MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Malam Pertama 2: Pengantin Gaje


__ADS_3

Kamar pengantin Melody dengan Yudha..


Sesuatu memang telah terjadi.


"Sudah.." Kata Yudha setelah selesai membantu melepaskan high heels yang dipakai Melody.


Tanpa sungkan juga Yudha memijat kaki Melody yang bengkak. Ternyata mereka berdua memang melakukan sesuatu, sesuatu yang salah diartikan orang tua mereka.


Mereka berdua hanya sedang berusaha melepaskan high heels yang Melody pakai! Karena kaki Melody bengkak, makanya Melody berteriak-teriak kesakitan saat Yudha berusaha membantu melepaskannya.


"Terima kasih." Kata Melody yang menangis karena kakinya sangat sakit.


"Aku sudah menyuruhmu memakai alas kaki tidak ber-heels, kau bisa memakai sandal biasa. Toh tidak akan terlihat karena tertutup gaunmu." Omel Yudha.


"Sudahku bilang aku akan menjadikan pernikahan ini tidak terlupakan! Aku akan berikan yang terbaik agar tidak membuat malu keluargamu, terutama Kakek."


Selain itu, Melody teringat dengan 'saran' Yura yang entah kenapa sangat mengusik ingatannya.


'Sebaiknya tidak membuat malu keluarga Kazehaya!'


Melody tidak pernah berpikir akan membuat malu kakek Wijaya dan keluarganya. Bukankah kakek Wijaya sudah membantu melunasi utang-utang keluarganya? Menjadi menantu Kazehaya adalah cara untuk mengucapkan terima kasih.


"Tapi apa perlu kau mengorbankan kakimu?" Kata-kata Yudha terkesan mengkhawatirkan Melody.


Yudha menghawatirkannya?


Rasanya menyenangkan saat Yudha mulai mengkhawatirkan dirinya.


"Tidak apa-apa. Luka di kakiku ini akan membaik dalam beberapa hari ke depan. Mandilah dulu, aku akan melepaskan semua riasan ini!"


Kata Melody.


Yudha hanya mengangguk dan bergegas mandi. Setelah selesai mandi, Yudha meminta Melody untuk gantian membersihkan diri.


"Mel, aku sudah selesai. Kau mandilah!" Yudha keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Cukup ke bawah sehingga bisa menampilkan bantuk tubuh Yudha yang sempurna.


Meski termasuk kurus untuk ukuran seorang laki-laki, tapi lihatlah itu, enam roti sobek impian para cewekpun Yudha miliki. Faktanya, Yudha tipe orang yang peduli dengan kesehatan. Meski tidsk tiap hari, Yudha akan menyempatkan diri untuk jogging.


"Kau kenapa tidak pakai baju?" Tanya Melody. Ia berusaha menahan gejolak jiwanya yang menggila.


Melody bukanlah salah satu penggemar Yudha, tapi pemandangan 'panas' di hadapannya ini menggoda iman. Iman untuk ke arah yang lebih berani?


Bukan, Melody masih polos untuk itu. Ia hanya ingin mengambil ponselnya dan memotret tubuh sexy Yudha! Kpopers mode on!


"Aku tak bawa baju ganti." Jawab Yudha santai.


Ah benar juga. "Di almari ada piyama tidur, kau bisa memakainya!" Kata Melody.


Yudha mengambil piyama yang Melody maksud dan memakainya. Sebuah piyama merah maroon.


Usai berganti pakaian, Yudha menghampiri Melody yang tengah sibuk melepaskan asesoris pengantinya.


Melody terlihat kesulitan melepaskan hiasan rambutnya.


"Butuh bantuan?" Tanya Yudha.


"Aku bisa sendiri!" Jawab Melody. Ia kembali mencoba melepaskan hiasan rambut itu, tapi gagal lagi. Kali ini malah semakin sulit dilepas, nyangkut di rambut panjangnya.


"Biar aku saja!" Serobot Yudha.


Melodypun hanya membiarkannya. "Cewek itu aneh ya, Yudh.."

__ADS_1


"Hn?" Yudha melepaskan mahkota kristal yang Melody kenakan.


"Pengen cantik susah, habis cantik juga susah."


"Bukankah cewek memang seperti itu? Ingin terlihat baik di mata orang lain."


Melody tertegun. Hebat juga kata-kata ini keluar dari mulut Yudha yang biasanya pedas dan beracun.


"Ho, belajar dari mana kosa kata seperti itu, Yudh? Bisa saja dirimu." Puji Melody.


"Ibu yang bilang. Aku hanya mengulangi kata-kata darinya."


Melody langsung down. "Aku tarik pujianku lagi! Itu milik ibu Mikan!"


"Memuji kok ditarik. Dasar labil!"


Ini dia, mulut pedas penuh racun itu kembali muncul.


"Aku tak perlu membalas ucapanmu itu, kan? Ini sudah terlalu malam. Sudah terlalu lelah juga." Kata Melody. Ia menggembungkan kedua pipinya.


Yudha juga berhasil melepas kain slayer pengantin yang panjang itu.


"Dibalas juga tidak apa-apa. Mumpung aku tak melarangmu." Kata Yudha.


"Haish.."


"Sudah!" Kata Yudha yang sudah melepaskan segala hiasan rambut di kepala Melody. Mahkota, japitan lidi, sampai kain slayer pengantinpun.


Lebih cepat dari dugaan Melody.


"Terima kasih ya.."


"..."


"..."


"..."


"Ada apa, Mel?" Tanya Yudha.


"Aku tak bisa melepaskan resliting gaun pengantin ini. Bi-bisakah ka-kau mem-membantuku?" Tanya Melody malu-malu.


Terang saja, Yudha itu laki-laki dan Melody merasa ini tidak pantas dilakukan mengingat ia seolah meminta Yudha 'melepaskan' pakaiannya.


Dan Yudha melakukannya dengan super cepat dalam waktu tak sampai sedetik.


Melody jawdrop atau menganga tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dirinya yang menahan malu setengah mati, sementara Yudha sangat santai dan seolah tak terganggu dengan permintaannya.


"Mandilah sana, bau!" Suruh Yudha. Ia lalu berbalik dan duduk di kursi yang ada di kamar pengantin itu untuk bermain ponsel.


Tak mau ambi pusing dengan keunikan sikap Yudha, Melody bangun dari duduknya dan lelas mandi. Tak lupa ia menahan kuat-kuat gaun pengantinnya itu agar tak melorot. Ia juga sudah menyiapkan piyama tidurnya sebelum hal yang tak diingin seperti lupa bawa baju ganti terjadi.


.


.


.


"Aku tidak tahu jika dia memiliki punggung yang indah." Batin Yudha.


.

__ADS_1


.


.


Setelah selesai membersihkan diri, tercipta kecanggungan di antara mereka berdua.


Ini pertama kalinya mereka terjebak dalam tempat tidur yang sama, kamar yang sama. Bagaimana dengan semalam? Semalam tak masuk hitungan karena hanya sebentar. Yudha memahami apa yang Melody rasakan. Yudha juga merasakannya.


"Tenang saja, aku tidak berniat berbuat aneh denganmu. Aku tidak tertarik dengan dada ratamu!" Kata Yudha santai.


Mendengar kata dada rata dari mulut Yudha, empat sudut siku-siku kembali muncul di kening Melody.


Melody tahu dirinya itu tidak seksi dengan dada besar khas gadis pada umumnya, tapi gadis mana yang tidak merasa terhina jika mendapat komen negative tentang keadaan fisiknya.


Ingin sekali menghadiahi Yudha bogem mentah. Sayang, ia sudah terlalu lelah menanggapi ocehan Yudha. Ia hanya mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan untuk meredam emosinya.


"Bukan masalah itu."


Yudha menaikan alisnya karena heran. "Lalu?"


"Sebenarnya.. ak..aku.."


"Kau kenapa?"


"A-aku..."


"…" Yudha menatap Melody.


"A-ano.. ak..aku…"


"Hm?"


"Ak..aku… I-itu…"


"Oh, jadi kau ingin melakukan 'itu'?"


Tanya Yudha. Wajahnya datar saat mengatakannya.


Wajah Melody langsung memanas. Melakukan 'itu'? Ayolah, Melody masih waras kok. Ia juga tidak terpengaruh alkohol sama sema sekali.


"B-bu-bu-bukan, Yudha. Bukan itu!"


"Lalu?"


"Se-sebenarnya.. ak-aku…"


"Berbicaralah yang benar, Melody!"


"Sesebenarnya kalau tidur aku sedikit berbeda.." Kata Melody cepat tanpa jeda.


Gaya tidurnya memang mengkhawatirkan. Melody sering memikirkan hal ini dalam beberapa hari terakhir.


Ia tahu jika setelah menikah dengan Yudha, ia akan tidur sekamar dengan Yudha dan akan berlangsung terus ke depannya.


Ia ingin jujur pada Yudha sejak awalnya agar tidak terjadi banyak kesalah pahaman di kemudian hari.


Toh, jujur tak akan membuat ajur, kan?


Bukankah sebaiknya ia terbuka saja pada Yudha?


Agar ke depannya mengurangi kemungkinan masalah yang akan terjadi. Setidaknya tidak membuat Yudha kaget dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2