MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Cucu


__ADS_3

Sepeninggal Mia, Melody mulai memberesi ruang tamu rumah Kazehaya itu. Ya, lagi, para pelayan rumah pasti langsung menyerobot tugas itu. Melody kembali rela membiarkan energinya yang tak terpakai.


Sudah dibilang kan, hidup dalam lingkungan baru pasti butuh penyesuaian. Kebiasaan yang sudah melekat sedari awalnya akan sulit untuk tidak dilakukan.


Seberapa kuatpun diri mencoba untuk menjadi seperti A, B, bahkan C, jika pada dasarnya jiwanya D, maka akan sulit untuk dirubah. Tetap, jiwa D lebih kental.


Jangan pernah mencoba menjadi sosok yang asing buat diri, semakin mencoba maka akan semakin tidak nyaman. Merasa tidak nyaman dalam jangka waktu yang lama itu sangat menyiksa.


"Ibu dengar kau membereskan ruang tamu, Melody?" Tanya Ibu Yudha, Mikan.


"I-iya, itu hanya pekerjaan ringan. Maafkan saya, Ibu mertua."


Mikan menggeleng pelan. "Ibu senang memiliki menantu sepertimu, Melody-chan. Tak hanya cantik, tapi hatimu juga cantik. Kau bisa melakukan pekerjaan rumah. Yudha benar-benar beruntung."


"Beruntung apanya? Aku yakin, dalam hati pasti Yudha terpaksa, sama sepertiku. Dia awalnya itu dingin sekali padaku." Batin Melody.


Melody sadar posisi. Orang asing yang tiba-tiba harus menikah dengan Kazehaya Yudha, Pangeran Kampus idaman banyak wanita. Lebih dalam lagi, ia merasa datang tanpa izin ke dalam kehidupan pribadi Yudha.


Rasanya sangat tidak sopan. Rasa bersalah itu selalu ada dan cukup mengganggu pikirannya.


"A-arigato, ibu mertua. Saya hanya sudah terbiasa melakukan hal-hal ringan sepeti ini." Kata Melody.


"Gomen na Melody-chan, karena keegoisan Tuan Besar keluarga Kazehaya, kau terseret kedalam keluarga ini. Keluarga yang dingin."


Mikan seolah memahami apa yang Melody pikirkan.


"Tidak, ibu mertua. Kakek dan nenek terlihat senang, ibu mertuapun juga selalu tersenyum hangat padaku. Itu tak hanya terlihat hangat, tapi juga membuat nyaman di keluarga ini."


Jawaban Melody menghangat di telinga Mikan. Ia bisa tahu ketulusan di setiap kata yang Melody ucapkan. Pilihan sang mertua, kakek Wijaya, tidaklah salah. Melody adalah anak yang baik. Ia menjadi tenang menyerahkan putra tunggalnya itu pada Melody.


"Ibu senang kau merasa seperti itu. Tapi sebelum kau datang, keluarga ini terasa sepi dan lumayan dingin. Kakek mertuamu sibuk dengan urusan bisnis, Yudhapun juga. Dia sibuk kuliah, dia bahkan juga sudah mulai terjun bermain bisnis dengan kakeknya. Di rumah hanya tinggal ibu dan nenek. Nenek sudah tua, tidak enak jika ibu mengajaknya bercanda, berbelanja. Hah, ibu beruntung sekali memiliki menantu. Ibu bisa bersenang-senang." Jelas Mikan.


Dalam list agenda yang ingin ia lakukan dengan menantunya adalah belanja bersama membeli perlengkapan rumah dan fashion wanita. Ia juga tak sabar ingin memamerkan Melody kepada teman-teman sosialitanya. Ia ingin pamer jika ia sudah memiliki menantu yang sangat cantik.


Rasanya sangat menyenangkan meski ia hanya sedang membayangkannya.


"Andai saja Yudha seperti ibunya, hoh, duren pasti runtuh. Apa Yudha ikut ayahnya ya? Sifatnya jauh sekali dari sang ibu." Batin Melody.

__ADS_1


Melody menatap bahagia ibu mertuanya itu. Ia merasa sangat beruntung karena sudah mendapatkan ibu mertua yang baik hati seperti ibunya Yudha, Mikan. Ia tak harus menjalani drama sinetron menantu yang disia-siakan mertuanya.


Atau lebih jahatnya lagi, ia akan diperbudak mertuanya.


Melody merasa bersyukur karena Yudha dibesarkan di keluarga yang penuh cinta. Meski ibu mertuanya berkata jika keluarga Kazehaya itu dingin, tapi Melody tak mempercayai itu. Nyatanya, ibu mertuanya itu memiliki cinta dan kasih yang tak terbatas. Nenek mertuanya memiliki cara sendiri untuk mengekspresikan perasaan sayangnya pada anggota keluarga, dan untuk sang kakek mertua, meski Melody tahu jika kakek Wijaya adalah orang yang tegas, tapi bukan berarti dingin.


"Jika ibu mertua membutuhkan teman, saya siap menemani ibu mertua." Kata Melody.


"Arigato Melody-chan. Tapi, di usia ibu yang sudah tak lagi muda ini, rasanya sudah waktunya ibu menimang cucu. Ibu hanya memiliki anak satu, hanya Yudha saja. Jadi, karena kau dan Yudha sudah menikah, sebaiknya kalian memikirkan keinginan seorang ibu yang sudah tua ini." Kata Mikan.


Melody terlihat kesulitan menelan ludahnya.


Cucu?


Ayolah, Melody tahu betul jika cepat atau lambat hal itu pasti akan sampai ke telinganya. Dan sayangnya, bukankah ini cepat sekali? Baru seminggu menikah sudah mendapatkan permintaan seperti itu? Melody benar-benar harus berfikir keras.


"Cu-cucu ya.."


"Iya, cucu! Ibu sudah mengirim pesan kepada Yudha tentang hal ini. Tapi Yudha sama sekali belum membalasnya. Yudha memang selalu seperti itu, punya HP tapi tidak mau menggunakan HP-nya."


Ibu Yudha, Mikan terlihat kesal sendiri. Namun kesal yang lucu dan lembut. Membuat Melody merasa jika saat ini benar-benar sudah berada dalam lingkungan keluarga yang hangat.


"Dia selalu sibuk. Nah Melody-chan, bagaimana?"


"Ah.. hmm, anno, saya dan Yudha akan memikirkannya nanti."


Mikan meraih ke dua tangan Melody. Memegangngnya erat. Matanya terlihat berbinar-binar. "Arigato, Melody-chan. Ibu mengandalkanmu!"


"I-iya, ibu mertua.." Melody menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ne Melody.." Panggil Mikan.


"Ya?"


"Kau masih saja kaku. Berbicaralah yang informal kepada ibu. Panggil aku ibu, jangan ibu mertua! Meski ibu adalah ibu mertuamu, tapi ibu kan sudah menjadi ibu ke duamu, ibu ingin kau memanggil ibu sama dengan cara Yudha memanggil ibu." Pinta Mikan.


"I-iya, Kaa-san.."

__ADS_1


Kaa-sa/ Okaa-san: Ibu.


.


.


.


MELODY'S POV.


Ini dia, cerita yang sering aku bacapun akhirnya terjadi di dalam kehidupan rumah tanggaku.


Aku belum genap sebulan menikah tapi sudah dimintai cucu dari ibu mertuaku. Haduh, aku harus bagaimana? Hubunganku dengan Yudha kan tidak sesederhana itu! Tidak mungkin kan tiba-tiba kami melakukan hubungan s3x dan membuat cucu untuk ibu mertua.


Huwaa, aku tak bisa membayangkannya! Aku juga belum siap melakukan kontak fisik secara intim dengan Yudha.


Banyak hal yang belum aku dan Yudha luruskan.


Yudha memiliki perasaannya sendiri, begitupun dengan diriku. Itu hal yang paling mendasar dari hubungan kami.


Lalu secara psikis, aku benar-benar belum siap melakukannya. Aku belum siap disentuh Yudha! Aku belum siap digrayangi Yudha!


Mia bilang, katanya s3x itu rasanya sangat sakit di awal. Dia melihat dari blue film yang dia tonton. Benarkah itu?


Sungguh jika itu benar, meski suatu saat Yudha akan memaksaku aku tidak akan pernah mau!


Aku akan menjaga diriku agar dia tidak macam-macam padaku!


Ya..


Namun..


Aku melihat cincin pernikahanku dengan Yudha. Meski aku seperti itu, tapi aku sadar, saat memutuskan masuk ke keluarga ini, segala keputusan dan keinginan pribadiku sudah tidak penting. Aku tak bisa egois lagi. Semua keputusan ada di Yudha, suamiku.


Jika Yudha menginginkanku, aku bisa apa? Meski itu rasanya akan sangat menyakitkan sekalipun.


Aku hanya bisa patuh..

__ADS_1


END OF MELODY'S POV.


__ADS_2