
Tokyo, pukul sembilan malam.
Yudha menemui Melody di kamar khusus setelah menemui sang ibu dan sang nenek di kamar inap kakek Wijaya. Malam ini Melody istirahat di kamar khususnya, sementara ibu mertua dan nenek mertuanya gantian menjaga kakek Wijaya.
Ada yang tanya keberadaan Shuhei?
Shuhei tentu saja selalu kembali ke mansion Kazehaya yang super mewah itu!
Kenapa tidak jaga di rumah sakit?
Hei, rumah sakit sudah sangat banyak bodyguard yang Yudha sewa. Mereka akan berjaga dua puluh empat jam penuh dengan sistem shift atau rolling tentunya.
Shuhei itu juga manusia biasa yang memerlukan istirahat juga. Yudhapun cukup perhatian mengenai ini. Shuhei tak hanya seperti pelayang, sopir, asisten atau bawahan pribadinya, tapi Shuhei adalah teman, sahabat sekaligus seperti saudaranya. Jika Shuhei bisa memperlakukannya dengan sangat baik, kenapa ia tidak membalasnya?
Yudha tidak sejahat itu.
Yudha tidak setega itu.
Yudha melihat Melody sedang duduk di sofa. Saat duduk pun, perut membesar Melody kini sudah semakin terlihat. Melody memakai baju hamil lengan pendek.
Mau menyebut daster tapi ini Jepang. Apakah daster ada di negeri matahari terbit ini? Maaf saja, sepertinya perlu survei sendiri di mbah Google atau bertanya langsung pada orang Jepang. 😎
"Dia tidak menyadari kedatanganku ya? Dia sibuk memotong kukunya. Banyak gerakkan yang dia ambil. Polah ke sana, polah ke sini. Tidak berhasil. Dia gagal memotong kuku di kakinya. Terang saja, tentulah kehamilannya yang membesar itu mulai membuatnya kesulitan untuk menunduk. Dia menjadi tak bisa memaksakan diri untuk menekan perutnya. Lucu. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Jika sedang sibuk sendiri seperti ini, dia seperti menjadi sosok yang berbeda. Apakah itu sosok asli dirinya? Ada sisi kekanak-kanakkannya juga rupanya. Itu manis. Aku menyukainya. Aku bahkan bisa tersenyum-senyum sendiri saat melihatnya seperti itu. Apa karena aku sangat mencintainya maka aku hanya melihat kebaikkan dari apapun yang dia lakukan? Aku tak akan menampiknya. Aku memang merasa seperti itu juga. Melody itu seperti pekuatku. Saat aku merasa terpuruk seperti ini, hanya dengan melihatnya saja, aku merasa membaik." Batin Yudha.
Yudha menghampiri Melody yang sedang duduk di sofa sambil memotong kuku. Yudha tak langsung duduk di samping Melody. Ia hanya berdiri di hadapan Melody sambil sedekap atau menyilangkan kedua tangannya.
Merasa ada bayangan yang mengubah gradasi warna yang ditangkap mata, Melodypun menoleh ke arah yang membuat pandangannya berubah sedikit redup. Sosok suami yang pergi pamit ke Saitama pagi-pagi buta itu sedang berdiri gagah di hadapannya. Dengan celana bahan warna hitam dan kemeja putih bersihnya, Yudha nampak sangat tampan.
"Suamiku..." Kata Melody.
"Ya?" Kata Yudha.
"Peluk!" Lanjut Melody manja.
"Aku belum mandi, Mel." Yudha menatap teduh istrinya itu. "Bau matahari dan bau keringat." Lanjutnya.
"Tapi aku suka bau keringatmu, Yudh."
Yudha terkekeh sekilas. "Berkeringat di ranjang?"
"Cih. Dasar mesum. Belum juga mulai, sudah genit saja."
"Siapa yang genit? Aku hanya bilang berkeringat saat di ranjang. Hanya di ranjang aku bisa banyak menghasilkan keringat."
"Kalau kau di ranjang hanya diam saja dan tidur, tentulah kau tak akan berkeringat banyak sekali. Tapi kau kan berkeringat karena mengajakku olah raga bersama!" Kesal Melody.
"Kenapa sewot, Mel? Lha aku masak harus cari partner lain? Aku kan memilikimu, ya aku mengajakmu olahraga di ranjanglah."
"Ih, apaan coba? Masak kita mau bertengkar lagi hanya karena kegenitanmu yang menyebalkan itu?"
"Tidak bertengkar, sayang. Kau yang menanggapinya berlebihan!"
"Loh Yudh, kau yang sewotan padaku. Salah dikit, ngambek."
"..."
"..."
Suasana seketika terdiam. Merasa ada yang salah. Memangnya tadi membahas apa sih bisa menjari seperti ini.
"Hah. Apaan coba, Mel?" Keluh Yudha. Ia tidak ingin bertengkar dengan Melody apalagi hanya karena masalah sepele seperti ini.
Dari dulu debat memang tak bisa mereka hindari. Selalu saja mempermasalahkan hal-hal kecil yang dibesar-besarkan. Namun, satu yang mereka tahu, meski dibesar-besarkan, tapo mereka tahu batasan. Mana masalah serius, mana masalah yang biasa saja, masalah yang akan selesai hanya cukup dengan kata maaf.
"Yudha..." Panggil Melody.
"Nani ka?" Tanya Yudha.
Nani ka: Apa?
Melody melentangkan tangannya. "Peluk!"
Ini adalah permintaan yang ke duanya. Ia tak ingin mendapatkan penolakkan dari Yudha lagi. Ia tak ma mendengar alasan bau keringat, bau matahari, atau bau orang belum mandi. Ia hanya ingin dituruti.
Bagi Yudha, tak ada kata lain untuk menolak permintaan Melody. Tiba-tiba jadi debat seperti tadi rasanya tidak nyaman. Apalagi saat seperti ini, dimana waktu sangat tidak tepat untuk memulai pertengkaran.
Yudhapun duduk di sebelah Melody dan memeluk istrinya itu. Ia mencium pundak Melody.
__ADS_1
"Kangen?" Tanya Yudha.
"Iya. Kangen. Sangat kangen. Seharian kau sibuk sampai tidak mengabari. Sesibuk itu ya sampai-sampai lupa mengirimku pesan?" Kata Melody.
"Iya, sangat sibuk." Jawab Yudha. "Maaf. Kau pasti marah ya padaku?" Tanyanya.
"Hanya kesal saja. Padahal meski kau menyuruh Shuhei-san untuk sekedar mengirimiku pesan sebenarnya tak masalah sih, Yudh. Yang penting aku tahu apa yang kau lakukan." Jawab Melody.
"Tadi Shuhei juga sangat sibuk, Mel. Kami bahkan sampai tak sempat makan. Kami hanya makan roti saja."
"Sibuk sampai sebegitunya?" Melody merasa heran. "Memang apa yang kalian lakukan sih?" Tanya Melody.
"..." Haruskah menceritakan semuanya kepada Melody?
"Yudh.." Melody mencoba melepaskan pelukkannya. Namun Yudha menahannya. "Jika tidak mau jawab, lepasin pelukkannya!"
Yudha malah mengeratkan pelukkannya. Ia semakin dalam menenggelamkan wajahnya di bahu Melody. Ia beberapa kali juga mendaratkan kecupan-kecupan di sana.
"Sudah lama kau tak menyentuhku, kau menginginkanku?" Tanya Melody akhirnya.
"Iya, ingin.." Jawab Yudha bergumam.
Melody cukup kaget soal ini. Biasanya Yudha mencoba menahan meski ingin melakukan hubungan badan dengannya. Mengingat masalah yang sedang mendera, rasanya kurang tepat saja jika saat ini mereka harus bersenang-senang memenangkan nafsu.
"Ingin tapi setengah-setengah." Kata Melody.
"Setengah-setengahpun aku masih bisa membuatmu kewalahan." Kats Yudha percaya diri.
Sebenarnya Melody ingin kesal, tapi ia urungkan. Yudha malam ini nampak berbeda. Bukan sifatnya. Sifatnya masih sama. Masih mesum seperti biasanya. Hanya saja, kali ini sikapnya sedikit berubah. Lelah, letih, dan seperti mau menyerah.
Aura apa ini?
Kenapa begitu negatif?
Melody tak menyukai Yudha yang 'lemah' seperti ini.
Mereka berdua melepaskan pelukkannya. Melody menatap suaminya itu. Mata kelam itu memang melelah. Pekerjaan dan masalah yang terjadi akhir-akhir ini memang sangat membebani Yudha. Apalagi mengenai Alvin, Melodypun ikutan kesulitan menanggapi Alvin. Ia tak tahu bagaimana caranya memasang sikap yang benar di hadapan Alvin. Pada akhirnya, saat Alvin datang menjenguk kakek Wijaya, ia hanya bisa tersenyum kikuk tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.
"Aku akan melayani dirimu saat ini, ini bukan pertukaran atau bisnis untuk mendapatkan keuntungan di antara kita. Namun, setelah ini, tolong ceritakan apapun yang terjadi denganmu, perkerjaanmu, dan semuanya! Aku tak mau salah paham lagi atau menjadi istri bodoh yang tak tahu apa-apa soal masalah yang menimpa suaminya." Kata Melody.
"..."
Yudha memilih diam saja saat Melody mencoba melepas kancing-kancing kemeja putihnya. Satu, dua, tiga, empat, dan lima kancing sudah Melody lepaskan satu per satu. Tidak ada keburu-buruan di situ. Melody melakukannya dengan pelan dan penuh irama.
Ketika Melody ingin melepaskan kemeja dari tubuhnya, Yudha menahan kedua tangan Melody.
"Kau yakin ingin melakukannya? Aku bahkan masih kotor, belum mandi." Tanya Yudha.
"Kau tak ingat sering menyerangku meski aku belum mandi sekalipun?" Melody balik tanya.
"Ya kan beda. Aku waktu itu sedang sangat nafsu padamu. Aku bisa menyerangmu apapuh keadaanmu. Aku pasti tidak akan peduli itu. Mau kau keringetan sehabis mengepelpun, aku pasti akan tetap melakukannya denganmu."
"Jadi maksudnya saat ini kau sedang tidak nafsu denganku?"
"Bukan seperti itu. Lebih ke bisa menahannya. Kau hamil, aku tak bisa leluasa. Aku harus menahan diri." Yudha menggerakkan tangan Melody ke jidatnya. "Belum lagi semua masalah ini sangat membebani otakku." Lanjut Yudha.
Panas.
Melody merasakan jidat Yudha yang sangat panas. Semua yang terjadi dalam kurun waktu tak sampai sebulan ini memang sungguh membebani Yudha.
Melody justru 'menarik' kepala Yudha agar mendekat padanya. Ia lalu mencium bibir Yudha dengan lembut.
Yudha yang cukup terkejut hanya bisa diam karena perlakuan yang baru diterimanya.
Melody menjadi lebih berani.
Melody membuka tiga kancing atas baju hamilnya. Ia menyibakkannya sehingga memperlihatkan area dada dan bahu putih mulusnya.
Yudha kesulitan menelan ludahnya sendiri. Pesona Melody yang sedang hamil itu membuatnya tak bisa bertahan lama di atas pendirian normalnya. Ia menjadi mudah goyah.
"Yudha yang sedang kalut dan banyak masalah tak akan menyerangku, untuk itu aku yang akan menyerang duluan." Kata Melody.
"Mel..." Darah Yudha begitu kencang mengalir dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Melody semakin mengekspis area dadanya. Ia lalu menata Yudha sekilas. Tanpa minta izin pada Yudha, ia lalu melepaskan kemeja putih yang Yudha pakai.
Suaminya itu selalu memakai kaos dalaman berwarna putih, Melody juga menyingkarkan kaos dalaman itu. Ia sungguh tak ingin ada penghalang di diri Yudha.
__ADS_1
Setelah berhasil menyingkar semua pakaian atasan milik Yudha, Melody lalu kembali memeluk Yudha. Ia menempelkan area dadanya dengan milik Yudha.
Yudha tidak membalas pelukkan dari Melody. Ia memilih pasif. Ia ingin tahu seberapa jauh Melody meluluhkan pendiriannya.
"Aku merasakan detak jantungmu, Yudh. Kau merasakan milikku juga, kan?" Kata Melody. "Mereka berdetak sangat cepat." Gumamnya.
"..."
"Detak jantung Yudha. Detak jantung suamiku. Detak jantung papanya anak-anak. Detak jantung orang yang sangat aku cintai.".
"..." Dalam hati Yudha tersenyum bangga. Ia bisa merasakan cinta tulus Melody.
Merasa tidak ada respon dari Yudha, Melody memberanikan diri untuk menyentuh kulit dada milik Yudha. Membelai lembut dan sangat perlahan. Ia juga menapaki garis-garis yang membentuk perut sixpacks milik Yudha.
Namun sayang, usahanya juga tak membuahkan hasil. Jangankan merespon, Yudha tetap masih diam.
Melody lalu melepaskan pelukkannya dengan sedikit mendorong dada bidang Yudha.
Melody membenarkan posisi baju hamilnya dengan kesal.
"Aku sudah menahan malu. Aku mengalah akan ego dan harga diriku demi dirimu. Tapi kau diam saja. Tidak tertarik padaku ya? Apa aku harus melakukan itu lagi agar gairahmu 'bangkit'?" Melody menatap arah celana hitam Yudha.
Ia jadi ingat saat Yudha mengajarinya 'permainan' gila. Pengalaman itu tidak akan pernah bisa ia lupakan.
"Tidak perlu karena 'itu' sudah 'bangkit' sejak tadi!" Kata Yudha.
Dengan cepat Yudha mencium bibir Melody. Bercumbu ria dan mengeksplor sejauh dan sedalam yang ia bisa. Ingin menguasai segalanya dari dalam diri Melody. Jiwa maupun raga.
Melody melenguh nikmat ketika tangan Yudha bergerilya nakal di sekujur tubuhnya. Ini memang Yudha yang ia kenal. Mesum, nafsuan, dan nakal.
Yudha tak berubah mengenai satu ini. Selalu ahli dalam membuatnya terbang dan melayang. Selalu ahli dalam membuatnya mabuk kepayang. Selalu ahli dalam tuntutan hasrat yang membuat kenyang. Menyengat dengan kasih dan sayang, menusuk dengan cinta tak terbayang, menghujami dengan ribuan jarum manis agar nafsu terpenuhi ketika datang.
"Yu-Yudha... Ano, itu.."
Mereka mengatur nafas karena ciuman yang sangat panjang tadi.
Mata mereka terlihat sayu. Sama-sama menginginkan, sama-sama menuntut lebih.
"Kita lanjutkan di ranjang saja! Di sini terlalu berbahaya." Kata Yudha.
Yudha bangkit dari duduknya. Ia lalu membopong Melody sampai ke ranjang. Melody hanya menuruti perlakuan Yudha terhadapnya.
Bukankah jika ia banyak gerak maka akan membahayakan kehamilannya jika sampai terjatuh saat membopong dirinya?
"A-apa yang ingin kau-kau lakukan, Yudh?" Tanya Melody.
"Menanggalkan pakaianmu. Ada masalah?"
"Jangan lakukan itu! Aku ti-tidak mau telanjang!" Pinta Melody.
"Kenapa kau menolaknya? Aku ingin menyentuh semua yang ada pada dirimu tanpa penghalang, Mel! Sama seperti dirimu, aku juga akan menanggalkan semua!"
"Aku hamil. Perutku sudah sangat besar. Aku tidak mau terlihat buruk di hadapanmu." Jelas Melody.
"Bagaimana bisa kau memiliki pemikiran seperti itu, Mel? Aku tak memiliki pemikiran seperti yang kau pikirkan. Yang membuatmu bertambah gemuk itu aku! Yang membuat perutmu membesar juga itu aku! Aku tidak akan memandang rendah dirimu! Sedikitpun aku tak melakukannya. Aku mencintaimu seperti apa adanya dirimu. Dirimu yang dulu, dirimu yang saat ini, dan dirimu di masa depan." Yudha tulus mengatakan semua ini. Cintanya pada Melody itu luar biasa.
"Tapi aku wanita, Yudh! Semua wanita ingin terlihat baik, apalagi di hadapan suaminya."
Yudha menghela nafas. Ia tak mau mood nafsunya hilang. Iapun memilih untuk mengerti dan memahami perasaan Melody.
Dalam rumah tangga memang tidak boleh memaksakan idealismenya masing-masing. Jika yang satu sedang meluap-luap, maka yang satunya harus menurunkan ego agar tidak runtuh.
"Gomen, aku tak memahami keinginanmu. Aku akan menjaga perasaanmu!" Kata Yudha.
"Arigato, Yudha-kun.."
Yudha tersenyum. Setelah sekian lama akhirnya Melody memanggilnya dengan tambahan -kun. Itu sangat manis. Memang benar, panggilan sayang yang jarang diucapkan akan terasa istimewa sekalinya diucapkan.
"Aku mencintaimu, Mel."
"Aku lebih, lebih, dan lebih mencintaimu, Yudh."
"Haha, tidak mau kalah rupanya. Aku juga mencintai anak-anak kita."
Yudha mengelus perut hamil Melody. Ia lalu mengecupnya lembut.
"Papa merindukan mama kalian. Kalian jangan buat mama kesusahan ya?" Kata Yudha.
__ADS_1
Melody terkekeh bahagia. Yudha bisa berubah menggemaskan ketika sedang berbicara dengan anak-anaknya. Melody yakin jika Yudha memanglah calon ayah yang baik.
Yudha merangkak ke atas, ia lalu memegang dagu Melody dan kembali melanjutkan ciuman panas mereka. Beradu lebih berani dari sebelumnya. Semua terasa nyaman dan lebih bahagia karena keduanya saling menginginkan. Tidak ada keterpaksaan di sana. Hanya cinta yang tulus untuk menyembuhkan segala bentuk luka yang ada.