MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Mikan dan Orion


__ADS_3

Tentang usia para pemain:


Current:


- Melody 21 tahun


- Yudha 22 tahun


- Alvin 22 tahun


- Mia 21 tahun


- Shuhei 22 tahun


- Nao 22 tahun


- Si kembar Neil dan Ayumi 22 tahun


- Yura 22 tahun


- Sai 22 tahun


- Simbah Wijaya 56 tahun


- Simbah Chiyo 54 tahun


- Mikan 43 tahun


- Kurenai 43 tahun


- Tsuchiya 43 tahun


- Orion 40 tahun


- Aron 37 tahun


- Azumane 40 tahun


- Ayane 25 tahun


- Nakamura 45 tahun


- Shota 45


Hadinata usianya sama dengan simbahnya Yudha, 56 tahun jika masih hidup. Meninggal ketika Melody belum lahir, atau sekitar usia 35 tahun.


Yoga meninggal di usia 30 tahun, jika masih hidup saat ini usianya 45.


Yoda dan Mikan menikah saat mereka berusia 22 dan 20 tahun. Usia mereka dikurangi usia Yudha + hamil 9 bulan.

__ADS_1


Jika ada yang bertanya kenapa masih pada muda tapi memiliki anak atau cucu, maka jawabannya karena mereka menikah usia 20an tahun. Sama seperti Yudha dan Melody. Dasarnya karena dijodohkan.


Semoga bisa diterima.


________________________________________


Atap gedung rumah sakit...


"Cuaca sangat cerah, anginpun berhembus lebih kencang di atas sini." Gumam Mikan yang kini berdiri di dekat batas dinding gedung.


Ia berpegangan pada batas itu dan memejamkan kedua matanya untuk menikmati terpaan sinar matahari dan belaian sang angin.


"Mikan-san, kau tidak pernah berubah. Memilih menerima sinar matahari daripada melawannya." Kata Orion.


Orion berdiri di samping Mikan.


Awalnya Mikan ingin mencari udara segar karena kepenatan yang ia rasakan. Menghawatirkan Yudha dan Melody, tapi tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak memiliki kekuatan besar untuk membantu Yudha. Sejak dulu, ia memang selalu lemah dan tak bisa berdiri sendiri. Hal itu membuatnya sangat kesal. Ia marah pada dirinya sendiri. Sialnya, meski ia merutuki dirinya sendiri, itu tidak berguna sama sekali.


Ketika Mikan sedang memperbaiki suasana jiwanya, tak sengaja ia melihat Orion yang sedang melakukan panggilan telepon.


Tidak mungkin kan ia penasaran dengan siapa Orion berbicara? Meski nampak serius dan seolah masalah besar sedang terjadi, tapi ia tak berhak mengetahuinya.


Ingat, ia adalah kakak ipar dari Orion!


"Kenapa aku harus melawan sinar matahari? Tetap membuka mata untuk melawannya? Tidak hanya membuat silau, tapi pandanganku akan menggelap dalam beberapa saat. Tidak ada yang bisa dibanggakan dengan keberanian melawan sinar matahari." Kata Mikan.


Menerima \= memejamkan mata.


"Masuk akal memang. Menerima sinar mataharipun bisa dilakukan dengan kegelapan juga. Pada dasarnya menerima dengan memejamkan mata juga menghasilkan kegelapan. Lalu apa bedanya dengan melawan sambil membuka mata, Mikan-san? Hasilnya semua menjadi gelap."


Memejamkan mata menjadi gelap, membuka mata juga akan membuat pandangan menggelap setelahnya.


"Jelas beda, Orion-san."


"Bedanya dimana? Semua sama-sama menjadi gelap, kan?"


Mikan menatap jauh hamparan langit di hadapannya. "Ketika membuka mata untuk melawan kuatnya sinar matahari, maka tak hanya gelap pandangan mata, tapi sakit juga. Pusing tak terkira."


"Itu kenapa kau akan tetap kalah dari Kurenai-san. Kau tidak pernah berani mengambil resiko untuk berjuang dan berkorban untuk apapun yang kau inginkan." Kata Orion.


"Kita sedang membahasa sinar matahari, bukan wanita itu." Mikan tak suka mendengar nama wanita itu disebut ketika ia sedang menikmati indahnya karya Tuhan seperti ini.


"Meski kau tak suka, tapi kau sedang berpikir bagaimana caranya untuk menyingkirkan wanita itu, kan? Kurenai-san itu seperti matahari dan kau itu bulan. Bulan yang masih menganggap dirinya butuh bantuan sinar matahri agar sang bumi alias kak Yoga, menyadari keberadaanmu."


Mikan tersenyum. "Analogimu itu terlalu berlebihan, Orion-san."


"Ini memang berlebihan, tapi sangat cocok denganmu. Aku tidak salah, kan? Kau dengan bodohnya menerima kehadiran Kurenai agar kak Yoga mau melihatmu. Kenapa kau selalu saja bodoh? Kenapa kenapa kau selalu membiarkan hatimu terluka? Kenapa kau rela jika suamimu berbagi cinta dengan wanita lain? Wanita yang jelas-jelas tak bisa dibandingkan dengan dirimu."


"Kau sejak dulu selalu perhatian padaku, padahal sudah jelas-jelas aku tak pernah melihatmu lebih dari seorang adik ipar. Kau itu juga bodoh!" Mikan kembali tersenyum.

__ADS_1


"Tapi orang bodoh ini hanya sedang mempertahankan rasa cintanya." Orion menoleh ke arah samping, melihat Mikan yang bahkan masih setia memandang lurus ke depan.


"Tapi orang bodoh seperti diriku ini juga hanya sedang mempertahankan rasa cintanya." Mikan menoleh ke arah Orion dan lagi-lagi tersenyum.


Mikan mencengkram erat batas gedung itu. Meski ia tersenyum, tapi bulir air mata menghiasi pipi indahnya. Mata indah itu nampak tergenang air kesakitan yang menahun.


"Orion-san, sakit sekali rasanya. Namun kenapa? Kenapa aku masih saja bertahan seperti ini?"


"Karena kau bodoh!"


"Memang kau tak sakit bertahan sampai selama ini?" Tanya Mikan.


Orion mengalihkan pandangan. Ia melihat putihnya awan tak beraturan berada di tengah langit yang berwaran biru. Awan itu berjalan sendirian.


"Hanya melihatmu tetap hidup, aku sudah bahagia." Jawab Orion.


Bagi Mikan, jawabam Orion itu sangat sederhana. Namun alasan yang sederhana itu bisa membuat Orion bertahan sampai sejauh ini.


Mikan bukan tidak paham bagaimana Orion memiki perasaan terhadapnya. Orion pernah mengungkapkan perasaanya, tapi ia menolak karena ia lebih mencintai Yoga.


Namun Orion bukan tipe laki-laki yang memaksakan perasaanya. Orion sangat menghargai apa yang Mikan inginkan. Orion hanya memilih tetap berada di samping Mikan ketika sang wanita pujaan terluka. Ketika sang wanita pujaan menangis dan bersedih karena ulah Yoga. Bagi Orion, Mikan itu sangat berharga melebihi hal terindah apapun di dunia ini. Hal ini pulalah yang menjadi alasan Orion tetap bertahan sampai sekarang ini. Tidak menikah dan terus melihat Mikan sebagai wanita pujaan di dalalam hatinya.


"Kau terlalu naif!" Kata Mikan. "Melihatmu seperti ini membuatku merasa sangat bersalah. Orion-san, tolong akhiri perasaanmu terhadapku! Kau berhak bahagia! Kau pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari diriku! Di luar sana, masih banyak wanita yang bisa mencintaimu dengan tulus. Jangan buang kesempatanmu untuk mencintaiku yang jelas-jelas tak bisa membalas perasaanmu ini."


"Mikan-san... kau keterlaluan!" Bentak Orion. Sakit. Bagaimana bisa Mikan berkata seperti ini terhadapnya? Ini sungguh keterlaluan.


"O-Orion-san..." Mikan kaget karena baginya, Orion membentak itu sangat jarang. Apa lagi dengan nada keras seperti ini.


"Kau keterlaluan dan sangat jahat. Tega-teganya kau meminta orang yang begitu mencintaimu sejak lama untuk mencari cinta yang lain! Kau berpikir itu mungkin mudah bagimu, tapi itu sangat sulit untukku. Kau dalam dunia yang berbeda denganku saja, aku tetap mencintaimu. Hatimu untuk orang lain saja, aku juga tetap masih mencintaimu!"


"Kau sangat paham jika diriku ini tidak akan pernah berubah untuk tidak mencintainya. Dia sudah ada di hatiku sejak lama. Meski banyak luka darinya dan hubungan kami tidak berjalan mulus, tapi aku tetap mencintainya dan akan selalu seperti itu."


Orion menatap tajam Mikan. "Aku tidak pernah memintamu untuk berhenti mencintainya! Aku tidak pernah memintamu menerima cintaku! Cukup diam dan rasakan betapa tulus rasa cintaku padamu! Cukup jangan membuatku menjauh darimu! Kau tahu itu, jika kau memintaku menjauh darimu, aku tak akan bisa. Hatiku terluka dan rasanya sakit sekali... Aku tak memintamu mengerti tentang sakit ini, aku tak akan meintamu berbelah kasihan kepadaku. Hanya saja, jika kau punya hati, janganlah kau dorong aku untuk menjauh darimu! Jangan lakukan itu! Jangan!"


Mikan merasa jika karena sikap Orion yang seperti itu justru malah akan membunuh Orion secara perlahan. Dimana yang ia rasakan jika Orion semakin kesini, semakin menjadi asing di matanya. Ia ingin melihat Orion yang seperti dulu saat tertawa bersamanya di taman bunga Villa Tulip House. Orion membuatkan mahkota dari rerumputan liar dan bilang ingin menjadikan dirinya sebagai putri raja apapun yang terjadi. Orion melakukan banyak hal agar bisa membuatnya bahagia.


"Bagiku kau adalah putri raja dan akan selalu seperti itu." Tambah Orion.


Orion lalu berjalan meninggalkan Mikan yang menangis. Rasa tidak tega itu akan selalu ada. Rasa tak mampu meninggalkan Mikan selalu ada bahkan sudah sejak dulu. Rasa itu selalu tertinggal dan mengganjal dalam relung hatinya. Mikan sunggu menguasai hatinya, bukan hanya itu, meski ini sangat berlebihan, namun, Mikan memang sudah menguasai jiwa dan raganya. Ia tak berdaya akan hal ini. Sudah mencoba melepaskannya beberapa kali, tapi selalu gagal dan itu malah semakin membuatnya terluka. Lukanya semakin hari semakin menganga.


"Dia dulu sangat dekat denganku seolah tanpa sekat. Namun ketika ia dijodohkan dengan kakak, dia berubah menjadi sok sopan. Kenapa kita harus memiliki sekat yang begitu ketara, Mikan? Padahal aku tak masalah jika kau hanya mencintai kakakku. Aku tak masalah jika kau mengabaikan rasaku. Aku tak masalah sekalipun kau berpura-berpura tidak tahu jika aku mencintaimu. Jika aku diizinkan kembali ke masa lalu, maka hari itu, aku tak akan bilang padamu jika aku mencintaimu... Maaf Mikan, maaf membuatmu seperti ini." Batin Orion.


Sepeninggal Orion..


Mikan masih menangis. Hati yang lemah adalah identitas dirinya. Mikan paham itu. Namun yang namanya perasaan, tentulah tak bisa dipaksakan. Meski banyak orang yang tidak setuju dan mengatai bodoh, tapi ia bisa apa? Perasaannya bahkan sulit ditawar. Sulit sekali. Mungkin tidak akan bisa.


"Orion, aku juga sangat menyayangimu, aku pun mencintaimu, namun kakakmu sudah datang lebih awal mengisi hatiku. Maaf, gara-gara lemahnya hatiku dan rasa sedih di hati ini membuatmu seperti ini... Maaf, karena sudah membuatmu layaknya seorang 'monster'."


----------------------------------------

__ADS_1


Yang nunggu Iblis Ray yang tidak sabar menyantap mbak Kiara atau Mas Satria yang cemburu karena Mbak Sifa kurang peka, maaf belom bisa Up, penulis lagi fokus namatin Mas Yudha dan Mbak Mel yang ceritanya super panjang.


Penulis juga nulis di platform lain. Otaknya kebagi-bagi. Di platform lain penulis malah asyik dengan doter bedah dan mantannya, dokter hewan.


__ADS_2