
The next day.
Alvin menjemput ibunya di bandara. Ibunya baru saja mengadakan launching produk kosmetik baru di Swiss. Ia membawakan sebuket bunga seperti yang biasa ia lakukan. Ibunya terlihat sangat senang akan pemberian bunga dari anaknya.
Mereka memesan kopi di kedai kopi yang ada di bandara.
"Senyumu palsu, Sayang." Kata Kurenai.
Kenapa naluri ibunya itu luar biasa. "Ibu."
"Baru pertama kalinya kau terlihat seperti ini. Ada hal buruk terjadi padamu?"
Ya, rasanya semua yang buruk selalu terjadi padanya, dan kemarin adalah yang terburuk.
"Ibu.. Kenapa semua selalu sangat sulit untukku? Kenapa, ibu? Kenapa semua yang awalnya menjadi milikku terasa menjauh?"
"Saat ini, keburuntungan memang belum di pihak kita, Sayang. Tapi ibu tidak akan menyerah untuk memberikan kebahagiaan yang mereka renggut darimu."
"Ibu, aku tidak setuju dengan rencana ibu. Aku tak peduli dengan semua itu. Aku masih bisa tersenyum bersama ibu saja, aku sudah bersyukur. Aku hanya tidak bisa jika itu Melody."
Alvin memang tidak banyak menuntut darinya.
"Lupakan gadis itu! Dia istri saudaramu sendiri!" Tegas Kurenai.
"Aku tidak bisa melupakannya, ibu. Dia cinta pertamaku."
"Dia bukan dari kalangan atas, Alvin!"
"Kenapa status begitu dipermasalahkan dalam keluarga ini? Kazehaya, Uchiyama, semua mempermasalahkan status. Bukankah ibu awalnya juga bukan berasal dari kalangan seperti mereka? Kenapa Melody tidak bisa, Ibu?"
"Alvin, gadis itu sudah menikah!"
"Lalu kenapa? Yudha tidak mencintainya! Melody hanya terpaksa menjalani pernikahannya! Aku hanya ingin menyelamatkannya!"
Kurenai terperangah. Ia tahu jika Yudha dan Melody menikah karena dijodohkan. Ia juga tahu anaknya pernah menjalin hubungan dengan Melody di SMA dulu. Ia bahkan juga tahu jika Amamiya Yura, model kosmetiknya sering curi pandang dengan Yudha, begipula dengan Yudha.
"Dirimu yang sekarang tidak akan bisa mendapatkan gadis itu. Kau terlalu baik, Sayang."
"Ibu, aku akan melakukan apapun untuk ibu, tapi kumohon, kembalikkan Melody padaku!" Tatapan Alvin sangat serius.
Keinginannya untuk menyelamatkan Melody melebih apapun. Ia bahkan bisa meninggalkan prinsipnya demi Melody. Ia sangat mencintai Melody.
"Alvin!"
"Jadikan aku bonekamu agar aku bisa memilikinya lagi, Ibu!"
__ADS_1
"Ibu akan menjadikanmu raja, Sayang!"
Kurenai lalu memeluk Alvin. Ia lantas tersenyum penuh arti.
Cinta yang begitu besar rupanya bisa mengubah anaknya menjadi seperti ini. Memang, sudah lama ia dan anaknya menderita. Hidup seperti orang asing padahal Alvin itu adalah keturunan Kazehaya. Anak kandung dari putra tunggal keluarga Kazehaya. Anak yang tak diakui oleh kakek Wijaya.
Setelah hidupnya dihancurkan oleh kakek Wijaya, ia mengalami masa sangat sulit dalam membesarkan Alvin. Semua terasa semakin sulit saat kemudian ayah Alvin meninggal. Kazehaya Yoga.
Awalnya ia memang tak ada niat akan kekayaan Kazehaya seperti yang kakek Wijaya tuduhkan. Ia hanya ingin hidup bahagia dengan laki-laki yang dicintainya, ayahnya Alvin. Namun halangan terlalu sulit ia lewati sampai akhirny ia menyerah akan perjuangannya mendapatkan hak pengakuan atas anaknya sebagai keturunan Kazehaya.
Tuhan menjawab do'anya. Menginjak hampir 10 tahun kemudian, ada seorang laki-laki yang ikhlas menerimanya dan Alvin. Uchiyama Azumane. Laki-laki kaya yang baik hati. Sejak saat itu, ia bersama keluarga barunya, Uchiyama, menata kembali hidupnya yang sempat hancur itu.
Sampai sekarang, ia bisa berdiri kuat di atas kakinya sendiri. Saat ini, ia sudah berani menantang keluarga Kazehaya. Luka di masa lalu haruslah terbalas.
.
.
.
MELODI CINTA
.
.
.
'CUCU PERTAMA KELUARGA KAZEHAYA DIPERKENALKAN'
'ALVIN: KELUARGA KAZEHAYA MENIRIMAKU DENGAN BAIK'
'AHLI WARIS: ALVIN SAINGAN YUDHA?'
Headline news berita bertebaran. Berita tentang diakuinya Alvin sebagai bagian dari keluarga Kazehayapun diumumkan di dalam peresmian rumah sakit yang dirancang khusus oleh Yudha. Banyak wartawan yang datang meliput sehingga berita itu menjadi viral di media.
Yudha terlihat sangat bahagia saat ia akhirnya bisa memperkenalkan Alvin sebagai 'kakaknya' di hadapan semua orang. Hal yang sangat Yudha impikan sejak dulu terjadi.
Sementara Melody menatap bahagia kedua laki-laki yang saling berpelukkan itu. Yudha dan Alvin. Suami dan mantan kekasihnya. Suami dan kakak iparnya.
Mulai saat ini, Alvin adalah kakak Yudha berarti dia menjadi kakak iparnya. Kisahnya dengan Alvin sudah lama berlalu. Ia mengakhirinya dengan damai. Setahu Melody, Alvin juga tak mempermasalahkan pernikahannya dengan Yudha. Melody merasa jika semua akan baik-baik saja.
Semoga saja.
"Kakek, terima kasih sudah mewujudkan keinginanku." Kata Yudha.
__ADS_1
Kakek Wijaya tersenyum. "Tentu saja, kakek akan selalu menuruti aturan permainan yang kita buat, Yudha. Kau bersedia menikahi Melody, maka aku akan memasukkan Alvin dalam kartu keluarga kita."
"Kuharap kakek tidak bermain curang."
"Kalau kau curiga, sebaiknya jangan kau tunjukkan, Yudha. Kau masih baru dalam dunia seperti ini! Awasi saja langkahmu selanjutnya! Setiap keputusan yang kau ambil akan mempengaruhi keputusan selanjutnya.. Jangan mudah terbuai dengan apa yang sudah kau dapatkan saat ini! Permainan kita belum usai, ini masih awal mulanya. Perhatikan musuhmu! Mungkin saja bukan hanya kakek." Sang kakek menasihati.
Yudha memikirkan nasihat dari kakeknya itu. Kakeknya adalah musuh sekaligus panutannya.
"Aku mengerti, Kek. Arigato gozaimasu."
Arigato gozaimasu: Terima kasih banyak.
"Anak ini memang terlihat kuat, tapi sejujurnya dia bukan apa-apa. Dia terlalu polos dalam hal seperti ini. Keinginannya terpenuhi saja sudah membuatnya hampir melupakan kewaspadaanya. Tenang saja, Yudha. Jika kau tidak bisa memenangkannya, biarkan kakek yang bermain. Kakek pasti akan mendapatkan pujian darimu suatu hari nanti." Batin Kakek Wijaya.
.
.
.
Kurenai duduk di kursi balkon sambil menatap keluar pemandangan dari lantai 3 rumah sakit baru yang Yudha bangun sebagai hadiah untuk Alvin. Pemandangannya cukup indah. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya.
"Yudha, pion yang tak disangka-sangka. Dia mengajukkan permintaan seperti itu demi Alvin. Hmm, Tuhan membukakan jalan menjadi lebih mudah. Kuharap, suatu hari kau tak akan menyesal karena hal ini, Yudha-chan." Gumam Kurenai senang.
.
.
.
"Setelah ini, semua akan lebih mudah. Aku tidak akan membiarkan Yudha terlalu jauh menyakiti perasaanmu, Melody. Aku akan menjadi monster sekalipun jika perlu. Aku pasti akan menyelamatkanmu. Yudha tidak mencintaimu. Dia hanya melihat Yura. Aku tidak ingin membuatmu berada di tempat yang salah." Batin Alvin.
Ia melirik Melody yang sedang bercengkrama dengan palayan pribadinya, Ayane.
.
.
.
"Uchiyama-san (sebutan Yura untuk Kurenai) mengatakan padaku jika aku ini memiliki segalanya, bukan tidak mungkin aku akan mendapatkan segala sesuatu yang aku inginkan meskipun itu sudah menjadi milik orang lain sekalipun. Yudha saat ini menjadi milik Melody, tapi aku akan merebutnya kembali karena Yudha itu hanya melihatku dan akan selalu seperti itu. Aku sudah lelah dengan semua ini, aku akan masuk dalam permainan. Bukan sebagai pion, tapi sebagai pemain!" Kata Yura usai pemotretan majalah Tokyo fashion.
.
.
__ADS_1
.
"Permainan akan semakin seru."