MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Era Kazehaya Yudha


__ADS_3

Pagipun tiba...


Yudha membuka matanya. Sorot sinar mentari pagi mengganggu tidur pulasnya. Hal pertsma yang ia lakukan saat bangun tidur adalah melihat jam.


Sudah pukul 9 pagi.


Apa? Pukul 9 pagi?


Yudha menoleh ke sisi ranjangnya. Kosong. Ranjang bahkan sudah tertata rapi. Pakaian kotor miliknya kemarin juga sudah tidak ada.


Suasana yang tidak asing ketika ia pertama kali masuk ke dalam kamar ini sewaktu pulang dari Kanada. Kosong tanpa penghuni selain dirinya.


Sama halnya seperti kemarin, saat pagi menjelang, saat Yudha terbangun, Melody sudah tidak ada di kamarnya.


"Dia kemana?"


Yudha yang tanpa babibu mencoba mencari Melody di penjuru rumah, di dapur, di halaman belakang.


Tidak ada!


Melody tidak ada di rumah.


Melody tidak nampak mahkota indahnya. Rambut indah yang semalam ia lihat tidak ada.


"Kemana dia pergi sih? Pagi-pagi sudah tidak ada di rumah!"


Yudha merasa kesal.


Maid di rumahnya mengatakan jika Melody sudah berangkat ke kampus bersama Ayane. Rada aneh, ia merasa selama ia kuliah, belum pernah sekalipun mendapatkan jadwal kuliah sepagi ini. Apakah jadwal kelas manajemen Melody selalu mendapatkan jadwal sepagi ini?


Jam 7 pagi!


Kata maid di rumahnya, Melody berangkat ke kampus sejak 2 jam yang lalu!


.


.


.


Yudha menjadi tidak mood sarapan. Ia hanya meminum kopi hitamnya saja. Itupun sedikit. Ia langsung ke kantor untuk menyelesaikan laporan kunjungan kerjanya ke Kanada.


Sesampainya di kantor, ia langsung mendapat kuliah pagi dari sang kakek.


Ia baru sadar jika selama ia pulang, ia belum melihat sang kakek di rumah. Rupanya sudah beberapa hari sang kakek stay di kantor.

__ADS_1


Kakeknya memang pekerja keras, itu membuatnya khawatir. Bagaimanapun manusia haruslah bekerja sesuai kemampuan fisiknya. Kakek Wijaya sudah berumur, seharusnya di usia senjanya kini, kakek Wijaya lebih bisa menikmati hidup.


"Kakek akan pensiun jika kau sudah bisa berdiri sendiri dengan kakimu! Berhentilah bermain-main soal kehidupan jika kau tak mau hancur!" Kakek Wijaya mulai mengeluarkan kata-kata selayaknya orang tua yang peduli dengan masa depan generasi penerusnya.


"..." Yudha tidak berniat menyela. Apapun yang kakeknya ucapkan, ia paham jika itu adalah hal yang terbaik untuknya.


Kakeknya adalah sosok terbijak yang pernah ia temui.


"Otakmu memang cerdas, kakek akui itu, tapi praktek lapanganmu nol besar. Bagaimana bisa kau menyuruh kakek untuk beristirahat?"


"Aku tidak ingin kakek sakit."


"Terima kasih sudah menghawatirkan kakek. Tapi kakek saat ini masih bisa berdiri tegap dengan dua kaki kakek. Bahu kakek masih kuat menyangga beban hidup keluarga kita dan Emperor Group."


"Tapi tetap saja kesehatan kakek itu sangatlah penting."


Percayalah, Yudha hanya menghawatirkan kesehatan kakeknya. Kakeknya itu sudah tidak muda lagi. Kakeknya perlu istirahat lebih banyak. Bukan malah kerja lembur gila-gilaan dan tidak pulang ke rumah!


"Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk istirat dan bersantai ria akan dunia! Ingat Yudha, kadang kita memang harus licik, tapi kau harus mengerti tujuan kelicikanmu itu!"


"..." Yudha paham, kakeknya itu memang berbeda dari orang lain. Selalu memiliki ide-ide dan pemikiran-pemikiran di luar kemampuan orang biasa. Ia bahkan perlu belajar keras untuk mengikutinya.


Apakah dulu ayahnya juga mendapatkan didikkan yang sangat keras?


Kakek Wijaya memberikan laporan pergerakan saham Emperor Group selama sepekan ini. Terhitung mulai muncul isu skandal yang Yudha alami.


Yudha hanya bisa menunjukkan ekspresi yang datar seperti biasanya. "Ini..."


"Kau menyadarinya? Itu hasil kelakuanmu! Skandal antara kau dengan anak tunggal keluarga Amamiya!"


"..." Garis bagan warna merah dalam beberapa hari. Meski tak begitu tajam, tapi sangat mempengaruhi pasar saham.


"Bagaimanapun kakek akan turun tangan. Kau menempatkan Melody di posisi yang salah, Yudha. Kau tidak tahu betapa pentingnya Melody itu. Dia..."


"Jangan campuri urusanku dengan Melody, kek! Maaf. Aku akan menyelesaikannya sendiri! Permisi kek, aku akan kembali ke ruanganku." Potong Yudha yang langsung pergi meninggalkan ruang kerja kakek Wijaya.


"Bocah nakal. Pancinganku berhasil. Meski kakek bilang ingin turun tangan, tapi kakek tidak akan menolongmu. Kakek hanya akan menyelamatkan orang-orang yang ingin kakek selamatkan." Senyum kakek Wijaya.


Kakek Wijaya lalu menata kembali file yang berisi laporan pergerakan saham itu. Saham Emperor Group memang mengalami penurunan. Harga sahampun jelas berpengaruh. Ini akan sulit untuk ke depannya jika Yudha dan Yura belum menyelesaikan isu skandal perselingkuhan itu.


Imej perusahaan akan terganggu. Reputasi keluarga juga terganggu. Apa lagi nama baik Yudha dan dirinya, jelas terganggu juga.


"Kakek akan melihat bagaimana usahamu, Yudha, Tunjukkan pada kakek kekuatanmu! Tunjukkan jika kau mampu berdiri dan berjalan dengan kakimu sendiri! Tunjukkan jika kau adalah keturunan sejati keluarga Kazehaya! Tunjukkan jika kau bisa melampaui ayahmu dan kakekmu! Tunjukkan semuanya pada kakek! Kakek ingin melihatnya sampai akhir. Sampai masa kejayaan kakek berakhir. Tunjukkan pada dunia, ini adalah eramu! Era Kazehaya Yudha!"


.

__ADS_1


.


.


Yudha memasuki ruang kerjanya. Di sana Kouki, Zakki, dan Yuuichi, serta Shuhei sudah menunggunya.


"Tuan Muda.."


"Tuan Yudha.."


"Tuan.."


"Yudha-sama.."


Keempat orang kepercayaannya menyapanya. Yudha tersenyum tipis untuk menanggapi sapaan dari mereka.


"Duduklah!" Perintah Yudha.


Dan mereka semuapun duduk. Saling berhadapan dengan Yudha di kursi tunggal yang menengahi mereka berempat.


"Kalian pasti sudah mendengar kesuksesan tim kita dalam perebutan proyek kerja sama di Kanada."


Mereka menangguk, sebelumnya Shuhei sudah memberi kabar.


"Aku minta maaf soal isu skandalku sehingga membuat tim kita mendapatkan omongan yang kurang baik di kantor. Tapi, bisakah kalian percaya padaku?"


"Saya selalu percaya pada Anda, Tuan Yudha." Kata Kouki yang diamini oleh Zakki dan Yuuichi. Begitupula dengan Shuhei yang sudah jelas mendedikasikan hidupnya untuk Yudha.


"Tim ini adalah tim yang Anda susun dengan mempercayakan pada kami, orang-orang dengan latar belakang biasa. Anda sangat percaya pada kemampuan kami dan kami akan mendedikasikan kemampuan kami untuk Anda. Hanya untuk Anda." Kata Zakki.


"Apapun yang terjadi, kami akan tetap mengikuti Anda sampai akhir." Tutup Yuuichi.


"Terima kasih banyak semua. Terima kasih untuk kepercayaan kalian padaku." Yudha beruntung memiliki 4 orang ini. Bawahan yang sudah layaknya sahabat.


Berjuang bersama di dunia bisnis yang keras.


Shuhei menunjukkan map berisi banyak file kepada Yudha. "Yudha-sama, ini proyek kita selanjutnya."


Yudha membaca isi file-file itu. Sebuah tantangan bisnis besar menggunung di hadapannya.


"Pengembangan Perfecture Miyagi. Ini bukan proyek kecil. Ini mega proyek. Pemerintah menyerahkan mega proyek ini kepada Emperor Group rupanya." Yudha tersenyum.


Ini adalah proyek terbesar yang pernah Emperor Group dapatkan. Ini proyek yang akan menguras dana dan tenaga di masa depan.


"Anda tidak masalah, kan?" Tanya Shuhei

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Ini adalah era Kazehaya Yudha!" Kata Yudha mantap yang diringi 4 bawahannya penuh percaya diri.


__ADS_2