengan Melody.
Step by step, langkah demi langkah aku menaiki anak tangga menuju kamar kami. Sepertinya jika memakai elevator akan semakin mudah.
Sebentar? Kamar kami? Ah, iya, aku bahkan kini sudah terbiasa dengan sebutan itu. Nyatanya aku memang tidur sekamar dengan Melody terhitung sejak kami menikah.
Jadi ingat waktu pertama kali aku tidur dengannya rasanya sangat menjengkelkan. Bagaimana bisa dia tidur dengan gaya super aneh itu? Dia bahkan memukul dan mendendangku berkali-kali.
Haah..
Pengalaman yang luar biasa dalam hidupku. Yang pertama dan tak ada duanya! Limited edition!
Malam pertamaku dengan Melody berlalu seperti itu. Lucu juga sih sebenarnya. Itu pengalaman baru dalam hidupku. Aku jadi tahu jika gaya tidur orang itu bermacam-macam.
Aku ingin tertawa, orang bilang hidupku sempurna, tapi jika orang pada tahu kisah malam pertamaku pasti tak akan ada yang menyangka. Hei, aku ini juga manusia biasa. Aku bisa mendapatkan istri aneh juga!
Jika aku dan Melody menikah dengan cara yang normal, paling tidak didasari rasa cinta antara kami, maka malam pertama itu mungkin akan indah. Aku dan Melody pasti akan menghabisakan malam pertama itu dengan kenangan yang lebih baik.
Cih, apa yang berusaha aku ucapkan sih?
Aku ingin menyentuh Melody di malam pertama?
.
.
.
Hoommzz, kenapa hari ini aku memiliki banyak praduga yang aneh-aneh. Seperti detektif saja. Tapi pradugaku itu memiliki alasan dan tidak asal.
Intinya aku harus waspada, aku harus menempatkan posisi Melody dengan benar. posisinya menguntungkan banyak pihak.
Untukku, kakek, bahkan ibu juga.
Ibu?
Sial, kenapa ibu juga harus ikut mengambil peran dalam permainanku dengan kakek sih?
Kenapa ibu harus ikut campur?
Jika seperti ini, maka semua akan semakin rumit dan sulit. Aku akan semakin bersalah dengan Melody.
Menyeretnya dalam dunia yang tak seharusnya ia berada saja sudah membuatku ketar-ketir, ini lagi ibu.
Minta cucu?
Ibu benar-benar membuat semakin runyam, bagaimana aku harus menentukan langkah selanjutnya?
Aku hanya memiliki ibu, jika aku tak menurutinya, aku pasti akan membuatnya menangis semalaman.
Astaga, rasanya semakin kesini, hidupku semakin berat saja.
__ADS_1
END OF YUDHA'S POV