
Suasana restoran privat itu menegang seirong waktu berganti. Pembicaraan demi pembicaraan dibahas oleh sekumpulan laki-laki berusia sama, 22 tahun.
"Apa kau bilang? Mantan penjaga kota Tokyo? Bagaimana bisa? Aku bahkan tak pernah mendengar cerita seperti ini dari Melody maupun ibu mertuaku." Tanya Yudha.
Ia hanya tak menyangka dan sulit menerima jika kisah seperti ini ada dan sungguh terjadi di dunia nyata.
"Ini adalah hasil penyelidikan yang coba kami lakukan untuk membantumu mengungkap apapun yang sedang bersusaha menyakitimu dan Melody. Kami mengumpulkan orang-orang yang ada di masa lalumu dan Melody. Mencengangkan memang, tapi memang begini hasilnya. Kami sudah memastikan kebenarnya." Kata Sai.
"Selain bantuan dari ayahku, kami juga bertanya pada ayah Nao yang dulu dekat dengan ayahnya Melody saat ayahnya Melody masih bekerja ikut ayahnya Nao." Kata Neil.
"Dulu pas kita ngumpul di rumahmu, aku pernah bilang kan jika ayahnya Melody, Paman Dean dulu bekerja pada ayahku di Hokkaido? Kau pasti tidak melupakannnya. Ayah dan paman Dean itu sangat dekat, paman Dean bercerita soal masa lalunya sebagai orang yang sangat berpengaruh di kota Kyoto sebelum akhirnya menikah dengan bibi Tsuchiya." Jelas Nao.
Penjaga kota Kyoto bukanlah yakuza, bukanlah mafia. Mereka menamainya dirinya sebagai Kyoto Guardian. Dimana anggotanya adalah orang-orang dengan berbagai latar pekerjaan. Pimimpin mereka disebut Oyabun atau bos dan Dean Hwang adalah bosnya pada saat itu.
Tidak ada alasan lain selain kedamaian dari tujuan dibentuknya Kyoto Guardian. Mereka melindungi kota kelahiran, kota budaya, kota sejarah, dan kota yang mereka cintai, kota Kyoto.
Mereka melindungi kota dari ancaman para yakuza, bisnis ilegal, dan segala bentuk kejahatan. Mereka bahkan beraliansi dengan kepolisian. Hubungan yang hebat bukan dimana swasta, bahkan bisa disebut sebagai gank kota bisa memiliki koneksi langsung dengan organisasi pemerintah seperti kepolisian. Butuh kepercayaan luar biasa untuk mendapatkan hal ini.
Masa kejayaan Dean Hwang runtuh ketika ia dihianati sahabatnya sendiri. Ia pun menghilang pelan-pelan dari indahnya kota Kyoto dan berakhir di Hokkaido, bekerja di perusahaan milik keluarga Nao, kemudian bertemu dengan Tsuchiya dan memulai kehidupan baru di sana. Memiliki putri cantik bernama Melody Hwang.
"Siapa yang menghianatinya?" Tanya Yudha.
Nao menarik senyumannya. "Seekor paus yang selalu ingin kau tangkap." Jawab Nao.
Yudha mengepalkan erat tangannya. Paus yang ingin ia tangkap selau berhasil mengacaukan rencananya. Membuatnya pusing tujuh keliling dan membuat kisah ini menjadi sangat panjang.
"Jadi benar ya, paus itu bersembunyi di Emperor Group untuk berkamuflase? Meski mimikri itu milik bunglon, namun sekelas penjahat seperti dia terlalu imut disamakan dengan bunglon." Kata Yudha.
"Ya. Dia bersembunyi di Emperor Group. Hidup dan makan dari Emperor Group. Dia paus orka dimana nampak imut tapi pembunuh." Kata Nao.
Neil dan Sai tak habis pikir dengan pengandaian yang digunakan oleh Yudha dan Nao dalam menjulukki musuh besar yang ingin mereka tangkap. Musuh melegenda sejak jaman dulu.
Paus orka? Padahal ada hewan lain yang lebih umum sering digunakan untuk mewakili istilah yang ditujukkan pada musuh, misalnya seperti ular, macan, srigala, sedikit ekstrim sedikit maka bisa memakai dinosauraus.
"Yudha, aku sudah mendengar soal beberapa petinggi Emperor Group yang dibebaskan, Tuan Park dan Tuan Kang. Jika benar mereka bisa bebas, pastilah ada orang yang melindungi mereka. Kedua orang itu berdomisili di Kyoto, kau tahu apa itu artinya, kan?" Kata Neil.
"Orang itu sangat dekat dengan kepolisian dan bisa sangat dipercaya oleh kepolisian." Kata Yudha.
Bingo!
Itu benar. Orang yang memiliki kemampuan itu hanyalah Oyabun kota Kyoto. Bahkan tanpa uangpun, ia bisa membebaskan Tuan Park dan Tuan Kang dengan mudah.
"Oyabun kota Kyoto menguasai hampir semua sektor bisnis di sana. Ini alasan kenapa pebisnis lain akan sangat sulit masuk ke kota Kyoto meski itu sekelas Emperor Group sekalipun. Dan kau tahu, pamanmu Orion sering sekali ke Kyoto meski secara wilayah itu bagian dari wilayah kekuasaannya Yakuza Macan Selatan." Kata Sai.
"Ah... Paman Orion ya..." Yudha tak ingin menanggapi soal ini lebih jauh.
Ada sisi hati kecilnya yang menolak hal ini. Ia tak ingin membahas apapun tentang pamannya karena setiap kali ia menemukan fakta baru, itu selalu saja berakhir dengan pamannya.
Apa pamannya sungguh terlibat?
Kenapa harus seperti ini?
__ADS_1
"Aku tak menyuruhmu mencurigai pamanmu itu, Yudha. Tapi dia terlibat sepertinya iya. Namun, Oyabun yang kita curigai itu bekerja di Emperor Group sedang pamanmu sama sekali tidak memiliki apapun di Emperor Group." Kata Nao.
"Dengan kemungkinan muncul pertanyaan, jika Oyabun itu bukan pamanmu, lalu siapa dia? Seseorang itu pastilah sangat kuat sehingga bisa menutupi jati dirinya selama ini." Kata Neil.
"Jika mertuamu, Dean-san masih hidup, semua akan mudah. Kita bisa bertanya langsung padanya. Namun sayang, dia sudah meninggal. Hanya usaha yang kita perlukan saat ini." Kata Sai.
Yudha tahu, tidak mungkin ada keajaiban tiba-tiba menemukan sebuah dokumen rahasia soal masa lalu Dean Hwang dengan Oyabun penggantinya. Terlalu klise dan pastilah Tuhan sayang padanya dengan memberikan kemudahan dalam ujian hidupnya.
Tuhan itu memberi ujian agar hamba-Nya menjadi kuat. Semua tak akan semudah membalikan telapak tangan atau jalan-jalan, ada angin berhembus, mengangkat tangan, dan tiba-tiba ada cek bernilai 100 Milyar nyangkut di tangan. Tidak akan seperti itu. Ujian Tuhan itu menuntut untuk berusaha dan berjuang.
"Aku sudah tahu langkah apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Kota Kyoto itu tak sedamai seperti yang dilihat kebanyakan orang. Dunia hawah kota itu sama sekali tak ramah pada 'pendatang'. Aku pasti akan menangkap paus itu!" Kata Yudha. Ia menyeringai.
Sebuah ide menarik terlintas di otak jeniusnya.
Ketiga sahabatnya ikut senang. Akhirnya Yudha bisa kembali ke sosok Yudha yang pantang menyerah. Yudha yang selalu bisa memanfaatkan kesempatan. Meski kali ini bukan uang yang dituju, meski kali ini nyawa menjadi taruhan, tapi Yudha tak akan menyerah begitu saja.
"Kau tak merindukan Melody-chan?" Tanya Nao.
Neil yang duduk di sebelahnya langsung membekap mulut Nao. Ia menyuruh Nao untuk diam dan jangan membahas apapun soal Melody di hadapan Yudha.
Dan lihatlah itu, ketika mendengar nama Melody disebut, wajah dan mood Yudha berubah seketika. Ia tak menjawab apa-apa. Ia hanya diam menatap wine di gelasnya. Lalu tak lama setelah itu, ia meneguk habis wine itu dan beranjak meninggalkan ruangan itu tanpa pamit.
"Kau bodoh ya? Dari semua masalah yang Yudha alami, Melody lah masalah yang paling besar di antara semuanya!" Bentak Neil.
"Yudha itu budak cintanya Melody, dia sangat mencintai Melody... Melody saat ini menghilang, tentulah ia merasakan jika separuh jiwanya sedang pergi. Yudha itu sangat rapuh hatinya!" Kata Sai.
"Ya.. Ya maaf, aku kan tadi hanya ingin menggodanya. Tak aku sangka akan menjadi seperti ini. Ya Tuhan, bocah itu benar-benar." Kata Nao. "Apa kita perlu membantu mencari Melody juga?" Lanjutnya.
"Memang kita bisa mencari orang yang hilang tanpa jejak seperti itu? Yudha saja belum bisa menemukannya." Kata Neil.
"Apapun yang bisa kita lakukan saat ini untuk membantu Yudha, ayo kita lakukan! Aku tak masalah meninggalkan bisnisku untuk beberapa saat. Bocah itu sok kuat padahal sebenarnya lemah mental. Sebelum terjadi apa-apa, ayo kita selamatkan sahabat super egois kita itu!" Kata Nao.
"Fight!"
.
.
.
Other Side...
Alvin masuk ke dalam mobil bersama dengan Daisuke.
"Alvin-sama, Anda harus kembali ke rumah sakit! Anda sedang sakit dan saya mohon jadilah pasien yang baik!" Kata Daisuke.
"Aku tahu apa yang terbaik untuk tubuhku saat ini." Kata Alvin. Ia lalu melepas kapas yang menempel di punggung telapak tangannya. Itu bekas jarum infus. Ia lalu membuka jendela mobilnya dan membuang asal kapas yang ada bercak darahnya itu. "Ayo kita ke rumah ibuku!" Lanjutnya.
Tak mau berdebat panjang dengan Alvin, Daisuke pun menuruti perintah Alvin. Ia tak jadi lurus, di persimpangan jalan depan, ia ambil ke kiri menuju rumah tempat tingal Kurenai, ibunya Alvin.
Sesampainya di rumah Kurenai, Alvin langsung masuk ke dalam rumah itu. Ia di sambut oleh pelayan.
__ADS_1
"Alvin-sama, selamat datang." Kata Pelayan Rumah.
"Ibu dimana?" Tanya Alvin tanpa basa-basi.
"Kurenai-sama sedang menerima tamu, Alvin-sama."
"Tamu? Malam-malam seperti ini?"
"Ya, Alvin-sama."
Alvin mengernyitkan dahinya. Ini sudah jam mendekati pukup sembilan malam. Tamu seperti apa yang datang pada malam-malam seperti ini? "Siapa?"
"Saya kurang paham, Alvin-sama. Namun, laki-laki itu akhir-akhir sering sekali datang berkunjung untuk menemui Kurenai-sama." Jelas Pelayan Rumah.
Seorang laki-laki?
Tamu laki-laki yang sering datang berkunjung menemui ibunya malam-malam? Sering?
"Apa ayahku pulang ke rumah saat aku tak datang berkunjung ke rumah ini?" Tanya Alvin.
"Tuan Azumane belum kembali sejak empat hari yang lalu. Beliau bilang sedang memiliki urusan bisnis di Kyoto." Jawab Pelayan Rumah.
Terkejut. Ayah tirinya itu sedang memiliki urusan bisnis di Kyoto? Sudah pergi sejak seminggu yang lalu dan belum juga kembali?
Tunggu.. bukankah Kyoto itu adalah permintaan egois dari para pemangku jabatan Komisaris Emperor Group? Bukankah Kyoto memiliki mafia-mafia atau penguasa yang sulit ditembus orang luar? Kenapa ayah tirinya bisa memiliki urusan bisnis di sana?
"Jika karena Kyot**o berada di wilayah Yakuza Macan Selatan, itu masih bisa aku maklumi. Namun, setahuku, paman tak benar-benar menguasai daerah itu. Jadi di Jepang, ada tiga kota atau wilayah yang semu dari kekuasaan para yakuza yaitu Okinawa, Tokyo, dan Kyoto. Sial, terlalu banyak yang aku curigai." Batin Alvin.
"Alvin-sama ingin meminum sesuatu? Saya akan membuatkannya untuk Anda."
"Tidak perlu. Aku akan menemui ibu dan pulang ke kantor Emperor Group setelahnya." Kata Alvin.
"Baiklah." Pelayan itu membungkuk pada Alvin ketika Alvin masuk ke dalam dan mencari aang ibu di ruang tamu.
.
.
.
Ruang tamu...
"Kau sudah paham, kan? Kau tak akan bisa lari dari ikatan kita di masa lalu. Kau sudah terlibat, kau harus menyelesaikannya jika tidak, anakmu yang kau cintai akan mati di tanganku!" Suara laki-laki itu mengintimidasi Kurenai.
"Ba-baiklah, sa-saya me-mengerti, Master..." Kata Kurenai.
.
.
.
__ADS_1
Alvin menyanadarkan dirinya pada tembok pembatas menuju ruang tamu.
"Paus itu ada di rumah ini!" Batinnya.