MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Hati Yang Terluka 3


__ADS_3

Thanks banget buat semua yang masih ikuti kisah Melodi Cinta: Tiba-Tiba Nikah, alur yang panjang dan melelahkan memang. Namun ya.. lagi-lagi, sulit buatku memangkas penggunaan kata-kata. Jika mau lebih seru, yuk mari pantengin NYAMAR JADI COWOK, Kocaknya kangmas Satria dan pacarnya neng Sifa yang nyamar jadi cowok. Musuhan tapi sekost!


Asyik kok. Berasa balik ke dunia perkuliahan.


_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_


Mia terdiam. Meratapi betapa sakit tubuhnya saat ini. Remuk dan hancur berkeping-keping.


Perlahan air mata kembali jatuh dari kedua mata lelahnnya, hari masih gelap, matahari belum nampak, bagaimana ia harus menatap Alvin saat bangun tidur nanti? Setelah apa yang Alvin lakukan padanya tadi… menciumnya, bahkan melepas pakaiannya, dan juga memperkosanya.


Kenapa Mia merasa berdebar-debar saat ini? Jantungnya begitu nyeri bagai tertusuk duri yang begitu runcing dan tajam.


Gadis itu sedikit frustasi, ia memakai kedua lengannya untuk menutupi wajahnya, bingung apa yang harus ia lakukan nanti setelah bangun. Karena merasa dipusingkan dengan pemikiran-pemikiran kemelut di otakya, ia pun memutuskan untuk kembali tidur di kamarnya hotel, seranjang dengan Alvin yang masih memeluknya dengan mata yang terpejam dengan damai.


Melewati malam-malam yang rasanya lebih panjang dari biasanya. Melewati malam dalam balutan luka luar dan dalam. Dalamnya sakit dan keperihan yang tak terkira. Sakit daei yang tersakit. Perih dan yang terperih.


"Kenapa kau melakukan hal menjijikkan seperti ini, Senpai? Kau mencintai Melody, tapi kenapa kau melakukannya denganku? Dengan paksaan yang kejam. Aku memang mencintaimu, tapi mendapatkan perlakuan seperti ini membuatku merasa hina. Aku merasa sangat kotor... Senpai, ini mimpi, kan? Ini hnya mimpi, kan? Tolong katakan padaku jika ini hanyalah mimpi! Jika ini hanyalah aku yang sedang mimpi buruk. Tolong jika aku bangun nanti, semua seperti biasanya! Tidak ada apa-apa dan tak terjadi apa-apa."


Mia dan Alvin terlelap lelah karena aktivitas yang mereka lakukan sangat menguras tenaga. Sama seperti harapan Mia, semoga ini memang hanyalah sebuah mimpi belaka. Ia masih ingin bercengkrama dengan senyuman tanpa beban ketika bersama dengan Alvin nanti.


Sungguh bisa?


Apa bisa hal seperti itu dilakukan?


Ah, maksudnya apakah harapannya sungguh akan terwujud? Sisi lain hati kecilnya tak mendukung harapan itu. Sisi lain hati kecilnya tahu, apa yang baru saja terjadi padanya itu adalah sebuah kenyataan.


Alvin sudah memperkosanya adalah sebuah fakta!


.


.


.


Pagi harinya..


Tuuuut Tuuuut.


"Cih, Mia kemana sih? Sudah kirim pesan katanya mau ketemuan, tapi belum kelihatan juga batang hidungnya! Aku saat ini sudah di cafe tempat yang dia omongkan semalam! Jangan coba ingkar perjanjian deh!" Dumel Ayumi.


Ayumi sedang menunggu Mia di Factory & Labo Kanno Coffee.


Selintas terlihat seperti laboratorium seni bangunannya, sesungguhnya Factory & Labo Kanno Coffee yang berada di kawasan Meguro-Tokyo ini tempat mengerjakan tugas dan mengobrol intim yang nyaman. Berlantai dua, salah satu bagian lantai bawahnya dirancang bak lab, dengan mesin sangrai sebagai pusatnya. Semua staf, termasuk yang bertugas sebagai barista dan pramusaji, memakai jas lab. Namun senyum senantiasa terpasang di wajah mereka saat melayani pengunjung.


"Americano coffe dan pasta gingseng Anda, Nona! Silahkan dinikmati!" Seorang pelayan membawakan makanan dan minuman yang Ayumi pesan.


"Terima kasih banyak!" Kata Ayumi yang berusaha tersenyum meski saat ini ia sedang sangat kesal. Ia susah menunggu Mia semenjak setengah jam yang lalu, tapi Mia tak kunjung datang juga.


"Apa aku tanya Ayane-san saja? Dia pasti juga mau ke sini, kan? Mia semalam bilang dia juga mengundang Ayane-san. Harusnya Ayane-san ada di sini! Kenapa pada telat sih? Huh, sebal deh. Seperti bukan budaya orang Jepang saja! Hei, sebaiknya lebih awal dari pada tepat waktu. Ini bukan lagi telat, tapi telat bangeeet." Gerutu Ayumi.


Ia memakan pasta gingseng pesanannya dengan kesal.


Tak lama setelah itu, Ayane datang dan ia lekas menghampiri Ayumi yang sedang makan sendirian di Cafe yang mulai nampak banyak pengunjung.


"Ohayou, Ayumi-san!" Sapa Ayane. Ia nampak terburu-buru.


"Oshoi, Ayane-san! Lama sekali! Huhu, aku menunggumu sampai lumutan!" Kata Ayumi.


"Maaf telat, tadi kebingungan mencari Nona Melody karena tidak pulang ke rumah sakit." Jelas Ayane.


"Apa?" Kaget Ayumi. "Ba-bagaimana bisa dia tidak kembali? Bukankah dia menghadiri undangan pesta perayaan keberhasilan Emperor Group di hotel? Bersama paman Aron, kan?" Setahu Ayumi ini yang terjadi.


"Benar. Seperti itu."


"Lalu kenapa dia tidak kembali ke rumah sakit? Jangan bilang dia diculik lagi?"


"Bukan seperti itu, Ayumi-san! Nona Melody menginap di kantor Yudha-sama yang ada di Next In Co. Nona dan Aron-san mempelajari data-data yang sudah Yudha-sama kumpulkan." Jelas Ayane.


Ayumi mendesah lega. "Astaga, aku kira sesuatu yang buruk terjadi padanya."


Ayane lalu duduk di sebelah Ayumi. Ia memesan cappucino dan lasagna.


"Lalu, dimana Mia-san, Ayumi-san? Saya belum melihat dia." Tanya Ayane yang sedari tadi tidak melihat Mia.


"Hah? Justru aku yang mau tanya padamu, dimana si Mia itu? Aku sudah di sini semenjak lebih dari setengah jam yang lalu, tapi dia tidak nampak juga batang hidungnya yang mancung dan kecil itu. Sungguh menyebalkan!" Ayumi masih kesal.


"Sudah mencoba menghubunginya?" Tanya Ayane.


"Sudah, aku meneleponnya berkali-kali tapi tidak dijawab." Jawab Mia. "Aku juga sudah coba telepon kerumahnya melalui, tapi maid rumah Mia bilang jika Mia menginap di rumahku." Tambah Ayumi.


"Menginap di rumah Anda?" Ayane bingung.


"Nah, kan gila itu bocah satu. Dia semalam menginap dimana? Melakukan apa sampai-sampai tidak bilang kemana perginya kepada orang rumah. Kalau sampai terjadi apa-apa bagaimana? Situasi sedang bahaya sekali."


Ayane dan Ayumi terdiam berdua, saling tatap seolah saling bertanya ada apa ini sebenarnya.

__ADS_1


"Aku… punya firasat buruk." Ujar Ayumi dengan nada lembut.


"Yah, aku juga…" Ayane menyetujuinya.


"Mia..." Ayumi kembali berucap, dengan ragu Ayane bertanya pada Ayane. "Dia semalam bilang mau mengikuti Alvin, kan?" Lanjutnya.


Mata Ayane terbelalak mendengar pernyataan Ayumi, Mia mengikuti Alvin?


"Mia itu menyukai Alvin, dia merasa jika Alvin bertingkah aneh. Dia pun memutuskan untuk mengawasi Alvin akhir-akhir ini." Kata Ayumi.


"Anda tahu dari mana jika Mia-san menyukai Alvin-sama?" Tanya Ayane. Menurut Ayane, yang tahu soal ini hanyalah Nona Mudanya, Melody dan dirinya yang tak sengaja diceritai oleh Melody yang keceplosan. Sebenarnya ia diminta menjaga rahasia ini juga, tapi nyatanya Ayumi malah mengetahuinya dengan sendirinya.


"Feeling seorang sahabat." Jawab Ayane tersenyum.


"Ah, Mia-san itu memang menyukai kakak iparnya Nona Melody, aku juga tidak mengerti itu sejak kapan. Namun, Mia-san cukup pandai mengendalikan perasaannya."


Ayumi dan Ayane berpikir jika Mia itu pasti sangat sulit menyimpan perasaan pada orang yang jelas-jelas menyukai wanita lain dan wanita lain itu adalah sahabatnya sendiri. Sekuat apa hati Mia hingga bisa bertahan sampai saat ini?


"Kalau aku sih mendukung Mia bersama Alvin, bagaiman dengan Ayane sendiri? Apa mendukung Mia juga?" Tanya Ayumi.


Ayane sebenarnya tidak terlalu tertarik pada kisah para anak kudah yang umurnya sekitar 4 atau 5 tahun di bawahnya ini. Namun, semenjak ia mendapatkan tugas untuk menjaga Melody, ia menjadi lebih terbuka akan hal-hal seperti ini. Ia tak berhak ikut campur, tapi nampaknya Ayumi sangat mengharapkan opini darinya.


"Saya sudah pasti mendukung yang terbaik untuk Mia-san." Jawab Ayane bijak.


"Jieeh, Ayane-san sedikit lebih terbuka dong!"


Mereka berdua tertawa dan memutuskan untuk menunggu Mia lebih lama lagi sembari menikmati makanan dan minuman yang sudah di pesan. Suasana Cafe yang nyaman membuat perasaan yang penuh dengan rasa kesal itu perlahan menghilang berganti suasana hati yang jauh lebih baik, jauh lebih positif.


.


.


.


Hotel tempat Mia dan Alvin menginap.


Sinar mentari pagi yang cerah menembus ruangan dan menyorot langsung melalui sela-sela jendela.


Sepasang mata milik Mia itu perlahan terbuka, sinar mentari pagi terlihat sangat cerah, tidak bisa dibilang pagi juga, karena saat ini sudah jam 11, dan gadis berambut coklat itu masih terbaring di tempat tidurnya, namun keberadaannya tidak sendiri.


Tubuh gadis itu sedang di lingkari oleh sepasang lengan yang mendekapnya erat, menyadari keadaan tubuhnya sekarang yang telanjang, Hanaza Mia nama wanita itu menangis kembali karena mengingat apa yang telah laki-laki di belakangnya itu lakukan tadi malam.


"Ini bukanlah mimpi rupanya.."


Ingatan-ingat soal kejadian semalam seperti sedang diputar ulang oleh CCTV otaknya. Sangat runtut sampai ke hal-hal yang paling menyakitkan hati. Tangisannya pecah. Ia tak bisa mengendalikan dirinya saat ini.


Mendengar gadis itu menangis, sepasang mata sayu milik Alvin perlahan terbuka dan membiasakan dirinya dengan cahaya yang masuk itu, dengan bantuan tangan kanannya, sosok laki-laki itu mengucek pelan kedua matanya dan sedikit bangkit dari posisi tidurnya, saat ia merasakan ada sesuatu yang menahan lengan kirinya, laki-laki itu menatap sosok wanita yang kini sedang menangis sesegukan yang tiduran beralaskan lengannya. Tangisannya terdengar memilukan di telinganya.


"Seorang wanita? Menangis dan.. te-telanjang? Bagaimana dia bisa telanjang seperti ini? Apa yang terjadi? Akkhh, sial kepalaku sakit sekali!" Batin Alvin. "Mi-Mia?" Kaget Alvin ketika dirinya tahu siapa wanita yang tiduran beralaskan lengan kirinya.


"..." Mia tidak menjawab, ia terus saja menangis.


Mereka berdua duduk di ranjang tanpa sepatah kata apa pun yang terlontar dari mulut keduanya. Mereka berbagi selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka. Hanya tangisan pilu Mia yang terdengar.


"..."


"..."


Mereka berdua sedang sama-sama mencona mengingat apa yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka berdua. Terutama Alvin yang ingatannya masih samar-samar soal semalam. Ia ingat bagaimana ia bertengkar dengan Melody. Ia ingat bagaimana Melody menamparnya dengan sangat keras dan mengucapkan kata-kata nyang begitu melukai hatinya. Kata-kata yang membuatnya terasa hancur berkeping-keping bagai gelas pecah yang tak bisa dikembalikan secara utuh lagi. Ia tak menyangka jika hari dimana Melody akan berkata membencinya itu tiba.


Melody membencinya ya?


Bahkan cinta tulusnya yang hanya ia berikan untuk Melody saja dianggap sangat menjijikkan.


Penolakkan cinta tersakit dalam hidupnya.


Melody adalah bahagia dan luka dalam waktu yang sama.


Sehabis mendapatkan kisah menyakitkkan dari Melody, ia melakukan pelarian dengan meminum minuman berakohol dan berakhir mabuk-mabukkan. Menghabiskan begitu banyaknya minuman berakohol dan tahu-tahu sudah berakhir di ranjang, telanjang, dengan seorang gadis yang menangis.


Ah.. gadis ya?


Alvin merasa jika Mia yang sedang menangis di sampingnya sudah tidak gadis lagi. Ia cukup paham memaknai suasana seperti ini meskipun ingatannya sedang dalam keadaan yang tidak baik.


Alvin ingin mengusap pucuk kepala Mia. Tapi ia berhenti sebelum berhasil menyentuhnya. Mia memangis terisak-isak sambil bersandar pada kedua lututnya.


Sangat buruk.


Alvin melihat begitu banyaknya bercak-bercak merah di sekujur tubuh Mia. Ia yakin, perbuatannya semalam pasti sangat gila hingga menyakiti temannya ini.


Namun lagi, ia mengerang frustasi dalam diam. Bagaimana ia bisa kehilangan diri dan berbuat sangat kejam? Alkohol memang bukaah solusi terbaik dari semua masalah yang ada.


Yang ada justru semakin membuat masalah menjadi semakin runyam. Menjadi semakin rumit dan sulit dikendalikan pikiran. Bukannya menemukan solusi, malahan tambahan emosi. Harus bagaimana jika sudah begini? Haruskah terus diam sampai salah satu mati? Tidak, tidak! Masih ada solusi jika sungguh ingin mengakhiri.


"Semalam, aku mencarimu, aku menemukan mobilmu di bar, kau mabuk, aku membantumu pulang dengan membawamu ke hotel karena tidak tahu biasanya kau tinggal dimana. Lalu, kau..." Mia tak kuasa untuk meneruskan kata-katanya. Itu terlalu berat. Terlalu sulit untuk diucapkan. Lidahnya kelu, nafasnya seolah tertahan. Yanh menang hanyalah air matanya.

__ADS_1


Ia kembali menangis.


"Maaf, maafkan aku! Aku tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tapi maafkan aku! Maaf! Maaf!" Kata Alvin.


Alvin cukup gentle dengan mengakui kesalahannya. Pada dasarnya ia juga manusia yang masih memiliki hati nurani. Ia tahu perbuatannya itu salah. Ia tahu memperkosa dimana pun itu tidak bisa dibenarkan dengan dalih apapun.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Meski aku tak memaafkanmu, fakta aku telah disentuh olehmu juga tak akan pernah hilang. Tak ada gunanya aku marah kepadamu. Sia-sia saja, aku.. aku sudah terlalu lelah." Kata Mia.


"Kau boleh menuntutku, aku siap dipenjara karena perbuatanku!"


"Dan mengatakan kepada dunia jika aku pernah dilecehkan olehmu? Aku wanita, hidup akan hancur setelah itu. Sudah.. sudah, tak apa. Aku bisa melaluinya. Kau pulang saja. Di sini bukanlah tempatmu. Banyak hal yang ingin kau kerjakan, kan? Pulanglah! Kali saja sekretarismu mencarimu, kali saja ibumu menghawatirkanmu."


"Mi-Mia.." Alvin tahu Mia sedang terpukul. Tapi tidak bisa berbuat banyak. Ia tak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menghibur Mia yang sedang hancur akibat ulahnya ini.


"AKU BILANG PULANGLAH!" Mia meninggikan suaranya. "Aku mohon..." Tambahnya melemah.


Alvin ingin memberikan waktu sendiri untuk Mia. Ia lalu memakai kembali pakaiannya. Ia mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja.


"Mobilmu masih ada di parkiran bar." Kata Mia. Ia tidak menoleh sedikit pun pada Alvin.


"Tolong hubungi aku jika terjadi sesuatu!" Kata Alvin.


"..." Mia diam saja.


"Aku mohonn, Mia.."


"Hn."


"Maaf dan terima kasih. Aku pergi dulu. Jaa matta." Kata Alvin. Sesungguhnya ia ragu-ragu untuk meninggalkan Mia.


"Hn. Sampai jumpa."


Alvin pun pergi.


Mendengar pintu yang ditutup, Mia ambruk dan kembali menangis sekeras yang ia bisa. Sedari tadi berusaha baik-baik saja di hadapan Alvin itu membuatnya sangat sulit.


'Kau milikku, Melody!'


Itu adalah kata paling jelas yang dapat ia ingat dari rentetan kalimat yang Alvin buat atas nama Melody.


Mia hanya terdiam takut mendengar pengklaiman dari bibir Alvin soal dirinya yang disangka Melody. Mata menginginkan Alvin sangat besar. Melemahkan segala otot-otot tubuhnya.


"Aku takut, kalau kau terlalu lama di sini, maka kau akan membahas soal Melody. Kau akan bilang padaku jika kau tidak bisa melupakannya. Aku tak mau menambah luka di dalam hatiku karena kau. Maaf, maaf, maafkan aku... Aku tahu kau juga terluka karena ternyata wanita yang ingin kau sentuh bukanlah wanita yang kau cintai, tapi aku, aku yang hanya kau anggap sebagai teman biasa, tak lebih."


Mia memiringkan tubuhnya, ia memeluk guling yang ada di ranjang itu. Ia menarik selimut dan dilihatnya bercak noda darah di sana. Ia memanglah seorang perawan. Ini adalah pengalaman sex pertamanya.


"Apa yang harus aku katakan jika ada yang bertanya kenapa aku terlihat seburuk ini? Apakah ada yang mencariku? Ah, aku memiliki janji dengan Ayumi dan Ayane-san... Apakah ada masih akan menerimaku ketika tahu aku ini sudah tak lagi perawan? Apakah nanti aku akan ditinggalkan kalau tahu keperawananku sudah direnggut laki-laki sebelum menikah? ... Pikiranku terlalu jauh, tapi itu adalah konsekuensi masa depan yang akan aku terima. Belum lagi kalau aku sampai hamil. Haah, akan semakin runyam karena aku tahu, Alvin-senpai tak mungkin mau bertanggung jawab untuk menikahiku. Dia pasti akan merawat anaknya karena dia laki-laki baik, tapi tidak dengan ibunya. Aku pun tak mau menikah jika pada akhirnya hanya akan membuat Alvin-senpai menderita... Tuhan, tolong jangan hamil! Tolong..."


Mia terlalu lelah dengan pola pikirnya yang berputar-putar. Tahu kok, hanya lelah yang mewakili semuanya. Membosankan memang, tapi ia ingin terlelap lagi dan berharap kali ini ia akan mendapatkan mimpi yang jauh lebih indah.


Tidurlah, karena mimpi lebih indah dari kenyataan.


Kata-kata yang terlalu memaksa, tapi berharap terjadi. Munafik memang.


"Sex pertamaku berakhir mengerikan."


.


.


.


Hari berselang, Mia sengaja tak menghubungi Alvin, sebenarnya Alvin menyadari sosok Mia yang mai menghindarinya, semua panggilaj telepon dan pesan singkatnya juga diabaikan. Namun ia tidak mau membuat Mia menjadi lebih canggung lagi padanya, maka dari itu dirinya pun memberikan tempat untuk sendiri bagi Mia dan berharap jika Mia mau berbicara lagi dengannya tanpa paksaan.


Alvin mematikan ponselnya. Sia-sia usahanya hari ini.


"Aku jadi tak berselera makan."


Alvin pun membereskan makanan yang disiapkan Daisuke itu dan membuangnya ke tong sampah. Ia menatap menatap barang-barang apa saja yang ada di tong sampah. Ia memahami satu hal dari sana.


"Tidak ada bedanya aku dan sampah."


.


.


.


Huwaaa.. targetku akhir tahun pemerkosaan Alvin terhadap Mia tercapakai. Yeeeee.. h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h.


Tertawa gaje. Sudah sesuai konsep dan memang ini adalah waktunya. Butuh langkah demi langkah untuk membuat kisah yang.. gak usah ditanya lagi deh alurnya yang super panjang dan bertele-tele! Tipikal aku banget kok. I wont dny it!


Dari awal memang aku mau cari pasangan buat Alvin karena dia terus saja tersakiti. Dan dari awal pula Mia udah suka sama Alvin. Tapi batu ini ditunjukkinnya dan jebreeet... langsung adegan pemerkosaan. Kasar sih, dan tragis juga jadinya. Tapi ini memang sudah alur dari konsep yang sudah dibuat sejak lama.


Tertawa lagi ah.. h h h h h h h h h h h h h h h h h h h. Jangan menertawakanku! Tertawakan saja akhir tahun ini yang mana menurutmu selama penghujung tahun 2020 hidupmu begitu-begitu saja. So, buat tahun 2021, aku berdoa untuk kebahagiaan kalian. Apa pun takdir yang akan kalian lalui nanti, semoga Tuhan selalu melindungi.

__ADS_1


Sampai jumpa tahun depan, say h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h and HAPPY NEW YEAR SEMUANYAAAAAA... 📣📣📣📣🎶🎶🎵🎵🎉🎉🎉🎀🎊🎊🎊🎉🎊🎉🎊🎉🎊🎉🎉❄❄❄


__ADS_2