MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Rencana Tuhan


__ADS_3

Melody melakukan perawatan tubuh sesuai yang Mia sarankan. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Rambut panjangnya dicream bath. Mukanya ditreatment dengan menggunakan alat-alat kecantikan yang tidak Melody ketahui dan juga dimasker. Perawatan rambut saja sangat melelahkan, tapi ia masih harus menjalani banyak perawatan lagi.


Rasa lelahnya terbayar saat Melody melakukan spa. Tubuhnya dipijat membuatnya terasa nyaman. Meski salon itu milik ibunya Mia, tapi Mia ikut menemani Melody melakukan spa.


"Mulai saat ini kita akan sering melakukan ini, Jenong. Bukankah itu akan lebih baik?" Kata Mia di sela pemijatan.


"Bukankah itu pemborosan?" Kata Melody yang sedang dipijat di tempat tidur samping Mia.


"Kau jangan terlalu berhemat! Kau tahu berapa kayanya calon suamimu itu? Untuk membeli seribu salon seperti milik ibuku saja akan sangat dengan mudah dia lakukan."


"Tapi yang kaya bukan aku. Calon suamiku!"


"Sama saja. Kau pasti akan mendapatkan bagian darinya. Hahaha."


"Aku bukan cewek matre!"


"Wanita juga perlu matre kali, Melody-chan. Asal ada batasnya. Belum menikah saja dia sudah memberimu sebuah cincin berlian sebagai cincin pertunanganmu. Bukankah itu hebat? Berlian itu harganya pasti sangat mahal. Hei Melody Jenong lebar, kau akan menjadi istri orang kaya raya. Kau benar-benar beruntung… Aku jadi iri padamu."


"Kalau aku sekaya dirimu, aku tidak akan mau menikah dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali."


"Sudahlah, jalani saja semua yang ada di depanmu saat ini! Sepertinya Yudha tidak seburuk itu. Kau hanya perlu menjadi istri yang baik untuknya. Selalu berada du sampingnya, menyiapkan makanan untukknya, memakaikan dasi, ah sepertinya itu akan cocok untukmu, Jenong."


"Iya, Nona Bebek cerewet." Melody terlalu malas meladeni khayalan tingkat tinggi ala Mia itu.


"Eh, Ibuku mengirim pesan, dia bilang kau bisa menggunakan salon Ibuku sesukamu asal kau membantu mempromosi salon ini pada wartawan. Haha.."


"Sepertinya ada yang memanfaatkan posisiku yang sekarang."


"Kaukan sudah seperti selebritis. Ibu juga akan sangat senang jika kau mau menggunakan baju pernikahan rancangan ibuku."


"Tidak perlu ibumu memintapun aku pasti akan menggunakan baju rancangannya. Mikan-okaasama, ibunya Yudha juga sudah bilang kepadaku untuk menggunakan baju rancangan ibumu. Bukankah ibumu dan ibunya Yudha itu mitra bisnis?"


"Hm… Aku turut bahagia untuk pernikahanmu. Aku yakin kau tidak akan bisa bebas seperti dulu setelah kau menikah dengannya. Kita pasti juga akan jarang bertemu. Aku sangat sedih jika harus menjalaninya."


"Aku tetaplah aku! Tidak akan berubah meski sudah menikah dengan Yudha sekalipun. Kau tidak perlu khawatir, kau akan terus tetap menjadi sahabat terbaikku! Percayalah! Mungkin saja setelah aku menikah, kita akan memiliki banyak waktu untuk bersama? Aku tidak akan ada lagi kerja paruh waktu yang banyak menyita waktu bermain kita."


"Benar juga. Semoga saja memang seperti itu. Kita bisa jalan-jalan bersama, belanja, spa, creambath, ahh aku benar-benar senang hanya dengan membayangkan saja."


"Kurasa kau benar-benar merindukanku?"


"Tentu saja, Jenong. Semenjak ayahmu meninggal, kau menjadi tidak bebas lagi seperti dulu. Meski ibumu menyuruhmu bermain, tapi kau tetap bekerja untuk membantu ibumu sampai sekarang ini. Aku senang kau mendapatkan calon suami yang kaya, kuharap itu adalah balasan dari semua beban hidup yang sudah kau lalui dengan tegar."


Melody tersenyum menanggapi ocehan sahabatnya. Memang semenjak ayahnya meninggal, waktu bermainnya berkurang. Sering kali Mia mengeluhkannya pada Melody, tapi ia bisa apa, hidupnya dengan Melody itu sangat berbeda.


Dia serba berkecukupan, sedangkan Melody? Kesulitan finansial pasca ditinggal yang ayah seolah menjadi momok menakutkan bagi ia dan ibunya, Tsuchiya Hwang. Dulu, sewaktu ayahnya masih hidup, keadaan finansial keluarga Melody tidaklah begitu sulit karena ayah Melody, Dean Hwang menjadi seorang pegawai di perusahaan Namikaze, milik sahabat ayahnya Melody.


.

__ADS_1


.


.


Melody dan Mia sedang menunggu jemputan Melody di depan gedung salon. Da benar, Yudha sungguh menjemput Melody. Mia ikut senang karenanya. Yudha bahkan datang sendirian tanpa pengawal setianya, Shuhei.


Mia mengartikan jika Yudha itu tidak main-main pada Melody. Ada keseriusan di sana. Jika Yudha tak menyetujui perjodohannya dengan Melody, bukankah seharusnya Yudha mengabaikan Melody? Bukankah seharusnya Yudha tak perlu repot-repot datang mengantar dan menjemput Melody?


Mia ingin mempercayai itu. Ia mengapresiasi keseriusan Yudha.


"Kau yakin tidak ikut dengan kami?" Tanya Melody.


"Tidak, akusudah memesan taxi. Seventar lagi datang." Jawab Mia.


"Benarkah?"


"Iya, sudah sana kau pulang saja dengan Yudha!"


"Yudha tak masalah kok mengantarmu pulang, kan Yudha?"


Yudha mengangguk.


Mia bisa melihat anggukkan ikhlas dari Yudha lewat jendela kaca mobil. "Aku mau mampir ke suatu tempat dulu, Mel.."


"Ehmm, begitu ya? Ya sudah. Kau berhati-hatilah!"


"Iya."


"Iya. Sampai jumpa besok juga, Melody-Jenong!"


Dan mobil mahal itu meninggalkan Mia yang menatap penuh senyum.


"Kuharap Yudha adalah sosok yang Tuhan kirimkan untuk mengangkat segala lenderitaanmu, Mel. Kuharap kau akan selalu bahagia di hidupmu ini. Tulislah kisah barumu ini. Tuhan bersamamu. Bersama kita orang-orang yang pernah menghianati-Nya."


.


.


.


Di dalam mobil..


"Loh Yudh, kok ke kiri? Rumahmu kan harusnya belok kanan?" Tanya Melody.


Bukankah jalan ke rumahnya maupun rumah Kazehaya itu ambil jalan ke kanan. Lalu kenapa Yudha mengambil jalan yang ke kiri?


Yang bikin kesal, Yudha malah diam saja tanpa menjawab pertanyaan darinya.


Melody berkacak pinggang. "Bertanya pada batu memang jangan pernah berharap akan dibalas!"

__ADS_1


Yudha mendengarnya. Tapi ia sedang fokus nyetir mobil. Kesal juga sih dikatai batu oleh calon istrinya. Seumur-umur, baru Melody yang berani kurang ajar padanya. Namun seru juga. Ini pengalaman pertama dimana harinya dihiasi banyak rasa.


"Jawab kek biar aku tidak penasaran!" Pinta Melody lagi.


"Jalan-jalan." Yudha akhirnya menjawab meski singkat.


Melody lansung gembira mendengar jawaban dari Yudha. Jalan-jalan identik dengan kesenangan, kan?


.


.


.


Tidak ada yang pernah tahu bagaimana rencana Tuhan untuk setiap makhluknya. Susah, senang, mudah, sulit itu hal biasa dalam kehidupan.


Kehidupan memang seperti roller coster, tak hanya naik turun, tapi juga berkelok-kelok, menurun tajam, dan meluncur.


Hidup susah dan sulit tidak perlu disesali, berusahalah tetap tegar, pamerkan senyuman di bibir, bersyukurlah kepada Tuhan, dan jangan lupa untuk selalu berusaha semampu diri untuk memperbaiki kualitas hidup. Maka, bukan hal yang tidak mungkin jika suatu saat, entah kapan dan bagaimana, percayalah, ada saatnya dimana rasa sulit, berat, susah itu akan hilang berganti dengan kebahagiaan.


.


.


.


________________________________________


.


.


.


Kelurga Melody: Hwang


- Melody Hwang


- Tsuchiya Hwang/ibu


- Dean Hwang(wafat)


Keluarga Yudha: Kazehaya


- Kazehaya Yudha


- Kazehaya Wijaya/kakek


- Kazehaya Chiyo/nenek

__ADS_1


- Kazehaya Mikan/ibu


__ADS_2