MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 24


__ADS_3

Kyoto, hari berikutnya.


"Paman Orion, kau melihat ponselku?" Tanya Yudha.


Karena terlalu sibuk mengurusi Aron di rumah sakit, ia melupakan untuk menghubungi Melody. Ia lupa untuk mengabari bagaimana keadannya. Menurutnya, harusnya neneknya sudah mengatakan bagaimana keadaannya saat ini pada Melody. Jadi, ia bisa mengesampingkannya sebentar.


Namun, saar ini ia merasa wajib memberitahu Melody secara langsung. Istrinya itu hanya akan merasa lega jika mendengar penjelasan dari bibirnya.


Berhubung ia kehilangan ponselnya sewaktu mencoba menyelamatkan Aron, ia jadi tidak bisa menghubungi Melody.


"Ponsel? Milikmu? Paman tidak melihatnya." Jawab Orion.


Yudha menunduk. "Begitu ya?"


"Hn. Mau pinjam milik paman?" Tanyw Orion.


"Bolehkah?"


"Ya." Orion memberikan ponselnya pada Yudha.


Yudha menerima ponsel milik Orion dengan wajah sumringahnya. Membuat Orion terheran. Keponakannya ini masihlah Yudha yang ia kenal sepuluh tahun yang lalu. Masih polos, masih seperti anak kecil. Nyatanya memang seperti itu, Yudha bisa lebih terbuka dan ekspresif jika bersama dengannya ataupun Aron.


Apakah mungkin ini hanyalah perasaannya saja ataukah bisa diartikan jika Yudha memang sangat membutuhkan figur seorang ayah?


"Sangat rindu sama isrtimu ya?" Tanya Orion.


"Sudah hari ke enam aku tak bertemu dengannya karena urusan bisnis di Kyoto. Terakhir mendengar suaranya dua hari yang lalu. Dia suka marah-marah kalau tak mendengar kabar apapun dariku. Marah sih tak masalah, yang tidak nyaman jika dia sampai menangis. Aku menjadi ikut tersiksa." Jelas Yudha.


Orion tersenyum. "Hoo, apa itu artinya kalian sedang saling cinta?"


"Ya, seperti inilah cinta, deritanya tiada akhir."


Orion mengernyitkan matanya. "Hei, aku tidak asing dengan kata-kata itu."


"Jendral Tien Peng alias Cu Pat Kai dari Kera Sakti, Paman." Kata Yudha.


Orion ingin mangap, tapi tidak jadi. Dirinyanya adalah Kazehaya dan mangap itu bukan Kazehaya!


"Kau bucin ya?" Tanya Orion.


"Budak cinta? Entahlah, yang jelas aku hanya sangat mencintai Melody." Jawab Yudha.


"Bisa ya mencintai sampai seperti itu?"


"Paman akan sangat mengerti jika paman jatuh cinta! Makanya paman menikahlah! Buatlah anak empat atau lima!" Kata Yudha.


"Hah? Kau mencoba mengajari pamanmu ini yang sudah hidup lebih lama darimu?" Protes Orion.


"Meski paman sudah lama hidup dari diriku, tapi aku sudah lolos ujian pernikahan! Aku ini lebih berpengalaman dari paman!"


"Cih. Lagian apan coba memiliki sampai empat apa lima anak. Repot, Yudh!"


"Tidak, bisa sewa babysitter. Lagian, punya banyak anak itu artinya seperti punya banyak kesempatan untuk bercinta dengan istri."


Orion geleng-geleng kepala. "Paman tidak mengajarimu menjadi semesum ini, Yudh! Jangan bilang Aron yang mengajarimu?"

__ADS_1


"Tidak, Paman. Bukan seperti itu, paman Aron tidak pernah mengajariku bab kemesuman. Aku sendiri yang suka mesumi Melody. Atas kesadaran dan keinginanku tentunya." Yudha tersenyum tanpa dosa.


Orion memijat kepalanya. Keponakannya yang keren dan super dingin itu kemana? Kenapa Yudha berubah menjadi semesum ini dan memilih jalur untuk menyandang sebagai budak cinta?


"Haishh, sudah sana kalau mau telpon istrimu! Paman tidak akan menguping jika kau mau bermanja ria atau menangis memble sekalipun." Kata Orion yang memilih pergi meninggalkan kamar inap Yudha dan Aron.


Usai kepergian Orion, Yudha lalu menekan nomor telepon Melody. Ia mengingat dengan baik nomor ponsel istrinya itu. Sekali dua kali lihat saja ia bisa mengingatnya seumur hidup. Sungguh? Tak usah banyak tanya. Ini Yudha. Yudha yang super jenius itu!


Yuha mengambil nafas panjang. "Moshi-moshi.." Kata Yudha.


Moshi-moshi: Halo.


Percaya atau tidak, karena Melody menuruti kata-kata Yudha. Melody tidak mengangkat nomor asing yang menelponnya. Membuat Yudha harus beberapa kalia mengulang panggilan agar Melody mau mengangkatnya.


"Siapa ini?" Tanya Melody.


"Akhirnya setelah panggilan yang ke dua belas kau mau mengangkatnya juga." Kata Yudha.


"Siapa ini? Tidak usah bertele-tele deh! Katakan siapa ini? Berisik tahu dari tadi telepon melulu." Kata Melody.


Yudha tertawa. Ternyata inilah sosok Melody saat ditelpon nomor baru. Tidak sesuai yang ia bayangkan. Melody tak keganjenan ketika menerima panggilan dari nomor asing.


Yudha akui jika cemburunya itu memang tak bisa membuatnya berpikir jernih.


"Malah ketawa. Hei, ketawamu mengerikan! Awas saja kalau kau macam-macam! Aku akan mengadu pada suamiku yang seorang tentara!" Ancam Melody.


Yudha semakin tertawa lebar. Bisa-bisanya Melody mengaku memiliki suami seorang tentara. Apa ini bentuk pertahanan Melody dari penelpon asing?


Dan klik.


Tut.. tut.. tut.


Yudha kembali menelpon ulang Melody, tapi Melody sama sekali tidak mau mengangkatnya. Salahnya juga sih mengancam Melody jika Melody bermain selingkuh. Yudha termakan jebakkannya sendiri.


Di saat sangat membutuhkan Melody, Melody justru menolaknya karena panggilan dengan nomor asing.


"Bahaya ini. Jika aku sekarat, dia pasti tetap tidak akan pernah mengangkat ponselnya. 😑 Coba dulu aku tak cemburu buta dan memilih untuk bereaksi sewajarnya. Hah." Sesal Yudha.


Akhirnya Yudha menelpon Ayane. Ia yakin jika Ayane akan selalu bersama Melody. Beruntungnya, ia juga mengingat nomor telepon Ayane untuk jaga-jaga.


"Cih, aku kira kau sudah di alam lain. Masih ingat juga kau dengan istrimu." Kata Melody.


Yudha mendelik. Kesal sih kesal, tapi apa perlu dengan kata-kata horor seperti itu?


"Aku masih hidup, Mel! Aku akan tetap hidup agar kau bisa melahirkan anak-anakku yang lain!" Kata Yudha.


"Hah? Enak saja! Dua anak itu sudah cukup, Yudh! Keluarga bahagia!" Kata Melody.


"Mana asyik kalau hanya dua anak? Sebelas apa dua belas itu baru seru. Kita bisa membuat kesebelasan."


"Enak di dirimu, menderita di diriku!"


"Aku juga perlu bekerja lebih keras tahu untuk menghamilimu!"


"Bekerja keras apanya? Hei, kau tidak ingat? Aku dua kali kau sentuh langsung hamil!" Melody kesal.

__ADS_1


"Ya salah sendiri pas kau kusentuh, kau dalam masa subur."


Yudha maunya apa coba?


"Memang itu salahku? Kau yang tiba-tiba saja main cium dan.. itu." Melody tentu saja memerah mukanya di Tokyo sana.


"Itu apa, hm?" Yudha ingin sedikit menggoda.


Hampir seminggu tak bertemu membuatnya merindukan masa-masa seru seperti ini dengan Melody.


"Kau paham apa artinya itu! Kenapa juga harys dipertanyakan? Dasar Yudha bodoh!"


"Hei? Kenapa malah mengatai diriku bodoh sih?"


"Apaan sih? Kau selalu saja membuatku kesal."


"..."


"..."


"Sudah menangisnya?" Tanya Yudha lembut.


Ya. Melody saat ini sedang menangis. Menangis karena akhirnya bisa mendengar suara Yudha. Yudha sendiri sangat memahami apa yang tengah Melody rasakan. Meski Melody bersikap sok kesal seperti itu, sejujurnya itu hanya untuk menutupi dari rasa rindu yang sangat besar.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Aku takut sekali karena kau sama sekali tak memberi kabar. Yang aku tahu, kau banyak urusan di Kyoto. Shuhei-san bilang padaku seperti itu. Namun, kau tak mengabariku apa-apa. Aku takut setengah mati, bodoh! Yudha no baka! Baka! Baka! Baka!" Melody masih saja terisak-isak.


"Jadi nenek tak bilang tentang apa yang terjadi padaku dan paman Aron? Syukurlah, Melody jadi tidak khawatir yang tidak-tidak. Ini jauh lebih baik." Batin Yudha.


Suara Melody yang bercampur dengan isakkan tangis membuat Yudha tak nyaman. Rasanya ingin sekali memeluk tubuh Melody.


"Maaf, ponselku hilang. Kau tenanglah. Aku akan segera kembali ke Tokyo." Kata Yudha.


"Iya. Aku akan menunggumu, Yudh."


"Hn. Baik-baik di sana! Aku di sini juga baik-baik saja. Maaf tidak bisa mengabarimu sering-sering. Nanti aku akan membeli ponsel lagi."


"Iya. Kau hati-hati saja di sana! Makan yang benar! Tidur yang cukup!"


"Iya."


"..."


"..."


"..."


"Mel?"


"Ya?"


"I love you."


"I love you too, beb."


________________________________________

__ADS_1


Jempolnya jangan lupa ya! 😉


Rada sibuk ma urusan kerja. Sumpah lagi pusing gila. 😑 Week endpun seperti ini mikirin banyak kerja. Hah. Hidup oh hidup.


__ADS_2