
FLASHBACK ON
Kisah ini menceritakan masa lalu Mikan dan Orion ketika membahas kepergian Yoga. Ini beberapa jam sebelum meninggalnya Yoga. Alurnya menjadi mundur-maju. Semoga bisa diterima alur yang maju-mundur-maju yang nanti bakal mundur lagi dan maju lagi.
Biasa, spesialis banyak bacot.
.
.
.
Mikan memahami bagaimana perasaan Orion terhadapnya. Meski ia berpikir jika perasaan Orion itu hanyalah perasaan anak remaja yang masih labil, tapi bukan berarti ia menyepelekan perasaan Orion. Ia tetap mrnghargai perasaan Orion. Ketulusan itu nampak jelas di sorot indah mata Orion.
Kamar Yudha.. Mikan sedang menidurkan Yudha ketika Orion datang bertamu.
Beruntung ketukan kamar yang Orion lakukan tidaklah keras, Yudha pun tidaklah terganggu.
Mereka berdua berbicara di depan kamar Yudha agar tak mengganggu tidurnya Yudha.
"Sekarang bagaimana?" Kata Orion.
Mikan menoleh ke arah Orion. Sudah lama ia tak bertemu dengan Orion. Saat Orion kembali pun, ada rasa canggung di dalam hatinya yang mana membuatnya tak nyaman untuk berbicara dengan Orion. Ia kesulitan bersikap seperti dulu. Ia tak bisa bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dengan Orion.
Melihat Orion yang berani berbicara padanya terlebih dahulu, membuat Mikan merasa terhormat. Maka ia memutuskan untuk membalas kesopanan yang sudah Orion berikan terhadap dirinya.
"Apanya yang bagaimana?" Tanya balik Mikan.
"Kak Yoga. Kau dengan kak Yoga." Jawab Orion.
"Hmm, dia sudah pergi, meninggalkanku dan Yudha."
"Aneh." Gumam Orion.
"Aneh apanya? Aneh bagaimana?"
"Kau aneh, Kak Mikan!"
"Katakan padaku, Orion-san! Apanya yang aneh?"
"Orang yang kau cintai, orang yang kau kasihi, orang yang kau sayangi, orang yang kau pilih kini memilih untuk meninggalkanmu dan bersama wanita itu. Tidakkah kau merasa sedih? Tidakkah kau ingin menangis?"
Bagi Mikan yang sudah tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan Yoga sebelum ini, sejak awal ia sudah memantapkan diri untuk kuat menjalani apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Orion itu hanya terlalu baik terhadapnya. Orion hanya menghawatirkannya.
"Tak mengapa, ini sudah jalanannya. Ini yang terbaik untuk semua." Kata Mikan.
"Yang terbaik apanya? Dari sekian opsi yang ada, kenapa dia harus meninggalkanmu dan Yudha?" Orion tak habis pikir. Katanya saling cinta? Kenapa bisa berakhir seperti ini?
"Orion-san... Tak selamanya bersama itu baik. Kadang ada kalanya berpisah adalah yang terbaik. Kau tahu sendiri kan bagaimana keluarga ini dan status CEO Emperor Group yang disandang oleh kakakmu? Dia dekat dengan kematian. Ditambah, Alvin dan Kurenai dalam bahaya juga. Kakakmu membuat keputusan untuk melindungi mereka. Bagaimana pun mereka itu orang-orang yang berharga untuknya." Jelas Mikan yang berharap jika Orion akan mengerti.
"Tidakkah dia berpikir jika kau dan Yudha juga orang-orang yang berharga untuknya? Tidakkah dia berpikir untuk melindungimu juga?"
"Dengan bersama mereka dia juga sedang berusaha melindungiku dengan Yudha, Orion-san."
"Arienai, tidak mungkin, tidak masuk akal. Itu pasti hanya akal-akalan kak Yoga saja untuk bisa bersama dengan wanita itu." Tebak Orion.
"Kakakmu tidak mungkin melakukan hal sejahat itu, kau mengenal bagaimana dia itu, kan? Kak Yoga bukanlah sosok yang picik dan curang."
"Jika kak Yoga bukan yang main akal-akalan, bagaimana kalau dia malah diakali oleh wanita itu agar mau bersamanya? Pernahkah kau berpikir sampai sejauh ini?" Orion merasa jika kakaknya itu tidaklah benar karena membuat keputusan sebesar ini hanya karena kisah seperti itu.
"..." Mikan terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di otaknya. Mendengar perkataan Orion membuat sesuatu itu mengganggu pikirannya.
Kurenai mengakali Yoga untuk meninggalkannya dan Yudha?
"Tolong pikirkan kemungkinan hal ini juga!" Kata Orion.
"..." Pikiran Mikan kini kemana-mana.
__ADS_1
"Aku melepasmu karena itu adalah kakak, karena kau akan dimiliki oleh kak Yoga. Aku mengenal bagaimana sosok kak Yoga. Sosok yang sangat mencintaimu, sosok yang aku yakini akan selalu berusaha membuatmu bahagia. Maka dari itu, jika sampai dia meninggalkanmu seperti ini, maka bisa saja ada sosok yang mempengaruhinya. Aku yakin dia dipengaruhi oleh si Kurenai itu." Kata Orion.
Apakah hal itu benar?
Sial kini pikirannya bercabang. Mikan mulai kepikiran soal perkataan Orion terhadapnya soal kemungkinan jika Kurenai mengakali Yoga untuk meninggalkannya dan Yudha.
Sesungguhya ia merasa jika Kurenai juga seperti seolah menginginkan kekuasaan agar bisa bersaing dengannya dalam merebutkan cinta dari Yoga.
"Kak Yoga bercerita kepadaku jika Alvin sering diikuti orang misterius, orang yang tak dikenal. Sebenarnya aku pun pernah melihat Kurenai menemui sosok asing yang menurutku misterius juga. Aku tak tahu apakah orang misterius ini sama dengan orang misterius yang mengikuti Alvin atau tidak. Seenak diriku saja menyimpulkan jika mereka adalah orang yang sama. Masalahnya kak Yoga bilang jika Kurenai mendapatkan ancaman pembunuhan terhadap Alvin. Lalu yang kedua, ancaman itu tak hanya mengincar Alvin, tapi aku dan Yudha pun juga menjadi target orang misterius itu. Aku tak mendapatkan surat ancaman dalam bentuk apapun, Yudha juga sama. Hanya saja, belum lama ini, aku merasa memang seperti ada yang mengikutiku." Mikan menceritakan inti dari percakapannya dengan Yoga beberapa hari yang lalu.
"Masuk di akal juga kalau kronologinya seperti itu. Kak Yoga itu tipe yang sangat menyayangi keluarganya. Alvin dan Yudha sama-sama sangat berharga di dalam hidupnya. Dia pasti akan melakukan banyak hal untuk melindungi keduanya. Apa lagi soal kakak Mikan juga. Jika sudah sampai mengancam nyawa kak Mikan, dia tidak akan tinggal diam." Kata Orion.
"Makanya dia membuat keputusan untuk memilih Kurenai dan Alvin. Dia tak bisa melindungi mereka karena keluarga ini tak mengizinkan mereka masuk."
"Tapi dia malah meninggalkanmu yang jelas-jelas juga diancam akan dibunuh bersama Yudha."
"Ini seperti jika aku dan Yudha tetap bersama kak Yoga, maka aku dan Yudha akan dibunuh. Jadi kak Yoga memilih menjauh dariku dan Yudha sampai dia berhasil mengungkap siapa orang-orang itu. Kak Yoga percaya jika di keluarga inilah tempat yang paling aman buatku dan Yudha selama dia tidak ada bersama kami. Ayah mertua akan melindungiku dan Yudha. Itu yang dia percayai, Orion-san."
"Dan dia akan kembali suatu saat nanti jika situasi sudah membaik?"
"Ya, seperti itulah yang direncanakan olehnya."
"Konyol." Kata Orion.
"Konyol bagaimana maksudmu, Orion-san?"
"Ya konyol saja. Aku tak tahu jika kak Yoga bisa sebodoh ini. Keluar dari rumah ini dan mencoba melindungi mereka tanpa kekuasaan itu adalah keputusan yang sangat bodoh yang pernah dibuat olehnya. Dia pikir dengan menanggalkan tahtanya saat ini, dia bisa melalukan apapun yang dia inginkan? Dia akan mati dengan sangat cepat."
Mikan juga sebenarnya kurang setuju dengan ide menanggalkan semua hal yang Yoga miliki selama ini. Namun apa daya, meski tak mau melepas tahtapun, ayah mertuanya jelas akan tetap mendepak Yoga dari keluarga dan Emperor Group.
"Nah Orion-san, apa menurutmu jika aku mencurigai Kurenai adalah hal yang benar?"
"..." Orion menatap Mikan untuk mencari kejelasan.
"Aku merasa jika Kurenai bukan wanita sederhana. Orang misterius yang menemuinya saat itu bagiku itu menampakkan aura yang menakutkan. Aku tak mau berburuk sangka padanya. Namun, orang misterius itu memeluk dan mencium bibir Kurenai. Aku tak bisa bilang ini pada kak Yoga. Meski aku tak tahu dia suka atau tidak pada Kurenai, tapi Kurenai adalah ibu dari anaknya."
"Kak Mikan, seorang wanita memiliki feeling yang mendalam. Aku tak bisa memutuskan seenak jidatku. Mengiyakan atau tidak, aku tak bisa membela salah satunya. Namun jika kau sampai melihat hal itu dengan mata kepalamu sendiri, maka harusnya itu sudah cukup menjadi bukti yang menguatkan firasatmu soal Kurenai... Sesungguhnya ayah menyelidiki soal wanita itu dan menemui fakta yang kurang menyenangkan dimana ternyata wanita itu pernah terlibat dengan yakuza. Tapi tidak jelas yakuza yang mana. Di Jepang ini banyak perkumpulan yakuza. Untuk saat ini yang mendominasi adalah yakuza Fajar Keemasan dan yakuza Macan Selatan. Karena Kurenai terlibat dengan yakuza sebelum dua yakuza ini berkuasa, maka yakuza yang mendominasi Jepang sewaktu itu adalah yakuza Red Dragon. Yakuza Res Dragon itu sangat besar karena tak memiliki saingan berati di kalangan dunia bawah Jepang. Jika dia sampai bisa memiliki pengaruh dimana orang misterius itu bisa mengancamu dan Yudha, maka harusnya orang misterius itu memiliki kedudukan tinggi di yakuza Red Dragon."
Orion menggeleng. "Yakuza Red Dragon sudah runtuh. Mereka sudah tidak ada. Generasi saat ini adalah penggantinya."
"Tapi pasti masih ada sisa-sisa dari mereka, kan?"
"Ya, itu pasti ada mengingat betapa besarnya organisasi yakuza itu. Namun aku tak tahu pasti siapa mereka. Yang aku tahu, orang tertinggi dari yakuza Red Dragon sudah mati."
Mikan mencengkram kain pakaiannya. Rasanya menjadi tidak nyaman. "Orion-san, aku takut kak Yoga kenapa-kenapa. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya."
"Apa yang kau inginkan, Kak Mikan?"
"Aku ingin kak Yoga kembali!"
"..." Orion terdiam.
"Aku ingin kak Yoga pulang ke rumah ini lagi! Aku tak mau dia dikejar-kejar oleh yakuza. Aku tak mau dia terlibat dengan orang-orang dari dunia bawah." Mikan mulai panik. Ia tahu betul bagaimana dunia bawah bekerja. Ia membaca banyak literasi soal dunia bawah itu bagaimana.
"Aku adalah orang dari dunia bawah. Kau tak takut denganku?"
"Kau adalah Orion, Kazehaya Orion yang baik hati. Aku mengenalmu dan kau itu orang yang baik."
Orion tersenyum. Naif sekali pemikiran kakak iparnya ini. Padahal jika ia mau, ia bisa juga menjadi sosok yang jahat.
"Aku akan membawanya pulang, tapi aku tidak janji apakah aku bisa atau tidak."
"Maksudmu? Tentu kau pasti bisa, kan?"
"Orang-orangku bilang jika ada pergerakan tak dikenali di wilayah perfektur Miyagi. Jika ini berhubungan dengan Kurenai, maka kak Yoga jelas dalam bahaya."
Mikan melebarkan matanya. "Apakah tujuan kak Yoga ke Miyagi terbongkar? Bagaimana bisa ada pergerakan tak dikenali di sana?"
__ADS_1
"Aku kan hanya bilang ada pergerakan di sana yang artinya belum tentu berhubungan dengan Kurenai dan kak Yoga yang menuju ke sana."
"Tapi aku takut, Orion-san! Rasanya menjadi sangat tidak nyaman... Tidak, aku tak boleh berdiam diri! Aku harus menyusul kak Yoga agar dia tidak ke sana!" Mikan mulai uring-uringan.
"Hentikan, Kak Mikan! Kau sudah tahu jika betapa bahayanya keluar dari wilayah Tokyo. Kau coba hubungi dia, biar aku saja yang mengejarnya!"
Mikan menurut dengan apa yang dikatakan oleh Orion. Ia hanya mencoba menghubungi Yoga. Namun tak ia sangka jika yang mengangkay telepon darinya adalah Kurenai.
Ia berbicara dengan Kurenai dan meminta agar ponselnya diberikan kepada Yoga. Namun Kurenai tidak melakukannya.
"Mikan-san, kau ini terlalu bodoh jadi orang. Haha. Terima kasih akan kepolosanmu itu. Pada akhirnya, aku dan Yoga-san bisa bersatu. Kami akan hidup bahagia tanpamu." Kata Kurenai lewat telepon.
Mikan mendelik. "Apa maksudmu itu?"
"Apa yang Yoga-san katakan padamu itu adalah kebohongan untuk membuatmu melepaskannya. Sekarang kau sudah tahu kan siapa yang menang? Itu adalah aku. Aku yang kini memilikinya. Kami akan tertawa bersama di atas penderitaanmu. Bye-bye, Mikan-san. Hiduplah dengan penuh penderitaan!" Kurenai menutup panggilan.
"KURENAI!" Mikan mencoba memanggil berkali-kali tapi gagal. Ponsel milik Yoga tak bisa dihubungi lagi.
Mikan lalu menoleh ke arah Orion, ia menangis.
Orion mendengar perkacakapan mereka berdua. Melihat air mata Mikan membuat amarahnya naik ke ubun-ubun. Bagaimana bisa orang yang sangat dicintainya ini disakiti? Mikan itu dewi di matanya. Mikan itu orang yang baik. Bagaimana bisa kakaknya menghianatinya dengan karangan cerita yang tidak jelas seperti ini?
Membuat ide gila dengan sangat rincin hanya untuk bisa bersama dengan wanita pelacurr?
Apa kakaknya itu sudah takluk dengan sisa banyak laki-laki lain?
Tak termaafkan!
Itu tidak bisa dimaafkan!
"Aku akan membunuhnya!" Kata Orion.
"..." Mikan masih menangis.
Orion seketika memeluk Mikan ke dalam dekapannya. Ia mencoba sebisa yang ia mampu untuk menenangkan Mikan. Tubuh Mikan gemetar.
"Kenapa mereka tega melakukannya?" Tanya Mikan frustasi.
"Shtt, tenanglah! Tenang! Aku tak akan membiarkan mereka hidup bahagia di atas penderitaanmu!" Kata Orion.
"Akan lebih baik jika mereka tidak ada." Kata Mikan dingin.
"Hn. Aku mengerti. Aku akan membunuh mereka." Kata Orion.
Orion melepas pelukkannya kepada Mikan. Ia lalu berjalan ke kamarnya. Meninggalkan Mikan yang mematung di kamar Yudha.
Mikan tidak tahu jika amarahnya itu akan ditangkap seperti itu oleh Orion. Ia tak tahu jika Orion akan benar-benar membunuh Yoga.
FLASHBACK OFF
.
.
.
So, di sini terjadi kesalah pahaman dimana Mikan menyalahkan dirinya sendiri karena secara tidak langsung sudah menyuruh Orion untuk membunuh Yoga.
Sampai hari ini pun, hal itu yang ia percayai. Ia tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di malam tragedi Bulan Purnama Berdarah.
Ia tidak tahu jika sesungguhnya Orion tak sungguh-sungguh membunuh Yoga. Orion memang menghalangi mobil Yoga, tapi Yoga kecelakaan dengan sendirinya.
Orion tidak berniat membunuh Yoga. Ia hanya ingin Yoga kembali ke sisi Mikan dan mengayakan apa yang sebenarnya. Ia tak sebodoh itu untuk termakan omongannya Kurenai.
Namun sayang, takdir Tuhan berkata lain dimana usaha Orion justru tak sengaja menimbulkan kecelakaan dan membuat Yoga meninggal.
Sampai detik ini pun, Orion juga mengalami hal yang sama dengan Mikan. Menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Yoga.
__ADS_1
Masa lalu memang sangat gelap dan itu sangat membekas sampai detik ini. Mikan maupun Orion selalu dihampiri mimpi buruk di setiap tidur mereka. Membuat malam menjadi tidak tenang. Membuat nyamannya tidur menghilang.
Mereka menggap jika Tuhan sedang memberikan mereka hukuman.