MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 3


__ADS_3

YUDHA'S POV


Aku melonggarkan asal dasi yang mencekik leherku. Aku melepas kancing pada ujung lengan baju kemejaku. Aku menggulungnya asal ke atas.


Sial.


Sial.


Sial.


Hampir saja aku kecolongan lagi. Jika tadi tidak ada Melody, sesuatu pasti terjadi pada kakek.


Ini sudah minggu ke dua, dan kakek sama sekali belum sadar. Jika 2 minggu lagi kakek tidak kunjung sadar juga, maka rapat pemegang saham dadakan akan diadakan secara mendadak.


Orang memang melihatnya sebagai acara rapat yang harus dilakukan secara mendadak, tapi ayolah, itu hanyalah kamuflase untuk menutupi keinginan mereka sejak lama. Moment ini sudah sangat mereka tunggu-tunggu.


Serasa menjadi bodoh.


Mereka merancang, mereka membuat, mereka sendiri juga yang menunggunya.


Sebulan menurut mereka adalah waktu yang lama. Mereka ingin mempercepatnya. Merekapun ingin menghabisis nyawa kakek.


Ya, tadi ada seorang suster menyamar ingin menyuntikkan suntik kematian pada kakek. Beruntung Melody menyadari gelagap aneh si suster. Ia dengan berani melawan suster itu. Suster itu berhasil kabur, kakek aman, dan Melody, dia hampir terjatuh.


Aku menanyai apa dirinya baik-baik saja, aku khawatir dengan kandungannya. Dia bilang baik-baik saja. Merasa penasaran, akupun memeriksakan kondisinya dan kandungannya. Dokter bilang, semua baik-baik saja seperti kata Melody.


Aku terjatuh lemas.


Bagaimana ini bisa terjadi di luar kendaliku? Bagaimana jika hal buruk menimpa Melody dan anak-anakku? Kenapa aku tak bisa melindungi mereka?


Usai kejadian tadi itu, akupun memperketat penjagaan di ruangan kakek. Aku juga menyebar bodyguard di rumah, di sekitar ibu dan nenek juga.


Apa aku berlebihan?


Terserah apa kata orang. Aku ini hanya memiliki dua tangan dan dua kaki. Aku tak bisa melindungi semuanya dalam jangkauan kemampuan fisikku. Aku harus meminta bantuan orang lain. Cukup rasional, kan?


Aku juga meminta Ayane untuk selalu menemani Melody. Meski Ayane itu seorang wanita, tapi dia memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni. Aku bisa mengandalkan dia.


.


.


.


Ini sudah dua minggu pula aku belum menemukan keberadaan paman Aron.


Paman Aron menghilang tanpa jejak. Tidak ada tanda-tanda dimana keberadaannya sampai saat ini.


Aku sudah meminta bantuan semua detektif hebat di negeri ini untuk membantu mencarinya, tapi sampai saat ini mereka belum juga menemukannya.


Paman, dimana kau berada saat ini? Kuharap kau masih hidup. Kau adalah saksi kunci kecelakaan itu.


Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat.


Aku yakin, paman Aron pasti masih hidup entah dimana. Paman Aron adalah orang kepercayaan kakek. Dia pasti tahu banyak hal tentang rahasia kakek.


Tidakkah kakek meninggalkan sesuatu yang penting?


Mengingat sifat dan karakter kakek yang seperti itu, kakek pasti sudah membuat rencana jangka panjang. Aku harus tahu apa yang sudah direncanakan oleh kakek!


Setelah aku obrak-abrik kamar kakek, kantor kakek, atau tempat-tempat yang kiranya memungkinkan kakek untuk menyimpan rahasia, aku masih tetap tidak menemukan apa-apa.


Jadi, apa benar jika kakek memang tak meninggalkan sesuatu? Tidak meninggalkan rahasia atau rencana untuk ke depan?


Itu tidak mungkin!


Aku sangat yakin, kakek pasti tidak sebodoh itu!


Orang yang selalu ingin aku kalahkan tidak mungkin tidak menyiapkan rencana jangka panjang. Apalagi dia maha tahu dengan apa yang sedang terjadi. Terutama ancaman pembunuhan yang sering mengintai sejak aku kecil.


Sial lagi..


Aku buntu. Aku tak bisa memikirkan jauh lebih lagi dari ini. Aku disibukkan dengan persainganku dengan Alvin di kantor. Kita saling adu kemampuan untuk menunjukkan siapa yang lebih baik di antara kita.


Ini aneh.


Kenapa aku bilang ini aneh?


Dulu aku memperjuangkannya agar bisa masuk ke keluarga ini dengan menukar segala impianku. Aku berjuang agar dia bisa ikut andil dalam memajukan Emperor Group yang sudah kakek rintis sejak dulu.


Kini, aku sudah berhasil membuatnya menyandang nama Kazehaya dan masuk dalam ranah bisnis Emperor Group. Alvin bahkan melakukannya dengan sangat baik. Dalam waktu yang relatif singkat, ia sudah membuat banyak gebrakkan baru di kantor. Gebrakan dengan segala kebijakan-kebijakkan darinya mampu membawa nilai jual saham Emperor Group naik dua setengah persen. Sebelumnya sangat fluktuatif dan lebih cenderung menurun akibat skandal yang aku buat.


Alvin memang snagat jenius!


Aku mengakuinya.

__ADS_1


Lalu dimana anehnya?


Ya, aku memang harus menjawabnya meski dengan praduga yang sesungguhnya tak aku inginkan.


Aku tidak ingin mengakuinya. Aku tidak ingin mempercayainya.


Alvin memiliki tujuan sendiri untuk sampai ke titik ini.


Bisa aku katakan jika tujuan dia menguasai Emperor Group itu nyata, dan saat ini ia sedang berusaha keras mendapatkannya.


Aku harus senang atau harus bagaimana?


Bukankah sejak awal aku memang menginginkan ini terjadi? Maksudku, aku ingin Alvin ikut bekerja sama memajukkan Emperor Group. Lalu kini, Alvin sudah hampir berhasil. Harusnya aku memang wajib senang, kan? Kakakku sendiri melebihi ekspektasiku.


Apa aku iri dengan prestasi yang ditorehkan olehnya?


Pertanyaan macam apa itu?


Cih, aku hanya tak suka cara dia yang begitu santainya bermain-main dengan fraksi penentang kakek. Aku tak menyukai bagaimana ia memandang rendah diriku yang tak bisa melindungi Melody dengan baik.


Melody masih baik-baik saja bersamaku. Kenapa dia bisa memandangku dengan cara seperti itu? Apakah maksudnya soal Melody yang terus terluka sewaktu skandal yang aku buat? Dia masih sakit hati karena aku melukai Melody dan membuat Melody menangis?


Hei, aku akui aku salah. Namun, aku dan Melody sudah baik-baik saja!


Buntu.


Buntu, buntu, buntu!


Aku harus melindungi keluargaku. Melody, ibu, kakek, dan nenek.


Aku harus berjuang mengungakap kejanggalan mega proyek Miyagi. Aku tahu mereka bermain, tapi aku kesulitan mengumpulkan bukti.


Aku harus tetap mempertahankan posisiku di Emperor Group agar bisa terus bersaing dengan Alvin dan melawan dominasi fraksi penentang kakek.


Aku harus tetap mencari paman Aron karena sepertinya fraksi penentang kakek juga sedang mencatinya. Sebenarnya, apa yang terjadi apa Aron jika mereka tidak menawannya?


Semua ini membuat kepalaku terasa ingin pecah. Begitu panas dan membuat sangat pusing. Menguras tenaga dan melelahkan. Membuat tidur tidak tenang.


Tuhan, aku ini jarang meminta, tapi bisakah Kau tetap berpihak padaku sampai akhir? Aku akan berusaha sangat keras!


END OF YUDHA'S POV


.


.


.


Melody membuka matanya perlahan. Ia mengeryipkan kedua matanya beberapa kali. Rasa silau lampu yang mengganggu penglihatannya.


Ia menoleh ke seseorang yang menggenggam erat jemarinya. Itu Yudha, suaminya.


Ia ingat kejadian yang belum lama ini terjadi. Ia berusaha menyelamatkan kakek mertuanya dan hampir saja membahayakan nyawa kedua anaknya.


Yudha pasti khawatir setengah mati dibuatnya. Ia yang mengalaminya langsung saja syok berat dibuatnya.


Yudha tertidur sambil terus menggenggam jemarinya. Mata lelah itu terlelap. Tidak ada kedamaian di sana. Yudha memikirkan banyak hal. Ia tahu itu.


"Yudh, aku ini pekuatmu atau kelemahanmu? Rasanya semakin ke sini aku semakin membuatmu melemah. Kau memiliki banyak hal yang harus kau lindungi. Aku tak bisa menjaga diriku. Bagaimana bisa aku dengan mudahnya berkata jika aku ini akan melindungimu? Yudha, aku takut sekali.." Batin Melody.


Tak terasa ia menangis. Suara tangisannya didengar oleh Yudha. Yudhapun terbangun dari tidurnya.


Yudha kaget mendapati Melody yang sedang menangis. Ia bangkit dari duduknya dan pindah duduk di ranjang milik Melody.


"Hei, kenapa menangis?" Tanya Yudha.


Biasanya jika ada orang yang baru saja sadar dari pingsan atau bangun tidur, yang ditanya pastilah 'apa kau sudah bangung?', 'apa kau sudah sadar?'. Namun Yudha berbeda, dia lebih memilih untuk menanyai air mata Melody. Hal itu jauh lebih membuatnya penasaran daripada menanggapi hal yang sudah nyata. Maksudnya, jika mata terbuka, maka sudah pasti sadar atau terbangun, kan? Kenapa harus dpertanyakan? Kenapa harus dikonfirmasi ulang hal yang sudah pasti?


Oke, abaikan saja cara orang jeniys satu ini berpikir! Cukup Melody saja yang sabar menanggapi keunikan Yudha.


Melody menggeleng. "Tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa kok masih menangis?" Tanya Yudha. Ia membantu menghapus air mata Melody. "Jangan menangis! Aku di sini." Kata Yudha lanjutnya.


Melody memegang tangan Yudha yang masih berada di kedua pipinya. "Ciumlah aku, Yudh!" Pinta Melody.


"Cium? Kenapa tiba-tiba? Bukankah tidak ada hubungannya dengan semua yang sedang terjadi?" Tanya Yudha.


"Aku merindukanmu." Jawab Melody.


"Jawabanmu membuat hatiku senang, Mel."


Tanpa basa-basi Yudha langsung mencium bibir Melody. Ia juga sama merindukan Melody. Rasa itu semakin besar setiap harinya. Hanya saja dikesampingkan karena masalah yang sedang mendera. Hanya menumpuk rindu setiap waktu. Semakin menumpuk semakin menyiksa diri.


"Kau berani bermain lidah saat kita berciuman. Aku jadi kesulitan mengendalikan nafsuku padamu, Mel." Kata Yudha usai menyudahi ciumkan panjangnya dengan Melody.

__ADS_1


Mereka berdua berciuman cukup berani. Lebih tepatnya Melody yang berani bermain dengan ciuman mereka. Mengabsen gigi satu per satu dan perang lidah. Bertukar saliva. Sedikit menjijikkan, heh?


"Meski saat ini aku mengizinkanmu untuk menyentuhku, aku yakin kau tak akan melakukannya, kan?" Tanya Melody.


"Gomen."


"Eumh, waktu memang sedang tidak tepat untuk bersenang-senang."


Yudha lalu memeluk Melody yang sedang berbaring di ranjang. Menyesap bau Melody yang selalu ia rindukan. Tak lupa ia juga membuat kiss mark di leher putih Melody. Melody meringis karena merasakan lehernya yang sedang Yudha 'gigit'.


"Selalu memberiku gigitan cinta. Masih sama alasannya dengan yang dulu? Agar Alvin-senpai tahu siapa pemilikku?" Tanya Melody.


"Tidak ada yang salah kan dengan alasan yang aku buat? Kau kan memang milikku. Aku memiliki semua yang ada di dalam dirimu. Kazehaya Melody itu milik Kazehaya Yudha!"


"Aku akan selalu menjadi milikmu!"


Yudha menjatuhkan kepalanya di dada Melody. Ia menggunakan dada Melody sebagai bantal. Tentu saja ia sedikit menahannya agar Melody merasa nyaman dan tak terlalu berat menopang kepalanya.


Melody mengusap-usap punggung Yudha yang sedang tiduran di dadanya.


"Sudah lima bulan ya kandunganmu? Dadamu semakin empuk saja." Celetuk Yudha.


Ngeselin.


Selalu seperti ini. Bahkan di moment yang sedang tidak mendukung seperti ini, Yudha masih saja mood untuk bercanda.


Apakah Yudha tidak memikirkan kondisinya saat ini? Dasar mulut laki-laki!


"Ibu hamil akan memproduksi asi, aku sedang mengalaminya, Yudh." Kata Melody yang memilih untuk menahan rasa kesalnya pada Yudha.


Jika diteruskan maka pasti akan terjadi banyak argumen yang tidak penting. Yang ada justru akan semakin ruwet. Yudha loh yang dibicarakan!


"Kau bersedia menyusui anak-anak kita?" Tanya Yudha.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Melody. "Kau takut ya dadaku tidak cantik lagi?" Lanjutnya.


"Bukan seperti itu. Tentu saja aku akan sangat senang jika kau bersedia menyusui anak-anak kita nantinya. Namun aku memikirkanmu. Biasanya wanita tidak ingin menyusui anak-anaknya karena takut kendor. Maka dari itu, aku membebaskanmu dalam membuat pilihan. Aku tidak akan memaksamu untuk menyusui anak-anak kita." Jelas Yudha.


"Papanya suka menyusu masak anaknya tidak boleh?" Goda Melody.


Yudha memerah, Melody tak bisa melihatnya. "Aku jadi haus.." Kata Yudha.


Melody mendelik. "Jangan aneh-aneh deh, Yudh!"


Yudha menjauhkan diri dari Melody. Ia kemudian menatap Melody dengan seringai di bibirnya.


Melody mengatur nafasnya yang kembang kempis. Tatapan mesum Yudha itu sungguh ngeselin.


"Lihat tangan kiriku! Aku diinfus. Aku sedang tidak enak badan. Ka-kau jangan minta macam-macam ya!" Kata Melody.


Ya, Melody saat ini memang sedang mendapatkan perawatan. Yudha sangat khawatir dengan kondisi kehamilannya Melody karena Melody menghalau orang jahat yang mencoba membunuh kakek Wijaya. Memang kandungannya baik-baik saja, tapi Melody cukup lemah karena menjaga kakek Wijaya. Lelah fisik memang sungguh terlihat.


"Cih, self diffences. Padahal tadi bilangny saja, tidak masalah jika aku sentuh? Aku menahan diri untuk tidak berhubungan intim denganmu loh, Mel." Kata Yudha. Ia memfokuskan pandangannya di daerah dada milik Melody.


Melody menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Iya kau menahan diri untuk tidak berhubungan intim denganku, tapi kau kan ingin berbuat mesum kepadaku dengan cara lain. Hentikan Yudh! Jangan menatapku mesum seperti itu!"


"Kita sudah menikah. Aku suamimu. Aku berhak kan atas dirimu? Kau memiliki kewajiban melayani dan menuruti permintaanku."


"Ini rumah sakit, Yudh! Ba-bagaimana jika sampai ada ya-yang masuk ke kamar ini dan me-melihat kita?" Kata Melody khawatir.


"Aku akan melakukannya dengan cepat tanpa menanggalkan pakaianmu, ok?" Tawar Yudha.


"..." Melody masih mikir-mikir. Yudha memiliki ide yang berani dan semakin gila.


"Mel, aku menginginkanmu!" Kata Yudha to the point.


Melihat Yudha yang tersiksa membuat Melody akhirnya memilih untuk mengalah. Iapun membuka silangan tangan di dadanya. Ia menyambut Yudha dengan kasih sayang dan kelapangan di dada.


"Apa sangat menginginkanku?" Tanya Melody.


"Iya, sangat." Jawab Yudha.


"Apa tidak bisa menahannya? Setidaknya sampai rasa lelahku reda dan tubuhku membaik."


"Aku juga tak kuasa menahannya. Ingin dituruti, Mel!"


Melody paham itu. Yudha memang menginginkannya. Yudha juga sering memberikan apapun yang ia butuhkan, apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengabi pada Yudha?


"Lakukan sesukamu, tapi jangan berlebihan!" Kata Melody.


Yudha tersenyum senang. "Hn. Arigato."


"Ya.."


Yudha membuka perlahan kancing-kacing baju hamil yang Melody pakai. Dengan segala keahliannya, Yudhapun memamerkan aksinya.

__ADS_1


Sayang, Yudha hanya memamerkan diri pada Melody seorang. Yang lain dilarang nonton!


__ADS_2