MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pesta 3: Teman Ngumpul


__ADS_3

Melody kesal bukan main. Ia memukuli Yudha tanpa tenaga berarti.


"Katanya cuma sepuluh menit? Kenapa bisa sampai setengah jam sih? Dua kali lagi. Yudha gila! Yudha tukang bohong! Yudha ngeselin!" Omel Melody.


"..." Yudha diam saja karena tak mau membuat Melody kesal menjadi-jadi.


"Ini acara pesta kita, kita yang undang mereka. Kita malah abaikan mereka dan enak-enakan di kamar. Yudha tidak menepati janji! Aku sedang kesal, kau malah diam saja, berbicara kek? Keluarkan suaramu, Yudh!" Rengek Melody.


Melody mencoba membuka mulut Yudha agar berbicara karena sedari tadi, Yudha enggan membalas ocehannya.


"Yudha ngomong donk! Ayo ngomong!" Pinta Melody. Yudha masih diam. Melody semakin kesal. "Cih, yasudah kalau tak mau ngomong. Aku juga tak mau ngomong lagi sama dirimu! Biar, biarpun kau berkata apa, aku tak akan mendengarkanmu!"


"..."


"..."


"..."


Belum ada lima menit, Melody sudah tak tahan dengan kediamannya. Ia tak bisa tinggal diam.


"Ih, Yudha kok seperti itu sih? Hei Yudh, ngomong! Tanggung jawab atas ulahmu! Lihat, bajuku jadi kotor karena kau tak membuka semuanya! Aku jadi harus ganti baju, kan? Meski Ayane-nee membawa baju lebih untukku, tapi males kalau suruh ganti baju!"


"..."


"Dandananku yang cantik jadi rusak seperti ini, kan? Yudha, aku tak mau make up ulang! Ngantuk!"


"..."


"Salah Yudha! Semua salah Yudha!"


"..."


"Pokoknya semua salah Yudha! Ayane-nee pasti lumutan nunggu di luar kamar. Shuhei-san pasti juga sudah kembali dari antar nenek dan kedua ibu kita."


"..."


"Suami jahat. Suami tidak peka. Suma tega pada istrinya yang hamil. Kau tadi terlalu kasar mainnya, Yudh. Sadar tidak sih? Sakit sekali rasanya!"


"..."


"..."


Kembali ada jeda yang cukup lama. Melody sudah kehabisan kata-kata rupanya.


"Sudah ngomelnya?" Tanya Yudha.


"Sudah." Jawab Melody.


Yudha tersenyum lalu mengelus rambut Melody. "Maaf tadi khilaf karena tak tahan menikmati keindahanmu. Maaf juga karena sudah bermain kasar dan menyakitimu. Kau istirahat saja, aku akan kembali ke pesta untuk meminta maaf pada tamu undangan." Kata Yudha.


Melody menangguk. "Jangan dekat-dekat ular genit!"


"Namanya Yura, Melody."


"Bodo amat, pokoknya kau tak boleh dekat-dekat dengan dia! Parfumnya Cenel nomor 8, awas saja jika nanti ada bau parfum itu nempel di bajumu! Habis kau!"


"Tidak akan.."


Yudha ganti pakaian karena pakaiannya lumayan lecek akibat pergualatan cinta bergairah dengan Melody. Setelah itu ia mengecup kening Melody dan berjalan keluar kamar hotel untuk menemui para tamu undangan di aula pesta.


"Melody sudah menunggu di dalam. Masuklah! Tolong temani dia!" Kata Yudha kepada Ayane yang berdiri di dekat pintu kamar. Sebenarnya ia sangat kaget, tapi beruntung ia cukup pandai menyembunyikan rasa kagetnya itu.


Dan lagi, Shuhei pun juga sudah ada di situ.

__ADS_1


"Baik, Yudha-sama." Kata Ayane. Ia lalu masuk ke dalam kamar untuk menemui Melody.


"Shuhei, ayo ke aula pesta!" Ajak Yudha.


"Ya, Yudha-sama." Kata Shuhei. Ia berjalan menyamakan diri dengan Yudha. "Yudha-sama..." Panggilnya.


"Ya?"


"Apa Anda tadi kaget?"


"Hah?"


.


.


.


Di aula pesta...


"Ngantar istri hampir sejam, ngapain saja mas bro?" Tanya Nao.


"Kepo." Kata Yudha singkat.


"Yudha pasti jagain Melody dululah, Nao-kun. Melody kan sedang hamil besar, Yudha harus selalu siaga untuk Melody." Kata Ayumi.


"Iya tahu, jagain Melody itu penting. Sangat penting. Namun, apa kau sampai harus ganti pakaian segala, Yudh?" Tanya Nao.


"Memangnya masalah jika aku ganti baju?" Tanya Yudha.


"Ya tidak sih, ya maksudku kan pakaian yang tadi juga tak masalah. Biasanya kau itu tipe woles soal pakaian." Kata Nao.


"Kotor, bau keringat karena terlalu lama dipakai." Kata Yudha.


"Hn."


"Lehermu kenapa, Yudh? Memerah seperti itu." Tanya Neil yang sedari tadi memperhatikan leher Yudha. Memerah tapi bukan terluka. Ya, sedikit paham dan agak curiga juga sih.


Nao dan Ayumi memincingkan mata. Shin dan Yura hanya diam biasa saja.


Yudha memegang lehernya. Ia ingat darimana ia mendapatkan rona merah seperti itu. Itu pasti karena hal yang tadi.


"Ini Melody yang mencoba mengigitku, tapi aku berhasil lepas sebelum dia melakukannya." Jawab Yudha jujur.


Nao tertawa. "Apa yang sedang kau mainkan dengan Melody sih, Yudh? Ada-ada saja kau ini. Seperti anak kecil saja." Kata Nao.


"Nao polos atau pura-pura bodoh? Sudah jelas Yudha dan Melody bermain di ranjang." Batin Ayumi, Neil, Shin, dan Yura.


"Hei Yudh, Alvin mana? Aku tak melihatnya." Tanya Shin yang merasa aneh karena sedari tadi ia sama sekali belum melihat Alvin.


"Kau mencariku, Shin?" Tanya Alvin yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


"Hei bro, sudah lama ya?" Shin dan Alvin saling berpelukan ala sahabat. "Apa kabar?" Lanjutnya.


"Baik-baik..." Kata Alvin.


Alvin juga saling berpelukkan sahabat dengan Nao, Neil, dan juga dengan Yudha. Ya, ada sedikit perbedaan saat Alvin memeluk Yudha. Terasa asing. Shin menyadarinya.


"Siapa ini, ehem?" Tanya Nao.


"Sepupumu sendiri kau lupakan? Oke, aku akan hubungi paman agar mencoret namamu dari daftar ahli waris!" Kata Mia.


"Hoi, jangan seperti itu donk! Aku kan hanya sedang bercanda. Lagian kau datang sambil merangkul lengan Alvin, kukira kau sedang berpacaran dengan Alvin!" Kata Nao.

__ADS_1


Dan pletak, Neil memukul kepala Nao. Membuat Nao meringis kesakitan.


"Apaan sih kakak ipar? Sakit tahu!" Protes Nao.


"Neil-onii-sama, jangan sering-sering memukul kepalah Nao-kun, nanti dia semakin bodoh. Padahal dia sudah sangat bodoh saat ini." Pinta Ayumi.


"Justru dengan dipukul makanya dia bisa semakin pintar." Kata Neil.


Nao mendekat ke arah Yudha dan mencoba memeluk Yudha. Yudha menahan jidat Nao agar tidak memeluknya.


"Yudha-chan, sahabatmu yang kawaii ini dijahati duo saudara kembar!" Rengek Nao.


"Hentikan tingkah konyolmu itu, Nao! Menyingkirlah!" Kata Yudha.


"Tidak mau, aku ingin dipeluk olehmu, Yudh!"


"Cih, aku hanya mau memeluk istriku!"


"Yudha, tapi baru saja kau pelukkan dengan Alvin!"


"Shuhei, singkirkan Nao!"


"Baik, Yudha-sama."


Nao langsung menjauh dari Yudha. Shuhei itu sangat menuruti perintah Yudha. Shuhei tak masalah jika harus memukul kepala Nao. Nao yang tahu kemampuan bela diri Shuhei, lebih memilih menjauhi sang singa penjaga.


"Ano, bisa tidak jangan bertingkah seperti anak kecil? Memukan." Kata Mia.


Semua terdiam. Benar juga kata Mia pikir mereka semua.


"Semua, aku permisi ke toilet." Kata Yura yang pada akhirnya tak tahan juga dengan kebrisikan yang tercipta.


"Oke."


"Woke."


"Mau aku antar?" Tanya Shin.


"Aku bisa sendiri kok, Shin. Kau temani saja yang lain." Jawab Yura.


"Baiklah, aku menunggumu di sini." Kata Shin.


"Iya." Yura lalu pergi ke toilet.


Mia menatap jauh Yura yang meninggalkan aula pesta. Ada perasaan tak nyaman di dadanya. "Yudha-san, Melody ada dimana?" Tanya Mia karena sedari dia datang, ia sama sekali belum melihat Melody.


"Di kamarnya. Kau sudah tahu nomor kamarnya?" Jawab Yudha.


"Iya, sudah. Dia sudah memberitahu nomor kamarnya kepadaku kemarin. Baiklah, aku mau menemuinya saja." Kata Mia. "Semua, aku permisi dulu mau menemui Melody untuk mengucapkan selamat."


"Iya."


"Oke deh."


"Alvin-senpai, aku tinggal dulu ya.." Kata Mia.


"Iya." Jawab Alvin. Sesungguhnya Alvin ingin melihat Melody, tapi ia tahan, Yudha pasti tak akan mengizinkannya.


Mia lalu berjalan cepat menuju kamar Melody. Tidak juga, selain itu, ia hanya ingin mengikuti Yura. Instingnya berkata jika Yura sedang menyembunyikan sesuatu.


Dan benar saja, Yura tidak ke toilet, tapi berajalan menuju kamar Melody. Mia mengintip di lorong hotel, rupanya Melody sedang berada di depan kamarnya sendirian bersama Yura.


"Apa yang mereka bicarakan?" Batin Mia.

__ADS_1


__ADS_2