MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Wejangan


__ADS_3

Apa yang Melody harapkan dari hubungannya dengan Yudha setelah mereka melakukan hubungan suami-istri?


Pertanyaan Mia tepat sasaran. Mengenai jantungnya. Membuat rada sesak di sana. Ngilu dan perih. Ia bahkan harus menggigit bibirnya sendiri.


"Apa yang aku harapkan dari hubungan ini ya?" Gumam Melody.


"Jangan jawab karena bisnis! Jawablah pakai hatimu!"


"Pakai hatiku?" Melody sejenak berfikir. Pakai hati?


"Ya, pakai hatimu! Tanyakan hatimu, apa yang kau inginkan dari pernikahanmu dengan Yudha!"


Mia merasa hubungan Melody dan Yudha itu lambat seperti siput. Ia tidak tahan. Ia harus melakukan banyak hal agar ikatan Melody dan Yudha itu semakin erat. Buku nikah saja tidaklah cukup.


"Aku.." Melody berpikir keras untuk sekedar memastikan apa yang ia harapkan.


Apa yang benar-benar hatinya harapkan.


Apa yang ia harapkan dari pernikahannya dengan Yudha? Uang? Bukankah ia sudah mendapatkannya? Benda berharga? Logam mulia? Ya, itu juga sudah ia dapatkan. Cincin berlian. Kalung berlian. Smartphone—walau sudah hilang.


Anak? Hei, itu bukan saatnya, kan? Tapi Anak kan bisa ada karena Yudha sudah melakukan itu dengannya? Apa suatu saat Yudha dan ia akan melakukannya lagi? Saat itu tiba, bagaimana ia harus bersikap? Ya, maksudnya mungkin saja Yudha memintanya melakukan hal itu lagi? Bukan maksudnya juga ia merasa ingin melakukannya lagi.


Ano.. itu, bagaimana ia harus mengungangkapkanya? Kenapa ia tiba-tiba menjadi gugup sendiri? Membahas hal-hal yang menjurus ke sana memang bukan bakatnya.


Melody mulai kebingungan sendiri. Memang apa yang sebenarnya hatinya harapkan? Apa yang sebenarnya hatinya inginkan? Semua sudah ia dapatkan, kan? Bukankah awalnya ia memang hanya butuh uang untuk bayar hutang?


"Melody?" Mia mencoba menyadarkan Melody dari lamunannya.


"..." Melody menoleh ke Mia.


"Kau belum tahu apa yang hatimu inginkan?" Tebak Mia ketika melihat ekspresi menyedihkan Melody.


"..." Melody menggeleng pasrah.

__ADS_1


"Astaga! Nyonya Kazehaya! Ini sudah setengah tahun kau tinggal bersama dengan Yudha, seatap dan seranjang juga! Kalian sudah tidur bersama! Setidaknya benih cinta pasti tumbuh di antara kalian! Aku yakin itu!"


Kenapa rasanya Mia ingin sekali kesal? Kesal yang tidak jelas ini membuatnya ingin melampiaskannya pada Melody. Ayolah, ia merasa senang karena Melody bisa menikah dengan Yudha yang memiliki latar keluarga sempurna. Melody tidak perlu lagi kerja sambilan demi mendapatkan uang tambahan. Tapi, jika hubungan pernikahannya cuma jalan di tempat, rasanya jadi greget sendiri.


Sebagai sahabat ia tidak rela jika kebahagiaan Melody hanya sampai di batas ini.


"Cinta? Hahahah. Kau semakin aneh saja, Mia! Perasaan Yudha ke Amamiya-san itu sangat besar. Aku tahu itu dari awal. Aku hanyalah orang luar yang memaksa masuk ke dalam hidupnya Yudha. Jangan dikira hanya dengan melakukan hubungan intim sekali, kau bisa menyimpulkan jika aku dan dia akan jatuh cinta! Tidak akan semudah itu. Justru karena hubungan intim itu, aku membuat Yudha semakin menderita. Dia pasti merasa sudah menghianati perasaannya sendiri karena sudah meniduriku, orang yang jelas-jelas tidak ada di dalam hatinya."


Mia tertegun. Sahabatnya bahkan memikirkan Yudha sampai sejauh ini. Melody sangat peduli dengan Yudha dan kebahagiaan Yudha. Rasanya ia mulai paham bagaimana sulitnya menjadi Melody yang harus menjalani pernikahan bisnis seperti ini. Mungkin ia akan mempertimbangkan saran Melody untuk menjalani pernikahan atas dasar cinta.


"Rumit sekali hidupmu, Melody."


"Ya begitulah. Rumit."


"Tapi aku harap Yudha bisa melihatmu suatu hari nanti."


"Aku tak bisa berharap banyak darinya, Mia. Dia sudah terlalu banyak memberi kebutuhanku. Di sini yang belum menerima banyak itu hanyalah Yudha. Aku belum memberikan apa-apa padanya."


"Jatuh cintalah padanya, Melody!"


"Cintai Yudha! Berikan cinta yang lebih besar dari cinta Amamiya Yura!"


"Aku tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta padanya!"


"Mulai sekarang kau harus memikirkannya!"


"Aku..."


"Kau harus mencintainya, Melody! Cintailah Yudha! Berikan hatimu padanya! Kuasai dia! Rebut dia dari Amamiya Yura!" Potong Mia cepat.


"Hoe, kenapa kau jadi pemaksa seperti ini sih? Ada apa denganmu? Kurang piknik? Seperti bukan dirimu saja, dasar bebek!"


"Habisnya. Kalian terlihat sangat cocok!"

__ADS_1


"Hanya dari matamu."


"Mungkin iya, tapi lingkungan sekitarmu banyak yang mendukung. Itu adalah doa! Aku hanya ingin percaya pada pernikahanmu dengan Yudha sampai akhir."


Jujur saja, Mia sudah lama memendam ini. Ia mulai menyimpulkan banyak hal. Kedekatan Yudha dan Yura saat di hotel, kebersamaan manis Melody dengan Alvin, atau bagaimana ia harus menyimpulkan tatapan penuh makna Alvin pada Melody? Tatapan lembut itu. Tatapan meneduhkan itu. Tatapan itu terlihat seperti. menginginkan.


"Mia, aku.."


"Jawab dengan jujur, apa kau masih memiliki perasaan pada Alvin-senpai?"


Alvin? Ah, Mia memang mengetahuinya.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Jawab saja, Melody!"


"Itu kisah lama."


"Aku tahu, tapi dia itu kini menjadi KAKAK IPARMU! Kuharap kau tidak memiliki perasaan lagi padanya!"


"Tidak dalam hal romantis. Kita sudah sering membahasnya, Bebek! Antara aku dan Alvin-senpai hanyalah kisah masa lalu. Kini kami hanya bersahabat dan tentu saja menjadi keluarga. Seperti yang kau bilang, Alvin-senpai adalah kakak iparku mulai saat ini dan aku adalah istri Yudha, adiknya."


"Aku ingin percaya padamu, Melody. Tapi Alvin-senpai adalah mantanmu yang masih sangat mencintaimu. Kau harus ingat itu! Jika kau membuka pintu sedikit saja padanya, dia pasti akan berharap!"


"Mia, Alvin-senpai tidak akan melakukannya sampai sejauh itu. Dia adalah pria yang baik. Alvin-senpai memiliki masalah yang jauh lebih besar daripada diriku. Dia sedang berjuang keras di keluarga Kazehaya ini. Dia tidak akan setega itu pada Yudha tentang diriku. Lagi pula, rasanya kita hanya terlalu percaya diri jika Alvin-senpai masih memiliki perasaan padaku. Mia, kau tahu, Alvin-senpai mendukung pernikahanku dengan Yudha. Dia tidak akan mungkin melakukan hal bodoh yang justru dapat merugikan dirinya sendiri."


"Mungkin kau benar, Melody. Tapi, Alvin-senpai adalah laki-laki yang pernah mencintaimu begitu besarnya. Cinta itu buta, Melody. Sebaik apapun Alvin-senpai, jika rasa cintanya padamu membuta, maka ia pasti akan melakukan apa saja untuk membuatmu kembali kepadanya." Batin Mia.


"Tapi, Mel..." Mia masih ragu.


"Mia, percayalah, semua akan baik-baik saja."


"Aku berdoa yang terbaik untuk kalian. Tapi ingat, jangan pernah memberi harapan pada Alvin-senpai!" Suara Mia terdengar sangat serius.

__ADS_1


Melody memahaminya. Ia memang sejak awalnya tidak memiliki perasaan cinta pada Alvin. Ia memang menyukai dan menyayangi Alvin, tapi bukan dalam hal romantis. Hal itu yang membuatnya memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Alvin secara baik-baik sewaktu SMA dulu.


"Aku akan mengingatnya, Mia."


__ADS_2