
Time Skip...
"Anda tidak apa-apa, Melody-san?" Tanya Nakamura. Meski ia tak memiliki hubungan berati dengan Melody, tapi Melody adalah menantu Yoga yang notabene adalah mendiang sahabatnya. Melihat Melody yang sedari ia menjemput di motel hanya diam saja, membuatnya sangat khawatir. Perasaan ingin mengayomi ala polisi dan orang tua tidak dapat ia sembunyikan.
Wanita muda yang sedang hamil ini begitu nampak lemah karena terpukul setelah berpisah dengan suaminya. Menurut Nakamura itu adalah kisah yang menyedihkan. Ia bukan sok perhatian, tapi sisi kemanusiaannya menilai jika saat ini Melody itu sangat kasihan, membuat orang yang melihatnya ingin mengulurkan tangan.
Baru bertemu, tapi pisah lagi. Dalam kondisi hamil besar dan ditinggal sendirian. Seperti itulah kira-kira yang dapat Nakamura simpulkan dari sosok seornag Melody.
"..." Sama sekali tidak ada jawaban dari Melody. Semenjak ia menghapus air mata kesedihannya akibat ulah Yudha, ia menjadi tak ingin membuang-buang suaranya.
Bukan tak mau berbicara, hanya saja, rasanya menjadi tak lagi menarik ketika ia menyadari sebuah fakta bahwa Yudha tak di sampingnya lagi. Bahwa Yudha tidak akan menanggapi ocehannya lagi untuk waktu yang tak bisa ditentukan kapan itu akan berakhir. Yudha tak membawa ponsel yang menjadikannya hanya bisa menunggu dalam ketidak pastian yang menyakitkan setidak detik waktu yang berlalu.
"Nona Melody, Anda ingin makan sesuatu? Ini sudah waktunya untuk sarapan. Jika Anda menginginkan sesuatu, katakanlah kepada saya! Saya akan mencarikannya untuk Anda." Tanya Nakamura. Ia merasa sudah diberi amanah oleh Yudha untuk menjemput dan memastikan keamanan dari Melody, maka ia akan bertanggung jawab dan bersumpah akan profesinya sebagai seorang polisi dan manusia yang memiliki sisi empati dan kemanusiaan yang tinggi.
"Nakamura-san sudah sangat berbaik hati menjemputku saat ini. Aku seharusnya tidak seperti ini, aku seharusnya bisa menghargai apa yang sudah ia lakukan demi diriku. Ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Menjemputku juga harus mempertaruhkan nyawanya. Aku harus buka suara meski bibirku sedang tak ingin berucap! Aku tak boleh egois karena aku sedang sangat sedih akibat kepergian Yudha. Aku ini sudah berjanji pada diriku sendiri, kan? Aku akan bangkit dari keterpurukkanku dan menjadi sosok yang lebih kuat. Sedih boleh, tapi aku harus mengobati kesedihanku dengan tidak berlarut-larut terhisap rasa pilu yang menenggelamkan diriku." Batin Melody.
Ia menoleh ke arah Nakmura yang sedang fokus akan kemudinya. Laki-laki yang lebih cocok menjadi ayah atau pamannya ini nampak sangat hangat dengan garis wajah yang lembut. Melody tahu jika Nakamura adalah orang yang baik.
"Sebelum Anda menjemput saya, Yudha sudah membelikan saya makanan. Saya masih sangat kenyang. Jika Anda lapar, maka saya tak masalah menunggu Anda untuk sarapan terlebih dahulu." Kata Melody yang akhirnya mau buka suara.
"Ini memang sudah waktunya untuk sarapan. Namun saya bisa melewatkannya pagi ini. Menurut saya, lebih baik kita segera menuju rumah sakit karena kita sudah sedari tadi meninggalkan perbatasan dan masuk kota Tokyo. Apakah Anda setuju denan ide saya, Nona Melody?" Kata Nakamura.
"Ya. Saya setuju dengan ide Anda, Nakamura-san. Maaf sudah sangat merepotkan Anda, saya ingin segera bertemu dengan orang tua saya. Banyak hal yang ingin saya bahas dengan mereka." Kata Melody.
"Baiklah, karena Anda menginginkan dan tidak keberatan akan hal ini, maka kita harus segera menuju rumah sakit. Itu adalah keputusan terbaik untuk menjamin keselamatan Ansa saat ini." Senyum Nakamura.
"Apakah menurut Anda, saya masih akan diincar orang-orang jahat itu?" Tanya Melody.
"Sesungguhnya Yudha-sama tidak menginzinkan Anda tahu lebih banyak dengan apa yang terjadi saat ini. Namun, menurut saya, sebaiknya Anda harus mengetahuinya. Intinya, kemungkinan itu selalu ada. Faktanya, yang menginginkan kehancuran keluarga Kazehaya itu tak hanya satu orang. Motif babat umum seperti itu, namun sepertinya juga tak hanya untuk kehancuran keluarga Kazehaya, tapi juga serangan secara personal. Seperti memiliki Anda atau tujuan tertentu." Jelas Nakamura.
"Saya tidak paham dengan apa yang sedang Anda bicarakan, Nakamura-san. Maaf, saya terlalu bodoh untuk memahami pembicaraan seperti ini." Kata Melody bingung.
"Seperti saudara ipar Anda yang menginginkan Anda atau pihak-pihak yang murni ingin mengusai dominasi Emperor Group." Kata Nakamura.
"Aku tahu Alvin mencintaiku dan menginginkanku. Namun apa dia sunggu berbuat sampai sejauh ini hanya karena diriku? Jika ia memang niat melakukanya, harusnya sudah sejak dulu ia lakukan, kan? Aku masih mengingat dengan baik jika perubahan Alvin nampak ketika awal-awal kakek kecelakaan dengan Aron-san. Itu tiga bulan yang laluan, tak sampai lima bulan yang lalu. Alvin pasti memiliki alasan lain. Ya, dia pasti memilili alasan lain. Aku sangat mengenal Alvin, tak mungkin baginya berubah menjadi sangat asing seperti ini. Meski aku tahu jika sudah banyak hal menyakitkan yang aku lakukan padanya, tapi dia tak mungkin menjadi seperti ini, menjadi sangat asing karena ditelan oleh keegoisannya sendiri... Cara dia mencintaiku bukan untuk memilikiku seutuhnya. Itu pola yang ia tunjukkan semenjak kita putus sewaktu SMA dulu. Alvin itu bukan laki-laki yang memaksakan kehendaknya, apa lagi dalam urusan cinta. Oh Tuhan, tidak mungkin kan dia berubah sedrastis ini?" Batin Melody ketar-ketir.
"Sebagai seorang polisi yang pernah bergerak di departemen kriminal, saya mudah menaruh curiga pada orang, bahkan orang terdekat saya sekalipun. Saya hanya meminta Anda untuk mewaspadai tak hanya orang asing, tapi juga orang-orang terdekat Anda. Anda harus tahu, meski pernah makan dalam meja yang sama sekalipun, mereka bahkan bisa menjadi monster seperti yang tidak pernah Anda bayangkan selama ini. Dengan waspada, Anda bisa selangkah melindungi diri Anda sendiri sebelum orang lain datang menyelamatkan Anda." Tambah Nakamura.
"Saya akan mengingatnya, Nakamura-san. Saya akan jauh lebih waspada lagi dalam menyikapi segala hal yang terjadi di dalam lingkaran kehidupan saya. Terima kasih atas sarannya." Kata Melody.
"Sama-sama." Kata Nakamura. Di perempatan depan sana, ia ambil kanan dan melihat plang bertuliskan Kazehaya International Hospital 5 Km.
__ADS_1
Sebentar lagi akan segera sampai di rumah sakit Kazehaya International seperti tujuan mereka. Lima kilo meter lagi. Masih aman, masih tanpa gangguan dar pihak manapun. Kemungkinan, para orang-orang itu memang hanya masih fokus pada Yudha.
.
.
.
Melody sudah sampai di kota Tokyo. Ia diantar Nakamura sampai ke rumah sakit dengan selamat tanpa luka sedikitpun. Sang ibu dan ibu mertuanya menyambutnya dengan haru, penuh air mata.
Air mata yang memiliki dua arti. Bahagia karena Melody akhirnya kembali setelah diculik dan air mata kesedihan karena Yudha tak ikut bersama Melody padahal Yudha sendiri yang menjemput Melody.
Tsuchiya memeluk Melody dengan sangat eratnya. Anak semata wayangnya ini adalah harta terindahnya, harta yang paling berharga di dalam hidupnya.
"Anakku sayang, Melody, kau kembali, Nak? Kqu baik-baik saja, kan? Tidak ada yang luka, kan? Oh Tuhan, terima kasih.. terima kasih sudah membuat anakku kembali." Tangis Tsuchiya.
Mikan juga gantian memeluk Melody, menantunya ini sudah lama tak kembali. Ia khawatir bukan main mengingat Melody diculik dalam keadaan hamil. Ia juga harus mengimbangi anaknya, Yudha, yang kalang kabut ketika Melody diculik.
"Nakamura-san, arigatou gozaimasu. Terima kasih banyak sudah membawa menantu saya sampai ke sini dengan selamat." Kata Mikan. Ia membungkuk beberapa kali untuk menunjukkan betapa ia merasa sangat berterima kasih pada Nakamura yang sudah membantu 'menyelamatkan' menantu kesayangannya itu.
"Sama-sama, Mikan-san. Meski ini hanya anggapan saya, tapi Nona Melody adalah menantu sahabat saya juga, Anda sudah tahu itu." Kata Nakamura.
"Kau yang memulai dengan bahasa super sopanmu itu, Mikan. Aku hanya mengimbanginya." Kata Nakamura.
Keakraban mereka membuat Melody dan Tsuchiya memandang dengan tatapan penuh tanya. Memang dari perkataan mereka jika mereka ini sudah saling kenal, tapi Melody maupun Tsuchiya baru tahu jika Mikan ternyata memiliki teman dekat, dan itu adalah seorang laki-laki.
"Nah Mel, ini adalah Nakamura-san, beliau teman dekat mendiang ayah mertuamu." Kata Mikan mencoba memperkenalkan Melody pada Nakamura.
"Kami sudah berkebalan, Mikan. Memantumu ini sewaktu ngidam dulu meminjam mobil patroli kepolisian Tokyo untuk keliling kota." Jelas Nakamura.
Mikan kaget. Ada cerita seperti ini juga? Ia sudah melewatkan moment itu rupanya. Yang ia tahu, Melody berubah menjadi maniak tomat, tapi Yudha malah mual karena tomat.
"Benarkah itu, Mel? Keliling kota Tokyo dengan mobil patroli milik polisi?" Tanya Mikan meminta penegasan.
Melody meringis. "I-iya, Ibu.." Ia takut dimarahi karena apa yang ia lakukan itu sama sekali absurd dan pastinya bisa merusak imej keluarga Kazehaya yang sangat terhormat itu.
"Mel, kau sungguh naik mobil patroli milik polisi? Keliling kota?" Tsuchiya ikut penarasan.
"Iya, Ibu. Dengan menyalakan sirine juga..." Kata Melody.
Meski ini tak lazim atau tidak biasa, tapi dua wanita dewasa yang dulu sudah pernah mengalami fase kehamilan awal mencoba memahami. Keinginan ibu hamil memang suka yang tidak wajar, suka aneh-aneh. Namun itu manis, bisa menjadi kenangan indah di masa depan ketika ada generasi baru bertanya tentang masa lalu.
__ADS_1
Mereka berempat berbincang ringan. Akhirnya, Tsuchiya mengantar Melody untuk memeriksakan kandungannya karena khawatir jika terjadi apa-apa pada kandungan Melody mengingat Melody selama diculik sama sekali tidak bisa memeriksakan kandungannya.
Alvin memeriksa kondisinya dengan secara medis, tapi Melody butuh USG untuk memastikan semuanya agar ia bisa tenang.
.
.
.
Menunggu Melody yang sedang diperiksa, Mikan dan Nakamura duduk di depan ruang pemeriksaan Melody.
Mereka berdua duduk di kursi tunggu khas rumah sakit.
Mengingat Melody periksa dengan status Family VVIP, maka ruang periksa itu hanya khusus untuk pihak keluarga, tidak akan ada pengunjung rumah sakit lain yang menginjakkan kaki di area itu.
"Jadi Yudha kemungkinan sudah tertangkap oleh mereka?" Tanya Mikan.
"Ya. Seperti yang sudah Yudha prediksi. Mereka menangkap Yudha." Jawab Nakamura.
Tubuh Mikan gemetar. Ia mengeratkan tangannya. "A-apa anakku tidak akan selamat?" Tanya Mikan penuh ketakutan.
"Kemungkinan terburuk itu pasti ada. Maafkan aku..." Nakamura menyesal sudah mengamini perkataan dari Mikan. Nyatanya, kemungkinan Yudha tertangkap pastilah ada. Setahu dirinya, usaha mereka untuk menyelakai Yudha itu sudah sangat sering mereka lakukan, tapi selalu gagal. Jika sudah berulang kali menemui kegagalan, harusnya saat ini mereka sudah belajar banyak dari hal itu. Kali ini, mereka pasti tidak akan membiarkan semua kegagalan yang dulu kembali terulang.
Tidak mungkin kan Yudha akan selalu beruntung seperti yang sudah-sudah? Sesayang apapun Tuhan kepada Yudha, tapi pastilah akan ada masa dimana Yudha dituntut untuk berjuang lebih keras ketika Tuhan menempatkannya dalam posisi yang sulit.
Mikan ingin menangis, tapi ia sebisa mungkin menahannya. "Jika Yudha sudah tahu hal ini akan terjadi padanya, kenapa bocah sembrono itu masih nekat?" Tanyanya. Ia hanya tak habis pikir dengan keputusan yang dibuat oleh Yudha.
Nakamura menoleh ke arah Mikan yang duduk di sampingnya itu. Teman lama sekaligus istri mendiang sahabatnya itu adalah hanyalah sosok seorang ibu yang begitu khawatir akan keadaan putra semata wayangnya. Itu normal, itu wajar, dan itu manusiawi. Ia bisa memakluminya.
"Kau harus berbangga pada anakmu itu! Lihatlah dia, dia hayalah laki-laki polos yang memperjuangkan cintanya pada wanitanya! Bukankah dia itu sangat hebat? Dia sangat mencintai Melody dan hanya melihat Melody sebagai satu-satunya cinta di dalam hidupnya." Kata Nakamura.
"Hanya melihat Melody sebagai satu-satunya cinta dalam hidupnya Yudha ya? Hmm, apa ini sindiran untuk ayahnya Yudha juga?" Mikan memandang jauh ke kedapan. Sebuah tembok putih ruang dimana Melody dirawat. Pemandangan yang menurutnya sama sekali tidak indah. Ia tahu itu. Namun, warna senada itu menghanyutkannya. Ia jadi teringat masa lalu, wajah tampan mirip Yudha itu terlintas di benaknya.
"Yudha adalah Yudha. Yoga pun adalah Yoga. Meski mereka ayah dan anak, tapi sifat belum tentu akan menurun. Yoga memang temanku, tapi Yudha lebih baik dalam memperlakukan wanita. Aku bisa melihat bagaimana sorot mata Yudha ketika memandang Melody. Itu adalah sorot cinta yang tulus dan murni. Sorot mata yang tak ingin wanitanya terluka... Jauh beda dengan Yoga, orang bodoh itu bisanya hanya menyakiti wanita yang selalu mencintainya saja." Jelas Nakamura.
"Sebagai teman, harusnya kau membelanya, Nakamura! Yoga itu orang yang sangat percaya padamu. Tapi kau malah mengatainya seperti ini?" Mikan hanya ingin berkata seperti itu. Ia tak bermaksud apa-apa. Bagaimana pun ia tahu seberapa dekat hubungan Nakamura dengan mendiang suaminya itu.
"Aku hanya berbicara soal fakta. Harusnya kau menyetujuiku, kan? Yoga sudah menyia-nyiakan dirimu. Dia sudah menyia-nyiakan cinta tulusmu." Nakamura tahu kisah hidup Yoga. Ia tahu juga bagaimana complicated-nya hubungan dan kisah asmara dari Yoga.
"Benar. Dia memang sudah menyia-nyiakan diriku dan cintaku. Aku tak ingin membahas ini karena sama seperti membuka kisah masa lalu yang tak pantas untuk diingat. Namun aku bisa apa, tak mungkin kan aku marah pada orang yang sudah meninggal? Tidak ada gunanya." Ini adalah fakta. Tidak ada gunanya lagi mengingat masa lalu yang sudah berlalu cukup lama.
__ADS_1