MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Akhir


__ADS_3

oh Tuhan, saya benar-benar meninggalkan novel ini! Kesibukan nulis di platform lain yang sulit diabaikan... preet, bilang AE kalo gak update gak entuk duit... wes.. angel pokoke... Padahal ini tinggal sedikit banget terus end dengan dipaksakan.


Honto ni gomenasai mina-san


Sok ngejepang padahal gak bisa bahasa Jepang. Dapat mapel di kampus aja mentok B doang, modal rajin berangkat.


Asli novel ini tuh dari fanfiction Naruto, makanya settingnya Jepang, dan ya dasar males ganti latar aja... BTW, emang suka ambil negara 4 musim sih... kenapa gak Korea? China? Ano... Hmm... fanfictionnya Jepang, jd Jepang aja yg gampang.


Ini ngomong apa sih?


lama tak jumpa, ngebacot only.


I Miss you guys...


Hmmm...


Ini akan pendek, soalnya aku baru selesai 3000 kata lebih di platform lain. Otakku sudah sangat panas. Ngantuk juga.


.


.


.


EMPEROR GROUP...


"Etto.... aku tidak tahu kenapa aku harus duduk kembali di sini bahkan dengan jabatan setinggi ini... Kakek sialan! Alvin sialan!" Kata Yudha.


"Ohayou gozaimasu, CEO Kazehaya Yudha!" Sapa para karyawan dan pejabat tinggi Emperor Group.


Yudha harus memijat kepalanya yang terasa sangat pening mengingat di depannya saat ini banyak sekali tumpukan dokumen yang belum diselesaikan mengingat waktu itu, Alvin sakit, kakek Wijaya juga sakit. Sebuah kapal bisnis raksasa tanpa nahkoda berlayar terombang-ambing di tengah samudra. Ya, kini, Yudha pun harus bertanggung jawab akan melencengnya titik koordinat yang ingin dituju kapal Emperor Group. Papan nama baru yang disematkan kepada dirinya itulah yang menyuratkan jika saat ini, CEO dan ahli waris Emperor Group adalah dirinya, Kazehaya Yudha.


Alvin tetap mewariskan semua yang ia miliki kepada Yudha, ia tetap kembali ke rencana awalnya. Merebut sebanyak mungkin saham agar bisa mengalahkan kakek Wijaya. Ini adalah balas dendamnya karena dulu tak dianggap cucu oleh kakek Wijaya. Meski tak berjalan mulus, setidaknya setelah ia memberikan sahamnya kepada Yudha, Yudha jadi memiliki saham terbanyak di Emperor Group, mengalahkan milik kakek Wijaya dan bahkan milik istrinya sendiri, Melody.


Ah... bahkan saham milik sang kakek saja sudah diwariskan kepada kedua anaknya. Yuki dan Yuta.


Siapa tadi? Yuki dan Yuta? Ya, itulah nama kedua anak Yudha dan Melody. Yuki dan Yuta.


Kapan memberikan namanya? Jawab saja, usai suasana membaik, Yudha keluar dari rumah sakit, Alvin membaik, kakek Wijaya yang bohongan koma juga sudah kembali.


Apa acaranya besar? Pesta? Tidak sama sekali. Emperor Group masih diperhatikan pasar saham, insiden Kurenai, Tuan Han, dan pentinggi-petinggi korupsi Emperor Group masih sangat sensitif. Belum lagi kasus suap Mega proyek Miyagi, semua ini mempengaruhi kestabilan Emperor Group. Jadi, sebaiknya apapun yang menarik perhatian dibatasi dulu.


Toh, Yudha maupun Melody ogah merayakannya secara besar-besaran. Merayakan dengan keluarga terdekat malah akan jauh lebih hangat, lebih hikmat, dan bahkan lebih nikmat.


Apanya yang nikmat?


Mendapatkan ciuman bibir dari Yudha ketika sama-sama membopong bayi si kembar adalah hal yang sangat nikmat bagi Melody. Ah, Yudha juga kok, hanya saja Yudha menyembunyikan betapa bahagianya dirinya saat itu.


Kenapa disembunyikan? Kan sudah paham satu dengan yang lainnya... Hei, kayak tidak tahu saja Yudha bagaimana. Nah loh, malu dong, takut imejnya rusak.


.


.


.


Canada...


"Bersulang...."


"Bersulang...."


Dua embah-embah sedang menikmati candle light dinner romantis berhiaskan pemandangan kota Quebec.


"Pensiun yang tepat pada waktunya." Kata Nenek Chiyo.


"Cucu-cucu sudah bahagia dengan hidupnya masing-masing. Kebodohan anak sudah terselesaikan. Menantu yang tak mempermasalahkan apa yang terjadi. Cicit-cicit yang sehat-sehat. Emperor Group sudah di tangan yang tepat. Janjiku pada Hadinata pun juga sudah terbayar. Karma masa lalu sudah lunas... Sudah tidak sesak lagi di dada. Beban yang menggunung itu sudah tidak ada. Sekarang waktunya menikmati hidup di sisa-sisa masa senja kita." Kata Kakek Wijaya.


Nenek Chiyo tersenyum. "Kita sudah terlalu tua untuk dinner romantis seperti ini."


"Namun kota Quebec ini lah dimana kita pertama bertemu."


"Meski tidak bertemu di sini, kita akan tetap ditakdirkan untuk bertemu."


Kakek Wijaya gantian yang tersenyum. "Ahh, karena kita dijodohkan. Betapa lucunya ketika ingat masa itu."


"Kita beruntung karena sudah jatuh cinta duluan. Berbeda yang keturunan kita yang perlu berjuang... Nah, apa hal seperti ini akan berlalu untuk Yuki dan Yuta? Atau anaknya Alvin dan Mia yang belum lahir?"


"Tidak... biarkan mereka mencari apapun yang mereka inginkan. Orang tua seperti kita hanya perlu mengarahkan ke arah yang benar saja."


"Jangan ajak main game para cicit kita yang unyu-unyu itu. Aku tidak rela!"

__ADS_1


Kakek Wijaya tertawa renyah khas orang tua. Ia mengangkat gelas winenya, meminta agar istrinya menuangkan kembali segelas wine untuknya.


Nenek Chiyo melakukan apa yang diperintahkan suaminya itu.


Kakek Wijaya meminum wine dalam sekali teguk. Ia mengusap bekas wine di bibirnya dengan kain yang sudah disediakan.


"Aku sudah terlalu tua untuk bermain game." Kata Kakek Wijaya.


Nenek Chiyo gantian yang minum wine. "Setelah kalah telak dari Alvin, sepertinya main game sudah tidak menarik lagi ya?"


"Ya begitulah..."


.


.


.


Kepulauan Fiji...


Meninggalkan makan malam kakek Wijaya dan nenek Chiyo, kini dua new grandma sedang asyik menikmati laut pulau Fiji.


"New Grandma Tsu, apa sebaiknya kita searching dulu bagaimana caranya minum air kelapa?" Tanya Mikan.


"Ya, aku juga tidak tahu bagaimana caranya minum air kelapa langsung dari buahnya ini, New Grandma Mi." Kata Tsuchiya.


Dua ibu-ibu rempong ini sedang mengamati buah kelapa yang jatuh dari pohonnya. Warna kulitnya coklat tua, jelas sekali ini adalah kelapa tua yang airnya tidak enak sama sekali. Namun yah, mau bagaimana lagi, di Jepang tidak ada buah dan pohon kelapa. Jadi pengalaman ini adalah aneh bagi mereka. Apa lagi bagi Tsuchiya yang baru pertama kalinya ke luar negeri.


Setidaknya, ketika mereka pulang liburan nanti akan membawa kisah yang unik dan menyenangkan untuk diceritakan kembali. Melody pasti akan sangat senang ketika mendengarkannya.


.


.


.


Tokyo...


Apartemen Sakura...


"Ini, minum obatmu, Sempai." Kata Mia, ia memberikan obat pada Alvin.


"Kau juga harus meminum susumu." Kata Alvin.


"Iya..." Mia pun meminum susu khusus kehamilannya. Di bungkusnya tertera untuk usia 4 bulan. Ya, saat ini kandungannya sudah berusia 4 bulan, alias 16 Minggu. Sudah besar, sudah lengkap bentuk tubuh janinnya.


"Aku gugup sekali ketika meminta izin pada orang tuamu untuk membawamu tinggal bersamaku. Padahal aku hanyalah dokter biasa yang jelas jauh di bawah keluargamu. Tapi orang tuamu sangat baik karena memercayaiku... Mia, aku tidak akan menjanjikan apa-apa kepadamu, tapi aku akan berusaha untuk membahagiakan dirimu." Ujar Alvin.


Setelah melepas semua jabatannya dari Emperor Group, Alvin tetap memilih jadi dokter karena itu memang cita-cita sejak dulu. Lagian, pisau dan benang lebih cocok dengan dirinya dari pada tumpukan dokumen kerjasama yang bikin pusing tak bisa tidur.


Mia menggelengkan kepalanya. "Aku sudah sangat bahagia, Senpai. Terima kasih banyak..."


"Tidak... aku yang harusnya berterima kasih... Mia, Terima kasih banyak ya... untuk semuanya..."


Dua orang ini lalu berpelukan mesra. Membelai si janin yang menjadi pengikat di antara mereka berdua. Sangat manis meskipun senja saat ini dihiasi mendung yang menggelap.


.


.


.


Shibuya... mini cafe...


Usai menemui klien atas perintah Yudha, Shuei menyodorkan sesuatu dari dalam kantong jas hitamnya.


"Apa ini, Shuhei-san?" Tanya Ayane.


"Cincin lamaran dan saya berharap Anda menerimanya." Jawab Shuhei.


"Saya tiga tahun lebih tua dari Anda."


"Saya tidak mempermasalahkannya."


"Baiklah, ayo kita menikah!"


"Ya."


Lamaran macam apa ini woy? Ah sudahlah, yang penting babang Shuhei enggak ngejomblo lagi. Mari berdoa agar mereka berdua langgeng!


.

__ADS_1


.


.


Nao dan Ayumi bulan depan menikah, Neil menjalankan bisnis keluarga. Sai dan Yura masih belum pacaran, tapi hubungan mereka semakin baik. Toko bunga Yura di Prancis semakin bertambah besar. Ia menekuni vserius pekerjaan barunya itu.


.


.


.


Kediaman Kazehaya...


Pukul 20.00 malam...


"Anak-anak sudah tidur?" Tanya Yudha.


"Ya." Jawab Melody lemah.


Lalu tiba-tiba saja, Melody memekik pelan. Mati-matian ia menahan suaranya agar tidak terlalu keras dan membangunkan si kembar. Rupanya Yudha membopongnya keluar dari kamar bayi.


"Jaga anak-anak!" Kata Yudha sambil membopong Melody.


"Baik, Yudha-sama." Empat baby sitter menganggukkan kepalanya sebagai wujud patuh pada tuan mudanya ini.


"Yudha, turunkan aku! Malu tahu Yudh dilihat banyak orang." Rengek Melody.


"Aku akan menurunkanmu saat sampai di kamar nanti."


"Huh."


"Jangan marah..."


"Tidak kok... Aku malah makin cinta."


"Hah?" Kenapa jadi tidak nyambung? Pikir Yudha.


"Hei Yudh, udah jadi bapak, kau masih tampan juga ya?"


"Kau sudah jadi ibu saja, malah semakin cantik. Aura keibuanmu nampak sekali. Menyilaukan."


"Yudah ngawur pengandaiannya."


Tak lama.kemudian, Yudha menidurkan Melody di ranjang milik mereka.


"Aku sudah mandi, aku sudah harum... ini sudah lebih dari 40 hari sejak kau lahiran... Berbulan-bulan malahan... aku menginginkanmu." Kata Yudha.


"What the... kau vulgar sekali sih?" Kaget Melody bukan main. Ini adalah permintaan paling jelas Yudha.


"To the point saja, biar kau paham." Yudha mencium bibir Melody, tapi langsung ditahan. Ini membuatnya kesal. "Kenapa?" Tanyanya.


"A-Aku belum siap, bodoh!"


"Jika belum siap malam ini, lalu kapan siapnya?"


"Itu... Ano..." Meskipun sudah sering melakukan hubungan intim dengan Yudha, tapi jeda cukup panjang terhitung dari hamil tua dan rentetan masalah itu membuat dirinya merasa asing dengan sentuhan dari Yudha.


Baru dibelai sedikit saja sudah merinding. Melody tahu, Yudha sudah memberikan kode dari beberapa hari yang lalu. Tapi ia pura-pura tidak paham. Poor Yudha.


"Aku mengerti kau canggung karena kita hampir tidak pernah melakukan hubungan intim dalam beberapa bulan ini. Namun jika kau tetap enggan tanpa berusaha melakukannya, maka hubungan kita akan canggung, terutama untuk memenuhi kebutuhan batin."


"Aku juga tidak mau seperti ini, Yudh... Jadi, apa kau memiliki solusinya?"


"Kau diam saja biar aku yang memperk*samu."


"Hah?" Melody mangap.


"1..."


"..."


"2..."


"..."


"3... diammu aku anggap persetujuan." Yudha mulai menyerang Melody.


"Yudh... Yudh... Yudhaaaaa...."


Hari berikutnya, Yudha tidak diizinkan sekamar sama istrinya. Poor Yudha 2x.

__ADS_1


__ADS_2