
“Terima kasih, Senpai. Aku selalu nebeng padamu.” Ucap Melody yang pulang semobil dengan Alvin untuk yang ke sekian kalinya.
“Tidak masalah, kan? Toh kita serumah. Lagipula, Mia ada urusan dan tak bisa mengantarmu pulang, akan bahaya jika kau pulang sendiri. Tahu sendiri, gara-gara skandal Yudha, wajahmu pun mulai menghiasi media.”
Kata Alvin.
Melody menghela nafas. “Begitulah.”
“Pasti sangat berat untukmu. Percayalah Melody, Yudha tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Aku sangat mengenalnya.”
“Aku juga mempercayainya, Senpai. Oh iya, jadi, aku hanya kurang darah, kan?” Tanya Melody. Ia tadi melakukan prosedur pemeriksaan di rumah sakit.
Sakit kepalanya memburuk, ia tubuhnya juga sedikit melemah meski sebelumnya sudah berobat bersama Yudha.
“Ya, anemia ringan. Dugaan sementara. Yang lain, nunggu hasil tes lab keluar. Meski anemia ringan, tapi jangan disepelekan!”
“Iya, dasar cerewet.”
“Melody..”
“Iya-iya pak dokter!”
"..."
"..."
Mereka berdua terdiam. Entah karena apa tiba-tiba saja pembicaraan terhenti. Alvin melirik Melody. Mantan kekasihnya dulu itu menatap kosong depannya. Beberapa kali mendesah nafas panjang. Bosan? Cukup menyesakkan jika orang yang dicintai merasa seperti itu saat sedang bersama.
Melody merasa bosan dengannya?
“Hmm, aku memang orang yang membosankan ya?” Celetuk Alvin.
Melody tersendat. “Eh, tidak-tidak. Senpai bicara apa sih?”
“Kau menghela nafas panjang sekali. Berkali-kali. Kalau tidak bosan lalu kenapa?”
Tanya Alvin.
Memang sih. Bosan dan kesepian tepatnya.
“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Aku masih malas pulang ke rumah. Tidak ada siapa-siapa. Ibu sedang arisan di rumah temannya."
Melody mulai bercerita dan Alvin mendengarkan.
"..."
"Kalau aku ke rumah ibuku, dia pasti juga sedang bekerja. Ke kantor, tidak ada kakek. Ayane-nee lagi sibuk ngejar gelar S2. Shuhei-san, entahlah. Dia itu seperti bayangan Yudha yang ikut kemanapun Yudha pergi.”
Alvin paham arah pembicaraan Melody kemana, Melody memang tak menyebut kemana Yudha. Tapi ia tahu jika Melody bosan dan kesepian karena Yudha. Alvin tahu, Yudha jarang terlihat bersama Melody saat di rumah. Imbasnya, Melody menghabiskan waktu sedikit lebih banyak dengannya.
__ADS_1
“Mau menjenguk Amamiya-san bersamaku?” Tawar Alvin.
Mungkin ini yang bisa ia lakukan untuk membuat Melody kembali ceria. Yudha pasti bersama Yura saat ini. Melody bisa bertemu Yudha.
“Iya..” Wajah Melody terlihat sumringah.
Sudah Alvin duga. Melody memang ingin bertemu Yudha. Apa yang sebenarnya ia pikirkan saat ini? Ia bukan pahlawan dari cerita fiksi, tapi ia ingin wanita yang dicintainya bahagia. Tak peduli bagaimana rasanya ia menahan sakitnya saat ini, tapi melihat Melody tersenyum memiliki arti tersendiri di dalam hatinya. Ada ruang khusus yang menjadi milik Melody. Itu sangat tulus.
“Kabar baik, Melody..”
“Apa?”
“Amamiya-san akan dipindahkan ke rumah sakit Kazehaya International, aku baru dapat info dari resepsionis rumah sakit.”
“Hm, benarkah?”
“Hn, dia akan datang dalam satu jam lagi.”
“Aku akan menjenguknya kalau begitu. Tapi berjanjilah Senpai, kau harus menemaniku! Soalnya aku tak begitu mengenal dia. Tidak enak rasanya.”
“Iya iya..”
Bukannya masuk ke dalam rumah, mereka berdua malah kembali ke rumah sakit untuk memjenguk Yura. Alvin meminta untuk menjenguk Yura esok hari mengingat kondisi Melody yang sedang kurang sehat, tapi Melody bersi keras ingin melihat Yura. Atau Alvin simpulkan jika Melody juga sangat ingin melihat Yudha.
.
.
.
Padahal ia awalnya meminta Alvin untuk menemaninya, tapi ia urungkan. Karena Alvin terlihat sangat sibuk. Melody juga sempat menyapa Yudha singkat.
“Kau terlihat sangat sibuk, Yudha.” Kata Alvin.
“Ya seperti yang kau lihat.”
Yudha memang sangat sibuk. Urusan kantor dam menemani Yura- karena merasa itu adalah tanggung jawabnya. Ingat, Yura kecelakaan menggunakan mobil miliknya.
“Melody bahkan terlihat kesepian.”
“Aku bisa bermain dengannya lagi setelah semua kelar.”
“Begitukah?”
“Hn.”
“Kau selalu menganggap mudah semuanya. Kau selalu bersikap menyepelekan jika mengenai Melody. Setelah semua yang sudah terjadi antara kau dengannya, apa segini saja rasa tanggung jawabmu padanya? Apa karena Melody adalah orang asing bagimu, jadi kau bisa seenaknya saja? Melody memiliki perasaan hidup, Yudha. Aku melihatnya menangis di pinggir kolam akhir-akhir ini. Dan itu sangat menyakitkan. Melody menangisi orang yang bahkan entah memikirkannya atau tidak.”
.
__ADS_1
.
.
Melody menemui Yura. Yura menyambutnya dengan baik. Ia bahkan menyapa sambil tersenyum. Mereka bertegur sapa layaknya hubungan normal. Melody menggunakan bahasa dengan sopan. Ia benar-benar bisa menempatkan diri. Biasa, ajaran Kazehaya yang menuntut kesopanan yang hakiki.
Melody bertanya bagaimana keadaan Yura. Apa rasanya sakit. Tentunya bertanya hal wajar orang menjenguk orang sakit. Ingat, mereka tidak dekat sama sekali. Meski mencoba berdekatan, pahami fakta bahwa keduanya enggan bersama. Mungkin karena tidak cocok saja.
Yura elegan dan berkelas, sementara Melody tipe krak-krakan dan ceria. Tipe kebalikan Yura. Mereka merasa jika keduanya tidak akan bisa akrab. Sisi lainnya, ya, Yudha adalah alasannya.
“Ano sa, Melody-san..”
“Ya?”
“Bagaimana rasanya ditinggal Yudha?”
Ditinggal Yudha? Yura bertanya soal itu? Kepadanya?
“Eh? Ma-maksudmu, Amamiya-san?”
Tanya Melody tidak mengerti.
“Yudha selalu menemaniku semenjak aku kecelakaan. Apa itu wajar dilakukan oleh seorang yang sudah beristri? Menemani wanita lain sebegitu lamanya.” Kata Yura dengan nada meremehkan dan sinis.
“Aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu itu, Amamiya-san.” Melody mencoba menyabarkan diri. Yura mencoba menggoda batas kesabarannya.
“Kau bukan wanita bodoh Melody-san, kau pasti memahaminya, kan?"
“Oh. Ah. Entahlah..”
Tentu saja Melody ingin menjawab merasa sedih, kesepian, bosan. Maunya seperti itu, tapi yang keluar di mulut itu beda. Ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Yura. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Yura.
Dan lagi..
Kenapa aura saat ini terasa semakin berat saja? Membuatnya pengap dan ingin segera mencari udara segar.
Begitu menyesakkan dada dan susah menyerap oksigen.
Melody tidak suka gaya bicara Yura terhadapnya. Mengintimidasi dan menjatuhkan dirinya. Apa lagi Yura memiliki tatapan itu. Tatapan menjatuhkan dirinya.
“Apa kau pernah mendengar sebuah kisah?” Tanya Yura.
"..." Melody terdiam.
“Dahulu kala, ada sepasang merpati yang selalu bersama sejak kecil. Banyak yang menganggap jika mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Sama-sama dari background keluarga yang jelas dan sama-sama saling menyayangi. Namun suatu hari, ada merpati lain yang masuk ke dalam kehidupan sepasang merpati itu. Membuat hubungan baik sepasang merpati itu memburuk. Tapi dewa merpati tidak tinggal diam, ia membuat apa yang sudah rusak menjadi dipersatukan. Kau tahu kenapa?”
“...”
“Karena mereka ditakdirkan untuk bersama.”
__ADS_1