MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 25: Kerja Bagus!


__ADS_3

Yudha melepaskan ciuman yang cukup lama itu. Ia menatap Melody kembali. Wajah milik Melody terlihat semakin memerah. Satu yang Yudha ketahui, Melody tidak menolaknya. Ia justru mendapati wajah yang menginginkan lebih padanya. Wajah yang menuntut lebih.


Melody rupanya juga tersiksa akan rasa itu. Sama seperti dirinya. Sangat tersiksa karena berusaha keras menolak rasa itu.


Ah begitu menggoda.


Yudha lalu menggerakkan tubuhnya untuk semakin mendekat pada tubuh Melody.


Melody bereaksi dengan gerakan tubuh Yudha yang semakin lama, semakin menghimpitnya. Ia memegang kimono tidur milik Yudha yang tak terpasang sempurna karena Yudha tadi sempat melepaskan kimononya karena gerah. Ia memegang dengan sangat erat, meski cukup gemetaran.


Bukan berarti ia sama sekali tidak takut, sungguh di sisi lain ia juga merasa sangat ketakutan. Tapi, matanya tak bisa di alihkan dari kuncian mata Yudha.


Yudha seperti memenjarakan matanya. Dunianya kini penuh dengan Yudha.


Yudha bergerak secara perlahan.


Perlahan..


Perlahan..


Dan perlahan..


Yudha semakin menghimpit tubuh Melody hingga akhirnya Yudha berhasil menindih tubuh Melody sepenuhnya.


Tubuhnya seperti berhasil melahap tubuh ramping milik Melody.


Mata mereka masih setia saling menatap seperti enggan dialihkan.


Suasana malam ini sangat mendukung dengan perasaan hasrat mereka.


Sangat panas dan menggoda.


Rasanya seperti ingin menyingkir apapun yang menjadi penghalang. Tidak ingin diganggu apapun itu.


Hasrat ini ingin segera dilepaskan.


Hasrat ini ingin segera disalurkan.


Hasrat ini ingin segera dituruti.


Yudha akan menyingkirkan segala hal yang menghalanginya.


Dengan gerakkan penuh irama, Yudha melepaskan tali pengikat kimono tidur milik Melody. Ia tak mengalihkan pandangannya dari Melody, begitu pula sebaliknya.


Yang mereka tahu, mata mereka seolah sedang berkomunikasi dengan caranya sendiri. Hanya dengan saling tatap itu, mereka bisa mengerti satu sama lain. Mengerti apa yang diinginkan satu sama lain.


Memang tak bisa dijelaskan bagaimana hal itu bisa disebut dengan komunikasi. Yang mereka tahu, mereka menginginkan hal yang sama.


Hasrat yang ingin terpenuhi.


.


.


.


Sudah, mereka sudah berjalan meninggalkan batas. Terlalu jauh untuk kembali lagi. Ini tanggung. Mungkin tak bisa. Ini seperti perjalanan. Harus dituntaskan.


Mereka berdua kembali berciuman.


Saling merasakan keinginan masing-masing. Saling memahami hasrat masing-masing. Saling melengkapi segala harapan masing-masing. Mereka paham, saat ini mereka saling membutuhkan.


Terus beradu menuntut lebih. Bukan sekedar pelampiasan. Ini pemenuhan rasa yang mutlak harus dituruti. Rasa yang tak terbantahkan. Bahkan hati dan pikiran yang awalnya menolak, menjadi bungkam tak berani bersuara. Membisu karena hasrat yang semakin kuat.


Begitu manis dan menggoda, menimbulkan suara penuh kenikmatan terdengar menggoda di telinga. Suara mereka berdua membelah keheningan malam yang memanas. Menari-nari di telinga dan semakin menguatkan keinginan hasrat.


Semakin sering muncul suara kenikmatan itu, semakin besar hasrat yang membuncah. Semakin besar, semakin kuat, semakin meminta lebih lagi ke batas yang tak terhingga. Ke puncak yang paling tinggi, dimana kepuasan itu bertahta.

__ADS_1


.


.


.


Nafas kembang kempis memerlukan oksigen lebih. Udara sekitar masih sama, suasana malam juga masih sama, langit di luar sana juga masih sama, tapi kenapa rasanya begitu lain? Indah dan berbeda. Sexy dan manja.


Paru-paru memerlukan lebih banyak oksigen. Oksigen itu harus dihirup agar paru-paru tak sesak. Namun, dua hati itu enggan melakukannya. Tautan keduanya terlalu sayang untuk dilepaskan. Masih ingin bersatu. Masih ingin memadu, memburu ke setiap inchi kenikmatan di dalamnya.


Lagi dan lagi, semakin ke dalam, semakin menuntut.


Sial.


Butuh oksigen.


Mereka melepaskan ciuman panas mereka. Ada raut kecewa di antara keduanya. Belum puas. Itu sangat tergambar jelas di sana. Tidal ikhlas, tidak rela.


Pesona bibir itu manari-nari, ingin dijamah lagi. Ingin melakukan hal yang sama seperti tadi, bahkan naik ke tahap yang lebih tinggi lagi.


Apakah sebuah ciuman bisa sepanas ini? Melody dan Yudha memikirkannya dengan sangat keras. Mereka tak berpengalaman mengenai hal seperti ini. Mereka hanya menuruti hasrat yang membuncah setiap detik yang terlewatkan.


Ingin lagi.. lagi.. dan lagi, sampai batas yang tak berujung.


Ingin terus.. terus.. dan terus, tanpa henti..


Lebih banyak.. tak sebatas ini.


Lebih banyak.. lebih.. lebih.. dan lebih.


Yudha menyentuh pipi Melody. Ia membelainya dengan sangat lembut. Melody begitu cantik dan merusak batas kenormalannya. Yudha menyalahkan Melody yang terlihat menggoda hasratnya malam ini. Melody yang sangat polos meruntuhkan pertahanannya. Ia sudah tak mampu mempertahankan jati dirinya.


Percayalah, ini sangat menyiksa!


Bukan teriakkan yang mampu membebaskan, tapi sentuhan, belaian, dan petualangan.


Setelah itu Yudha kembali menatap Melody, Melody menatapnya dalam diam.


"Yudh.." Sebelum Melody menyelesaikan ucapannya, Yudha sudah membungkam mulutnya lagi. Melody kembali mencengkram erat kimono tidur milik Yudha.


Merasa tidak ada penolakkan dari Melody, Yudha berani berpetualangan lebih jauh lagi ke dalam dunia Melody yang tak pernah ia jelajahi sebelumnya.


Erangan manis bibir Melody seolah memberikan izin untuk semakin jauh berpetualangan. Yudha begitu bebas dengan petualangannya, begitu damai ketika hasratnya sedikit demi sedikit terpenuhi.


Dunia Melody adalah miliknya--akan menjadi miliknya malam ini!


Yudha yang begitu dipenuhi hasrat dan keinginan untuk berkuasa akan dunia Melody, mulai melayangkan sentuhan ke berbagai penjuru dunia Melody. Meninggalkan jejak di sana sebagai tanda kepemilikan akan kekuasaannya.


Sentuhan itu bagai mawar. Begitu indah tapi juga mematikan. Mematikan hingga merasa sampai tak berdaya. Hanya suara kenikmatan dari mulut Melody yang terdengar di telinga Yudha.


Oh manisnya. Begitu gila saat tersentuh. Ketika Yudha menyentuhnya lebih dalam lagi, suara Melody semakin menggila di telinganya.


Seperti listrik yang menyengat. Kecupan dan sentuhan itu merasuk, mengoyak lembut, memikat ke seluruh tubuh. Memenuhi keinginan yang terasa kosong di awalnya. Menimbulkan hentakan-hentakan kenikmatan tiada dua.


Bukan hanya di satu tempat jejak kepemilikkan itu berkuasa. Tapi semuanya.


Ingin semuanya merasakan sengatan manis itu.


Ingin jauh lebih lama. Lebih kasar. Lebih brutal. Lebih bergelora.


Semakin lama..


Semakin panas.


Semakin lama..


Semakin menggoda.

__ADS_1


Lupakan soal batasan normal dan akal sehat.


Sudah tak tahan, sudah tak kuat. Kenikamatan ini sungguh sangat hebat. Meski obat perangsang itu sangat bejat, tapi ini adalah tuntutan hasrat. Mereka berdua hanyalah manusia biasa terikat nafsu yang menjerat. Mereka punya hati yang tak seperti mayat. Punya takdir sampai akhir hayat dan punya rasa yang tersirat.


.


.


.


Klik.


Layar monitor ukuran 21 inch itu mati. Menampilkan warna gelap di layarnya.


Seorang kakek tengah tersenyum penuh arti. Ia berdiri sambil menyilangkan ke dua tangannya di depan dada. Sudah dini hari, tapi setelasn pakaian kerjanya masih terpakai dengan rapi di tubuhnya yang merenta.


"Kerja bagus, Yudha!"


.


.


.


________________________________________


.


.


.


Sulit dipahami ya? 😅😅😅😅


Chit chat Author mengganggu imajinasi kalian yang liar.. weeekkk 😛😛😛😛😛😛😛😛


Hei, jangan memarahiku!


Ini batas kemampuanku untuk menulis adegan panas.


Kau yang masih di bawah umur, mikirnya bunga mawar yang indah aja ya. Ini rated T WOOOOYYYYYYYY.


Jadi, mereka melakukan hubungan suami istri kan, Thor?


Jawabannya: IYA. They did it..


Dan mbah Wijaya menontonnya di Tokyo sana. Yaelah ini semua rencana dia!


Dia nonton sampe edegan xxx?


Enggaklah, dimatiin pas Yudha mau xxx Melody. 😂😂😂


.


.


Aku tidak ingin tulisanku ternoda dengan kata-kata nista itu. Aku ini sedang bercerita, bukan membangkitkan hasrat kalian!


Bagiku, cerita yang baik itu gak hanya soal sex dan sex. Meski ak mengambil thema ke arah sana, tapi aku berusaha menulis menggunakan bahasa yang wajar. Tantangan tersendiri sih.


Intinya, aku membuat cerita tuh tidak hanya.. makan.. mandi.. sekolah.. sex.. dan diulang terus seperti itu. Mungkin kalian akan mengganggap ini membosankan karena aku tak membuat scene panas seperti Author lainnya.. tapi ini adalah gayaku, aku harus bertanggung jawab akan tulisanku ini.


Semoga diterima karena aku yang menghindari kalimat dan adegan vulgar itu.. aku memilih bahasa isyarat daripada menulisnya dengan gamblang.


Kurasa, rasa maluku itu sangat besar..


Mas Yudha... mbak Melody.. aku menyayangi kalian.. so jangan mesum2 ya.. 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2