MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pesta 5: Berbicara Part 1


__ADS_3

Di depan kamar hotel Melody.


Melody membuka pintu kamar ketika terdengar suara ketukkan dari luar. Betapa kagetnya ia ketika mendapati Yura sedang berdiri tepat di hadapannya.


Dalam hati Melody bertanya, apa yang Yuta inginkan? Kenapa Yura mendatangi kamarnya? Darimana Yura tahu dirinya menginap di kamar itu? Lalu, apa yang harus ia lakukan? Ayane sedang keluar mengambilkan dirinya cupcake coklat yang tadi disuguhkan di acara pesta ulang tahun pernikahannya dengan Yudha.


"Amamiya-san?" Kaget Melody. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Ia bahkan sampai refleks melebarkan kedua matanya.


Selama ini, Melody selalu kalah aura dengan Yura. Meski ia bisa sangat berani, tapi itu karena kekuatan The Power of Kepepet atau atas sokongan dari Ayane.


"Konbanwa, Melody-san." Sapa Yura.


Konbanwa, Melody-san: Selamat malam, Melody.


"Ko-konbanwa, Amamiya-san. Ada sesuatu yang ingin Anda bahas dengan saya?" Tanya Melody sesopan yang ia bisa.


"Kenapa kau berbicara sangat sopan? Terakhir kali kita bertemu, kita berbicara dengan bahasa normal tanpa perbedaan kasta." Tanya Yura.


"Sudah lama tidak bersua, kurang pantas saja untuk dilakukan." Jawab Melody yang berusaha untuk kuat.


"Hmm, sodesu ne. Nah Melody-san, aku ingin berbicara sesuatu denganmu, bisa?" Tanya Yura.


Dalam hati Melody ingin bilang jika ia tidak bisa, kasarnya tidak mau berbicara apapun dengan Yura saat ini dan di masa depan! Namun, entah bagaimana mulutnya malah berkata sebaliknya.


"Ya. Mari kita cari tempat yang nyaman!" Ajak Melody. "Sial, apa sih yang aku bicarakan saat ini? Tinggal tolak saja, apa susahnya sih? Kalau aku menolaknya, Yura akan langsung minggat dari hadapanku." Lanjut batinnya.


"Ya..."


Melody mengajak Yura berjalan menuju balkon hotel, sementara Mia berusaha mengintip dari belakang. Melody dan Yura tidak menyadari keberadaan Mia.


.


.

__ADS_1


.


Balkon Hotel...


Suasana pemandangan kota malam nampak dari balkon hotel. Kerlap-kerlip lampu berwarna-warni. Hasil dari ilmu pengetahuan manusia lebih dari dua juta tahun dimana di masa sejarah ini, manusia mampu menaklukkan malam. Tidak ada lagi ketakutan akan gelapnya malam. Ya, setidaknya itu yang kini di rasakan para penghuni kawasan kota.


"Malam ini adalah malam yang indah, meski angin berhembus lebih dingin dari biasanya." Ucap Yura. Ia memejamkan kedua matanya untuk menerima terpaan angin malam akhir bulan Maret.


"Apa balkon hotel kurang nyaman untukmu, Amaiya-san? Kita bisa pindah tempat jika kau menginginkannya." Tawar Melody.


Yura membuka matanya. Ia tak menoleh ke arah Melody yang kini berdiri sekitar dua meter di sampingnya.


"Tidak, aku menyukai tempat ini. Jauh lebih nyaman dari kerumunan banyak orang di dalam sana." Jawab Yura.


"Benarkah?"


"Ya."


"..."


"..."


"Ini bukan angin yang dingin. Ini adalah angin yang sangat sejuk. Bagiku, ini adalah angin yang membuat jiwaku tenang. Kenapa bagi Yura ini terasa dingin? Apakah tubuhnya selemah itu? Ah... Hmm, aku tak pandai membaca situasi, tapi apa mungkin depresinya belum membaik? Sebentar, tapi dia terlihat jauh lebih kalem dari saat dia membuat masalah denganku dan Yudha." Batin Melody.


"Kapan kau akan melahirkan, Melody-san?" Tanya Yura.


"Dia bertanya padaku ya? Sudah diamnya? Apa aku hanya harus menjawab saja?" Batin Melody. "Jika normal, tiga bulan lagi. Namun bisa lebih awal lagi." Jawab Melody.


"Hm, semoga lancar sampai persalinan nanti."


"Seriusan ini? Dia berdoa kebaikkan untukku? Bukankah harusnya dia itu sangat membenciku? Jika ini di dunia per-manhua-an, maka aku pasti akan menjadi target bully, schemming, atau balas dendam. Aku akan difitnah, dibuat keguguran, atau bahkan dibunuh. Sumpah, aku merasa jika romance di manhua itu banyak yang mengerikan. Dimana banyak cewek yang rebutan satu cowok, cowok yang cinta pada pemain utama cewek, tapi para cewek itu malah menargetkan si pemain utama cewek. Si bapaknya yang selingkuh, eh si anak hasil perselingkuhan yang dijadikan sasaran istri pertama. Jika istri pertama itu waras, harusnya yang disalahkan itu suaminya! Bukan anak hasil perselingkuhan itu! Hah... oke, aku malah jadi emosi seperti ini malahan. Satu pertanyaanku, apakah kisah seperti itu exist di dunia nyata?" Batin Melody. Ia memang hanya perlu menjawab apa yang perlu dijawab saja. "Ya, terima kasih, Amamiya-san." Kata Melody yang enggan berpusing ria atas kata-kata kebaikkan dari Yura.


"Mengingat apa yang terjadi di antara kita tahun lalu, sepertinya kau ini sangat membenciku ya?" Kata Yura.

__ADS_1


"..." Melody terdiam.


Rasa benci kepada Yura? Tentulah itu ada. Bohong sekali jika rasa itu tidak ada. Ia ingat bagaimana cara Yura mempermainkan kehidupan pernikahannya dengan Yudha yang membuatnya ingin bercerai dengan Yudha waktu itu. Ia harus menderita dalam waktu yang lama. Bahkan, ketika semua kesalahpahaman terselesaikan, ia tahu jika Yudha juga terluka sama seperti dirinya.


Yudha mungkin tidak membenci Yura karena masa lalu mereka yang berharga. Namun bagi Melody, rasa benci itu masih memiliki ruang di dalam hatinya.


"Ya, itu adalah hakmu untuk membenciku dan aku memang pantas untuk kau benci. Kesalahanku waktu itu sangatlah besar. Keegoisanku membawa petaka buruk dalam rumah tanggamu dengan, Yudha. Semua memang berawal dari diriku. Aku merusak kehidupan rumah tanggamu dengan Yudha dan konsekuensinya, akupun justru merusak hidupku sendiri." Kata Yura.


"..." Dari cara Yura bercerita, ada nada sendu yang terdengar. Melody ingin mendengarnya.


"Kau pasti sudah tahu kan bagaimana berakhirnya karir profesional dari seorang Amamiya Yura?"


"..." Melody mengangguk. Yura menjadi bulan-bulanan di dunia maya dan itu sangat mengerikan. Ia memang memiliki rasa benci pada Yura, tapi tidak sampai mengatai Yura sekasar netizen.


"Tak ada tawaran iklan untukku, adeganku di film di potong, agensi memutus sepihak kontrakku, dan aku harus meangakhiri karir profesionalku sebagai model."


"..." Itu sangat miris. Efek satu kesalahan bisa sampai sebesar ini. Matematika Tuhan itu luar biasa dimana 1-1\= semau Tuhan.


"Aku berimpi untuk menjadi model terkenal. Bukan hanya karena Sai-kun yang pernah bilang kepadaku. Saat aku di depan kamera, aku merasa menjadi pusat perhatian. Bagaimana kilat-kilat cahaya dari kamera, membuatku bersemangat. Aku merasa dibutuhkan banyak orang. Saat banyak orang yang membutuhkanku, maka aku merasa berguna. Aku merasa bahagia ketika bisa membantu mereka. Aku bisa membantu memasarkan produk mereka dan membawa keuntungan untuk mereka. Ya, itu yang aku rasakan. Namun, aku ini terlalu jumawa dengan pencapaianku hingga Tuhan sendiri yang harus menyentilku."


"..."


"Model profesional dan artis pendatang baru Amamiya Yura kini hilang di jagat industru entertainment Jepang."


"..." What a pitty. Itu yang Melody pikirkan.


"Nah Melody-san, aku sudah mendapatkan karmaku, tapi hidupky masih terasa hampa. Masih ada yang kurang." Yura menoleh ke arah Melody.


Ia menatap Melody.


"..." Melody juga menatap Yura.


"Untuk itu, aku minta maaf atas semua kesalahanku kepadamu. Honto ni gomenasai, Melody-san." Kata Yura dengan segala ketulusan hatinya.

__ADS_1


Honto ni gomenasai: benar-benar minta maaf.


__ADS_2