MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Flashback Versi Mikan 9


__ADS_3

FLASHBACK ON


Setelah menikah, Mikan dan Yoga hidup 'lumayan' bahagia. Pasalnya dasar cinta di antara mereka berdua itu sudah ada sejak dahulu. Masalah saling mengasihi dan saling mencintai tidak perlu mengalami tahap yang sulit layaknya perjodohan tanpa dasar cinta seperti yang Melody dan Yudha.


Melody dan Yudha mengalami masa yang berat di awal pernikahan mereka. Menikah dengan orang baru dalam hidupnya, perlu tahap perkenalan karakter, dan perlu waktu cukup lama untuk menyadari kehadiran cinta di antara mereka berdua.


Kembali ke pasangan Mikan dan Yoga. Setelah dua bulan menikah, Mikan akhirnya hamil. Kehidupan rumah tangga akan sempurna bila dikaruniani anak di tengah-tengah mereka dan mereka mendapatkan anak dalam waktu yang tak lama. Kehamilan ini sebenarnya hasil schemming dari Nyoya Besar keluarga Kazehaya, Kazehaya Chiyo karena melihat hubungan Mikan dan Yoga sangat lama progressnya sementara keluarga Kazehaya butuh generasi baru.


Schemming yang dilakukan oleh Kazehaya Chiyo itu untuk jalan kehidupan rumah tangga Mikan dan Yoga ke arah yang lebih baik, terutama soal urusan ranjang.


Mengerikan bukan? Anak dan menantynya sendiri bahkan dijebak. Tak hanya sekali, tapi sudah berlangsung saat keduanya belum menikah.


***


Awal kehamilan nampak umum seperti halnya ibu hamil pada umumnya. Ngindam, mual, muntah, dan pusing. Namun menikmatinya dengan bahagia.


Time skip..


"Mikan, Kurenai sudah hamil delapan bulan. Ano, boleh aku menjenguknya?" Tanya Yoga hati-hati.


"Boleh." Jawab Mikan.


Yoga terlihat sumringah karenanya. "Benarkah?" Ia mencoba memastikan.


"Jika kau bertanya lagi, maka aku tidak jadi mengizinkanmu!"


"Maaf, jangan seperti itu, aku mohon..."


Sebenarnya Mikan ingin tertawa. Apa ya? Ini itu seperti memiliki suami takut istri. Padahal sejatinya, Yoga itu sangat tegas jika di kantor. Namun ketika bersamanya, Yoga menjadi seperti kucing peliharaan yang penurut. Yoga sangat nurut kepadanya. Apapun yang ia katakan, Yoga dengarkan. Apapun yang ia inginkan, Yoga wujudkan. Apa lagi semenjak ia hamil, perhatian Yoga menjadi dua kali lipat lebih banyak.


Andai kata Yoga tidak menghamili wanita lain, maka sungguh ia akan berkata pada dunia dan Tuhan jika saat ini, dirinya merasa menjadi wanita paling bahagia sesemesta alam raya.


Namun, memang di dunia ini sama sekali tidak ada yang sempurna seperti Tuhan. Pasti ada kekurangannya. Ketika merasa seperti ini, jalan kedamaian jiwa yang wajib ditempuh adalah dengan bersyukur.


Bersyukurlah pada apapun atas kebaikan yang didapat sekecil apapun itu. Karena dengan bersyukur, maka semua terasa cukup dan memiliki tingkat kebahagiaan yang sederhana. Jika orang bilang bahagia itu sederhana, maka merekalah orang-orang yang pandai bersyukur dengan segala keterbatasan mereka.


Oke cukup, bacot no jutsu-nya author muncul. Maklum sok puitis memang jalan ninjaku! 😎


"Iya. Tapi aku ingin ikut denganmu. Aku ingin tahu keadaannya bagaimana. Walau aku tak menyukai ibunya, tapi anak itu tetaplah anakmu. Bukan kesalahannya berada di tengah kesalahan orang tuanya." Kata Mikan.


"Kau tidak akan membenci anak itu?" Tanya Yoga yang tak menyangka jika akan mendengar pernyataan seperti itu dari Mikan. Ia tahu, Mikan itu membenci Kurenai sampai ke sel darahnya. Sampai ke ubun-ubun saja tidak akan cukup.


"Kenapa aku harus membenci anak yang bahkan belum terlahir? Anak itu tidak bisa memilih siapa orang tuanya karena semua itu takdir dari Tuhan. Masalahku kan bukan dengan anaknya, tapi dengan ibunya dan kau. Meski hubungan kita membaik, sulit bagiku melupakan luka yang sudah kalian torehkan kepadaku. Ingat, aku ini hanya manusia biasa. Aku bukan malaikat yang tak memiliki emosi. Aku bertindak sesuai dengan kata hatiku. Aku butuh waktu yang lama untuk menerima dan memaafkan kesalahan yang tak kecil ini. Entah sampai kapan aku akan seperti ini. Namun, aku bisa menahannya dan bersikap biasa saja. Aku istri sahmu, aku menghormatimu sebagai suamiku. Aku berharap, kau juga menghormati pola pikirku." Jelas Mikan.


Yoga menyentuh kepala Mikan dan memeluk Mikan setelahnya.


"Terima kasih banyak. Sudah mau bersamaku saja aku sudah sangat bersyukur." Yoga melepaskan pelukkannya. Ia laku memakaikan sweater kepada Mikan. "Ayo kita menjenguk Kurenai!" Ajaknya.


"Hm. Ayo!"


Mereka berdua berangkat untuk menjenguk Kurenai. Tempat tinggal Kurenai masih di kawasan kota Tokyo. Ia tinggal di rumah yang Yoga sewa. Rumah yang tidak besar, tapi nyaman untuk ditinggali oleh ibu hamil. Yoga bahkan menyewa dua asisten rumah tangga untuk menemani Kurenai dan membantu merawat rumah.


Sesampainya di rumah Kurenai, Kurenai sudah berada di depan rumah, mendengar kabar jika Yoga akan datang, ia menunggu Yoga di depan rumahnya. Menunggu dengan wajah penuh senyumannya. Mikan pikir jika saat ini, Kurenai sedang sangat merindukan Yoga. Lihatlah wanita itu, begitu girang saat melihat Yoga keluar dari mobil.


"Kau mendapatkan perhatian dari kak Yoga karena kau mengandung anaknya. Namun aku yang menikah dengan Yoga, aku pun juga sedang mengandung anaknya. Posisiku jauh lebih kuat darimu, Kurenai-san." Batin Mikan dari balik kaca mobil.


Ia membiarkan Kurenai melepas rindu pada Yoga. Ia ingin tertawa, Yoga nampak risih karena lengannya digelayuti seperti itu.


"Aku keluar saja dari mobil. Jika kelamaan, nanti wanita itu semakin keenakan. Dia pikir bisa bermain seenaknya dengan suamiku, hah? OkeN aku pun membuka pintu mobil dan melangkahkan kakiku keluar. Aku kembali menyeringai karena Yoga berjalan cepat menuju ke arahku. Dia membantuku keluar dari mobil. Dia memegangi tangan dan pundakku seraya mengucapkan hati-hati. Cinta Yoga padaku itu tak diragukan. Dia bisa refleks meninggalkan Kurenai yang kini berdiri dengan tatapan kesalnya. Oh, aku yakin, di dalam hatinya saat ini, dia sedang mengutukku. Mengutukku karena aku mengganggu acara bersenang-senangnya. Aku tak mau minta maaf padamu, memang aku salah apa? Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan." Batin Mikan.


"Terima kasih sudah membantu, kak Yoga." Kataku.


"Iya, sama-sama."


"Aw.." Mikan merintih sakit.


Yoga langsung panik. "Ada apa? Ada yang sakit? Dimana? Dimana yang sakit?" Tanya Yoga. Ia memeriksa ke sana ke mari untuk memastikan keadaan Mikan.

__ADS_1


Bagi Yoga, mengemudi jarak yang lumayan jauh untuk ibu hamil pastilah membuat pegal dan tak nyaman.


"Kak Yoga, kakiku pegal. Aku ingin duduk saja." Kata Mikan.


"Ya sudah, kita masuk ke dalam. Aku akan membopongmu." Kata Yoga. Ia membopong Mikan. "Kurenai, tolong bantu bukakan pintu." Katanya saat melewati Kurenai.


Kurenai yang nampak masih kesal, semakin merasa kesal. Namun ia tahan dan berjalan mengekor Yoga yang membopong Mikan. Sesampainya di depan pintu, ia membantu membukakan pintu rumah.


Yoga meletakkan tubuh Mikan secara perlahan di sofa panjang ruang tamu.


Ia menyibakkan gaun hamil mahal sedikit ke atas. Ia lalu memijat lembut kaki Mikan.


"Kak Yoga, sakit! Pelan-pelan seperti semalam loh!" Kata Mikan.


"Iya maaf. Ini juga sudah pelan, Mikan." Kata Yoga.


"Masak memijat tidak pakai minyak urut sih, Kak? Kak Yoga tidak ingat tadi Kak Yoga menyalakan AC mobilnya cukup dingin? Kakiku kini jadi dingin dan pegal, Kak! Ini kan salah Kak Yoga!" Omel Mikan.


"Maafkan aku, Mikan. Aku akan mencari minyak urut dulu di minimarket depan sana. Kau ingin makanan lain?" Tanya Yoga.


"Bubur kacang merah, jus manga, dan stick jagung. Oh iya, jangan lupa tisunya." Jawab Mikan.


"Aku tak akan melupakannya. Ya sudah, kau tunggulah di sini, aku ke minimarket dulu. Aku usahakan tidak akan lama." Kata Yoga. Mikan hanya mengangguk.


Yoga berjalan untuk berangkat menuju ke minimarket yang ada di seberang jalan sana. Ia menyempatkan berhenti di depan Kurenai.


"Kau juga ingin titip sesuatu?" Tanya Yoga.


"Teh oolong dingin, kripik kentang, dan... hmm, itu saja, Yoga-san." Jawab Kurenai.


"Baiklah. Kalian tunggulah, aku akan kembali secepat yang aku bisa!"


.


.


.


Sepeninggal asisten rumah tangga yang kini sedang mengambil minuman di dapur, dua wanita hamil ini juga belum berniat menyapa. Keduanya sama-sama enggan menyapa duluan. Rasanya akan kalah jika harus membuka mulut duluan.


Pemikiran yang aneh.


Mikan tahu itu. Dalam hati sebenarnya ia juga tak tahu kenapa ia sampai mau ikut Yoga untuk menemui Kurenai. Karena anaknya Yoga? Bisa jadi, tapi ini lebih ke atah, hm, bagaimana ia harus menjelaskannya? Intinya, ia merasa tidak suka dan was-was ketika Yoga berada di dekat Kurenai.


Lalu, apa ini seperti yang dikatakan oleh banyak orang? Orang menyebutnya sebagai perasaan cemburu?


"Tidak, tidak! Aku tak mungkin cemburu pada Kurenai dan laki-laki bejat itu. Sial, aku tak bisa mengendalikan diriku saat aku harus mengizinkan kak Yoga bertemu dengan Kurenai... Aku melirik ke arah Kurenai, ahh, wanita ini sangat cantik. Aku mengakui kecantikannya di atas rata-rata wanita Jepang pada umumnya. Jika dia tak jadi pelacurr, agensi model pasti akan merekrutnya. Dia tinggi dan memiliki badan bagus. Oh shiit, her ***** are bigger than mine! ... Cih, wajar saja, dasar bodoh! Dia itu sudah hamil 8 bulan... Apa kak Yoga akan tergoda? ... Aku menggelengkan kepalaku. Tidak! Kak Yoga bukan laki-laki yang akan tergoda dengan hal-hal seperti. Lagi pula, dia sudah berjanji kepadaku. Dia tidak akan menghianatiku. Karena ketika dia menghianatiku, maka dia akan kehilangan segalanya." Batin Mikan.


"Anata wa Mikan-san desu ne?" Tanya Kurenai menyapa lebih dahulu. Ini bukan soal menang dan kalah, tapi ia adalah tuan rumah.


Anata wa Mikan-san desu ka?: Anda Mikan, kan?


"Hai, sodesu. Watashi wa Mikan desu. Anata no namae wa Kurenai-san desu ne?" Jawab Mikan dan bertanya balik.


Hai, sodesu. Watashi wa Mikan desu. Anata no namae wa Kurenai-san desu ne?: Iya. Saya adalah Mikan. Nama Anda Kurenai, kan?


"Hai, watasi no namae wa Kurenai desu." Jawab Kurenai.


Hai, watasi no namae wa Kurenai desu: Ya, nama saya Kurenai.


Bagi Mikan maupun Kurenai, ini adalah pertama bagi mereka berbicara langsung seperti ini. Mereka bahkan belum pernah berkenalan satu sama lain. Dengan situasi dan kondisi tidan mengenakan seperti ini.


Istri sah dengan selingkuhan? Istri sah dengan simpanan? Istri sah dengan pelakor? Istri sah dengan istri tidak sah? Istri sah dengan istri siri?


Mana yang cocok untuk menyebutkan posisi mereka saat ini? Haruskah menyebut satu sama lain dengan sebutan 'Mbak?' Rasanya lucu juga.


Lupakan soal itu! Itu sama sekali tidaklah penting. Penyebutan posisi tak ada gunanya karena keduanya sama-sama berstatus calon ibu dari anak-anaknya Kazehaya Yoga. Itu yang lebih utama dimana dasar itulah yang membuat mereka berdua kini bisa saling sapa penuh rasa percaya diri dan sebuah senyuman yang tersungging di sudut bibir.

__ADS_1


Bukankah orang baik itu saling menyapa dengan ramah? Menggelikan. Di dalam sana rasanya tak tahan ingin tertawa. Ayolah, mau-maunya percaya dengan mudahnya.


Hei, itu semua adalah palsu!


Ya, itu adalah palsu.


Palsu.


P-a-l-s-u.


Dari keduanya sudah tahu jika sejak pertama mereka membuka pembicaraan, keduanya langsung memasang tameng kepalsuan. Sok ramah, sok welcome, sok biasa saja, mereka berdua pandai memainkah emosi mereka masing-masing.


Ingin menunjukkan dominasi dalam pembicaraan.


Mereka berdua memiliki tujuannya masing-masing. Saat ini mereka berdua sama-sama tahu jika mereka berdiri berseberangan sebagai seorang musuh. Itu gila jika mereka bisa akrab dan berbagi laki-laki yang sama.


"Bagimu mungkin jika kau memiliki kak Yoga seutuhnya, maka kau akan menang. Namun beda denganku. Kak Yoga bukan satu-satunya tujuanku. Kak Yoga itu seperti batu loncatan saja. Apa aku licik? Ya, aku memang licik. Tak hanya ingin membuat kak Yoga menjadi milikku seutuhnya, tapi juga mengalahkanmu dalam segala hal... Ah Kurenai, tunjukkan sesuatu agar aku memiliki alasan kuat untuk menjadikanmu musuhku. Jika tidak, maka kau sama sekali tidaklah pantas meski hanya untuk sekedar berdiri di depanku!" Batin Mikan.


Mikan menunjukkan senyum terbaiknya. Ia mengusap perutnya. Anak yang ada di dalam kandungannya sepertinya sedang tidak nyaman.


"Syukurlah, Kak Yoga sungguh mencukupi kehidupanmu dengan sangat baik. Aku ikut senang." Kata Mikan.


"Apa yang ingin kau katakan, Mikan-san? Berhentilah bersikap sok baik terhadapku, tidaklah mulutmu pegal karena berusaha berbohong?" Kata Kurenai.


Mikan tertawa. "Bertanya dengan baik, tapi tidak disambut dengan baik. Belajar tata krama dari mana kau itu, heh? ... Ah, aku lupa, mungkin kau malah sama sekali tidak pernah belajar tata krama. Gomen ne, harusnya aku lebih perhatian lagi. Kak Yoga memintaku bersikap baik terhadapmu agar aku bisa belajar dari kisahmu yang hidup di bawah. Maklumlah, Nona Manja seperti diriku tahunya apa-apa sudah disediakan. Jadi harus belajar banyak hal." Kata Mikan.


Mikan melihat Kurenai mencengkram baju hamilnya sendiri. Ia tersenyum di dalam hati. Ia ingin tahu seberapa batas sabar Kurenai dalam menanggapi kata-kata keterlaluan darinya itu.


"Benar juga, Nona Manja seperti dirimu memang tak akan pernah tahu bagaimana kerasnya hidup di rimba. Aku tak paham maksudmu berbicara seperti itu, tapi aku tegaskan padamu, Mikan-san. Meski kau menikah dengan Yoga-san, tapi dia pasti akan memilihku suatu saat nanti." Kata Kurenai.


"Harusnya kau mengambil nafas dan menghembuskan terlebih dahulu. Dengan begitu, kau akan tetap mampu mengendalikan emosimu! Miris sekali melihatmu yang seperti ini. Jika sedang tidak hamil, aku yakin kau akan segera menjambak rambutku... Kurenai-san, berhentilah berhalusinasi! Jika tak terwujud, sakit loh. Mungkin juga akan membuat gila. Kasihan kan anakmu nanti kalo ibunya gila? Aku sih tidak peduli." Kata Mikan.


"Mikan-san, apa menurutmu pemilihan kata-katamu itu menunjukkan kwalitasmu sebagai seorang putri dari keluarga terpandang? Aku menyambut baik kedatanganmu ke rumah ini. Namun, tidakkah itu mencurigakan? Harusnya kau tahu jika aku dan anakku itu sangat jarang bisa bertemu dengan Yoga-san. Namun dengan tampang muka tebalmu itu, kau datang ke rumah ini bersama Yoga-san. Kau terlalu rakus, Mikan-san! Kau tidak mengerti bagaimana layaknya bersikap untuk berbagi... Ah, aku sadar dari tatapan merendahkanmu itu, kau sama sekali enggan berbagi. Namun kau tak bisa mengekang Yoga-san sesukamu, karena aku tahu, Yoga-san itu adalah tipe laki-laki yang siap meninggalkan semuanya tanpa penyesalan. Dia pasti juga akan bisa meninggalkanmu suatu hari nanti. Jangan sok jumawa dengan posisimu saat ini. Ingat, roda kehidupan itu akan terus berputar!" Kata Kurenai.


"Aku akan menunggu sampai hari itu tiba." Kata Mikan dingin.


Mikan sadar jika kata-katanya itu berlebihan dan sangat kasar. Tak seharusnya ia yang sedang hamil berkata seperti ini. Namun rasa cemburu di dalam hatinya itu membakar jiwanya yang kering.


Yoga memang terkesan sangat mengutakaman dirinya. Namun, Yoga bisa tertawa lepas saat dengan Kurenai. Tawa yang tak pernah ia dapatkan saat bersama dengan Yoga.


Kenapa Yoga jika saat bersama dengan Kurenai bisa memancarkan aura tanpa beban? Apakah Kurenai itu memiliki sesuatu yang tak ia miliki? Kenapa seperti itu? Mikan sungguh enggan mrengakuinya, tapi fakta memaksanya untuk menerima. Dirinya memang bukanlah sosok yang bisa menarik Yoga mengeluarkan jati dirinya.


Percuma cinta, percuma sayang, tapi nyatanya ada bagian diri yang berkhianat.


END OF FLASBACK.


.


.


.


Normal time..


"Mom, you use to be like a fox before." Kata Melody.


"Ibu tahu. Ibu cukup licik dan bermulut kasar waktu itu. Ibu ingin merasa aman dengan posisis yang dapatkan. Nyatanya jika dipikir, ibu jugalah wanita yang jahat terhadap mereka. Andai saja ibu tak bersikap agresif seperti itu, mungkin Kurenai tidak akan sedendam dan sebenci ini kepada ibu." Kata Mikan.


Melody meraih kedua tangan ibu mertuanya itu. Ia menggenggam erat untuk memberi kehangatan di sana.


"Ibu sudah mengakui kesalahan ibu, itu mulia, Bu. Aku bangga pada ibu. Dalam posisi tiga cincin memang berat. Aku dulu juga agresif ketika Yudha dan Yura dirumorkan selingkuh. Huuuh, aku ingin membunuhnya saat itu." Kata Melody.


Jika ingat rasanya menjadi kesal. Namun ia coba singkirkan karena karma buruk antara dirinya dengan Yura sudah diputus dengan saling memaafkan.


"Wanita memang complicated ya hidup dan pikirannya?" Gumam Mikan.


Mereka lalu saling tersenyum dan tertawa setelahnya.

__ADS_1


"Inti dari cerita masa lalu, akan segera ibu bahas. Apapun itu, kau berilah nilai dengan pola pikirmu, Mel. Ibu ingin tahu apa pendapatmu.l dan ibu juga berharap kau akan menemukan sesuatu peluang untuk mengetahui keberadaan Yudha." Kata Mikan.


Melody menatap ibu mertuanya lekat-lekat. Ada sorot tajam di sana. Ia pun menggangguk. Ia memang ingin tagu hal-hal di masa lalu yang menurutnya saat ini itu saling berhubungan.


__ADS_2