
MELODY'S POV.
Tadi, sebelum ini, aku benar-benar kesal dengan sikap Yudha yang tak mau mengalah denganku itu. Kenapa dia tidak mau mengerti sih? Lingerie itu bukan hal yang pantas untuk dia lihat!
Masak dia mau lihat pakaian dalam wanita? Mau ditaruh dimana mukaku ini? Aku yakin, dia pasti mengira jika aku akan menggodanya di ranjang!
Enak saja!
Aku harus mempertahankannya! Aku tak akan membiarkan Yudha melihatnya! Aku tidak mau kalah dari Yudha!
Aku sudah berusaha mati-matian mempertahankan lingirie super sexy yang aku sembunyikan di balik tubuhku.
Aku mengerahkan semua tenagaku untuk mengalahkannya, pada akhirnya aku hanya membuatnya tumbang dan justru menimpa tubuhku.
Aku memejamkan ke dua mataku karena takut jika Yudha akan jatuh menimpa kepalaku. Aku yakin itu pasti akan menyakitkan.
Berat sekali tubuhnya itu!
Badanku cukup sakit karena dia mendindihku. Berat juga dirinya, padahal cukup kurus loh. Apa karena dia seorang laki-laki makanya berat badannya cukup berat? Bisa jadi.
Tapi ini aneh, aku tahu tubuh Yudha memang menindihku karena ulahku barusan, tapi apa ini?
Ada sesuatu yang aneh menempel di bibirku?
Aku tak berani membuka ke dua mataku, tapi aku masih penasaran dengan sesuatu yang aneh ini di bibirku. Sesuatu itu terasa lembut, agak basah, dan kenyal?
Hah, apa ini?
Lembut?
Basah?
Kenyal?
Aku bahkan bisa merasakan hembusan udara hangat di wajahku? Datang darimana?
Imajinasiku semakin membingungkan saja. Daripada aku penasaran dibuatnya, lebih baik aku membuka ke dua mataku saja.
Aku harus memastikannya!
END OF MELODY'S POV.
.
.
.
Melody membuka ke dua matanya, hal pertama yang ia lihat di depan matanya adalah dua pelupuk mata yang terpejam begitu dekat dengan wajahnya. Rambut hitam emo sebagian menggelitik pipi mulusnya. Rambut hitam emo itu terlihat mencuat ke belakang.
Hitam emo? Mencuat?
Entah apa, tiba-tiba jatungnya Melody berdetak tak beraturan. Dag dig dug dag dig dug, semakin ia terdiam, semakin cepat jantungya berdetak, ditambah ia yang kelelahan membuatnya semakin sulit untuk bernafas.
Mata Melody semakin melebar saat melihat ke dua pelupuk mata itu membuka. Waktu terasa berhenti sejenak. Membiarkan dua insan manusia itu menikmatinya. Menikmati hasrat yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Semakin lama rasanya semakin menggoda dan menggila?
Bibir mereka saling bersentuhan!
Bersentuhan?
Apa artinya?
MEREKA BERDUA BERCIUMAN, BODOH!
BERCIUMAN!
Tapi..
Tidak sengaja.
.
.
.
__ADS_1
YUDHA'S POV.
Melody sialan, tenaganya tidak main-main untuk ukuran seorang cewek. Apa karena dirinya cukup tomboy jadi tenaganya bisa sekuat ini? Apakah karena lengannya cukup terlatih karena pernah kerja paruh waktu di cafe?
Kenapa dia kolot sekali sih? Tinggal tujukkan saja apa yang ia sembunyikan, apa susahnya?
Sial.
Dia berhasil menjatuhkanku. Aku membuka mataku. Aku melihat wajah Melody di hadapanku.
Wajahnya terlihat memerah.
Ada apa dengannya? Demam? Sedang sakit? Kepanasan?
Wajah Melody terlihat sangat err cantik jika dilihat dari sedekat ini. Matanya juga indah. Hidungnya. Bibirnya terasa manis.
Terasa?
Manis?
Bibir?
Manis?
Ah aku bisa merasakannya lewat bibirku, Melody kan sekarang sekarang sedang berada di depanku.
Matte kudasai! Tunggu!
Melody?
Melody?
Di depanku?
Bibir?
Manis?
Kenapa aku harus mengulangi kata-kata yang sama? Ini bukan gayaku!
Hoi hoi, apa yang baru saja terjadi?
Tidak mungkinkan?
Aku terjatuh ke hadapan Melody dan ak-u… men-menciumnya?
Batinku bergejolak dan entah mengapa malah mikir kemana-mana.
END OF YUDHA'S POV.
Matte Kudasai: Tunggu sebentar.
.
.
.
Waktu mendapatkan efek slow motion untuk mendramatisi moment yang sedang mendera Melody dan Yudha.
1 detik
2 detik
3 detik
"…."
"…"
"Yudha, ya?"
"Melody, ya?"
Gumam mereka ketika saling sadar akan keberadaan masing-masing.
"…"
__ADS_1
"YUDHA?"
"MELODY?"
Mereka kaget tak terkira.
"…"
"..."
"HUUUAAAAA."
Melody maupun Yudha langsung memalingkan wajah mereka untuk menghindari tatapan keduanya. Ini memalukan sekali. Wajah rasanya terasa semakin panas saja.
Melody yakin 100% jika wajahnya pasti akan semerah tomat, buah kesukaan Yudha.
Sementara Yudha hanya terlihat semburat tipis di pipi putih pucatnya. Yudha juga tak kalah malunya dengan Melody.
Bagaimanapun bagi mereka berdua ciuman itu sangat cepat dan tanpa diduga. Apalagi itu adalah ciuman sakral karena bagi Melody maupun Yudha, ciuman mereka saat itu adalah ciuman yang pertama kali mereka lakukan.
Pertama kali!
First kiss!
FIRST KISS!!!
.
.
.
"Wow, pasangan pengantin baru yang sedang membara. Jika kalian berdua ingin melakukan 'itu', setidaknya tutuplah pintu kamar kalian!" Goda Mikan, ibu Yudha yang sudah berdiri di depan pintu kamar Yudha dan Melody.
Melody maupun Yudha sangat kaget dengan suara yang 'mengganggu' acara mereka. Yudha langsung menoleh ke sumber suara. Ia kaget bukan main.
Ibunya itu kira-kira sudah berapa lama ya berdiri di pintu kamarnya dan Melody?
Yudha tahu jika apa yang ia lakukan dengan Melody bukan hal 'aneh' dalam konteks ibunya. Ia hanya sedang saling berebut sesuatu yang Melody sembunyikan darinya. Bukankah itu bukan hal yang aneh?
Namun karena melihat ekspresi ibunya yang seperti itu, pasti ada hal yang aneh..
Bagaimana tidak aneh?
Bayangkan saja, Ibunya Yudha melihat kedua anaknya sedang dalam masa indah-indahnya sebagai pasangan pengantin baru.
Di depan mata Ibu Yudha, ia melihat jika anak semata wayangnya sedang mendominasi menantunya, Melody. Lihat saja posisi itu, Yudha di atas dan Melody di bawah. WOW, bukankah itu posisi yang menggoda?
Bukan salah ibu Yudha jika ia memiliki pemikiran seperti itu.
"I-ibu?" Kata Yudha terbata.
Melody bangkit dari tidurannya, tapi masih di bawah Yudha. Ia lantas melihat ibu mertuanya sedang senyum-senyum menggoda di depan pintu.
"I-ibu mertua." Gumam Melody malu dan sekaligus sangat kaget.
"Haha, kalian ini tidak sabaran sekali padahal baru setengah delapan loh." Mikan kembali menggoda.
"Bu..bukan seperti i..itu, Ibu Mertua." Kata Melody.
Mikan terkekeh. Lucu juga kelakuan anak dengan menantunya. "Nah Yudha, maaf ya sepertinya kau harus cepat 'menyelesaikannya', jika sudah selesai, cepatlah temui kakekmu di ruang keluarga! Dia tidak suka menunggu loh. Melody, sepertinya kau harus bersabar malam ini." Kata Ibu Yudha.
Mikan membalikan badannya dan tersenyum senang. Ia kembali menoleh dan melihat ke arah Melody dan Yudha yang sedang menatapnya bingung.
"Ibu benar-benar ingin segera menambah anggota keluarga baru di rumah ini. Melody, ganbatte!" Lanjutnya lalu bergegas pergi dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Ganbatte: Semangat!
Melody dan Yudha saling menoleh satu sama lain.
"Anggota keluarga baru?" Kata mereka bersamaan.
Anggota baru dalam keluarga dari dirinya dan Yudha maksudnya anak?
ANAK?
Ehhhhhhhh.
__ADS_1