
FLASHBACK ON...
Alvin dan ibunya sampai di Bandar Udara Heathrow, sebuah bandara internasional Inggris yang juga dikenal sebagai London Heathrow adalah bandara utama yang melayani Kota London, Britania Raya dan merupakan bandara tersibuk di negara tersebut.
Di dunia, Heathrow adalah bandara tersibuk ke-5 di dunia,setelah Bandara Internasional Hartsfield-Jackson, Atlanta dan O'Hare di Amerika Serikat dan pada 2004 memiliki jumlah penumpang terbanyak di Eropamengalahkan Bandara Charles de Gaulle dan Bandara Internasional Frankfurt.
Lagi-lagi sebuah mobil ambulan datang menjemput Alvin dan Kurenai, lalu membawa mereka ke salah satu rumah sakit di kawasan Spitalfields. Alvin mendapatkan penanganan medis di sana.
Para orang suruhan kakek Wijaya juga menunjukkan sebuah rumah huni untuk Kurenai dan Alvin ke depannya. Rumah itu tak jauh dati rumah sakit umum kota Spitalfields.
Selama berabad-abad kawasan Spitalfields di sisi timur London, Inggris, sudah menjadi rumah bagi banyak pendatang dan satu lokasi di daerah itu secara terbuka menerima mereka semua.
Hari-hari dimulai dengan sangat berat. Hidup jauh dari tanah ibu membuat Kurenai dan Alvin berusaha keras untuk beradaptasi. Kendalah bahasa dan gaya hidup juga mereka alami. Namun, semua bisa dilalui. Bisa karena terbiasa.
Di Spitalfields, Alvin menjalani perawatan medis terutama soal hilang ingatan disasosiatif miliknya. Masalah kecemasan dan depressi yang Alvin alami membaik setelah menjalani terapi selama satu tahun. Meski soal kecelakaan itu tak mau Alvin ingat, Alvin bisa menjalani kehidupannya dengan baik setelahnya.
Saat Alvin berusia 16 tahun. Ada seorang laki-laki yang datang menemui Kurenai di kediamnya di kota Spitalfields. Laki-laki dengan tinggi lebih dari 180 cm nampak gagah. Kurenai tahu, dari perawakannya, orang yang menemuinya saat ini adalah sama-sama dari Asia Timur. Berkulit putih pucat, berambut hitam, dan mata lebih sipit dari kebanyakkan orang di dunia.
Yang membuat Kurenai tak mengenalinya, laki-laki itu memakai masker.
"A-Anda si-siapa?" Tanya Kurenai gelagapan.
Laki-laki itu membuka topi yang ia pakai. Sebuah topi model fedora berwarna coklat yang senada dengan mantel panjangnya. Laki-laki itu membawa tongkat tangan pendek.
Ketika laki-laki itu membuka mantelnya, nampaklah pakaian kimono Jepang yang nampak mahal. Pakaian kimono berbeda dengan yukkata yang dipakai saat musim panas. Terutama soal corak.
Selama beberapa generasi, masyarakat Jepang hanya mengenakan satu busana, yakni kimono. Kimono bukan sekedar pakaian biasa, melainkan juga melambangkan budaya dan keindahan Jepang. Melalui kimono, Jepang ingin membuktikan bahwa pakaian memiliki fungsi estetika.
Kurenai tahu betul bagaimana menilai pakaian tradisional negaranya itu. Laki-laki yang berdiri di hadapannya mewakilinya.
"Aku menyukai sejarah dan aku juga tahu sejarah pakaian trasisional ini. Kimono sendiri berasal dari kata “ki” yang artinya pakai dan “mono” yang berarti benda. Kimono memiliki banyak jenis gaya dan warna. Umumnya, kimono dijahit menggunakan tangan dengan pola berbentuk “T” yang terdiri dari empat lembar kain atau tan dan diikat dengan obi." Batin Kurenai.
Kimono merupakan simbol yang dapat mengungkap identitas pemakainya. Hal ini tercermin dari jenis kimono yang dikenakan. Ya, memang ada beberapa jenis kimono sesuai dengan fungsinya. Kimono pria dan wanita juga berbeda, terutama terletak pada pola potongan dan warna. Kimono pria cenderung gelap dan kimono wanita berwarna-warni bahkan banyak yang bermotif juga.
"Laki-laki yang berdiri di hadapanku bahkan memakai sandal kayu khas negaraku. Kimono berwarna abu-abu. Siapa laki-laki ini?" Batin Kurenai lagi.
Laki-laki itu pun membuka masker yang menutupi mulutnya. Ia lalu tersenyum pada Kurenai.
Kurenai terbelalak tak percaya. "Ma-Master...."
Rasanya otot kaki terasa sangat melemah. Tak ada kekuatan lagi untuk menopang tubuhnya. Kurenai terjatuh dan seolah tak memiliki tenaga. Ia menyilangkan kedua tubuhnya dan ketakutan.
"Sudah lama ya, Bunga Kecilku?" Kata Laki-Laki yang Kurenai ketahui sebagai sosok seorang 'Master'.
Laki-laki itu berjalan mendekati Kurenai yang tak berdaya di hadapannya. Suara khas sandal kayu seolah menjadi satu-satunya latar musik yang mendominasi adegan ini.
Selangkah demi selangkah, jarak antara dirinya dengan Kurenai terpangkas. Selangkah demi selangkah, ia berhasil membuat Kurenai semakin ketakutan, semakin tak kuasa berbuat apa-apa. Lihatlah tubuh ayunya itu, gemetar hebat tak bisa disembunyikan.
__ADS_1
"Setelah mencari selama 9 tahun, akhirnya aku menemukanmu di tempat yang sesungguhnya tak pernah aku bayangkan masuk ke dalam daftar daerah pencarianku." Kata Laki-Laki itu.
"..."
"Mendekati keturunan Kazehaya, memiliki anak dari Kazehaya Yoga, dan hidup layak di Inggris. Ho, wanita sepertimu bisa bernasib jauh lebih baik juga. Padahal, surgaku juga menawarkan hal yang sama. Uang dan uang. Kau menyukai kata dengan empat huruf ini, kan? Kau bahkan sangat menggilainya dan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya."
"..."
Laki-laki itu membukai kaos tangan hitam yang ia pakai. Ia lalu sedikit menunduk dan menyentuh dagu Kurenai. Ia ingin melihat wajah Kurenai yang ketakutan karena dirinya.
Ada air mata di sela kedua pipi mulus dan putih itu. Mata indah itu berkaca-kaca.
"Kecantikanmu tidak termakan usia. Untuk itu aku tak jijik kepadamu karena hal ini meski sudah puluhan atau bahan ratusan laki-laki yang menikmati tubuhmu. Apa... apa sampai saat ini kau masih menggunakan cara yang lama untuk mendapatkan uang? Dulu kau rela melakukan apapun asal bisa mendapatkan uang dengan cepat. Awal-awal kau melakukannya untuk makan, kemudian lama-lama kau melakukannya untuk tahta dan kekuasaan. Haha, mataku memang tak pernah salah menilaimu. Wahai Queen of Poisoned Snake."
"..."
Identitas dari pemegang Queen adalah Kurenai. Ia memang seorang ratu, ratu ular berbisa dimana dulu sangat polos lama kelamaan berubah menjadi berbisa. Ia cerdas dan memiliki keinginan terstruktur. Ia pandai memanipulasi dengan bibir manisnya. Ia pandai menggoda dengan tubuh indahnya. Ia bisa meluluh lantahkan jiwa dengan sentuhannya. Ia bisa membuat laki-laki tunduk terhadapnya.
"Meski sudah 9 tahun berlalu, harusnya kau tak melupakanku, kan? Seorang Tuan yang memiliki jiwa dan ragamu."
Ingatan sangat kelam menusuk paksa memori otak Kurenai dimana ia merasakan rantai memenjarakan kaki dan tangannya. Dimana ia tak bisa kemana-mana karena terpenjara. Hari-hari dimana tak bisa membedakan mana siang dan mana malam.
"Ibu, ada apa?" Tanya Alvin yang baru saja pulang sekolah. Ia berjalan mendekati ibunya.
Melihat putranya, Kurenai seolah mendapatkan pasokan energi dimana ia bisa menepis tangan laki-laki yang menyentuh dagunya. Ia bahkan bisa bangun dari tak berdayanya untuk memeluk Alvin. Mendekapnya erat agar wajah Alvin tak dapat di lihat oleh 'Master'.
"Jangan libatkan Alvin!" Kata Kurenai keras.
"Ibu, ada apa? Siapa laki-laki ini?" Tanya Alvin yang berusaha melihat laki-laki di hadapan ibunya. Namun gagal karena ia sulit keluar dari dekapan super erat sang ibu.
Laki-laki itu kembali memakai sarung tangannya. Memakai kembali mantel coklat dan topi fedoranya. Ia lalu tersenyum.
"Aku berubah pikiran. Aku memiliki ide yang menarik untuk kalian. Dengan kekuatanku, aku bisa membuatmu dan anakmu kembali menginjakkan bumi Jepang."
"..."
"Tentu saja kau tak akan bisa menolaknya."
"..." Kurenai membeku.
Laki-laki itu menatap Alvin dengan seringai di sudut bibirnya. "Kau tahu kan akibatnya jika menolak? Aku ini tidak suka membunuh langsung tikus yang datang ke rumahku. Aku lebih suka membuat jebakan, membuat mereka terjerat umpanku, dan masuk ke dalam perangkapmu. Lalu, setelah tikus itu tertangap, aku akan membunuhnya."
"..." Kurenai tahu, itu adalah ancaman. Tidak ada yang bisa keluar dari genggaman 'Master'. Meski sudah berusaha menghilang selama 9 tahun ini, nyatanya masih bisa 'Master' temukan.
Apa itu artinya saat ini sudah waktunya ia dan Alvin kembali ke Jepang?
.
__ADS_1
.
.
Waktu berlalu. Di usia 16 tahun, Alvin kembali ke Jepang untuk melanjutkan sekolah di tingkat sekolah menengah atas dan di tahun kedua, ia berjumpa Melody. Ia bahkan bertemu dengan Yudha juga. Yudha yang mencarinya.
Bahkan, di masa sekolah menengahnya, Alvin memiliki kisah yang indah karena mengenal Melody. Melody memberikan dan mengajarinya cara tertawa, cara menghargai hidup, cara menghargai diri sendiri, cara menghargai orang lain juga. Melody menorehkan tinta yang tajam di lembar memori otaknya dimana Melody bersedia menjadi kekasihnya meski dalam waktu yang tak lama.
Alvin tidak melupakan kenangan dengan Yudha atau pun kenangan lain terutama soal Melody. Yang ia lupakan hanya soal kenangan kecelakaan itu dan apa yang terjadi di sana. Seperti amnesia disasosiatif yang dialami olehnya. Ia lupa ingatan sebagian pada kenangan tertentu.
Ia ingin melupakan fakta ibunya ******* dan ingin melupakan jika ibunya itu salah satu penyebab kematian sang ayah, Kazehaya Yoga. Bagi anak kecil seperti dirinya sewaktu itu, hal ini sangatlah berat untuknyam
END OF FLASHBACK.
.
.
.
NORMAL TIME...
"Alvin-sama? Syukurlah Anda sudah sadar." Kata Daisuke.
Alvin memeriksa ke sekelilingnya. Ruangan yang di dominasi warna hijau muda. Warna yang menenangkan. Ia menyukainya.
Alvin mengangkat tangan kirinya. Ada infus di sana.
"Apa yang terjadi padaku?" Tanya Alvin lemah.
"Anda jatuh pingsan tadi siang." Jawab Daisuke. "Saya akan memanggil dokter untuk Anda." Lanjutnya.
"Hn." Gumam Alvin.
Daisuke pun meninggalkan kamar inap Alvin.
Alvin masih bisa merasakan sakit di kepalanya. Namun kali ini tidak sesakit yang tadi siang. Tubuhnya justru terasa melemah dan tulangnya juga sakit.
"Master ya? Siapa dia? Kenapa ibu bisa ketakutan waktu itu? Kenapa ibu tak memperbolehkan aku melihat wajahnya?" Batin Alvin.
Di otaknya saat ini, dipenuhi banyak pertanyaan yang menuntut jawaban.
.
.
.
__ADS_1
"Sayang, kita sudah bisa kembali ke Jepang. Kau senang, kan? Di Jepang kau bisa bertemu dengan Yudha yang sangat kau rindukan. Ada paman baik hati yang akan membantu kita."