
Mimpi buruk demi mimpi buruk. Seperti lembaran buku yang dibolak-balik. Gambaran-gambaran mengerikan itu datang pada Yudha, mengejarnya, menyergapnya, membungkusnya dalam rasa takut yang pekat, bagaikan selimut hitam yang dingin membekukannya hingga mati perlahan-lahan.
Hampir setiap malam Melody mengigaukan Yudha. Terhitung semenjak berpisah dengan Yudha di motel daerah Chiba waktu.
Wajahnya pucat dan keningnya mengilap karena keringat dingin. Terkadang igauannya berubah menjadi isak tangis. Itu memilukan. Amat memilukan hati istrinya.
Hampir setiap malam Melody terbangun. Setiap kali terjadi; igauan, erangan, dan isak tangis Yudha selalu membuat hatinya tersayat-sayat. Melody tidak bisa terbiasa dengan itu. Berapa kalipun terjadi, rasanya tetap saja memilukan. Membuatnya menangis diam-diam. Hanya diam-diam. Karena dia tahu dirinya harus kuat untuk Yudha.
"Jangan takut, Yudha-kun. Kau tidak sendirian. Ada aku di sini bersamamu. Aku akan setia menantimu. Aku dan anak-anak kita menunggumu pulang. Jangan bersedih! Jangan kesakitan! Jangan mebangis! Jangan tunjukkan wajah sedih penuh lukamu saat kau mampir di mimpiku! Aku ketakutan, Bodoh! Yudha no baka! Baka! Baka!" Melody terisak.
Dekapannya pada foto Yudha selalu berhasil membuatnya terselamatkan dari mimpi-mimpi buruknya ketika ia melanjutkan tidurnya.
"Sayang, tak apa! Aku baik-baik saja! Aku menangis karena si kembar nendangnya agak keras kok. Tidak, itu bukan darimu. Aku tahu kau akan baik-baik saja! Yudha kan hebat. Yudha kan suamiku. Suaminya Melody!"
Senyuman hangat dan tatapan teduh dalam mata zamrud itu selalu ampuh membuat hati tenang. Ini memang hanyalah ilusi-ilusi yang ia ciptakan sendiri karena rasa frustasi jauh dari Yudha. Harapannya ia bisa kembali terbuai dalam lelap sampai pagi menjelang.
Dan rupanya ini cukup berhasil.
Menurut Melody, mimpi-mimpi buruk itu terlalu sering terjadi belakangan ini. Intervalnya semakin pendek. Dari satu kali dalam semalam, bahkan sekarang nyaris setiap kali ia memejamkan matanya.
Nyaris setiap malam, nyaris setiap kali tertidur.
Apakah itu sebuah pertanda dari kondisi Yudha yang memburuk? Apa sesuatu yang mengerikan sedang dialami Yudha? Atau kah itu hanya refleksi dari kondisi psikologisnya yang sedang tidak stabil, misalnya depresi karena sedang hamil tanpa suami di sampingnya? Melody tidak tahu.
Melody menelpon Mia untuk curhat apa yang ia rasakan. Untuk mencari pekuat akan apa yang membuat tubuhnya ketakutan. Mimpi buruk itu sungguh membuatnya tak kuasa.
"Ada apa Melody? Kenapa kau menangis?" Tanya Mia lewat telepon.
"Tidak, aku hanya kebangun dan mimpi buruk soal Yudha. Hehe." Jawab Melody.
"Coba aku tebak? Kau ketakutan dan baru saja menangis lalu mencoba kuat, tapi karena kurang yakin makan kau menelponku?"
Melody tertawa. "Mia memang paling hebat. Tahu saja apa yang aku rasakan saat ini. Iya, aki memang merasa seperti itu. Tebakanmu benar."
"Orang yang saling mencintai terhubung sampai sedalam ini ya? Kau dan Yudha pasti memiliki ikatan yang sangat dalam dan kokoh. Kalian melewati banyak hal tapi Tuhan masih menghubungkan batin kalian."
"Ada anak, Mia. Ada anak di antara aku dan Yudha. Mereka menghubungkanku dengannya."
"Ada berkahnya juga kau hamil meski di saat yang kurang tepat seperti ini. Harimu sangat berat, tapi anak-anak dalam rahimmu memberimu semangat. Angugerah memang tergantung dengan bagaimana kita menilainya ya?"
"Aku sering berbicara pada perut membesarku. Kadang mau tertawa saat mengingatnya, namun lucu dan membuat tenang saat aku melewati hari tanpa ayahnya anak-anak."
"Penasaran nih aku jadinya. Kepo dong sedikit, kalian membuat anaknya kapan? Bukankah kalau dihitung waktunya itu kalian dalam posisi sedang tidak baik? Yang masalah Ulet Genit itu membuat kalian bertengkar hebat, kan?" Mia ingat betul akan hal ini.
"Iya. Sex yang aku lakukan dengan Yudha juga sangat jarang. Kalau tidak salah itu sex keduaku dengan Yudha. Langsung jadi dan bodohnya aku baru tahu setelah hamil beberapa minggu."
"Waah, tajam juga itunya Yudha. Tancap dua kali langsung jadi. Topcer dah." Mia Tertawa.
Melody malu. Mia memang suka vulgar kalau bicara. "Aku yang pas masa subur, makanya langsung jadi."
"Hahaha, tidak kebayang saja bagaimana orang yang sedang marahan bisa berperang panas di ranjang. Kalian bercumbu juga, kan?"
"I-iyalah.. Namanya juga sex. Tentu saja kami bercumbu. Yudha bahkan menciumi seluruh tubuhku dan meninggalkan jejak-jejak kepemilikannya."
"Wadidaw.. gilaaaa.. cih, aku jadi pengen nikah dan melakukan sex dengan suamiku!"
Melody tertawa. "Semoga cepat menemukan jodoh! Ayumi dan Nao sepertinua juga akan segera bertunangan."
"Iya. Akhirnya abang Neil merestui juga. Haha. Ikut bahagia buat sepupuku itu dah. Nah Meldoy, apa kau sudah merasa baikan?"
"Iya. Sudah. Terima kasih ya sudah mendengarkan curhatku! Aku senang bisa bercerita padamu. Maaf karena malam-malam sering sekali mengganggu tidurmu."
"Santai saja. Kita kan teman dekat. Kita saling dukung satu sama lain. Kau butuh aku, aku butuh kamu. Ingat, aku akan selalu senang jika kau cerita akan semua masalahmu kepadaku. Jika aku tak bisa membantumu, setidaknya aku bersedia mendengarkan keluh kesahmu."
"Mia yang terbaik!"
"Melody juga yang terbaik!"
"Aku ingin jumpa denganmu, jalan-jalan ke mall, makan bareng, tapi untuk saat ini sulit. Masih sangat bahaya. Haah. Tapi tak mengapa, aku pasti akan melalui semua ini dan main lagi denganmu!"
"Hei, aku menunggu moment itu! Semoga setelH lahiran, semuanya menjadi aman!"
"Aamiin.."
Mereka menyudahi curhatan dengan tawa sehingga setelah itu, otak dan hati menjadi jauh lebih baik. Mimpi buruk adalah mimpi, kembang tidur. Kirimkan doa pada Tuhan dan biarkan Dia yang bertindak.
.
.
.
Usai makan siang bersama dan membahas tujuan utama Tuan Han, keluarga kecil dan nampak bahagia ini pun menuju ke suatu tempat.
"Ayah, hendak kemana kau membawaku saat ini?" Tanya Alvin.
"Kau akan senang ketika sampai di sana." Jawab Tuan Han.
"Ayah kita benar, Alvin. Kau akan senang nanti. Levih baik kau persiapkan saja dirimu untuk menerima kebahagiaan itu!" Kata Saga.
"Apa aku harus dalam keadaan mata tertutup seperti ini?" Tanya Alvin.
Benar, saat ini ia dipakaikan kain penutup kepala terhitung sejak ia masuk ke dalam mobil milik Saga. Sekretarisnya, Daisuke bahkan dilarang ikut. Terpaksa ia menyuruh Daisuke untuk kembali ke penginapan.
"Alvin, jangan banyak tanya! Ayahmu sama sekali tidak menyukai orang yang banyak tanya kepadanya." Kata Kurenai.
"Tidak apa, Kurenai. Anak muda memang suka penasaran." Kata Tuan Han yang duduk di kursi depan berdampingan dengan sopir. "Ini adalah salah satu bentuk kejutan yang banyak orang lakukan. Kejutan akan semakin keren ketika yang diberi kejutan ditutup matanya." Tambahnya.
"Ah, aku kira ayah mencurigaiku. Aku ini orang baru dalam hidup ayah. Aku sudah pasti tidak akan mendapatkan kepercayaan dengan begitu mudahnya, kan?" Kata Alvin.
Tuan Han tertawa. Alvin memang sangat cerdas. "Nilailah ayah sesuka hatimu, Vin! Memang apa yang bisa harapkan dari ayah yang berprofesi sebagai seorang yakuza?" Katanya.
__ADS_1
"Kita akan segera sampai, masa kegelapanmu akan segera berakhir, Alvin!" Kata Saga menyela pembicaraan ayahnya dengan 'adiknya'.
Usai sampai di tempat tujuan mereka, Alvin dituntun oleh sang ibu untuk masuk ke dalam sebuah bangunan yang tak Alvin ketahui. Ia hanya menurut saja tanpa melontarkan sepatah kata apapun.
"Genkan?" Gumam Alvin. "Ini rumah tradisional Jepang!"
Genkan sendiri merupakan sebuah koridor yang digunakan penghuni rumah serta tamu untuk melepas alas kaki agar tidak mengotori tatami.
Setelah melepas alas kaki, perjalan masuk ke rumah berlanjut. Pikiran-pikiran mulai memenuhu otak Alvin.
"Perjalanan kurang lebih memakan waktu sekotar 45 menit dengan kecepatan sekitar 65 kilo meter per jam. Menurut hitunganku, kira-kira jarak Kyoto Contruction dengan tempat yang aku pijaki saat ini jaraknya sekitar 49 kilo meter kurang sedikit. Jauh juga. Dimana ini? Sial, aku bahkan tadi tidak tahu kemana arah yang diambil oleh mobil yang kami kendarai." Batin Alvin.
Rombongan itu berhenti di sebuah ruangan. Kurenai pun membantu melepas kain hitam yang digunakan untuk menutup mata dan kepala Alvin.
Dan benar seperti yang Alvin duga. Ini adalah sebuah rumah tradisonal Jepang. Saat ini ia berdiri di ruangan yang disebut washitsu. Washitsu merupakan sebuah ruangan dengan alas tatami yang terdiri dari pilar kayu, atap, dan pintu. Washitsu juga adalah ruang tamu dimana terdapat bagian dari washitsu yang disebut zashiki. Zashiki sendiri merupakan sebuah ruangan yang berada di bagian dalam sebuah rumah, biasa digunakan untuk menyambut tamu dalam rumah tradisional.
"Rumah yang bagus. Kesan tradisionalnya dapat. Penataan ornamen dan hiasan dinding juga baik." Komentar pertama Alvin yang dapat ia katakan setelah matanya bisa melihat lagi.
"Ho, kau memang memiliki mata jeli. Sesuai yang diharapkan oleh CEO perusahaan pengembang sekelas Emperor Group. Ayah terharu mendapatkan pujian dari anaknya." Kata Tuan Han.
"Kesan keren dari rumah ini bukan satu-satunya kejutan seperti yang ayah maksud untukku, kan?" Tanya Alvin.
"Haha, kau sudah tidak sabar rupanya. Baiklah, kita langsung saja melihat kejutan untukmu!" Jawab Tuan Han.
Rumah tradisional yang biasa disebut dengan nama minka ini merupakan sebuah bangunan bergaya zen dengan bahan material utama dari kayu.
Salah satu faktor mengapa rumah tradisional Jepang memakai bahan utama kayu adalah karena daerahnya rawan gempa dan kayu bisa meminimalkan kerusakan yang diderita rumah.
Ada tatami di depan mata Alvin. Tatami adalah sebuah anyaman jerami yang biasa digunakan untuk menutup lantai. Penutup lantai ini merupakan daya tarik yang membuat rumah-rumah tradisional di Jepang memiliki tampilan yang hangat.
Selain tatami, di sana terdapat kamidana. Kamidana atau rak dewa biasanya ditemukan di rumah Jepang kuno. Kanji yang ditemukan pada papan besar yang digantung disebut dengan nama fuda. Pada umumnya, pemilik rumah akan menyalakan osenko atau lilin, meletakan bunga, dan kemudian berdoa di depan kamidana.
Alvin pikir, ayah palsunya ini mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan rumah ini mengingat betapa luas dan furniture rumah yang memiliki harga mahal. Guci dan gerabah lain sang menurutnya antic itu pasti sudah berumur lama. Ini bisa setara dengan mobil sport.
"Ayo kita ke ruangan lain! Agak sedikit jauh karena harus menyusuri lorong." Kata Saga.
Tanpa basa-basi, mereka semua berjalan memasuki kediaman traditional itu lebih dalam.
Di dalam perjalanan menuju ruangan, pindah tempat, mereka melewati lorong.
Alvin menoleh ke arah samping dan melihat fusuma. Fusuma atau pintu geser. Seperti yang sudah banyak orang tahu, rumah tradisional ini lebih memilih pintu yang digeser dibandingkan yang ditarik atau didorong. Pintu geser yang dipakai biasanya terbuat dari triplek dan kayu kayu yang dilengkapi dengan kertas khusus.
Selain fusuma, ia juga melihat shoji. Berbeda dengan fusuma, pintu geser yang satu ini dibungkus dengan kertas tipis yang ditempelkan pada petak kayu berbentuk persegi. Fungsi utama dari pintu ini adalah untuk memisahkan teras dengan ruangan dalam.
Ada taman yang bisa dinikmati lengkap dengan kolam ikannya.
"Kau suka dengan konsep rumah seperti ini?" Tanya Kurenai.
"Ah. Hm. Suka. Terlihat nyaman." Kata Alvin.
"Kita bisa membuatnya kalau kau mau." Kata Kurenai.
"Nanti aku akan memikirkannya."
Perjalanan kembali dilanjutkan. Hingga akhirnya mereka sampai pada salah satu ruangan. Ruangan yang masih sama tradisionalnya dengan kediaman utama.
"Kita sudah sampai dimana kejutan akan segera kau dapatkan." Kata Tuan Han.
"Apa kejutan untukku ada di dalam ruangan ini?" Tanya Alvin. Tuan Han mengangguk. "Apa ini monster purba? Sepertinya kejutan untukku sangat besar sekali." Lanjutnya.
"Oh ya tentu saja! Ini wujud perayaan kebahagiaan seorang ayah yang akhirnya bisa bercengkrama dengan putranya setelah sekian lama."
"Baiklah. Aku menunggu kejutan darimu, ayah..ku."
Tuan Han terseyum. "Saga, buka pintunya!" Pintanya.
Saga membuka ruangan itu sesuai dengan permintaan sang ayah.
Ketika pintu terbuka, Alvin mati-matian menyembunyikan keterkejutannya.
Di sana, di dalam sana, di dalam ruangan itu nampaklah seorang laki-laki yang terbaring dengan selang infus dan perban di sekujur tubuhnya. Ada darah yang nampak merah dari perban uang berwarna putih itu.
Laki-laki itu adalah Yudha.
"Bagaimana kejutan dari ayah? Kau senang? Yudha musuh bebuyutanmu sudah tak bisa berbuat apa-apa!" Kata Tuan Han.
Alvin mengembalikan emosinya secepat yang ia bisa. Percayalah ia sangat ahli dalam hal ini. Ini sangat mudah untuk dilakukan. Dengan cepat, Alvin pun tersenyum.
"Sangat senang sampai-sampai aku ingin tertawa terbahak-bahak karena melihatnya terkapar tak berdaya seperti itu. Aku bertanya-tanya, apa dia akan mati dalam waktu yang dekat?" Kata Alvin.
"Ayah ini sedang berusaha mati-matian untuk membuatnya tidak mati sebelum semua rencana ayah berhasil. Kau jangan coba-coba membunuhnya dulu!" Kata Tuan Han.
"Tentu saja! Jangan khawatir karena aku juga ingin bersenang-senang melihatnya menderita terlebih dahulu." Kata Alvin menyeringai.
Tuan Han tertawa dan kemudia menepuk pundak Alvin. "Anakku memang paling cocok seperti ini."
"Selanat menikmati waktumu melihat a-dik-mu menderita, Alvin!" Kata Saga.
"Turuti kata-kata Ayahmu! Jangan macam-macam pada Yudha! Kami akan keluar dari ruangan ini dan mengobrol di ruang tamu." Kata Kurenai.
"Anggap rumah sendiri, Vin!" Kata Tuan Han.
Alvin hanya mengangguk saja. Kemudian ia pun ditinggal sendirian bersama dengan Yudha.
.
.
.
Salah satu kediaman Tuan Han, tempat dimana Yudha disekap. Mungkin lebih tepatnya dirawat karena Yudha terbaring tak bisa apa-apa dan penuh luka di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Aku saat ini sedang melihat adikku sedang terlelap lemah. Ia sekarat. Kau tahu, aku ini dokter. Tanpa alat bantuan medis ini, Yudha pasti akan mati. Hebat juga Tuan Han menata ruangan ini dengan sedemikian rupa. Ini malah lebih dari sekedar cukup disebut sebagai ruangan ICU ala rumah sakit. Peralatannya cukup lengkap. Ah.. sejak kapan selang infusnya berhenti?" Batin Alvin.
Alvin pun memeriksa infus itu. Ia melihat jika jarum suntik yang ada di punggung tangan Yudha terlepas. Kapas di sana basah karena caidan infus yang tak masuk ke dalam tubuh.
"Maaf, saya akan memperbaiki letak infus pasien." Seorang perawat yang Alvin yakini sebagai perawaat sewaan Tuan Han ini masuk ke dalam ruangan dengan membawa peralatan yang berhubungan dengan kondisi pasien.
"Biar saya saja yang memperbaikinya! Saya dokter." Kata Alvin.
"Ah.. Baiklah. Dozo.." Kata perawat.
Alvin pun memperbaikinya setelah meminta izin pada perawat itu, perawat yang mengurusi Yudha. Ia melepas bekas infus yang basah itu. Ia ingin menggantinya dengan yang baru.
Terapi intravena merupakan salah satu perawatan yang paling dasar yang diberikan hampir kepada setiap pasien yang dirawat di rumah sakit. Dan tentunya, keterampilan pemasangan infus atau insersi IV Cath ini haruslah dikuasai oleh setiap perawat. Alvin itu dokter, tapi dokter pun juga haruslah menguasai hal ini. Ini seperti pendidikan dasar yang memang sewajarnya harus bisa dikuasai oleh para medis seperti dirinya.
Sebelum menyentuh tubuh Yudha, Alvin mencuci tangan terlebih dahulu agar steril dari kuman dan bakteri.
Alvin menatap sekilas Yudha yang saat ini sedang terbaring. Lemah dan tak berdaya. Miris juga jika melihat betapa banyaknya perban disekujur tubuh Yudha itu.
Rasanya pasti sangat sakit sekali.
Alvin lalu enyambungkan botol cairan infus dengan selang kemudian digantungkan pada standar infus. Setelah itu, menentukan area vena yang akan ditusuk kemudian memasang alas dibawahnya. Ia mengusap-usap punggung tangan milik Yudha.
Area vena yang akan ditusuk dipasangkan tourniquet kurang lebih 15 cm diatas area.
Tak lupa juga sebelumnya ia memakai sarung tangan.
Area tangan Yudha yang akan ditusuk dibersihkan dengan kapas alkohol atau alcohol swab.Kemudian Alvin, menusukan jarum ke dalam vena pemubuluh Yudha menghadap ke jantung. ia juga memastikan jarum IV masuk ke vena kemudian dan lepaskan tourniquet.
Setelah itu, ia menyambungkan jarum dengan selang infus dan menutup area yang ditusuk dengan kassa dan berikan plester untuk mempertahankan letak jarum.
Setelah memastikan jarum yang ada di tangab Yudha rapi, Alvin mengatur kecepatan tetesan infus sesuai kebutuhan.
Kini perawat membantunya dengan memasang label tindakan yang berisi nama, tanggal serta jam pelaksanaan. Perawat juga membantu membereskan alat prosedur pemasangan infus.
Alvin melepas kaos tangan dan mencuci tangannya serta terus melakukan observasi dan evaluasi akan respon pasien.
"Anda melakukan pemasangan infus dengam baik, dokter!" Puji sang perawat yang Alvin yakini jika usianya sekitar tiga atau empat tahun di atasnya. Seusia dengan Ayane, penjaganya Melody yang super setia itu.
"Ah, ak ini masih belum pantas menerima pujian seperti itu. Masih banyak hal yang harus aku pelajari." Kata Alvin merendah.
"Anda kelak akan menjadi dokter yang hebat. Dedikasi Anda dan keinginan Anda untuk menjadi lebih baik adalah pondasi yang kuat untuk menjadi seorang dokter sejati." Kata Perawat.
Alvin hanya tersenyum ringan menanggapi hal ini. Ia senang ada yang memujinya, tapi kadang justru pujian itu hanya akan membuatnya terlena. Ia tak mau besar kepala akan hal itu.
"Jadi, bagaimana kondisi Yudha saat ini? Perkembangannya?" Tanya Alvin.
"Pasien merespon baik obat dan segala penanganan yang dokter berikan. Hanya saja, luka di kepalanya cukup parah. Belum bisa dipastikan apakah ada kerusakan fatal atzu tidak. Pasien belum juga siuman sejak pertama kali saya ditugaskan untuk merawatnya." Jawab perawat menjelaskan sejujurnya dengan kondisi Yudha saat ini.
"Hmm.. sodesu ka. Baiklah. Terima kasih sudah merawat Yudha selama ini."
"Ie, ini memang tugas dari orang seperti saya yang bersumpah akan pekerjaan saya. Baiklah, saya undur diti dulu."
"Hn."
Perawat itu pun keluar dari kamar yang digunakan untuk merawat Yudha.
Alvin menghela nafas. Baginya, ruangan ini memang lengkap bak ICU rumah sakit, ada tabung oksigen juga di sana, tapi apa Yudha sungguh mendapatkan penanganan yang terbaik? Bagaimana dengan hasil rontgen kepala Yudha? Tubuh Yudha? Tulang-tulang Yudha?
Tanpa itu, sulit bagi Alvin untuk memastikan dengan pasti bagaimana kondisi Yudha saat ini.
.
.
.
"Melody... Mel... Melody." Igau Yudha.
Ternyata Yudha juga mengalami mimpi buruk dalam ketidak sadarannya. Ini sudah berkali-kali. Tanpa henti. Dalam tidurnya ia bahkan sulit membedakan apakah ini mimpi atau kenyataan.
Malam berikutnya mimpi buruk menghantui Yudha lagi. Ia tergugu dalam tidurnya, mengisak tertahan. Wajahnya pucat, sementara sekujur tubuhnya basah oleh keringat dingin.
Alvin menatap saudara seayahnya itu. Ini sudah levih dari lima menit semenjak ibu, ayah bohongan, dan kakak bohongan mempetlihatkan kondisi Yudha kepadanya.
"Apa yang kaumimpikan, Yudha? Kau menyebut-nyebut Melody sedari tadi." Kata Alvin menatap Yudha datar. "Ah, tentu saja mimpi soal Melody. Memang apa lagi, kan? ... Kau tahu, Yudh? Kau beruntung. Meski itu mimpi buruk, setidaknya Melody hadir di dalam mimpimu. Tidak seperti diriku yang berharap mimpi tentangnya, tapi tak pernah bisa aku dapatkan." Tambahnya.
Mata Yudha terpejam, tapi ketakutan yang belum sirna dari sana nampak jelas di sana. Napasnya masih terengah-engah. Keringat di keningnya Yudha. Tangannya menggenggam seperti meyakinkannya bahwa dirinya sangat menderita.
"Kau menyedihkan, Yudh! Aku beritahu, aku pun juga memiliki mimpi buruk." Kata Alvin. "Menyebalkannya, mimpi buruk itu tentang dirimu. Dari semua mimpi yang ada, kenapa aku harus mimpi buruk? Padahal aku ingin sekali bermimpi indah dengan Melody. Kenanganku dengannya dulu sangat indah, tapi Tuhan enggan mengirimkannya lewat mimpi di tidur malamku." Lanjutnya.
"..." Tentu saja ini tak akan mendapatkan jawaban dari Yudha. Laki-laki tampan ini masih setia dengan mata yang terpejam.
"Karena aku sedang bosan, aku akan menceritakan mimpi burukku kepadamu. Aku akan menghiburmu dengan mimpi buruk yang membuatku menderita. Kau pasti akan senang mendengarnya." Kata Alvin.
Tak lama kemudian, Alvin menceritakan mimpi buruknya. Ia tak peduli jika saat ini Yudha akan mendengarnya atau tidak.
"Dalam mimpiku, kau mengurungku di sebuah ruangan sempit dan gelap, tanpa makanan. Aku ketakutan. Aku kelaparan. Dan kau datang diam-diam untuk menyuapiku sepotong roti. Tapi roti itu busuk dan berulat, membuatku muntah-muntah. Kau menangis karena mengira sudah meracuniku. Lalu kau pergi meninggalkanku sendirian. Aku meringkuk di sudut ruangan, menangis, merasa ketakutan lagi. Aku memanggil-manggil namamu tapi kau tak menjawabnya. Kau pergi dan tak kembali lagi." Cerita Alvin.
Kamar itu lengang sejenak. Selama beberapa saat Alvin kehilangan kata-kata untuk melanjutkan ucapannya atau sekadar berkomentar mengenai mimpinya.
Itu memang mimpi yang mengerikan. Tidak perlu melihat tubuh tercabik-cabik menjadi beberapa bagian untuk merasa ketakutan hingga ke tulang. Karena sendiri dalam kehampaan adalah momok paling menakutkan bagi manusia. Rasa takut akan kesendirian sungguh lebih mengerikan daripada apapun di dunia ini.
"Nanda yo, Yudha? Kenapa di mimpiku kau meninggalkanku?" Tanya Alvin. Ia menggepalkan tangannya.
.
.
.
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
__ADS_1
Kembali ke cerita utama setelah kemarin bermesum ria karena kangen mas Yudha dan yey.. akhirnya mas Yudha muncul juga setelah sekian lama. Aku akan berusaha!
Btw, aku pengen banget punya rumah kek rumah traditional Jepang. Pintu geser, tatami, lantai kayu, taman. Semua menggodaku. Tapi kalau di Indo sepertinya lantai kayu kurang cocok mengingat rayap dan apa it namanya, butiran kecil-kecil di kayu, kalau di tempatku namanya teter. Hahaha. Lucu ya? Ah enggak ya? Ah ya sudah.. Gambarimasho!