MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pesta 12: Percaya Tuhan


__ADS_3

Melody mendekat pada Yudha. Yudha langsung memeluk pinggang Melody. Memeluk erat dan sedikit memeringkan wajah untuk menyeb bau istri yang ia rindukan.


Sudah rindu lagi?


Tidak usah heran atau sok bengong tak paham. Yang dibicarakan itu Kazehaya Yudha, si bungsu keluarga Kazehaya yang menjadi budak cintanya Melody.


Hah. Yudah hanya sangat mencintai Melody. Itu saja.


"Kau kemana saja? Kenapa bisa datang beramai-ramai seperti itu? Kau tak apa-apa? Sesuatu terjadi padamu?" Yudha memeriksa keadaan Melody karena khawatir. Pasalnya Yudha melihat Yura bersama sang istri.


Melody menggeleng. "Percayalah padaku jika aku mengalami hal yang menyenangkan dengan mereka, dengan Amamiya-san."


Yudha menatap mata Melody untuk mencari kejujuran di sana. "..."


"Kau percaya padaku, kan?"


"Kiss on my lips, lalu aku akan mempercayaimu!" Yudha menatap mesum Melody.


"Itu motif, Yudh! Motif! Selalu saja memanfaatkan keadaan. Kau tak puas apa tadi kan kita sudah itu di kamar. Kenapa minta lagi sih? Dasar mesum!" Kesal Melody.


"Jangan keras-keras! Nanti kau bisa malu kalau mereka dengar, baka!"


Melody langsung meringis, tapi setelah itu mendelik pada Yudha. "Dasar mesum!" Katanya lagi.


"Aku kan memang mesum. Seperti tidak tahu saja diriku ini bagaimana." Yudha menyeringai mesum.


"Berhenti menatapku mesum penuh nafsu seperti itu, Yudh! Kau sudah mendapatkan jatahmu hari ini, aku tak mau menciummu hanya karena butuh kau percaya padaku!"


"Oh, seperti itu? Oke, fine, istri durhaka itu tidak patuh pada suaminya. Dosa itu, Sayang! Dosa!"


Melody mendecih. Ia lalu mencium bibir Yudha dengan sangat cepat. "Suami yang pintar ngomong."


Yudha tersenyum manis. Ia lalu mengelus kepala Melody. "Isrti yang pengertian. I love you, Calon Mama Muda."


Melody membelai pipi Yudha. "I love you too, Calon Papa Muda."


Teman-teman mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat dua manusia yang sedang dilanda badai asamara yang menggelora bak dunia milik mereka berdua.

__ADS_1


Yaelah, membuat iri!


"Maaf semuanya, selamat datang di pesta ulang tahun pernikahan kami. Silahkan menikmati pestanya dengan bahagia! Aku dan Melody harus menyapa tamu. So, jangan sungkan! Bersenang-senanglah!" Kata Yudha pamit untuk menyapa tamu undangan lain bersama Melody.


.


.


.


FLASH BACK ON.


Melody berjalan beriringan dengan Yura. Mia dan Ayumi berjalan riang di depan mereka. Mia dan Ayumi asyik membicarakan soal cafe-cafe baru dengan view yang indah dan instgramable. Sementara Ayumi, ia berjalan sedikit agak jauh di belakang Melody.


"Soal ibunya Alvin, aku tak berhak membencinya karena aku tak memiliki masalah dengannya. Meski hubungan beliau tidak baik dengan mertuaku, tapi aku tetap tidak bisa subyektif. Hanya saja, aku memang merasa tak nyaman jika harus berlama-lama dengan beliau." Kata Melody.


"Kau hanya orang yang baik, Melody-san. Kau bebas menjadi dirimu sendiri. Namun, sebagai orang yang pernah menjadi korbannya, aku ingin kau mewaspadai dia." Kata Yura.


"Korban yang bagaimana, Amamiya-san?" Melody penasaran dengan kata-kata Yura. Dalam hati bertanya apakah Yura pernah disakiti oleh ibunya Alvin? Atau bagaimana?


"Wanita itu memiliki tutur kata yang bisa menghipnotis. Percaya atau tidak, intinya, setiap kata yang keluar dari mulutnya akan membuatmu mengikuti irama yang dia buat. Dia pandai memancing hasrat dan asa kita. Dari hal yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Dari hal yang tak ingin dilakukan, menjadi ingin melakukan, bahkan sampai melakukannya. Itu akan sangat buruk karena yang dituruti dari semua keinginan yang terwujud adalah sisi egois diri. Sisi yang menginginkan lebih dari yang dibutuhkan." Jelas Yura.


"Berusaha mengganggu pernikahanmu dengan Yudha memang keputusanku. Aku sendiri juga yang melakukannya. Namun, jika saat itu aku tak mendapatkan dorongan dari Nyonya Kurenai, mungkin aku tidak akan melakukan hal sebodoh dan sejahat itu terhadapmu dan Yudha. Wanita itu sungguh seperti ular. Kata-katanya menggigit dan mengeluarkan bisa beracun." Tambah Yura.


Yura mengingat dengan baik apa yang terjadi saat itu. Di ruang ganti usia pemotretan, Kurenai mendatanginya dan memakaikannya lipstick. Kurenai mengatakan bahwa kecantikan akan bisa membuat semua hal yang diinginkan menjadi nyata. Kata-kata motivasi, hanya saja mengarahkannya ke hal-hal yang buruk.


Bagi Yura, hal itu sangat mengerikan.


"Terima kasih sarannya, Amamiya-san. Aku akan berhati-hati dengan beliau. Dari awal kami jarang bersua. Jadi aku tak terlalu memahami bagaimana beliau itu. Namun aku sangat tahu jika beliau tidak menyukaiku." Melody takenjelaskan alasannya. Yang jelas karena Alvin mencintainya, maka sang ibu bersikap dingin terhadapnya. Apalagi dirinya adalah menantu keluarga Kazehaya, keluarga yang sangat dibenci oleh ibunya Alvin.


"Jangan mau terjebak berdua dengannya! Menyingkirlah jika pembicaraanmu tiba-tiba didatangi olehnya! Satu lagi, jika dia mengeluarkan kata-kata yang membuatmu tak nyaman, segera pergi! Pergi dari pandangan matanya!"


"Kau nampak sangat khawatir soal itu, Amamiya-san. Apa sebegitu mengerikannya bibi Kurenai itu?"


"Mungkin kata mengerikan itu terlalu kasar, tapi itu yang aku rasakan. Aku tahu itu bukan kesalahan murni darinya ketika aku berubah menjadi monster yang menakutkan, tapi dia berperan banyak dalam memicu perubahanku."


Melody menangangguk mencoba memahami. Nyatanya toh dia sendiri juga tak menyukai ibunya Alvin. Tak menyukai bagaimana cara ibunya Alvin melihat dirinya. Merasa seperti direndahkan. Entah itu perasaannya atau apa, tapi memang seperti itu yang ia rasakan.

__ADS_1


Apa ini artinya berprasangka buruk?


Tak ingin terluka, Melody memilih untuk berhati-hati dengan ibunya Alvin. Apa yang Yura katakan memang masuk akal. Ini memang tidak sopan, tapi ia merasa jika ibunya Alvin adalah sosok ular.


"Amamiya-san, terima kasih susah memperingatkanku. Aku akan menjaga diriku darinya." Kata Melody.


"Sama-sama. Aku harap kau akan selalu bahagia dan jauh dari bahaya, Melody-san."


Dan mereka melanjutkan perjalanan menuju aula pesta. Malam ini akan sangat panjang karena siapapun di antara mereka tidak akan pernah ada yang tahu hal apa yang sedang menunggu mereka.


FLASH BACK OFF.


.


.


.


"Yudh.." Panggil Melody.


"Hn?" Yudha menatap Melody. Istrinya nampak gelisah. "Kenapa? Sepertinya ada sesuatu hal yang mengganggu pikiranmu?"


Melody mengeratkan cengkramannya pada lengan Yudha. "Kita akan baik-baik saja, kan?"


Jujur saja dalam hati Yudha ketar-ketir. Pasalnya, ia menolak ide tentang perayaan ulang tahun pernikahannya mengingat serangan demi serangan yang diterimanya dan keluarganya. Sedari mulai awal pesta ia tak tenang. Ia memastikan beberapa kali bagaimana para penjaga yang disewanya itu bekerja mengamankan gedung hotel dan seisinya. Sampai saat ini semua terlihat normal. Namun pesta belumlah usai, ia belum bisa bernafas lega.


"Kita berdoa saja pada Tuhan agar semua baik-baik saja." Kata Yudha.


"Kau tidak membuatku merasa lebih baik, Yudha!"


"Tidak membuatmu merasa lebih baik bagaimana? Hei, apa kau tak mempercayai kuasa Tuhan? Kau meragukan-Nya?"


"Bukan seperti itu! Bukan! Maaf, maaf Yudh, maafkan aku Tuhan, aku hanya terlalu gelisah. Dadaku tak nyaman, Yudh! Tak nyaman!"


Yudha lantas memeluk Melody. Ia mengeratkan pelukkannya agar bisa merasakan detak jantung Melody, dan benar, irama detak jantung Melody tidak berarturan. Efek gelisah, takut, khawatir, dan cemas begitu terasa. Melody juga sedang hamil, itu memperngaruhi hormon Melody cukup banyak pula. Yang harus ia lakukan hanya membuat Melody tenang, tenang, dan tenang.


"Selain menyerahkan semuanya pada Tuhan, apa kita memiliki cara lain yang lebih baik?" Tanya Yudha di sela-sela pelukkan mereka.

__ADS_1


Melody menggeleng di pelukkan Yudha. "Itu yang terbaik."


__ADS_2