MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chiba 4


__ADS_3

Malam yang dinantikan akan kabar baiknya menyelimuti kediaman Matsuoka Han, kediaman orang yang dikenal sebagai Tuan Han, si Oyabun kota Kyoto.


"Bagaimana? Apa kalian mendapatkan kotak itu?" Tanya Tuan Han lewat panggilan telepon.


"Maafkan kami Tuan Han, kami sudah berusaha, tapi Tuan Shuhei menyetir mobilnya masuk ke dalam sungai." Jawab orang-orang Tuan Han.


Tuan Han menggertakkan gigi-giginya. Ia ingin membunuh siapa saja yang kini ada di hadapannya. Sayangnya saat ini ia sedang sendirian, wanita yang diajak kencan bersamanya tadi sudah pergi setelah menerima bayaran.


"Mengurusi satu orang saja tidak becus! Cari kotak itu sampai ketemu! Shuhei mati pun, aku tak mempermasalahkannya! Jika kalian tak bisa mendapatkan kotak itu, akan aku bunuh satu per satu kalian semua!" Kata Tuan Han penuh emosi.


"Baik, Tuan Han! Kami akan segera mencarinya!" Resiko jadi bawahan dimana hanya bisa tunduk pada sang penguasa. Ia bahkan ingin membanting ponselnya saat ini. Namun, sayangnya ia masih mencintai nyawanya.


"Semua, kita lanjutkan pencarian! Apapun yang terjadi, kotak itu harus segera ditemukan!" Lanjutnya.


"Siap, Aniki!"


Aniki: Kakak dalam artian dihormati.


Orang-orang suruhan Tuan Han kembali menyusur sungai untuk mencari keberadaan Shuhei. Mereka harus menemukan Shuhei dan kotak itu agar nyawa mereka selamat. Bagi Tuan Han, nyawa mereka itu sama sekali tidak berharga. Mereka bisa meregang nyawa kapan saja.


Pertanyaannya, kenapa mereka mau bekerja di bawah bos seperti itu? Bos yang tak memiliki belas kasihan sedikitpun meski itu sebuah pengampunan nyawa. Jawabannya tentulah mereka-mereka ini asalalah orang-orang yang sangat membutuhkan uang dan ingin mendapatkan uang dengan cara yang lebih cepat. Salah satu contohnya dengan bekerja kotor di bawah perintah Tuan Han.


Apakah mereka tidak takut menjalani hidup seperti ini?


Takut pasti, itu pasti! Saat ini saja mereka sudah ketakutan setengah mati karena Shuhei dan kotak itu belum mereka dapatkan. Nyawa mereka sedang di ujung tanduk. Rasannya seperti malaikat kemaatian sedang berada satu meter di dekat mereka. Malaikat kematian yang sudah siap kapan saja untuk menyabut nyawa mereka.


Namun beginilah hidup dengan kisah dan pilihan pribadi masing-masing manusia. Banyak yang berpikir pendek dan serba ingin mudah meski tahu jika banyak hal yang perlu dikorbankan, termasuk nyawa. Hidup yang berwarna, bukan?


"Cari! Cari! Semua segera temukan Shuhei dan kotak itu! Sungai ini tidaklah lebih dalam dari 7 meter, Shuhei baru saja tenggelam, harusnya dia masih bisa ditemukan dengan mudah!" Perintah sosok yang disebut sebagai aniki ini.


"Siap, aniki!"


Mereka semua bekerja mempertaruhkan nyawa untuk mencari Shuhei dan kotak itu. Ketika mereka tak berhasil memenuhi tugas dari Tuan Han, maka pulang pun, mereka juga harus mempertaruhkan nyawa mereka.


Ini seperti ungkapan dari sebuah judul film komedi, maju kena, mundur pun kena.


Miris.


But this is life and how life worked.


.


.


.


Melody dan Yudha berjalan menuju mobil. Ada kebahagian tersungging di bibir senyuman. Bertemu setelah sekian lama membuat rasa rindu terobati. Itu penting, tapi yang lebih penting adalah Melody selamat. Itu yang selalu Yudha harapkan dalam setiap untaian doa yang ia panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Semua dipasrahkan kepada Tuhan, apa ini wujud dari keimanan? Apapun itu, yang jelas, Yudha atau yang lainnya memang sangat mempercayai dengan adanya sosok tak terlihat yang disebut sebagai Tuhan. Itulah mengapa, Yudha menggantungkan nasibnya akan belas kasihan Tuhan. Berbeda dengan orang Jepang kebanyakan dimana mereka sama sekali tidak percaya akan adanya Tuhan. Itu pula yang membuat mereka memiliki hati lemah dan ketika sudah tak mampu lagi untuk menghadapi masalah hidupnya, mereka akan dengan mudah memutuskan untuk bunuh diri.


Menyedihkan, bukan?


Bahkan mereka yang mati dengan cara bunuh diri memiliki pemikiran adanya reinkarnasi. Jadi, ketika mereka di dalam hidupnya saat ini tidak sesuai yang mereka harapkan, maka saat mereka bereinkarnasi nanti, mereka akan bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Pemikiran seperti inilah yang Yudha pikir itu picik. Kenapa? Karena Yudha berpikir jika mereka yang memilih bunuh diri itu tidak mau berjuang lebih keras lagi melebihi batas kemampuannya, meski tak semua. Namun Yudha memiliki konsep kehidupannya sendiri dimana berjuang sampai akhir adalah harga dirinya.


"Kenapa? Ayo masuk, Mel!" Yudha sudah membuka pintu mobil miliknya. Namun Melody enggan masuk ke dalam mobilnya.


Melody hanya diam saja.


"Mel?" Panggil Yudha. Ia sudah tak ingin beralama-lama di Chiba.


Ia ingin segera kembali ke Tokyo dan menjalankam semua rencana yang ia buat.


"Kenapa bawa mobil ini sih, Yudh? Sudah aku bilang aku tak suka dengan mobil ini! Kenapa tidak membawa mobil yang biasa saja sih?" Gerutu Melody. Kesal? Kesallah. Ia hanya kesal dengan mobil sport keren dan mewah yang Yudha bawa untuk menjemputnya.

__ADS_1


Masuk akal kah ini?


"Mel, apa saat ini perlu membahas hal ini? Hei, ini hanya sebuah mobil! Kita saat ini sedang ada di wilayah musuh, sebaiknya kita segera pergi, ok?" Yudha tentulah ingat jika Melody enggan memakai mobil lamborghini miliknya itu karena tidak suka menjadi pusat perhatian. Namun, apa harus seperti ini? Saat seperti ini dimana sebenarnya hal ini tidaklah penting untuk dibahas, kan?


"Perlulah, Yudh! Kita perlu membahasnya! Lihat ini!" Melody menunjuk ke arah perutnya yang berbadan dua. "Perutku sudah sangat besar! Sulit menggunakan mobil seperti ini! Mana pendek lagi. Kau tidak kasihan denganku, hah? Niat jemput aku tidak sih?" Kesal Melody.


Mobil milik Yudha itu pendek, untuk ibu hamil usia 7 bulan seperti dirinya itu sangat susah untuk dimasuki. Saat ini saja, jika barang yang ia bawa jatuh saat dalam posisi berdiri, ia akan kesulitan untuk mengambilnya. Kehamilan kembar 7 bulan itu sama besarnya dengan kehamilan tunggal usia 8 bulanan atau lebih. Menunduk untuk mengambil barang jatuh hampir tidak mungkin bisa Melody lakukan. Apa pagi harus jongkok tanpa bantuan, ah inilah nikmatnya menjadi ibu hamil dan ini akan terus berlangsung sampai ia melahirkan nanti.


"Kenapa malah kau menjadi kesal sih? Mel, aku kan hanya berusaha secepat yang aku bisa untuk sampai ke tempat ini. Mobil ini satu-satunya yang bisa melesat dengan kecepatan maksimal di antara semua mobil yang ada di garasi!" Kata Yudha.


Yudha menjadi ikutan ingin kesal. Tapi ia berusaha menahannya. Ia baru bertemu dengan Melody, harusnya bukan alur seperti ini yang terjadi. Harusnya biasa saja dan segera berganti dengan alur penyaluran kasih sayang karena lama tidak berjumpa.


"Sudahlah, aku tak ingin berdebat denganmu! Cepat masuk dan kita lekas pergi dari tempat ini!" Lanjut Yudha. Ia tahu apa yang harus dan tak harus ia lakukan. Ia harus berbaik hati dan menyabari Melody.


Ingat, Melody sedang hamil dan hamil karena ulahnya.


"..." Melody terdiam dan hanya mengamati mobil dengan pintu yang sudah terbuka itu. Kursinya dan interior dalam mobil milik Yudha itu sangat elegan. Tapaai bagi Melody itu sama sekali tidakk penting. Yang penting adalah kehamilannya.


Melody masih cemberut. Ia sungguh tak mau naik mobil yang menurutnya pendek itu. Ia akan tidak nyaman dengan perut hamilnya.


Merasa tak ingin membuat Melody kesal, akhirnya Yudha mendekati Melody dan berusaha membujuk lagi agar Melody mau segera masuk ke dalam mobilnya.


"Masuknya emang agak sulit untuk mengimbangi perut besarmu, aku akan membantumu. Menunduklah dengan hati-hati!" Pinta Yudha.


"..." Melody hanya menatap Yudha. Yudha harus lebih berusaha laagi untuk membujuknya masuk ke dalam mobil!


"Sayang, jangan seperti ini, hm?" Yudha melembut.


"Suamiku sangat pengertian dan semakin pengertian setiap harinya. Hehe, terima kasih banyak Yudha, aku juga sangaat menyayangimu. Terima kasih sudah menyabari sikapku yang merepotkan ini. Aku hanya rindu berdebat denganmu." Batin Melody.


Melody pun mengangguk dan mengikuti setiap arahan dari Yudha. Yudha tersenyum melihatnya.


Apa ibu hamil baperan seperti ini? Meski di situasi yang tak mendukung sekalipun?


Yudha menghela nafas panjang usai memastikan istrinya aman. Ia memutar untuk menuju kendali sopir.


"Aman." Jawab Melody singkat. Ia ingin cari perhatian pada Yudha. Biar Yudha memanjakan dirinya. Sudah lama tidak dimanja-manja oleh Yudha membuatnya rindu setengah mati pada suaminya itu.


Dan Yudha sepertinya termakan oleh rasa kesalnya. Ya bukan cari perhatian saja, nyatanya rasa kesal itu memang masih ada. Siapa suruh datang membawa mobil seperti ini?


"Ini bocah jika sudah kesal harus segera di taklukkan karena kalau dibiarkan saja, maka dia akan mendiamkanku sampai ke Tokyo nanti. Jika dia diam, aku tak bisa mesra-mesraan dengannya. Aku sangat merindukannya dan memiliki daftar panjang tentang apa yang aku ingin lakukan bersamanya untuk melepas rindu. Aku harus baik-baik pada Melody." Batin Yudha.


Yudha tahu masih ada rasa kesal yang tersisa di dalam benak Melody. Nyatanya memang semenjak hamil, mood Melody menjadi super sensitif yang membuatnya sulit untuk ditaklukkan.


Yudha pun meraih pipi Melody agar istrinya itu menatapnya. Ia melihat jika kedua mata Melody masih sembab. Air mata bahagia karena bertemu, air mata rindu, air mata takut, dan air mata kesal rasanya semua mencampur menjadi satu di sana.


"Kita akan baik-baik saja! Maafkan aku karena membuatmu tak nyaman seperti ini!" Kata Yudha.


Tanpa Yudha duga, tangan Melody menarik tengkuk lehernya dan mencium intens bibirnya.


Yudha yang kaget hanya bisa membulatkan kedua matanya.


Apa yang sedang terjadi?


Yudha pun terlihat pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Ia memilih menerima apa yang Melody lakukan padanya.


Sebisa mungkin mereka berdua mengatur nafas dari hidung yang terasa memendek karena ciuman yang cukup panjang ini.


Lima detik.


Sepuluh detik.


Lima belas detik.


Satu menit kemudian, Melody melepaskan ciumannya. Ciuman tanpa pautan nafsu hanya dua bibir yang bertemu.

__ADS_1


Melody menatap ke depan tanpa menoleh ke arah Yudha.


Yudha yang mencoba mengumpulkan nyawanya berusaha untuk sadar secepat yang ia bisa. Otak kirinya terus berkata jika saat ini mereka sedang ada di wilayah musuh, sementara otak kanannya penuh imajinasi liar dengan Melody.


Melody berani berinsiatif untuk menciumnya duluan itu adalah kemajuan yang luar biasa. Pasalnya yang selama ini mesum, hanya dirinya seorang. Jika ia tak bergerak duluan, Melody mana mau diajak bermesum ria.


"Mel.." Panggil Yudha.


"Hm?" Melody menjawab tapi tidak menatap Yudha. Ada semburat merah di pipi putih Melody.


Yudha menyeringai. "Ciuman yang benar itu seperti ini!" Kata Yudha. Ia lalu meraih pipi Melody lagi dan mencium bibir Melody dengan gayanya.


Tentulah gaya ciuman ala mas Yudha yang melegenda itu. Yang katanya bisa membelah lautan. Yang katanya nikmatnya sampai luar angkasa. Yang katanya membuat hormon endorphine menguasai diri. Yang katanya sekali terjerat, akan sulit untuk lepas.


"Hummmppp... Bwaaah.." Melody mendorong Yudha menjauh darinya. "Kau mau membunuhku ya?" Kesal Melody karena ciuman super panjang Yudha yang membuatnya kehabisan nafas.


Yudha terkikik. Istrinya kalau sedang kesal sangat manis dan menggemaskan.


"Kita hanya mengulang ciuman yang kita lakukan sama seperti saat kita berciuman di ranhang, Mel." Kata Yudha santai.


"Kau ini! Tuan, sekarang kita di mobil, bukan di ranjang! Kira-kira dong Yudh kalau berciuman!" Melody masih kesal. Bagaimana bisa Yudha menciumnya sambil memaksanya bermain lidah dan mengabsen gigi-giginya.


Sial, tuh kan, rasanya jadi panas. Ini mobil mahal tidak ada AC-nya ya?


"Ya sudah, nanti kita pindah ke ranjang saja!" Seringai Yudha.


"Jieeeh, yang jelas, Yudh! Kau ini benar-benar ya. Mencium juga ada batasnya woy! Ingat tempat! Ingat posisi!" Kesal Melody.


Yudha itu kadang suka tidak masuk akal dalam bertindak dan mesumnya itu sama sekali tidak ketulungan. Sangat merepotkan jika sudah seperti ini.


"Rasamu manis, Mel." Kata Yudha. Ia mengusap lembut bibirnya yang masih tertinggal sisa saliva karena ciuman tadi.


"Dasar mesum! Yudha, kau memangnya tidak jijik?"


Yudha menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"


"Aku loh tadi sore makan sup daging dan belum gosok gigi. Kau masak tidak sadar jika bau aneh ini dari mulutku." Cengir Melody.


Yudha mendelik. Bagaimana bisa Melody malah merusak suasana romantis yang susah payah ia bangun itu?


Belum gosok gigi? Bau mulut? Bau daging?


"Kau mau membuatku muntah ya? Ok fine, kau berhasil Mel karena kini perutku rasanya sangat mual!" Kata Yudha yang kini jadi badmood.


Melody langsung tertawa terbahak-bahak. Mengusili Yudha dengan cara seperti ini ternyata seru juga.


"Malah tertawa..." Sewot Yudha.


"Idih, Sayang jangan marah donk! Semakin jelek deh." Melody mencubit hidung mancung Yudha sampai memerah.


"Sakit, Mel!"


"Hehe, merah seperti hidungnya om badut. Aku hanya bercanda kok, penculiknya baik jadi aku bisa jaga kebersihan. Aku bisa berkali-kali menggosok gigi."


"Haruskah kita mampir motel dan memberimu pelajaran karena menjahili suamimu sendiri?" Kata Yudha khas dengan seringai mesumnya.


"Hiissh, suasana seperti ini masih sempat-sempatnya mikir ranjang? Huwaa, hanya Yudha! Yakin hanya Yudha! ... Biar aku tebak, saat kau kemari pasti sesuatu terjadi di jalan, kan? Belum lagi ini bagaimana pulangnya? Saat aku bilang ke Alvin jika aku akan mengikutimu, dia bilang, kau bisa saja mati malam ini. Jadi, meski dia bilang seperti itu, aku memilih siap mati denganmu." Kata Melody sambil tersenyum.


Senyuman yang menyayat di mata Yudha. Melody memilihnya yang jelas-jelas selalu diikuti oleh kematin kemanapun ia pergi.


Yudha meraih tangan Melody dan menggenggamnya dengan erat. Mereka saling menguatkan.


"Aku tak bisa menjamin keselamatan kita berdua, tapi aku akan berusaha untuk melindungimu dan anak-anak kita." Kata Yudha. Ia lalu mencium tangan Melody yang ia genggam.


Melody tersenyum dan mengangguk. Ia menuntun tangan Yudha menuju ke arah perut hamilnya.

__ADS_1


"Bersama dengamu, kami merasa jauh lebih aman." Kata Melody.


__ADS_2