MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Keputusan


__ADS_3

Selama sisa waktu PKL di Miyagi, Melody benar-benar memanfaatkan dengan baik sisa waktu itu. Ia meninggalkan kesan yang baik di tempatnya PKL. Tidak mendapatkan perlakuan khusus, ia tetap menjalani praktik kerja yang sama seperti Mia dan yang lainnya. Cukup melelahkan mengingat banyak hal yang harus ia kerhakan. Apalagi dalam kondisi hamil seperti ini, gerak tubuhnya terbatas. Namun, itu bukanlah suatu beban. Ia justru sangat menikmatinya.


Tetap kerja meski sedang berbadan dua, eh maksudnya berbadan tiga.


Seperti itulah pengalaman yang ingin Melody rasakan. Menjadi sosok ibu yang kuat dan bisa melakukan banyak hal.


"Yudha, lepasin! Jangan peluk-peluk terus kenapa sih?" Kata Melody yang lama-lama cukup kesal juga karena Yudha tidak mau melepaskan pelukkannya.


Hari ini adalah hari kepulangannya ke Tokyo. Yudha dan Shuhei menjemputnya. PKL di Miyagi sudah selesai dengan baik. Tidak banyak kendala berarti. Semua lancar jaya bak jalan tolo bebas hambatan.


"Tidak suka aku peluk? Sudah bosan?" Tanya Yudha ikutan kesal. Pasalnya, ia sudah sangat merindukan Melody, tapi sekalinya ketemu Melody malah seperti ini.


"Bukan seperti itu, bukan! Kau terlalu lama memelukku. Aku harus membereskan barang-barangku." Jelas Melody.


Yudha semakin kesal karena menganggap Melody lebih mementingkan membereskan barang-barang daripada melepas rindu dengannya.


"Terlalu lama bagaimana? Hei Mel, aku baru memelukmu sejam!" Protes Yudha.


Ok. Bagi Yudha satu jam main peluk-pelukkan alan teletubbies dengan Melody itu waktu yang singkat permisa!


"Itu lama, Yudha no baka!"


"Jadi benar kau sudah bosan denganku? Kau juga sudah tidak suka berlama-lama berduan denganku. Menyedihkan sekali nasibku, selama ini yang menderita karena merindukanmu hanya aku saja. Kau sudah tak memiliki rasa yang sama denganku." Kata Yudha.


Ini bocah jenius maunya apa sih?


Melody gagal paham.


Jika ditanya soal perasaan pada Yudha, tentu saja ia sangat merindukan Yudha. Kenapa Yudha berpikir seperti ini? Hei, Yudha tidak tahu ya malam-malam usai telponan, ia menangis sejadinya di kamar? Jauh dari Yudha itu sangat menyiksa jiwa dan raganya! Jauh dari Yudha itu membuat rasa rindunya semakin bertambah besar setiap harinya! Jauh dari Yudha itu membuat makanan hambar rasanya! Jauh dari Yudha itu membuat sepi hati dan kamarnya!


"Aku sangat merindukanmu, papanya anak-anak! Jangan berpikiran yang aneh-aneh deh, Yudh! Kenapa sih? Ada apa? Sesuatu telah terjadi? Ada masalah? Aku tahu kau seperti ini bukan karena kau berlalu berlebihan akan perlakuanku padamu yang meminta pelukkannya sudahan, kan? Tanya Melody.


Yudha menatap Melody. "Mel, peluk aku!" Yudha membukan kedua lengan tangannya.


Melody menggelengkan kepala. Ia lalu memeluk Yudha. Sedikit sesak karena Yudha memeluknya dengan sangat erat.


"Kau menghimpit perutku!" Kata Melody.


Yudha tidak melonggarkan pelukkannya. Melodypun memilih untuk membalas pelukkan erat Yudha. Ia juga mengelus punggung Yudha. Suaminya itu tak hanya rapuh jiwanya, tapi fisiknya juga melemah.


"Maaf, aku hanya ingin memeluk kalian. Biarkan seperti ini sebentar lagi!" Kata Yudha.


"Iya. Nikmati waktumu, Yudh!"


"..."


"..."


Mereka berdua menikmati waktu bersama. Tidak bertemu sejam saja sudah membuat kalut, apa lagi seminggu? Tentu saja rasa rindunya itu menjadi sangat besar. Rindu memang berat, biar Dylan saja! Melody dan Yudha akan selalu bersama.


Yudha memiliki banyak masalah yang harus dihadapi. Terutama masalah Alvin dan urusan kantor yang melelahkan jiwa dan raganya. Ia juga harus mengeluarkan kemampuan otaknya lebih dari seratus dua puluh persen dimana ia tidak memiliki waktu untuk bersantai dan memikirkan hal yang tidak penting.


Di saat-saat berat seperti ini, ia membutuhkan sandaran, dan Melody adalah sosok yang tepat.


Yudha ingat kata kakeknya dulu sebelum menikahi Melody, kakeknya berkata jika di masa depan saat dirinya mulai merasa lelah dalam hidup, maka ia harus memiliki sosok untuk bersandar. Ia memang harus berterima kasih pada sang kakek karena sudah menghadirkan Melody ke dalam hidupnya.


Meski jujur, pada awalnya ia tak begitu yakin dengan pernikahan tanpa cinta, tapi saat ini, ia merasa sangat bersyukur.


"Mel.." Panggil Yudha yang masih memeluk Melody.


"Hm? Ada apa?" Tanya Melody.

__ADS_1


"Dadamu bertambah besar ya?"


😡😡😡


Buagghh.. Melody mengibas-ibaskan tangannya. Ia melepas pelukkannya pada Yudha.


"Sakit, Mel!" Protes Yudha karena baru saja mendapatkan pukulan telak dari Melody di perutnya.


Beruntung perutnya rata dan berotot, jika tidak, maka ia pasti sudah merasakan sakit yang luar biasa. Pukulan kepalan tangan Melody itu tidak main-main kerasanya.


"Kau ini sudah mesum, suka nggrayangi aku, kata-katamu juga sangat vulgar. Bagaimana jika Mia dan Shuhei-san dengar dari luar kamar ini, hah?" Kesal Melody.


"Kalu dengar memang kenapa? Mereka juga sudah pernah mendengar suara kita saat berhubungan intim. Bisa jadi malah sudah pernah melihat kita beradegan panas!" Celetuk Yudha.


Kesabaran Melody luar biasa. Ia ingin memukul kepala suaminya itu. Tapi ia urungkan, ia takut, Yudha akan menjadi semakin idot soal cinta.


Yudha memang sangat pintar dalam ilmu pengetahuan dan bisnis, tapi Yudha itu bodoh soal perasaan, apa lagi soal cinta. Melody menyadarinya ketika ia mencoba kilas balik masa-masa awal dimana ia belum jatuh cinta pada Yudha. Yudha mencoba perhatian padanya, tapi selalu berakhir tidak baik. Jika Yudha saat itu menjelaskan maksud dan tujuan segala bentuk perhatian pada dirinya, mungkin kisah salah paham atau pertengakaran tidak akan pernah terjadi.


"Setidaknya hargai mereka yang belum menikah, Yudh!" Kata Melody.


"Kenapa mereka tidak menikah saja? Jika mereka menikah, mereka bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan." Kata Yudha.


Melody memegang kedua pipi Yudha. "Memaksakan ikatan tanpa rasa itu tidak mudah. Belum tentu akan berakhir bahagia seperti kita. Kita sendiri saja mengalami banyak luka untuk sampai ke tahap ini. Kemampuan orang dalam bertahan juga berbeda-beda, tidaklah sama. Biarkan Mia dan Shuhei-san menemukan kisah cintanya sendiri!" Jelas Melody. Ia sedikit menekan pipi Yudha sehingga membut bibir Yudha manyun seperti bebek.


Sumpah itu lucu dan sangat manis sekali. Andai ada kamera saat ini, Melody ingin sekali merekamnya. Itu adalah sisi terlucu, termanis, terimut, ter-je-lek dari sosok seorang Kazehaya!


Kadang tumbuh dua tanduk setan di kepala Melody. Ya, menjaili Yudha itu adalah impiannya. Meski selalu banyak gagalnya. Yudha adalah lawan main yang terlalu tangguh untuk Melody kalahkan.


Berati karena Yudha diam saja ia perlakukan seperti ini, itu artinya Yudha sedang mengalah? Tidak juga, Yudha sedang tidak mood menanggapi perlakuannya. Yudha lebih tertarik pada obrolannya.


"Juavi, ihu hatinya hita ihi swedang behuntung?" Tanya Yudha. (Jadi, itu artinya kita ini sedang beruntung)


Melody tak tahan untuk tidak tertawa, suara Yudha sangat lucu terdengar di telinganya. Melody lalu mencubit pelan hidung Yudha.


"Ya, kita memang sedang beruntung. Tuhan terlalu menyayangi kita." Kata Melody.


Melody juga merasa beruntung, mesiki ia berhasil membuat muka Yudha nampak konyol, bahkan menertawakannya, tapi Yudha tidak marah terhadapnya.


Yudha malah mendaratkan ciuman singkat di bibirnya.


Ia terdiam untuk beberapa saat.


Ini memang bukan yang pertama ia berciuman dengan Yudha, tapi Yudha bisa menciumnya secara tiba-tiba. Yudha juga memiliki banyak gaya berciuman. Mulai dari yang sederhana, manis, dan sampai yang sexy. Dari ciuman lemut sampai yang kasar dan menuntut.


"You are a good kisser, my hubby." Kata Melody.


Yudha tersenyum. "Wajahmu manis sekali, Mel. Aku jadi ingin memakanmu saat ini. Namun sayang, nanti kita akan melakukan perjalanan jauh. Aku tak boleh membuatmu kelelahan."


"Cih dasar, bertahanlah untuk sebentar! Kita bisa bermain saat sudah sampai di rumah nanti. Kau memiliki hak penuh akan diriku, aku memiliki tanggung jawabku sebagai istrimu. Jadi, kau boleh meminta apapun kepadaku. Asal aku bisa mewujudkannya, maka aku akan berusaha mencoba untuk mewujudkannya."


"Melody istriku.."


"Ya, Yudha suamiku?"


"Aku minta kau tetap di sampingku apapun yang terjadi!" Yudha menatap Melody serius.


Melody menerima tatapan serius Yudha terhadapnya. Meski ini seolah-olah tak biasa, tapi ada yang tak ingin ia anggap sebagai bahan candaan.


Yudha memang sedang tidak bercanda!


"Ya, aku akan tetap di sampingmu apapun yang terjadi." Kata Melody. Ia juga sangat serius akan hal ini. Dorongan dari Mia tempo hari sudah menguatkan kemana arah tujuannya.

__ADS_1


"Aku minta kau hanya melihatku sebagai seorang laki-laki. Aku tak akan memaksamu melupakan Alvin, tapi aku harap hatimu hanya tertuju padaku." Pinta Yudha.


Menurut Melody, Yudha tak memintanya melakukan itu semuapun, ia hanya akan tetap melihat Yudha. Yudha adalah suaminya. Yudha adalah ayah dari anak-anaknya. Yang paling penting, Yudha adalah sosok yang sangat ia cintai.


Sosok yang ia cinta memelebihi apapun.


Tentu saja dalam konteks romance, tak bisa di samakan dengan rasa cinta pada ibunya atau keluarga lainnya.


"Aku hanya akan melihatmu sebagai suami dan ayah dari anak-anakku. Aku hanya akan mencintaimu. Di hatiku hanya ada dirimu. Aku bisa mengendalikan diriku soal Alvin, kuharap kau juga bisa mengendalikan diri soal Yura. You know it so well, Yudh. Aku tidak menyukai ulat genit itu!" Kata Melody jujur.


Jujur, sejujur-jujurnya. Ini adalah ungkapan rasa dari dalam hatinya untuk suaminya, Kazehaya Yudha.


Yudha memegang kepala Melody. "Aku tidak akan ragu lagi padamu. Soal Yura, aku sudah tidak peduli lagi. Saat kau terluka karena dirinya, akupun menjadi kalut. Sudah aku bilang, kan? Aku menderita jika bertengkar denganmu."


Melody senang.


Ia sangat senang sampai tak bisa berkata-kata. Yudha memang pandai berkata manis, tapi untuk saat ini, ia ingin mempercayainya. Ia ingin mempercayai manisnya kata-kata Yudha. Ia tahu, dari sorot mata Yudha ia semakin yakin, ada ketulusan yang amat besar di sana.


"I love you, Yudh." Ucap Melody.


"I love you more, Melody." Ucap Yudha.


Merekapun kembali berciuman. Tidak singkat seperti tadi, ini jauh lebih lama. Ciuman cinta penuh kasih sayang yang memabukkan. Meski memabukkan tapi tidak membuat hilang kendali. Ini hanyalah wujud dari bukti ketulusan rasa. Wujud dari bukti ketulusan cinta. Wujud dari bukti ketulusan kasih dan sayang.


Tak ternilai.


Tak tergambarkan.


Tak terlukiskan pula.


Tukarlah dengan emas dan berlian yang menggunung, maaf saja, cinta mereka lebih mahal dari itu!


Tukarlah dengan semua harta kekayaan simbah Wijaya, maaf saja, cinta mereka jauh lebih bernilai dari itu!


Tukarlah dengan buih di semua samudra yang ada di bumi ini, maaf saja, cinta mereka lebih banyak dari itu!


Tukarlah dengan semesta dan seiisnya, maaf saja, cinta mereka jauh lebih besar dari itu!


Cinta yang mereka bina adalah cinta yang suci dan murni. Cinta tanpa sarat. Cinta karena cinta. Cinta yang mencintai kelemahan masing-masing. Cinta yang menguatkan. Cinta yang saling mendukung. Cinta tanpa pura-pura.


Karena cinta mereka adalah cinta karena Tuhan.


"Setelah menyelesaikan segala urusanku di sini. Sekembalinya ke Tokyo nanti, aku harus segera menakhirinya. Aku akan kembali mengakhiri dan memangkas segala penghalang diriku untuk bersatu dengan Melody. Aku sudah hampir kehilangannya sekali, tidak untuk kali ini. Aku tidak ingin mengalami yang kedua kalinya. Melody adalah cintaku. Melody adalah milikku. Aku akan mepertahankannya meski aku harus menukar kembali hidupku. Cinta ini memang egois. Jika dia bersedia menjadi monster demi Melody, kenapa aku harus bersikap suci seperti malaikat? Akupun bisa menjadi sosok iblis yang laknat. Sekalinya berada di tanganku, maka aku tidak akan pernah melepaskannya. Meski kakakku sendiri yang mencoba melepaskannya, aku tidak akan tinggal diam. Melody is mine. Now and forever." Batin Yudha.


"Aku tidak akan minta maaf karena sudah mencintai dan memilih Yudha. Yudha adalah milikku. Aku tak akan membiarkan siapapun mengambilnya dariku. Aku akan melepas Alvin. Aku akan melindungi Yudha. Aku akan melindungi cinta kami. Aku memang harus memangkas semuanya. Karena bahagia itu perlu pengorbanan." Batin Melody.


________________________________________


Jika dulu aku tidak membuat mbah Wijaya tertusuk, mamahnya Alvin ingin balas dendam, maka kisah akan tamat di Yudha yang memilih Melody, atau Arc Kisah di Bawah Salju. Tapi ya gini nih, misteri-misteri di awal-awal chapter itu perlu diselesaikan. Alhasil, tidak hanya bakal jadi super panjang chapternya, tapi sudah seperti sinetron tukang bakso pergi naik haji.


Tak kusangka, menulis di luar romance itu sulit. 🙄 Aku kudu ubek-ubek otak dan banyak survei. Hah, jadi terlambat up. Btw, meski terlambat up, tapi diusahakan sekalinya up dalam satu chapter isinya lebih panjang.


Jika ada saran cerita, atau prediksi-prediksi, silahkan pada komen ya. Mungkin saja ada yang cocok dengan pola pikirku, aku bisa mengembangkannya nanti.


Tetep setia menunggu, moment Melody dan Yudha memang tak semanis dulu karena saat ini akan lebih fokus ke masalah yang lebih besar.


Dont forget to comment, like, share, or vote ya. I'm waiting for your support.


Oh iya, yang menyukai novel genre dark romance, silahkan kunjungi ERROR: Iblis in Love. Cinta yang memenjarakan diri. Cinta seorang iblis kepada wanita yang ditawannya. Ini mature ya, jadi buat yang di bawah umur, jangan dibaca!


Arigato gazaimasu, minna-san! Gambare!

__ADS_1


__ADS_2