
Melody mengungsi di kamar Mia. Ia mandi di kamar mandi milik Mia dan meminjam baju ganti milik Mia juga. Saat Mia menanyakan apa yang terjadi, Melody hanya bisa berteriak tidak jelas.
Mia hanya membiarkannya, ia tak berniat bertanya lebih lanjut dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Sepertinya bukan hal buruk, jadi ia tak perlu khawatir.
Padahal Melody seperti orang kesurupan. Kenapa Mia menyangka hal itu bukan hal yang buruk? Ok, itu hanya insting saja.
Di lain tempat. Yudha sedang berbincang dengan teman-temannya. Masih membahas urusan bisnis meski tak begitu banyak. Obrolan mereka memang jauh berbeda dengan anak seusia mereka. Didikkan keluarga pebisnis memang sangat berpengaruh dengan mental mereka.
Perlu diketahui, Yudha, Alvin, Nao, Shuhei, Neil, Sai, dan Yura adalah seumuran. Mereka rata-rata sudah 22 tahun, termasuk Yudha yang hari ini berulang tahun. Bisa dikatakan jika mereka semua adalah senior dari Melody. Setahun di atas Melody, Ayumi, dan Mia.
Meski senior Melody, Melody hanya memanggil Alvin sebagai senpai-nya. Ayumi sebenarnya berusia 22 tahun, dia adalah kembaran Neil, tapi ia bersekolah setahun setelah Neil karena alasan kesehatan waktu kecil.
Kumpulan anak muda itu juga membahas ulang tahun Yudha. Mereka mengucapkan selamat pada Yudha yang sedang berulang tahun.
.
.
.
Hari ini adalah hari terakhir liburan mereka. Esok hari, pagi, mereka harus segera kembali ke Tokyo. Mereka benar-benar ingin memanfaatkan moment berharga ini.
Setelah ini, Nao, Sai, dan Neil akan kembali ke luar negeri. Mereka akan menyelesaikan kuliah mereka. Rencananya mereka akan wisuda di bulan September, sama seperti Yudha dan Alvin.
Setelah selesai berbincang-bincang, mereka semua bubar, kembali ke kamar masing-masing. Yudhapun juga melakukan hal yang sama. Ia kembali ke kamarnya.
Sudah pukul 1.00 siang. Ia sudah makan siang dengan teman-temannya. Ia memang tak mengajak Melody bergabung, lagian ia masih tidak tahu bagaimana memulai perbincangan dengan Melody setelah apa yang terjadi tadi pagi.
Insiden mammoth itu bikin nyalinya ciut.
Tidak!
Bukan ciut, tapi canggung. Agak malu juga sih.
Apa Melody sudah makan? Nah, itu pertanyaannya. Tapi, ia yakin Melody sudah makan. Mia dan Ayumi pasti menyeret Melody untuk makan. Ia hanya tak perlu khawatir berlebihan. Khawatir? Itu hanya keharusan karena ibunya Melody sudah berpesan untuk menjaga Melody, kan?
Kan?
.
.
.
Sudah hampir setengah tahun Yudha menikahi Melody. Berlalu cepat, tapi cukup lama baginya. Tiap hari ia selalu berfikir akan hubungan yang ia jalani dengan Melody. Ia memang pandai menyembunyikan bagaimana perasaannya saat ini. Ia bahagia atau tidak bahagia terasa datar-datar saja.
__ADS_1
Sangat samar.
Yang ada hanyalah sosok kebaikan yang ia tampilkan. Padahal sesungguhnya di dalam hatinya sangat berkecamuk. Perasaannya berperang kesana kemari.
Saat ia sedang sendiri, perasaan berkecamuk itu semakin membuncah. Membuat lubang di hatinya semakin menganga. Membuka luka yang harus ditutupi. Ia sadar, bukan ditutupi tapi seharusnya diobati.
Hanya saja, dimanakah obat itu? Yang ia tahu, berada di dekat Melody lukanya sedikit berkurang.
Pernikahannya dengan Melody adalah maha karya kakeknya, kakek Wijaya. Ia tak akan memungkirinya jika ia awalnya sangat menolak perjodohan itu. Ia ingin berontak pada kakeknya, kenapa kakeknya tidak memikirkan perasaannya? Atau setidaknya memikirkan perasaan Melody.
Nyatanya, ia bahkan mendapatkan kesempatan emas lewat perjodohan ini. Ia memiliki akses kemudahan dengan menyetujui perjodohannya. Ia mendapatkan hak istimewa dari kakeknya.
Begitu pula dengan Melody sendiri, jadi bisa di bilang sama-sama diuntungkan.
Namun...
Yakinkah ia dengan apa yang ia pikirkan?
Hubungan yang saling menguntungkan?
Apa ia yakin akan hal itu?
Sudah hampir setengah tahun. Masih begitu-begitu saja. Ya, memang awalnya ia tak berniat mau seperti apa. Tapi bukan berarti ia tak bertanggung jawab akan pernikahannya, ia sungguh-sungguh menikahi Melody.
Ia tidak akan main-main soal pernikahan. Ia menghargai seorang wanita.
Sungguh. Ia tidak ingin melukai hati seorang wanita. Ia tidak bisa.
Jadi jika ia tidak ingin melukai hati seorang wanita, itu artinya ia tak ingin melukai Melody, kan? Ia memang bermaksud seperti itu. Namun, semua kembali ke keadaan. Sehebat apapun ia, ia hanyalah seorang manusia yang tak mungkin bisa mengendalikan segalanya.
Melody tidak menyulitkannya, Melody hanyalah gadis polos yang diseret paksa masuk ke dalam permainan yang ia lakukan dengan kakeknya.
Sangat melukai hati jika Melody tahu jika ia menjadi pion dalam permainannya. Ia tak bermaksud, itu hanya sebuah kebetulan jika Melody masuk dan turut andil dalam permainannya.
Bukan, artinya, mau tidak mau! Mau tidak mau Melody memang terlibat.
.
.
.
Lobi hotel...
Yudha bertemu dengan Yura.
__ADS_1
Yudha agak menajaga jarak dengan Yura semenjak di pantai. Mereka memang sempat beberapa kali bertegur sapa, tapi hanya sebagai hal yang wajar. Bukan seperti biasanya. Biasanya mereka akan membahas banyak hal. Walau lebih ke Yudha yang menjadi pendengarnya setianya Yura.
"Yu-Yudha-kun?" Kata Yura. Suaranya terdengar samar. Wajahnya sangat pucat.
"Kau sakit?" Yudha bahkan tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Hem, hanya sedikit pusing saja.. Ah.." Yura limbung, Yudha sigap membantu Yura berjalan. "Thanks."
"Hn." Yudha membantu memapah Yura kembali ke kamarnya.
Tak begitu jauh jarak lobi hotel dengan kamar Yura. Yudha tak begitu membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke sana.
Sesampainya di kamar Yura, Yudha membantu Yura merebahkan diri di ranjangnya. Ia lalu menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Yura.
Setelah itu, ia beranjak pergi.
"Pada akhirnya kau masih tetap menatapku, Yudha-kun. Otanjoubi omedetto." Kata Yura pelan.
Yudha tetap melenggang pergi tanpa menoleh ke arah Yura. Melihat pintu yang tertutup, Yura lalu tersenyum.
"Kau masih Yudha yang dulu."
Otanjoubi omedetto: Selamat ulang tahun.
.
.
.
Melody melihat Yudha keluar dari kamar Yura. Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan di otaknya. Apa yang dilakukan Yudha di kamar Yura? Pertanyaan itu paling pertama, paling atas bersemayam di otaknya.
Bukan berarti ia ingin tahu apa yang dilakukan Yudha dengan Yura, itu urusan Yudha. Tapi, karena ia merasa menjadi istri Yudha, rasa ingin tahu tetap saja muncul.
Maksudnya, itu karena Yudha memiliki rasa pada Yura. Jadi, ah kenapa saat ia memikirkannya ada rasa sesak yang tak terkira? Memaksanya untuk menunjukkan emosi lain yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Kenapa hanya dengan seperti itu rasanya ia merasa kesal?
Bodoh, kenapa ia justru bergerak menghindari Yudha?
Ya, Melody malah menghindari Yudha. Ia bersembunyi. Padahal, Yudha tak jauh darinya. Jika ia menyapa suaminya seperti biasa, maka akan biasa saja, sama seperti biasanya. Insiden mammoth tadi pagi pasti juga bisa teratasi. Kenapa ia seakan malah lari?
Ayolah.
Entah kenapa rasa kesal itu semakin menguasai.
__ADS_1
Cemburu, heh?