MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Terbongkar Identitas Asli


__ADS_3

Tok Tok Tok!


.


"Siapa?" Tanya dr. Aizawa setelah mendengarkan suara ketukan pintu yang berasal dari balik pintu ruangan kantornya.


"..." Tak ada jawaban, mungkin yang ia tanya tak mendengarkan seruannya.


"Masuk saja" Serun dr. Aizawa kembali sembari mendengus pelan.


Cklek..


"Konichiwa dr. Aizawa.." Sapa seseorang yang baru masuk kedalam ruangan dr. Aizawa, seorang wanita cantik berambut panjang sedada berwarna coklat yang terlihat begitu manis saat tersenyum pada dr. Aizawa.


"Eh, Kazehaya-san?" Delik dr. Aizawa sedikit kaget disusul dengan senyuman lebarnya.


Sudah seminggun pasiennya ini tak mengunjunginya.


"Ogenki desuka dr. Aizawa-san?" Ungkap Melody sembari mendekat kearah dr. Aizawa, wanita yang sedang hamil 7 bulan itu merupakan istri dari Kazehaya Yudha, sang perancang rumah sakit International Kazehaya. Ah, meski diperuntukkan untuk Alvin, tapi akta bangunan masih milik Yudha.


"Genki desu Kazehaya-san, saya senang Anda datang menemui saya…" Balas dr. Aizawa yang ikut berjalan menghampiri Melody.


dr. Aizawa menyentuh perut hanil Melody itu dengan penuh rasa kelembutan, ini hanya servis dari seorang dokter kandungan kepada pasiennya.


"Kazehaya-san… sudah lama rasanya kita tak bertemu tahu – tahu perut Anda sudah semakin besar saja, lihat juga wajah Anda, Anda jadi tambah cantik sekali... Apa mungkin anak-anak Anda nanti perempuan? Kapan Anda ingin mencoba USG agar mengetahui jenis kelamin anak Anda?" Kata dr. Aizawa sembari perlahan melepaskan tangannya dari perut Melody.


"Ah… Dr. Aizawa Anda terlalu berlebihan, Anda juga jadi semakin cantik sekarang... Dan lagi, saya tidak akan melakukan USG karena saya dan suami ingin mendapatkan kejutan saat lahiran nanti. Laki-laki maupun perempuan, kami tidak mempermasalahkannya." Balas Melody dengan muka yang bersemu merah.

__ADS_1


Malu juga mengatakan hal ini. Apa ya? Belum terbiasa saja membahas kehamilan dengan orang lain. Jujur saja, ia tak pernah membahas kehamilannya secara intens selain dengan Yudha.


"Ya tentu saja kan dari dulu saya memang cantik." Canda wanita lulusan dari salah satu Universitas kedokteran kenamaan di Belanda dengan sangat percaya diri.


"Iya – iya, kencantikkan Anda memang luar biasa. Memancarkan aura kehangatan. Rasanya saya menjadi tidak takut untuk prosesi melahirkan nanti. Wajah cantik Anda akan mengalihkan rasa sakit saat melahirkan." Tutur Melody dengan senyuman manis yang ia kembangkan.


Beberapa kali periksa kehamilan dengan dr. Aizawa memang membuat hubungan Melody dengan dokter ini menjadi cukup dekat. Mereka berdua tak segan-segan untuk saling melempar candaan satu sama lain.


"Anda ini bisa saja Kazehaya-san, saya benar-benar terharu. Oh ya sampai lupa, silahkan duduk dulu, saya bodoh sekali sih sampai membiarkan pasien saya yang tengah hamil 7 bulan ini berdiri terus, ayo… duduklah Kazehaya-san!" Titah dr. Aizawa pada Melody, lantas ia juga ikut mendudukkan tubuhnya yang berat itu di atas kursi kerjanya.


Hari ini memang banyak menerima kunjungan pasien.


"Eum, Terima kasih dr. Aizawa" Angguk Melody, lalu iapun duduk di atas kursi tamu yang ada di depan meja kerja dr. Aizawa.


"Kalau saya boleh tahu, sepertinya Anda berniat periksa? Ada keluhan soal kehamilan Anda?" Tanya Dr. Aizawa penasaran.


"Jika naik kereta seharusnya tidak apa-apa asal bukan naik pesawat. Namun untuk memastikannya, saya akan memeriksa keadaan fisik Anda terlebih dahulu." Kata dr. Aizawa mengerti.


"Baiklah, saya menyetujuinya."


dr. Aizawa pun melakukan prosedur pemeriksaan kepada Melody. Setelah hasil keluar, Melody pun diizinkan untuk melakukan perjalanan jauh ke Kyoto menggunakan kereta cepat Shinkansen.


.


.


.

__ADS_1


Tuan Han menyesap dalam-dalam dokumen berwujud akta pemindahan saham milik Yudha kepada dirinya itu. Hatinya sedang sangat bahagia hari ini. Bagaimana tidak? Apa yang ia inginkan mendekati kenyataan. Satu persatu. Pelan-pelan. Rencana yang sangat panjang dan membutuhkan waktu tahunan itu pun mulai terwujud. Banyak imporvisasi di tengah jalan. Berawal yang tujuan awalnya untuk membantai keluarga Kazehaya berserta keturun-keturunannya, tapi kali ini ingin menguasai kekuasaan Emperor Group, perusahaan mega bisnis yang memiliki aset tak terhingga nominalnya.


"Anda sudah melsaya kan hal yang benar, Melody-sama. Saya mengapresiasi tinggi keputusan yang Anda ambil saat ini. Meski Anda adalah walinya Yudha, tapi saya seperti melihat sosok Yudha ada pada diri Anda." Kata Tuan Han.


"Harusnya saya ini tidak berbangga hati karena pujian dari Anda. Tapi karena saya terlalu mencintai Yudha, maka saya ucapkan terima kasih." Kata Melody.


"Asal Anda tahu, Melody-sama. Dua laki-laki yang sangat mencintai Anda itu berusaha mati-matian agar Anda tidak bertemu langsung dengan saya. Namun Anda hanya dengan bermodal pelayan Anda, berani menghadap langsung saya seperti ini. Di daerah kekuasaan saya juga. Tidakkah Anda merasa tsaya t jika saya bisa membunuh Anda saat ini juga?"


Melody mensaya pkan kedua tangannya. Ia menggunakannya untuk bersandar. "Satu hal yang saya percayai di dunia ini bahwa hidup dan mati saya itu ada di tangan Tuhan. Bukan berada di tangan Anda, Tuan Han. Meski pun Anda menembakkan peluru ke dada saya jutaan kali, jika Tuhan belum berkehendak mati, maka saya belum akan mati."


Tuan Han lalu tersenyum. "Anda mengingatkan saya pada seseorang. Paman Hadinata adalah orang yang paling tidak takut mati meski jutaan peluru mengarah ke arahnya. Dia akan berteriak dengan lantang dan melawan semua musuh-musuhnya tak peduli betapa banyaknya itu. Dia adalah orang hebat, bukan pengecut yang bersembunyi saat semua orang mengabaikannya. Namun, karena sikap terlalu beraninya itu, akhirnya membawanya ke dalam kematian. Saya bersyukur, orang semengerikan mendiang paman Hadinata sudah meninggal dunia. Para rayap kecil pun berani mendirikan koloni baru dan memiliki seorang ratu. Menguasai sedikit demi sedikit tanah yang ada di negeri Jepang ini." Jelas Tuan Han panjang lebar.


Memang, jika membahas Hadinata memang tak akan pernah ada habisnya. Sosok yang sangat fenomenal di jaman kejayaannya.


"Wah wah, saya senang ada yang memujinya sampai sejauh itu. Bahkan paman Azumane juga sangat antusias saat membahas dia. Dia tak akan kelelahan meski menemani saya mengecat kamarnya berulang-ulang." Senyum Melody.


"Paman Azumane?" Gumam Tuan Han. Bagaimana ia harus mengartikannya?


"Ya, paman Azumane adalah paman saya." Kata Melody.


"Ha ha ha ha, apa yang sedang Anda bicarakan saat ini, hah? Kemana cara bicara Anda yang berkelas itu, Melody-sama? Kenapa tidak Anda tunjukkan lagi? Anda terlihat sangat menarik ketika Anda bersikap sok kuat seperti tadi." Kata Tuan Han.


"Jika paman Azumane adalah paman saya, maka Anda juga berkedudukan yang sama dengan paman Azumane. Anda tahu itu artinya apa?" Melody menatap Tuan Han lekat-lekat.


"..." Tuan Han menyimak pembicaraan Melody dengan baik. Kedudukan yang seperti apa yang membuat Azumane dan dirinya itu sama?


"Umehara Hadinata adalah kakek saya." Lanjut Melody.

__ADS_1


Tuan Han kaget bukan main.


__ADS_2